
Serasa dunia hanya milik berdua dan yang lain cuma ngontrak guys, tidak boleh ada yang mengganggu, sekalipun suara angin yang berhembus, hening yang terdengar hanya sahutan napas keduanya yang berat karena kecapean.
Sinar matahari sudah memberi suhu hangatnya dan cahayanya masuk kedalam kamar melalui celah jendela, yang dimana di dalamnya ada dua insan yang masih betah berbalut selimut berdua.
Naya masih dalam pelukan suaminya yang berbaring menghadap ke langit-langit, tubuh keduanya masih polos hanya di tutupi selimut tebal saja.
Badannya masih lemas namun sangat puas, mereka baru saja habis melakukan aktifitas yang kesekian kalinya, tangan Dimas mengelus perut sang istri.
Naya mendongak, "Kapan kita pulang.?"
"Nanti bah.., santai aja dulu lah," sahut Dimas sambil memejamkan mata.
Naya kembali terdiam, ia membetulkan selimut di jepitnya dengan tangan agar menutupi dada, lalu ikut memejamkan mata seperti suaminya namun tak lena, hingga akhirnya Naya bangun mengenakan jubahnya, melirik suaminya nampak pulas.
Naya turun menapaki lantai berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih lagi setelah tadi subuh mandi dan sekarang badan lengket kembali, akibat tempur lagi dan lagi tadi pagi, bener-bener suaminya tidak membiarkan ia tidur tenang.
Setelah berpakaian rapi penampilan cantik, Naya menoleh suaminya masih tidur pulas, ia mendekati jendela untuk melihat suasana sekitar villa, "Masya Allah tabarakallah, itu banyak pohon buah-buahan dan sangat berbuah lebat ya Allah," ck ck ck Naya begitu kagum melihatnya.
Naya mendekati tempat tidur, di mana suaminya masih tidur nyenyak, "Yang, bangun..?"
"Hem..," gumam Dimas.
"Jalan yuk lihat-lihat buah tuh."
"Hem.., nanti ah ngantuk yang," dengan suara khas bangun tidur dan tanpa membuka matanya sedikit pun.
"Ih.., dah siang juga," gerutu Naya sambil berjalan menjauhi tempat tidur dan keluar kamar.
Ketika melintasi pintu ada penjaga tengah bersih-bersih, "Pak, maaf mau tanya, di belakang ada banyak pohon buah milik siapa ya,?" Naya menatap menunggu jawaban.
"Oh, di belakang milik nya villa ini Bu," sahut orang itu sambil mengangguk hormat.
"Em.., tidak apa-apa kan kalau aku mengambilnya,?" tanya Naya lagi.
"Tentu Bu, boleh ambil aja jangan sungkan," sambung orang itu lagi.
"He..,he..,he.., takut tidak boleh."
"Boleh Bu, ambil aja, gak pa-pa," penjaga villa meneruskan tugasnya yang sempat terganggu oleh kehadiran Naya.
Naya pun terus berjalan-jalan sampai akhirnya tiba di halaman yang banyak pohon buah, lebih tepatnya kebun buah sebab luas juga sih tanahnya.
Ada Mangga, jeruk, Apple, salak Kalimantan dan ada lagi buah khas Kalimantan yang Naya tidak ketahui namanya.
Ck ck ck.., "Ya Allah, lebat nya," Naya berdiri dekat pohon buah Apple yang banyak berwarna merah-merah, bahkan tidak kurang yang tergelatak di atas tanah ada yang masih utuh ada juga sebagian bekas hewan, dan ada juga yang sudah busuk di tanah.
__ADS_1
Dia memetik satu di gosokkan ke bajunya kemudian dimakannya, "Masya Allah manisnya, habis satu ngambil lagi, dimakan lagi sampai habis lagi.
Kemudian mendekati pohon jeruk, metik beberapa lalu di kupas dan dimasukan ke mulutnya lagi, "Em.., lebih manis ya Allah.., coba dekat rumah 'ku ada pohon buah seperti ini, ada sih buah mangga tapi belum berbuah," gumam Naya bicara sendiri.
"Pengen buah mangga tapi.., gak bawa pisau untuk mengupas nya, mana gak ada orang untuk di suruh lagi ah, aduhh gak bawa ponsel juga," Naya bengong sambil memakan jeruk.
Dari kejauhan seorang pria mengawasi Naya dengan senyumnya yang manis matanya terus mengawasi Kanaya yang berjalan-jalan mendekati pohon-pohon buah yang pendek-pendek hingga dengan mudah memetik buahnya.
Naya terus saja berjalan dari pohon satu ke pohon yang lainnya hingga merasa lelah dan duduk di bawah pohon mangga yang daun dan buahnya rimbun.
"Uh.., capek, duduk di sini enak kali ya, teduh," sembari menghindari sinar matahari yang semakin terik.
Melihat Naya duduk sepertinya ke lelahan, pria tersebut menghampiri Naya yang selonjoran di bawah pohon mangga.
"Sedang apa kau di sini,? nyolong buah ya,?" sapa pria tersebut menyeringai melihat Naya memegang buah mangga di tangannya.
Sontak Naya kaget, "Astagfirullah..," memegangi dadanya dan melepas mangga hingga jatuh menggelinding.
Naya menoleh dan mendongak pada orang yang datang dan membuatnya kaget, setelah melihat memperhatikan dengan seksama Naya tambah kaget kenapa orang ini ada di sini juga, "Ka-kamu kenapa ada di sini juga.?"
Naya ingin berdiri namun terpeleset sehingga terduduk kembali, wajahnya nampak cemas.
"Santai aja, duduk aja yang manis lelah kan,?" pria itu duduk tidak jauh dari Naya dan mengambil buah mangga yang tadi menggelinding.
"Suka-suka saya mau berada di mana saja kan,?" tersenyum mengejek.
"Ih.., menyebalkan," tutur Naya lalu terdiam.
Pria tersebut mengupas kan buah untuk Naya lalu di berikan pada Naya, tanpa ragu Naya mengambilnya dan memakannya, "Masya Allah manis sekali padahal masih mengkal loh."
Pria itu tertawa kecil melihat ekspresi Kanaya yang memakan buah, rona bahagia sangat tersirat di wajahnya.
Disela makannya Naya menoleh kearah pria tersebut di atas ranting ada ular berwarna hijau akan melintasi pindak pria tersebut sontak Naya menjerit, "Aw..,Dery awas.., itu u-ular dekat pundak ka-kamu," teriak Naya gelagapan.
Dery dengan cepat melirik yang Naya tunjukkan dan sekilas menangkap ular tersebut kemudian di banting nya beberapa ke tanah sampai ularnya tak bergerak sama sekali lalu dia lempar jauh.
Naya menjadi celingukan melihat di sekitarnya takut ada ular juga namun sepertinya aman, tidak ada kelihatan tanda-tandanya, Naya bergidik, "Ih.., ngeri, takut."
"Tidak apa-apa sudah aman kok gak usah takut," ucap Dery menenangkan Kanaya.
Mata Naya masih berusaha hati-hati takut tiba-tiba ada ular yang lain lagi.
Naya masih penasaran kenapa Dery ada di situ juga, nginep juga di villa yang sama atau gimana, "Kamu nginep di sini juga,?" menatap Dery lekat.
Dery menepuk-nepuk tangannya, berjalan mencari air untuk memcuci tangannya sebentar lalu kembali ke tempat semula, "Apa saya menginap di sini,? gak salah, gak ada tenda gak ada apa masa saya tidur di sini seperti gelandanagn dong saya."
__ADS_1
"Nih orang lama-lama nyebelin juga bicaranya, aku kira sedingin orang nya," gerutu Naya dalam hatinya, "Em.., maksud aku, kamu menginap di villa itu juga kah, bukan tidur di sini," titur Naya lembut.
"Oh.., gitu dong nanya nya, baru saya mengerti," sambil nyengir memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"Iya.., saya menginap di villa itu juga, kamar saya.., bersebelahan dengan kamar kalian, sehingga mendengar apa yang kalian-!"
"Hah apa,?" Naya kaget dan merasa sangat malu semalunya jika yang di ucapkan Dery benar.
Dery tertawa lepas, melihat wajah Naya pucat pasih lebih dari ketika dia melihat ular tadi, "Ha..,ha..,ha.., tidak, saya cuma bercanda kok tidak usah takut," masih terkekeh.
Naya tidak mengerti dengan maksud Dery, lagi-lagi mengernyitka keningnya, "Maksud kamu.?"
"Ya.., maksud saya, saya memang tidur di villa yang sama namun kamar saya jauh dari kamar kalian, tadi saya cuma bercanda, ngapain saya ngintip orang, jatuhnya gak ada kerjaan saja," penuh serius.
"Oh"
Di dalam kamar Dimas
Di kamar Dimas baru saja melek berusaha membuka matanya yang terasa sepet banget, pengennya malas-malasan dan tiduran, ia mencari pakaiannya, namun yang ada cuma celana pendek saja langsung masuk kamar mandi untuk bersih-bersih, sebelumnya mencari keberadaan Istrinya namun tidak ada di kamar, ponselnya pun ada di atas meja mungkin dia lupa tuk membawanya.
Melihat suasana di luar sungguh sudah sangat panas tandanya sudah siang, ia mengguyur tubuhnya dengan air shower, menyabun dan menuang shampo juga untuk rambutnya.
Karena cemas dengan istrinya Dimas bergegas mandinya, kemudian mencari pakaian ganti, setelah mengenakan pakaian kemudian menyemrotkan minyak wangi, menyisir, menyimpan haduk ke tempatnya, Dimas tergesagesa keluar kamar.
Dimas ke dapur, mengambil botol air mineral dan di bawanya, "Maaf mau tanya, melihat istri saya di mana,?" menatap lekat dan berharap orang ia tanyain tahu keberadaan sang istri.
"Oh, istri Tuan kalau gak salah tadi ke belakang ingin memetik buah," menunjuk kebelakang.
Dimas menoeh yang di tunjukkan, kemudian berjalan, "Makasih," bergegas melangkahkan kakinya keluar dari villa terbut.
Benar saja ada banyak pohon buah di belakang villa dan tanahnya lumayan luas juga, di ujung terlihat ada seorang pria dan wanita yang Dimas yakin itu adalah istrinya.
Semakin lama semakin dekat, dan semakin jelas kalau wanita itu adaah Naya istrinya dan pria yang di sebelahnya adalah Dery, "Ngapain berduaan di sana.?"
Dimas semakin mempercepat langkahnya mendekati Istrinya, "Sayang lagi apa di sini berdua sama Dery.?"
Keduanya menoleh Dimas yang baru datang, ekspresi keduanya biasa aja sebab memang gak ada ap-apa.
"Baru bangun yang," sapa Naya dengan senyum manisnya, menyambut kedatangan sang suami.
"Iya, kalian sedang apa berduaan,?" lagi-lagi bertanya, menatap curiga pada Naya dan Dery bergantian.
,,,,
Para reader sekallian, aku yakin lumayan banyak pembaca dan suka dengan novel ini, dan aku niat nya panjang gitu episodnya cerita harian gitu, gak terlalu banyak di singkat, terus aku mau tanya nih sama kalian semua, menurut kalian cerita ini kedepannya di singkat aja dan segera tamat atau menuruti alur 'ku aja/ gimana mau 'ku aja,? gimana kalau menurut kalian.?🙏🙏
__ADS_1