Bukan Mauku

Bukan Mauku
Kedatangan Mahdalena


__ADS_3

Lagi-lagi Dimas menggeleng. "Ti-tidak, Bunda tidak boleh pergi. Tidak boleh." Dimas kembali memeluk erat tubuh sang istri.


Tanpa sadar Dimas menangis. "Emang mau kemana hem Bunda, jangan tinggalin Ayah," apa lagi mengingat banyak pria yang menyimpan rasa terhadap istrinya. Membuat dia semakin takut kehilangan.


Naya jadi termangu dalam dekapan sang suami kok dia yang nangis. "Iya, jika satu saat aku tiada, kan ada mama wanita yang kau sayangi. Dan kau pasti akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku."


"Tidak mau, Ayah maunya Bunda dan anak-anak kita. Jangan bicara gitu ah, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Mendingan kita tidur." Dimas mengajak istrinya tuk tidur.


Naya tersenyum simpul mendengar kata-kata dari bibir Dimas yang sedikit merajuk, bukan dirinya yang merajuk tapi malah kebalikannya. Kemudian mereka berdua melepas penat dan lelah dari aktifitas seharian, keduanya tidur saling berpelukan.


Esok harinya sekitar siang hari Naya habis sholat, ia melangkahkan kakinya menuruni tangga. Terdengar suara gerungan mobil di luar, tadinya Naya menyangka bahwa itu suara mobil suaminya yang pulang.


Tapi tidak lama Bibi memberitahukan bahwa ada seorang Ibu bertamu dan ingin bertemu dengan dirinya. "Siapa Bi?" Naya penasaran.


"Kurang tahu Bu, tapi sepertinya pernah datang ke sini," sahut Bibi.


"Oh ya sudah," Naya langkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang sedang duduk dengan kaki menyilang.


Ternyata adalah Bu Mahdalena, deg deg deg jantung Naya berdegup kencang. Perasaannya jadi gak enak. "Ada apa? kan suamiku gak ada," gumam Naya, lalu melanjutkan langkahnya mendekati bu Mahda yang sudah melihat kedatangannya.


"Selamat siang?" ucap Mahda berdiri.


"I-iya, silahkan duduk," sahut Naya sambil ia pun duduk berhadapan dengannya.


Mahda menatap Naya dengan tajam, "Maaf ya mengganggu waktu mu."


"Iya ada apa ya Bu? kebetulan suami 'ku belum pulang," tutur Naya dengan lembut.


"Oh tidak apa, saya sengaja menemui kamu kok," timpalnya masih dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Bertemu dengan saya? maksudnya ada apa ya, saya jadi gak mengerti," Naya kebingungan.


"Aduh berat banget, ingin pipis, ada-ada saja," gumam Naya dalam hati. "Maaf Bu maaf banget. Saya tinggal dulu sebentar pengen ke toilet," Naya langsung berdiri.


"Oh iya silahkan," sahut Mahdalena, Naya pergi. Datang bibi menyuguhkan dua gelas air minum.


"Silahkan di minum," bibi menyodorkan gelas minum pada Mahdalena.


"Ya ..." gumamnya, setelah Bibi masuk, Mahdalena mengambil sesuatu dari tas nya. Lalu ia masukan ke dalam gelas satunya, tepat gelas buat Naya, Mahda tersenyum puas sambil matanya celingukan.


Sesaat kemudian Naya kembali. "Aduh ... maaf ya Bu," lirih Naya sembari menyiratkan senyumnya. "Oya Ibu mau bertemu saya ada apa ya?" Naya penasaran.


"Iya, begini," Mahda ingin langsung ke intinya saja. "Saya mau meminta pertanggung jawaban dari suami kau. Karena telah merenggut kesucian putri saya," sungguh Mahda membalikan fakta sebenarnya.


Deg ... Naya jadi ingat cerita dari suaminya malam itu. Dengan senyum tenang Naya seraya berkata, "Hem ... itu tidak mungkin, suami saya selain bekerja gak pernah keluyuran tuh."


Mahda tersenyum sinis. "Begitu percayanya dirimu kepada suami, apa tidak pernah berpikir dia itu membohongi dirimu. Bilangnya kerja padahal jalan, kan bisa aja."


"Tidak Bu, saya sangat percaya dengan suamiku, kalau Ibu ingin menghancurkan rumah tangga orang. Ibu salah alamat, bukan di sini tempatnya, Ibu gak perlu mengarang cerita yang macam-macam tentang suami saya. Hanya untuk kepentingan Ibu sendiri, percuma," ujar Naya dengan tegas meski bibirnya bergetar.


"Tapi itu faktanya, putri saya cerita seperti itu. Mereka melakukannya di Rumah sakit," Mahda meyakinkan.

__ADS_1


"Sudah Bu, kalau ibu butuh seorang pria, kan bisa cari dari anak buah anda sendiri, dan jangan mencari suami orang. Coba Ibu pikirkan gimana kalau Ibu berada di posisi wanita yang ingin kau ambil suaminya? gimana perasaan Ibu," tegas Naya sambil menghela napas panjang.


"Tapi anak yang putri saya kandung adalah hasil perselingkuhan sua-"


"Cukup Bu, cukup. Silahkan Ibu pulang dan cari solusi lain, bukan mengejar suami orang. Bujang pun masih banyak Bu," lirih Naya masih tetap ingin menghormati tamunya.


Tatapan Mahda kian tajam. "Nih perempuan sulit juga hatinya di luluh kan, apa memang sudah kena omongan suaminya ya?" batin Mahda.


"Kau jangan terlalu percaya kepada suami mu itu, laki-laki sama di depan manis tapi di belakang tidak," ujar Mahda senyum samar.


"Tidak, tidak semua seperti itu," Naya menggeleng. "Sudah lah, aku tidak percaya kata-kata Ibu yang tidak meyakinkan itu."


"Saya mohon dengan segenap kerendahan hati. Demi seorang Ibu, saya mohon kau berkenan meminjamkan suami mu selang beberapa bulan." Mahda sudah hilang akal dia memohon dan menyatukan kedua tangan di depan dagunya.


Sontak Naya yang tadinya menunduk menjadi mendongak. "Dia pikir suamiku sebuah barang yang bisa begitu saja di pinjamkan, sudah gila nih orang," batin Naya menggerutu.


"Suami saya bukan barang yang dengan mudahnya bisa di pinjamkan, tolong mengertilah. Saya tidak ada waktu untuk meladeni anda," Naya berdiri dan menunjuk pintu yang terbuka lebar.


Mata Mahda mengikuti arah yang Naya tunjukan. Dengan hati kesal, kecewa. Mahda berdiri. "Oke, baik lah percuma saja saya di sini--"


"Iya itu benar."


"Tolong bilang pada suami mu itu, tunggu pembalasan saya. Em maksud saya, saya tidak akan tinggal diam begitu saja," kemudian melengos keluar melintasi pintu yang sempat-sempatnya dia gebrak.


Melihat itu Naya menggeleng-geleng kepalanya seraya berucap. "Astagfirullah," sambil mengusap dada, sungguh kejadian ini membuat jantungnya terus berdebar. Mulanya takut tak bisa menghadapi wanita itu dengan baik, tapi nyatanya ia bisa.


Naya menggerakkan bola matanya ke meja, di mana air minum yang di suguhkan tidak disentuh sedikitpun oleh tamunya.


"Iya Bu," sahutan Bibi dari belakang.


Sesampainya di kamar. "Kenapa Arif Bi?" sambil meraih Arif dari pangkuan Bi Meri.


"Tidak tahu Bu," sahut Bi Meri kebingungan.


"Oh, ya udah cup-cup, cup sayang ini sama Bunda, jangan nangis lagi ya. Capek ya, bobo-bobo," Naya menimang baby Arif yang langsung tenang.


Suara notifikasi ponsel Naya begitu nyaring terdengar, Naya melirik ponsel yang ia simpan di meja. "Bi tolong, ponsel ku."


Bibi langsung mengambilkan dan diberikan pada Naya.


"Makasih Bi."


Sebuah notifikasi dari suaminya yang mengatakan bahwa akan terlambat pulang. Karena akan mengadakan pertemuan di Klinik.


Arif sudah bobo, Naya pun menidurkan di tempatnya. Kayla juga di pangkuan Bibi merengek-rengek minta di gendong Bundanya. "Hem ... adek juga kangen Bunda ya," Naya mencubit gemas pipi putrinya dan menggendong Kayla, di timang-timang dengan sholawat hingga Kayla tertidur dalam dekapan sang Bunda.


****


Di klinik, Dimas beserta kawan-kawan dokter lainnya tengah berbincang serius.


"Donatur kita Bu Mahdalena, telah membatalkan kerjasamanya dengan klinik ini," ucap dokter Aldo.

__ADS_1


Semua saling pandang. Ada yang bilang, kok bisa membatalkan kerjasama, kan tinggal nerusin.


Namun Dimas tidak merasa heran karena dia sudah menduga ini bakalan terjadi. Masalah pribadi akan mengimbas pada masalah bisnis, dan dia sudah membaca itu semua.


"Padahal dia termasuk donatur yang lumayan loh. Terus gimana kalau beliau minta balik dana yang telah dikeluarkan?" ujar Endro pada semuanya.


"Kembalikan," sahut Dimas dengan cepat.


"Gimana caranya dok, sementara kita pun harus mencari donatur lain untuk ke depannya," timpal salah seorang dokter.


"Jangan takut, niat baik insyaAllah akan ada jalannya," sambung Dimas sambil memainkan sebuah ballpoint di jarinya.


"Saya yakin bahwa diantara kita semua. Masih punya tabungan kok, ya kita modal kan saja. Simpel, kan? jangan jadikan mundurnya seorang donatur menjadikan kita semua berkecil hati. Semangat lagian kita yang akan bekerja, anggap saja mati satu akan tumbuh seribu," ujar Dimas menatap rekannya satu-satu.


Semua hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti maksud dari dokter Dimas.


"Saya yang punya ide, dan saya juga yang tentunya akan memperjuangkan sebisanya. Agar klinik yang sudah di bangun ini tidak sia-sia," lagi-lagi pandangan Dimas menyapu ke semua rekan dokter.


"Yap, itu benar, kita gak boleh berkecil hati. Kita harus bersatu dan bekerja sama, bukan gitu bro?" Endro melirik Dimas.


Dimas pun mengangguk. "Endro benar."


"Jadi pembukaan klinik ini kapan akan di resmikan nya, secara, kan kemarin ketika Bu dewan masih menjalin kerja sama dengan kita. Sudah sepakat akan diresmikan minggu ini, sementara sekarang beliau mundur," tatapan dokter Aldo di tujukan pada Dimas.


Dimas diam sesaat tapi selanjutnya ia berkata. "Peralatan sebagian sudah siap, terus kenapa mesti diundur. Kita akan meresmikan nya sesuai rencana," tegas Dimas.


"Saya masih belum mengerti apa yang jadi alasan Bu dewan membatalkan kerjasama nya?" Aldo mengerutkan keningnya.


"Mungkin ada masalah pribadi yang membuat bisnis kena imbasnya," sahut Endro sambil melihat Dimas yang terdiam.


"Mungkin," Aldo mengangguk-anggukan kepalanya, bisa jadi juga seperti itu, Aldo sendiri belum tahu cerita Dimas yang menolak pinangan Bu dewan. Beda dengan Endro yang sudah tahu semuanya.


Setelah berbincang cukup lama, Dimas melirik jam yang melingkar di tangannya. "Saya rasa rapat kita hari ini cukup sampai di sini dulu. Besok kita laksanakan tugas kita masing-masing, oke sampai jumpa lagi."


Dimas beranjak dari duduk nya, begitu pun yang lainnya. Meninggalkan tempat tersebut.


Endro, Dimas dan Aldo jalan beriringan, di koridor klinik "Kau tidak tahu kawan," celetuk Endro pada Aldo.


"Soal apaan?" Aldo penasaran Endro tiba-tiba berkata seperti itu.


"Itu soal bu dewan yang membatalkan kerjasama nya," sambung Endro, Dimas di belakang hanya mendengarkan saja.


"Emang kenapa?" tanya Aldo semakin dibuat penasaran.


Endro pun menceritakan tentang Mahdalena. Akar dari permasalahan yang jadi kemungkinan besar kemundurannya itu.


Dimas menepuk pundak kedua kawannya yang tengah asik mengobrol. "Lah ghibah mulu kau, pulang ke rumah yuk. Makan malam di sana, oke? saya duluan," Dimas jalan mendahului Aldo dan Endro yang menatap kearah dirinya.


,,,,


Terima kasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini, terima kasih yang sudah lake n komen meski gak memberi vote nya hehe canda, pokoknya apa yang kalian lakukan untuk novel ini terima kasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2