Bukan Mauku

Bukan Mauku
Bibir siapa ini


__ADS_3

Dimas: "Sayang ijin ya,? aku akan telat pulang karena ada urusan mendadak di perkebunan, jaga diri baik-baik dan tunggu aku pulang, I Love you," kirim, tidak menunggu balasan, Dimas langsung menancap gas, melarikan motor ke perkebunan yang ia tuju.


Setelah sholat dzuhur Naya kembali ke dapur, "Bi, sibuk gak,?" ketika melihat bi taty sedang menonton TV bersama Ibu mertuanya.


"Tidak, tidak sibuk Bu, ada yang harus Bibi kerjakan,?" tanya bi Taty.


"Bibi sudah makan,?" Naya duduk di kursi meja makan.


Bi Taty mendekati majikannya, "Bibi, sudah makan, kalo Ibu Hesa belum, katanya mau nunggu Tuan pulang Bu."


"Loh.., kenapa belum makan,? kan tau sendiri Suami aku jarang makan siang di rumah, biarpun makan tidak tepat waktu, lebih sering istirahat dulu, lagian suka makan lebih dahulu di kantin sebelum pulang," ujar Naya melihat-lihat ada menu apa aja di meja.


"Bi, tolong siapkan bahan-bahan kue cake ya,? aku mau membuatnya, nanti sore Maria mau ke sini lagi," sambung Naya.


"Oh, baik Bu, sebentar Bibi siapkan," sahut bi Taty mendekati lemari bahan-bahan keringan seperti tepung, terus mengambil telur dan mentega dari lemari pendingin.


Naya berpindah duduk jadi di meja kompor, untuk mengocok telur yang sudah Bibi siapkan bi Taty, tiba-tiba ponsel Naya bergetar tanda ada pesan masuk, Naya mengambil ponsel dari sakunya, benar saja, ada pesan masuk dari sang suami.


Naya tertegun sebentar setelah membacanya, lalu menyimpan kembali ke dalam saku.


"Bi,?" panggil Naya menoleh ke belakang mencari keberadaan Bibi yang masih mencari bahan-bahan lain.


"Iya Bu,?" bi Taty mendekati.


"Tolong bilangin sama Mama agar segera makan, jangan nunggu Dimas pulang, dia telat pulang kok, ada urusan mendadak katanya," ucap Naya sambil fokus mengocok adonan kue.


"Baik Bu,? bi Taty berjalan ke ruang tengah untuk menghampiri bu Hesa.


Sesudah dekat dengan beliau, "Ibunya Tuan, kata Ibu, Ibunya Tuan makan dulu, jangan nunggu Tuan pulang, sebab Tuan pulang telat, katanya sih ada urusan."


Bu Hesa menoleh bi Taty, "Kenapa baru bilang sekarang,? sambil beranjak dari duduknya,


"Ibu baru dapat pesan singkat dari Tuan barusan," sahut bi Tati, sambil melanjutkan langkahnya balik ke dapur untuk membantu Naya.


Bu Hesa membuntuti dan menggeser kursi, mengambil piring, "Kalau tau sendiri juga, buat apa nunggu,? ah, Dimas kemana dulu katanya,?" tanya bu Hesa pada Naya yang sibuk mengocok adonan.


Naya menoleh kearah mertuanya, "Dimas ada urusan mendadak katanya, jadi pulang telat, Mama makan aja, lagian biarpun cepat pulang, Dimas jarang cepat-cepat makan, kadang sore makannya."


"Hem," bu Hesa menyuapkan makanan ke mulutnya, "Sedang buat apa kamu.?


Sekilas Naya melirik dan kembali fokus dengan tugasnya, "Bikin kue, nanti Maria kesini lagi.


"Oh, sisain buat saya, kuenya," ketus bu Hesa.


Naya tersenyum, "Tentu lah Mak, lagian kan Maria bawa pulang ke rumah Mama juga kan.?"


"Memang benar, tapi kan saya sedang di sini, bukan di rumah sana, gimana sih,?" ketus bu Hesa sambil mengunyah.


"Iya Mak, iya di sisain kok, bi ini tinggal memanggang kuenya, tolong ya Bi,? Naya menyerahkan satu loyang kue untuk di panggang, sementara yang satu lagi nanti bergantian, Naya mencuci tangan lantas mengelapnya.


Terdengar suara bel berbunyi, Naya menoleh ke sumber suara, "Sepertinya orang salon deh Bi, nanti suruh langsung naik ya,? aku ke kamar duluan," Naya berjalan dan ketika melintasi Ibu mertua, "Bu, aku ke kamar dulu,?" ucap Naya pada bu Hesa, sambil terus berjalan, mendekati lift, dan duduk di sana.


Naya sampai di kamar, duduk di sofa menunggu orang dari salon datang ke kamarnya.


Bi Taty membukakan pintu, untuk tamunya, benar saja dua orang wanita dari salon baru datang, untuk perawatan kecantikan Naya, "Silahkan masuk.?"


"Met siang,? Ibunya ada,?" sapa salah seorang wanita tersebut.


"Ada, silahkan masuk,? Ibu sudah menunggu di kamarnya," ujar bi Taty lantas mengantar keduanya ke kamar atas.


Sesampainya di depan pintu kamar Naya, Bibi mengetuk terlebih dahulu.


Tok..,


Tok..,

__ADS_1


Tok.., "Bu, tamunya sudah datang,?" pekik bi Taty, yang berdiri bersama tamunya Naya.


"Suruh masuk Bi,?" sahut Naya dari dalam kamar, ia tengah duduk di sofa.


Click.., kenop pintu di putar bi Taty membuka pintu kamar Naya, "Silahkan mbak-mbak masuk," bi Taty mempersilahkan tamu masuk lebih dulu, barulah dia berjalan di belakang.


"Bu ini tamunya," kata bi Taty pada Naya, dan di sambut ramah oleh Naya.


"Met siang Bu,?" keduanya membungkuk hormat.


"Siang juga, silahkan duduk, aku kira tidak jadi datang,?" orang dari salon pun duduk di sofa, "Bi, tolong bikinkan minum buat mbak-mbak ini,?" Naya mengalihkan pandangan pada bi Taty.


"Baik Bu,?" bi Taty berlalu keluar kamar meninggalkan Naya beserta tamunya.


"Oh, datang dong Bu, cuma.., telat karena di salon kami lagi banyak tamu," sahut Mbak yang pake dress merah.


"Oh," Naya membulatkan mulutnya.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka mulai serangkaian perawatan Naya, satu demi satu, dari mulai perawatan kuku, rambut, muka dan badan, bahkan organ kewanitaan pun tak luput dari perawatan, setelah berjam-jam menghabiskan waktu dalam memanjakan diri, akhirnya serangkaian aktifitas tersebut selesai juga.


Kedua wanita tersebut berpamitan, "Terimakasih ya mbak, mbak berdua mau datang dan merawat diriku,?" ucap Naya pada kedua wanita tersebut yang tengah mengemas peralatan salonnya.


"Sama-sama Bu, kami pamit pulang dulu ya," dengan sikap yang ramah-ramahnya, kemudian berjalan meninggalkan kamar Naya.


Tinggallah Naya sendiri di dalam kamar, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara adzan magrib, Naya segera ke kamar mandi, untuk mengambil air wudu, lima menit kemudian Naya keluar dari kamar mandi, dengan tetesan air wudu wajahnya.


Naya sholat magrib sendiri, tanpa Dimas, karena dia belum juga kunjung pulang, usai menunaikan sholat, dan membaca ayat suci, Naya melipat mukena di simpannya di atas meja, lalu mengenakan kerudung, Naya berjalan mendekati pintu, "Bismillah..," perlahan menuruni anak tangga, ingin tau dia mampu apa tidak menuruni tangga.


Sudah melewati tiga anak tangga, Naya berhenti sesaat, lututnya sudah mulai bergetar, Baya berpegangan takut jatuh, turun lagi, sampai dipertengahan, Naya menarik napas dalam-dalam, berdiri sampai beberapa waktu.


Selepas di rasa kakinya kuat untuk melangkah lagi, Naya teruskan menuruni anak tangga, semoga sampai tujuan tanpa jatuh, hatinya menjadi was-was takut jatuh, sedangkan naik pun tak mampu, kalau saja jatuh bisa saja berakibat fatal.


Dengan perlahan, dan fokus melangkah, akhirnya Naya berdiri di anak tangga yang paling bawah, "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," Naya mendongak dengan rasa bahagia, untuk mengusir rasa pegal Naya duduk di kursi lift sejenak, di ruang tengah ada Ibu mertua dan Maria juga putranya, entah dari kapan mereka datang, Naya mengedarkan pandangannya, bi Taty tidak terlihat antara ruang tengah maupun dapur.


Merasa cukup dengan duduknya, Naya berdiri dan berjalan menuju dapur, menarik kursi yang ada dekat meja makan dan duduk lagi di sana, membuka tudung saji, semua masakan sudah siap di meja makan, Naya mengambil sepotong kue cake yang tadi ia bikin, "Bi Taty ke mana ya,?" gumam Naya sambil mengedarkan pandangannya.


"Eh, Kak Naya, kuenya enak loh Kak, aku dan Mama sudah habis setengahnya loh," kata Maria langsung membahas kue yang dia pesan waktu itu.


"Kau aja yang habiskan, banyak memakannya, saya sih sedikit," timpal bu Hesa mendelikan matanya oada Maria, sedangkan Maria hanya memajukan bibirnya.


"Syukurlah kalau enak, berarti tidak sia-sia aku membuatnya, oya, Bibi ke mana ya,? aku tidak melihatnya di dapur juga gak ada," Naya sambil duduk di sofa.


"Oh, tadi dia membawa sapu, iya, bersih-bersih kali di Luar," sahut Maria.


"Em..,! kamu sama siapa ke sini,?" tanya Naya, tangannya menyangga kepala dari bahu sofa.


"Aku.., sama suami, iya di antar sama suami, aku boleh ya nginep,? di sini semalam aja kok," ucap Maria dengan tatapan memohon.


"Punya suami, di tinggalin nginep segala,?" ketus bu Hesa sambil mendelik.


"Ya gak apa-apa, di ijinkan kok, makanya di anterin juga, ah Mama sirik aja, aku kan sudah lama tidak menjelajahi kolam renang, hi.., hi.., hi..," memperlihatkan barisan giginya.


"Boleh, mana suami kamunya Mar,?" Naya mencari keberadan suami Maria yang tidak ada.


"Dia sudah balik lagi," sahut Maria.


"Oh, oya kalian sudah makan belum,?" Naya menatap merua dan iparnya bergantian,


"Belum kak nanti aja," Maria fokus ke layar TV.


"Ajak anakmu makan,?" Naya mengulas senyum pada anak Maria yang sibuk dengan gaggetnya.


"Baru makan kue kak," sambung Maria.


"Ya sudah."

__ADS_1


Sementara Dimas tengah di jalan raya melajukan motornya, dia baru selesai dengan segala urusan di perkebunan, menjadikan dia teramat telat untuk pulang, setelah panjangnya perjalanan akhirnya sampai juga di rumah, setelah memasukan motornya Dimas berajalan gontai masuk ke dalam tampak di ruang tengah keluarganya tengah berkumpul.


Semuanya menoleh ke datangan Dimas, "Kau baru pulang Dimas,?" sapa Mamanya.


"Iya Mak, ada urusan mendadak, makanya baru pulang," sahut Dimas sambil mendekati mereka semua, terutama Istrinya yang tampak cantik dan bening, ia menyimpan barang-baranga di sofa yang kosong.


Setelah mengucap salam, "Assalamu'alaikum,?" Dimas daduk di samping sang istri.


Wa'alaikum salam..,?" jawab Naya serta maraih tangan Dimas dan mencium punggung tangannya, dengan refleks Dimas pun mencium kening Naya. Dimas duduk bersandar dengan tangan terbuka di bahu sofa, bi Taty datang membawakan segelas air putih dan di berikan pada Naya, dari tangan Naya baru di berikan pada Dimas, namun tanpa ragu Naya mendekatkan gelas ke bibir Dimas untuk meminumkannya.


Dimas meneguk air tersebut sampai tandas, barulah Naya menyimpan di atas meja, yang langsung di sambar bi Taty, "Apa mau lagi airnya Tuan,?" menatap Dimas.


Dimas menggeleng pelan, Naya melirik Bibi, "Sudah cukup Bi makasih,? tolong di simpan ke atas tas dan kunci suami aku Bi."


"Baik Bu," Bibi mengambil barang-barang Dimas.


Naya bersandar ke sofa, jelas tangan Dimas dibelakang pundak Naya lantas merangkul bahunya Naya, "Sayang capek sekali, mau makan dulu apa mau mandi terlebih dahulu,? bau keringat tuh, mending mandi dulu, biar fres, terus sholat, habis itu makan ya,?" dengan tatapan penuh kasih.


Dimas yang menyandarkan kepala di sofa sembari memejamkan mata, membuka mata melirik, menatap lekat wajah istrinya, "Sayang tamak cantik sekali malam ini, lebih bening," lirih Dimas.


Naya menyentuh kedua pipinya, dengan memerah, "Ah, karena habis perawatan aja kali yang."


Maria yang mendengar percakapan Abangnya langsung nyambung, "Eh, benaran Bang, wajah Kakak lebih tampak cantik, bening dan bercahaya, beneran.?"


Naya melirik, "Kamu bisa aja Mar,?" Naya malu-malu, Bu Hesa hanya fokus dengan acara kesayangannya.


"Tuh kan, Maria aja bilang gitu, apa lagi aku," Dimas menyeringai rasa lelahnya sedikit berkurang dengan bercengkarama bersama istri.


Naya kembali memandangi Dimas, dan mata Naya tertuju melihat baju Dimas tepatnya bahu sebelah kiri ada warna merah lipstik, dan tergambar jelar gambar bibir, deg..,hati Naya merasa panas, kesal, marah, sesak dalam dada, mau bertanya, itu tidak mungkin di hadapan keluarganya sekarang, dengan jelas itu bukan Darah tapi bekas bibis seorang wanita berlipstik, sedangkan dia sendiri bibinya natural tanpa pemerah buatan.


Malihat Naya terdiam Dimas bertanya, "Sayang ke napa.?"


Naya menggeleng, hatinya mencelos, gelisah ingin bertanya namun bukan waktu yang tepat, Dimas merangkul tubuh Naya, namun Naya menolak dengan alasan malu, "Malu, lagian mandi dulu sana bau," setengah berbisik.


Dimas menyeringai, "Berarti.., kalau sudah mandi boleh ya mencumbu istri aku yang bikin gemes ini,?" sambil mengusap kepala Naya, dia beranjak, yuk temani aku,?" dengan cepat Dimas membopong tubuh Naya untuk ke kamarnya.


"Kalian, aku tinggal dulu," ucap Dimas sambil berjalan membawa istrinya mendekati anak tangga.


"Bentar, berhenti dulu," titah Naya ketika melihat bi Taty berdiri di dapur, "Bi, tolong bawakan buat makan malam ke atas ya,?" titah Naya pada bi Taty.


"Baik Bu, Bibi akan siapkan sebentar," sahut Bibi.


Dimas melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga tersebut, menuju kamar miliknya, kini mereka sudah berada dalam kamar, Dimas langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Naya berpikir keras, dengan apa yang dia lihat, melirik ke samping kemeja Dimas tergeletak, Naya ambil dan membuka, melihat-lihat lagi benar atau cuma salah lihat, namun benar di bahu kemeja Dimas, ada bekas bibir berwarna merah, lalu kemudian Naya cium baunya, jelas bau kosmetik, Naya meremas pakaian itu, merasa sakit di dadanya, serta matanya nanar dengan air yang ingin membanjiri, "Bibir siapa ini yang,? yang jelas bukan bibirku, sebenarnya kau dari mana,?" Naya memukulkan tangannya ke kasur, "Apa benar kau tega membohongi aku,?" gumam Naya menggigit bibirnya.


Dari luar terdengar pekikan bi Taty, "Bu ini makan malamnya.?"


Naya segera mengusap sudut matanya, dan menarik napas dalam-dalam, Naya perlahan membuka pintu, "Simpan di meja Bi, tolong,? dan makasih ya,? oya Bi, ajak mereka makan ya, mungkin kami tidak keluar lagi," ujar Naya berdiri sisi pintu, sembari menunduk.


"Baik Bu," bi Taty melangkah keluar, "Kok muka Ibu sepertinya sedang sedih kenapa ya,?" batin binTaty, namun tak berani bertanya.


Naya menutup pintu, kemudian menyiapkan setelan tidur buat Dimas, lengkap dengan pakaian dalamnya.


Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang sambil mengusap rambutnya yang basah dengan tangannya, Naya menunduk, tak ingin memperlihatkan wajahnya yang sedih, ia masuk kamar mandi, sebentar Naya kembali, mengenakan mukena tuk sholat isya, Dimas melihat Naya bersiap sholat bergegas memakai sarung, dia merasa bingung, kok istrinya tiba-tiba Diam.?


"Tak biasanya seperti itu,? tadi saja dia banyak ngoceh, tapi sekarang diam, dengan muka di tekuk pula, ada apa dengan istriku,?" batin Dimas, matanya intens memandangi Wajah sang istri.


Mereka sholat bareng, usai sholat membaca doa dan terakhir Naya mencium punggung tangan Dimas, dan Dimas mengecup kening sang istri.


Dalam hati Naya sesungguhnya bergejolak, ingin sekali meluapkan segala pertanyaan dan mungkin akan membuat amarah di hatinya, cuma ia takut nanti bertengkar, Dimas marah gak mau makan, kasian seharian dia capek, Naya meraih piring, setelah mereka duduk di sofa lalu menyuapi Dimas makan, tak ada yang bersuara selain suara TV dan sendok yang beradu dengan piringnya.


Usai makanan habis, di akhiri dengan meneguk air mineral, Dimas menatapi wajah istrinya dengan sangat serius, "Sayang kenapa diam terus,? tadi di bawah ngoceh, tapi setelah di kamar sikap sayang jadi aneh.?"


Naya menyimpan piring di meja, dia mencoba mengunci bibirnya yang sudah mulai bergetar, agar tak meluapkan amarahnya, dia hanya menggeleng, dan berpura-pura menonton TV, Dimas menyentuh dagu Naya dan di arahkan supaya melihat ke arah dirinya, "Jawab sayang ada apa,? apa ada yang mengganggu hatimu,?" Dimas mendekatkan wajahnya ke bibir Naya, namun Naya memalingkan wajahnya kelain arah.

__ADS_1


,,,,


Hi.., apa kabar reader ku,? semoga kabar kalian selalu dalam lindungan Allah senantiasa, jangan lupa terus dukung aku, dengan lake, komen dll nya ya🙏🙏


__ADS_2