Bukan Mauku

Bukan Mauku
Gagal deh


__ADS_3

"Tapi aku bukan orang dayak yang, bahkan kita kan muslim yang," Naya seakan kurang setuju dengan rencana keluarga suaminya itu.


"Nggak, cuma acara biasa aja makan-makan gitu," timpal Dimas sambil melepas pelukannya.


"Oh, kalau pake adat dan non muslim aku gak mau," ucap Naya penuh nada serius.


"Nggak kayanya," melangkah ke dekat pagar balkon, "Oya Tante ada di sini,?" melirik Tantenya sekilas lalu memandang lepas suasana sekitar.


"Iya, pengen bicara saja sama istri mu, secara kami baru ketemu sekarang."


"Iya Tante, aku baru sempat bawa istri 'ku kemari, itu pun paling dua malam saja," ujar Dimas tanpa melihat orang yang di ajak bicara.


"Mampir ke tempat kami ya? bawa istri mu ya, Tante tunggu loh," sambil menepuk pundak ponakannya kemudian pamit tuk meninggalkan mereka.


"Eeh.., Tante mau kemana, tunggu,?" Maria setengah melompat mengejar Tantenya.


Naya memandangi punggung Maria da Tante Lia yang hilang di balik pintu, Naya menghampiri suaminya yang berdiri di sisi balkon lalu memeluknya dari belakang, menempelkan pipi di punggung sang suami.


Dimas mengeratkan dekapan sang istri, "Kenapa sayang.?"


"Gak."


Dimas berbalik dan menuntun tangan sang istri ke dalam kamar, "Istirahat yu bentar, ngantuk nih," menjatuhkan tubuhnya diantara kedua baby nya.


Naya duduk di tepi tempat tidur, menatap suaminya, Kayla bangun menangis sekeras-kerasnya, "Loh sayang kok nangis,? ini Bunda sayang cup cup," mengecup pipi Kayla kanan dan kiri.


"Kayla kenapa,? nangis kencang amat" suara Bu Hesa tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Naya melongo kok bisa Mama mertua masuk, tanpa mengetuk pintu ataupun permisi, padahal sewaktu di rumahnya Dimas Mama mertua tidak seperti ini, "Tidak tau Mak, bangun langsung nangis, haus mungkin," Naya menggendong dan mengelus penuh kasih sayang baby Kayla yang masih nangis.


"Ayok sama oma, gitu aja gak becus," gumam Bu Hesa, lantas mengambil Kayla dari gendongan Naya.


"Astagfirullah," Naya menggeleng sambil menyerahkan Kayla pada Ibu mertuanya.


"Mama bawa ke bawah Kayla nya, biar Kayla bermain sama anak-anak di bawah saja," Bu Hesa melengos dengan wajah tidak bersahabat.


"Ya Allah.., aku tidak mengerti apa salah 'ku kali ini,? sehingga Mama mertuanya bersikap demikian, huuh.., helaan napas Naya begitu berat.


Melihat suaminya yang begitu nyenyak, begitu pun Arif masih juga lelap bobonya, Naya ingin keluar namun takut Arif bangun, akhirnya Naya kembali ke balkon menghirup udara di sana.


Dari balkon sebelah Dery memandangi Naya yang berwajah berat seperti tidak nyaman, gelisah terbesit jelas di sana.


"Jangan melamun jika hanya membuat gundah, lepaskan, bebaskan agar semuanya beterbangan seperti debu, percuma di simpan, jika hanya membuat resah," ujar Dery membuat Naya seketika menoleh kearahnya.


Helaan napas begitu panjang kemudian dibuang dengan kasar, Naya tersenyum mengembang seraya berkata, "Aku selalu melepaskan, namun secara tidak disengaja ia kembali sekalipun sudah 'ku buang jauh-jauh, tinggallah aku menyikapinya, dan tentu aku punya cara sendiri untuk membuang segala resah dan gundah 'ku ini,"


Dery manggut-manggut, "Bagus, jadilah seseorang yang tegar dan kuat," mengepalkan tangannya.


"Pasti, semangat," Naya pun mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.

__ADS_1


"Wanita kuat, tak pantang menyerah, hatinya tangguh meski di balik itu rapuh," gumam Dery sambil menyunggingkan bibirnya sebelah.


Dari sore suasana rumah begitu ramai keluarga jauh pun pada datang, untuk merayakan HUT RI besok dan syukuran esok harinya, Dimas di sambut dengan baik oleh keluarga dan para tetangga, melainkan warga setempat dan Dimas memperkenalkan istri tercintanya ya itu Naya, Naya hanya cukup tersenyum ramah kepada semuanya.


Selepas makan malam, semuanya kembali berbincang, Naya menghampiri kedua baby nya yang ada dalam kumpulan Bu Hesa, Tante Lia entah kemana, Maria tengah di belakang.


"Setau saya dulu Dimas mau menikah dengan Silvi, atau dokter Karmila, tapi ternyata bukan ya?" ujar seorang Ibu-ibu.


"Iya, bukan jodoh kali, saya sih ingin nya Abang menikahi wanita yang sederajat, pendidikannya pun sama tinggi, namun pilihan Abang lain, ya mau gimana lagi kan,?" ujar Bu Hesa.


Naya langsung mendongak, "Tapi aku gak minta atau pun maksa untuk di nikahi loh Mak, Abang yang kekeh juga ingin nikahi aku waktu itu, dan kami kenal bukan sebentar juga tapi sudah bertahun-tahun," sahut Naya sangat percaya diri membuat Bu Hesa, beliau terdiam.


Naya mengembangkan kedua pipinya, sekilas terlihat Bu Hesa salah tingkah, yang lain manggut-manggut.


Bu Hesa mendelik, "Kan saya cuma bilang saja, bukan nya saya tidak menerima pernikahan kalian," elak Bu Hesa.


"Eh cucu mu lucu-lucu, bikin gemes banget."


"Oh iya dong anak Abang kan," dengan bangganya Bu Hesa.


"Abang, lihat Kakak ipar tuh sama Mama,?" Maria menyenggol tangan Dimas dan setengah berbisik.


"Emang kenapa,?" tanya Dimas yang tengah mengobrol dengan yang lain.


"Kali aja di nyinyir Mamak," tambah Maria matanya melihat kearah Ibunya di tengah banyak orang.


"Maksud kamu apa sih,?" .Dimas tak mengerti maksud adiknya itu.


Dimas sejenak terdiam dan mengulas senyum pada semuanya, kemudian beranjak dari duduknya menghampiri Naya istrinya.


"Sayang, gimana betah di sini,?" Dimas duduk dekat Naya yang duduk bersama Mama nya.


Naya menoleh sang suami, hanya membalas dengan senyuman, Dimas merangkul bahu Naya, memperlihatkan kemesraan pada semua yang ada di sana.


Bu Hesa menatap Dimas dan Naya, "Kau ini tidak punya malu apa, memperlihatkan kemesraan di depan kami."


"Biar saja Ma, kan kami suami istri, emang siapa yang larang,?" Dimas menatap Mamanya.


"Ya malu saja," sambil melirik semua orang.


"Yang masuk kamar yuk," Dimas menggenggam tangan sang istri yang menatap dirinya.


"Arif dan Kayla belum bobo, sudah malam," menatap suaminya.


"Ya ajak bobo lah."


Dimas mengambil kedua baby nya dan di ajak ke atas untuk di tidurkan sebab sudah malam, mulanya mereka yang menggendong kedua baby gak mau ngasih. namun Dimas paksa dengan alasan sudah malam, akhirnya mereka ngasih.


Kini mereka sudah berada di kamar, baby sudah di tidurkan, Naya masuk kamar mandi, memutar keran membasuh mukanya, menatap pantulan wajahnya di cermin.

__ADS_1


"Abang, baby Arif dan Kayla biar bobo nya sama Mama, jarang-jarang kan bisa bobo sama cucu," Suara Bu Hesa memecah keheningan.


"Maksud Mama bobo di kamar Mama bukan? gimana nanti mereka bangun dan lapar," ucap Dimas.


"Kan ada susu formula, gampang," sahut Bu Hesa kembali.


"Ya udah minta ijin dulu sama Bundanya Ma," Dimas menoleh kearah kamar mandi.


"Ielah.., mereka kan cucu Mama, masa gak boleh,? yang benar saja."


"Ada apa,?" Naya berdiri depan pintu, memegangi handuk kecil untuk mengusap wajahnya.


Keduanya menoleh, "Ini Bun, baby kita mau Mama bawa biar bobo nya sama mereka Mama."


"Emang nya kenapa kalau tidur di sini,? tanya Naya kembali.


"Jarang-jarang kan mereka ada di sini biarkan mereka tidur sama kami kali ini, kalau lapar kan ada susu formula," sambil mengangkat keduanya ke pundak sang oma.


"Tapi Ma, nanti merepotkan loh," Naya berat untuk memberi ijin.


"Biar saja, keperluan nya ada kok," Bu Hesa ketus dan membawanya dari kamar tersebut.


"Tapi Ma..,?" Naya mematung meihat anak-anaknya di bawa sang mertua.


Dimas menghampiri sang istri, "Biar saja sayang, kan sama oma nya, bukan siapa-siapa juga, lagian kan kita bisa bikin lagi, bisik Dimas membuat Naya melotot dan mencubit tangan Dimas.


Bibir Dimas menyeringai, memanggku tubuh Naya di bawanya ke atas tempat tidur, Dimas turun meninggalkan istrinya yang tidur terlentang seolah menunggu pesawat mendarat, ia menutup dan mengkunci pintu kamar.


Dimas naik merangkak ke atas tempat tidur, mengungkung tubuh sang istri setelah kembali dari mengunci pintu.


Tidak buang-buang waktu Dimas langsung mencumbu istrinya, dari ujung rambut sampai ujung kaki tak ada yang luput dari sentuhannya.


"Sebentar sayang," suara Naya memberi jeda.


"Kenapa sayang hem,?" napas nya sudah mulai memburu, berat dan sufah siap melepas hasratnya.


"Yang, aku.., sepertinya datang bulan nih," menggit bibir bawahnya, kasian sama suaminya yang seoertinya sudah menggebu-gebu.


"Bohong ah, dari kapan, jangan banyak alasan sayang, sudah tegang nih," dengan suara beratnya menatap sendu memelas.


"Bener, baru saja datang nya," tangan Naya mengelus pipi sang suami.


Dengan penasaran Dimas memeriksa sendiri dan ternyata memang benar adanya, "Hah gagal deh," membuat Dimas kecewa sangat kecewa, harus berpuasa dulu dalam beberapa hari ini, ia bangun duduk memunggungi Naya, Naya pun ikut bangun dan memeluk perut Dimas, dengan nada manja seraya berkata, "Sayang maaf ya,?" Naya menciumi punggungnya.


"Hem," gumam Dimas sembari memijat batang hidungnya, mungkin dari bawah naik ke atas jadinya pusing.


Naya terus memeluk tubuh sang suami dengan manjanya, "Yang.., jangan marah ya,? lain kali kan bisa," namun Dimas malah berdiri memasuki kamar, kali saja mau berendam untuk mendinginkan juniornya.


****

__ADS_1


Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vot nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.


__ADS_2