
"Ah, heran ada aja gangguan nya bila ingin manja-manja sama istri," gumam Dimas, membuat Naya tersenyum mengelus pundak suaminya.
"Menggerutu terus ih, bibir mu kaya cewe tau gak,?" sembari melengos meninggalkan Dimas.
"Hah," gumam Dimas menatap kepergian Naya istrinya.
Naya membuka pintu, di sofa sudah terlihat Lisa tengah duduk menunggunya.
"Ya Lisa ada apa,?" sambil mendudukkan tubuhnya di sofa yang satunya lagi.
"Em.., begini Bu," Lisa mengangguk dan ragu-ragu.
Naya menghela napas, terlihat bau-bau masalah yang tengah dihadapi Lisa pekerjanya, "Iya.., bicaralah."
"Ini Bu," Lisa menunduk menautkan jari jemarinya tapak gugup.
Naya menatap heran, "Tenang lah, dan bicara pada 'ku apa yang ingin kamu sampaikan, ada masalah apa kah.?"
"Sebelumnya saya minta maaf Bu," Lisa menceritakan semua masalah yang sekarang ia hadapi, dari awal sampai akhir tak ada yang terlewatkan sedikit pun.
"Kenapa bisa terjadi sih,? itu bukan sedikit bagi usaha kita yang baru di rintis ini," dengan nada lemas.
"Sa-saya minta maaf Bu,?" ucap Lisa menunduk merasa sangat bersalah dalam hal ini.
Helaan napas Naya panjang lalu di hembuskan secara kasar, "Kamu yakin gak salah alamat,?" tanya Naya berusaha tenang.
"Tidak Bu," Lisa menggeleng pelan, "Mereka mengancam kalau tidak mengembalikan uang muka yang mereka kirim tidak dikembalikan, akan melapor polisi," Lisa menunduk dalam.
Naya terdiam sejenak, "Kita berhak mencari tahu, atau menyelidiki itu barang nyampe nya kemana? dan itu sudah tanggung jawab pihak jasa pengiriman loh, tapi ya sudah soal uang, kembalikan saja, mungkin aku kurang bersedekah."
Lisa mendongak terkejut, "Tapi Bu, uang mukanya 35jt dan barang kita yang hilang mencapai 50jt dan itu bukan uang sedikit buat usaha kecil-kecilan kita."
Dengan tenang Naya berkata, "Tidak apa, kembalikan saja, biarlah jika itu bukan Rizqi kita, ikhlaskan saja."
"Jadi Ibu tidak marah,?" Lisa menatap penuh harap.
Naya menarik sudut bibirnya melukiskan sebuah senyuman, walau pun hatinya menjadi semrawut, menciut, memang nominal segitu sangat banyak baginya, itu sebuah kerugian yang lumayan untuk dirinya.
"Ya Allah ! beri aku kesabaran dan ke ikhlasan, jika itu memang harus menjadi kerugian untuk 'ku," batin Naya.
"Tidak buat apa aku marah, tiada guna aku marah, biar aku urus masalah ini, kamu urus saja soal uang muka nya, kembalikan segera," perintah Naya serius.
"Makasih Bu," akhirnya Lisa bisa tersenyum, dan hatinya merasa lega, setelah mendengar ucapan Naya tersebut, "Baik saya akan segera kembalikan uang tersebut."
Lisa merasa lega, dan dia berpamitan, untuk melanjutkan pekerjaannya, namun sebelum dia pergi Naya memberikan gambar baru pada Lisa.
"Besok aku akan turun ke lokasi, oya lain kali lebih berhati-hati lagi, soal jasa pengiriman akan di urus hari ini juga," ujar Naya dengan wajah sedikit lesu.
"Baik Bu, sekali lagi saya minta maaf,?" lagi-lagi meminta maaf akan kesalahannya.
"Sudah lah, pergilah teruskan pekerjaan mu," ucap Naya sembari mengibaskan tangannya.
Lisa beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Naya yang termenung di Sofa.
Naya memandangi punggung Lisa yang menuruni tangga sampai hilang dari pandangan mata, rasa sesak menyelimuti relung hatinya, sekaligus sedih mengingat kerugian yang kini ia alami, tak kuasa membendung air mata yang menggenang di sudut mata, akhirnya Naya menangis, ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Naya menangis tersedu, pedih, sakit yang ia rasa di ulu hati, berharap mendapat untung malah buntung, baru saja usahanya menanjak eh..,kerugian yang cukup tak main-main bagi dirinya, kali ini ia harus menelan pil pahit.
Naya mengusap kasar pipinya yang basah, tangisannya tak akan menyelesaikan masalah kecuali rasa sesak dan dan sakit yang akan berkurang, ia harus bangkit tidak boleh terpuruk, tidak boleh kalah dengan namanya kerugian, itulah yang selalu jadi tameng bagi dirinya, kata-kata tidak boleh kalah dengan namanya kerugian.
Naya menggunakan ponsel untuk menghubungi pihak-pihak yang terkait akan masalah ini, terutama pihak jasa pengiriman yang lalai, sehingga barang yang sudah menjadi tanggung jawab dan seharusnya sampai ketempat tujuan raib di tengah jalan tanpa kabar.
Sesekali ia memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing, gara-gara masalah ini, akhirnya pihak jasa pengiriman barang, meminta waktu beberapa hari untuk menyelidiki keberadaan barang tersebut, dan bila memang barang itu hilang dalam kendali pihak terkait, maka pihak tersebut akan bertanggung jawab menggantikan dengan uang seharga setengahnya.
Masih mending lah walau di ganti setengah nya juga, dari pada tidak sama sekali otomatis cuma ia sendiri yang kerugian, Naya pun menyetujui dan akan sabar menunggu sampai semuanya terputus kan.
Akhirnya Naya bisa bernapas lega meskipun semuanya masih dalam proses, setelah Naya merasa semua cukup selesai ia berdiri dan berjalan mendekati pintu.
Ceklek.., suara pintu yang Naya buka tampak Dimas tengah bermain dengan baby twins nya, Dimas menoleh kearah Naya yang berdiri di daun pintu, wajahnya lesu dan berusaha tersenyum yang terlihat getir.
"Huuh..," Naya membuang napas kasar sambil mendekati suami dan anaknya.
"Ada apa Bun lesu gitu hem,?" tanya Dimas dengan nada yang sangat lembut.
"Nggak, biasa ada masalah dikit," sahut Naya sedikit lesu dan mata kembali berkaca-kaca.
"Kok nangis,?" menatap heran dan merangkul bahu Naya di bawa ke pelukannya.
"Itu Lisa, mengirim barang ke konsumen seharga lima puluh juta, namun barang nya hilang di jalan, konsumen yang sudah memberi uang muka minta di balikin, soal uang sudah selesai, Lisa sudah balikin, tapi soal barang masih di selidiki," ujar Naya dalam pelukan suaminya.
Huuh.., Dimas membuang napas kasar setelah mendengar yang sedang dialami oleh Istrinya itu, "Sabar sayang, untung dan rugi dalam usaha itu hal biasa," mengusap lembut punggung sang istri.
"Ya aku tahu," namun yang aku sedih kan uang segitu bukanlah sedikit buat aku yang, lumayan besar bahkan sangat besar bagi pengusaha yang baru di rintis seperti aku," jelas Naya.
"Iya aku tahu, namun yang sabar saja semoga, semuanya tergantikan, kan itu juga yang sering Bunda katakan sama ayah," bujuk Dimas sembari merangkul istrinya.
"Terus, sudah menghubungi pihak yang terkait untuk mempertanggung jawabkan masalah ini,?" tanya Dimas menatap Naya yang mulai menyusui baby Kayla.
"Sudah, minta waktu beberapa hari, katanya kalau barang itu tidak di temukan pihak mereka akan mengganti rugi setengahnya."
"Kenapa setengahnya,? semuanya dong ! mereka yang seharusnya bertanggung jawab Bunda," Dimas merasa geram.
"Tapi.., bagi aku, kembali setengahnya saja sudah alhamdulillah, dari pada tidak sama sekali loh."
"Hem Bunda-Bunda," Dimas menggeleng.
"Sehabis baby kita bobo lagi, aku akan turun ke lokasi yang, ijin ya,? atau setelah makan siang saja lah," ucap Naya sembari mencium kening baby Kayla.
"Boleh, tapi jangan lama-lama ! oya nanti sore mereka Aldo dan Endro akan datang kemari," sembari mengusap kepala Arif yang kini berada dalam pangkuannya.
"Ya datang saja, gak sih gak akan lama kok, paling ngecek-ngecek doang, sekalian mau ngecek konter juga, lama gak ngecek memang sih laporannya masuk tiap hari juga namun lama gak ngecek ke lapangan."
"Iya," gumam Dimas.
Naya membaringkan baby Kayla ke tempat tidurnya, lalu mengambil Baby Arif dari pangkuan Dimas suaminya untuk diberikan asi.
Selesai makan siang dan Dimas pun sudah diberi obat, Naya bersiap untuk pergi ke butik dan konter, "Bibi, aku titip Baby twins ya,? mau ke butik dan konter sebentar, kalau haus mereka beri susu formula saja," melirik kedua asistennya.
"Oh baik Bu, hati-hati ah, Bibi suka was-was kalau dengar Ibu ke konter, ingat pada waktu itu," Bibi Taty bergidik menggoyangkan bahunya.
Naya menarik sudut bibirnya membuntuk sebuah senyuman, "Jangan khawatir Bi, semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Bi Taty mengangguk, "Iya mudah-mudahan, Aamiin semoga saja baik-baik saja."
"Ayuk yang ?" Dimas bersiap pergi mengantar istrinya pergi.
"Loh Ayah mau ikut,?" menatap kearah suaminya yang sudah siap pergi juga.
"Iya, nemenin Bunda," sahut Dimas cepat.
"Ayah baiknya istirahat aja di Rumah,? ngapain ikut," tutur Naya lagi.
"Nggka ah, Ayah baik-baik saja yang," kemudian menggandeng lengan Naya membuat Naya tak bersuara lagi melainkan mengikuti langkahnya.
Tidak selang lama akhiranya mereka sampai di tempat yang di tuju, Naya lebih dulu memasuki konter yang di tunggui Zidan, "Assalamu'alaikum.., zidan.?"
"Oh wa'alaikum salam.., Bu, aduh tumben Ibu turun,?" zidan sedikit kaget melihat kedatangan Naya yang secara tiba-tiba mendatanginya.
"Oh, mampir saja sebentar," Naya dan Dimas mengawasi suasana di konter.
"Gitu ya," mengangguk hormat.
"Iya," Naya memasuki ke ruang yang lebih dalam lagi sampai toilet pun jadi sasaran Naya tuk ngecek apa masih benar-benar nyaman atau tidak.
Asisoris pun termasuk komplit, "Laporan hari ini mana Zidan,?" tanya Naya meminta pembukuan pada Zidan.
Dimas duduk di sofa dengan santainya duduk bertumpang kaki, matanya masih mengamati isi konter tersebut, yang semakin berisi.
"Kau betah gak kerja di sini,?" tanya Dimas pada Zidan yang memberikan laporan yang Naya pinta.
Zidan menoleh seraya berkata, "Betah Tuan," mengangguk ramah.
"Syukurlah, kerja yang baik dan jujur," sembari menepuk pundak Zidan.
"InsyaAllah Tuan," Zidan tersenyum.
Naya dengan serius mengecek pembukuan, di samakan dengan catatan yang ada di benda pintarnya.
"Zidan, di sini ternyata ada selisih nominal nih, ini sekian juta uang nya di mana,?" Naya menatap Zidan.
Zidan ngecek ulang pembukuan yang tadi dia berikan pada Naya, "Oh, maaf Bu, uang itu masih di luar dan saya lupa mencatatnya," Zidan nyengir.
"Hem.., awas hati-hati, jangan lupa mencatat, agar tidak ada keselisihan faham," lirih Naya dengan nasih fokus memperhatikan data di ponsel nya.
"Lebih jeli lagi lah ya,?" ucap Dimas sembari tersenyum pada Zidan.
"Maaf Bu, Tuan, saya lupa," Zidan memeperbaiki kesalahan nya.
"Ya sudah, kami mau ke butik dulu, tetap semangat dan hati-hati juga," ujar Naya pada Zidan yang melayani konsumen yang baru datang.
Dimas berdiri dan melangkah bersama Naya, dan Naya bergelayut mesra di tangan Dimas, lalu berpamitan pada Zidan dan berpesan, untuk lebih jeli lagi dan lebih berhati-hati.
Langkah Naya dan Dimas sampai di tempat yang di tuju, dimana Lisa dan yang lainnya sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing, mereka terkejut terutama Lisa sebab setau Lisa baru esok hari Naya datangnya.
Naya mengajak pekerjanya untuk duduk santai dan mengobrol, tentang masalah yang tengah dihadapi, sesantai mungkin Naya mengajak mereka berbincang.
****
__ADS_1
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️