
"Ini Satu kali lagi aam..," Naya seolah menggoda sang suami, bak anak kecil yang sulit makan kecuali di suapi.
Makan malam sudah selesai, habis sholat magrib mereka masuk selimut, "Yang..?" panggil Naya sembari memandangi langit.
"Hem, kenap sayang.?" Dimas membalik kan badannya menghadap Naya dengan satu tangan menyangga kepalanya.
Helaan napas Naya terdengar kasar, "Selama ini sayang gak pernah telepon Mamak kah.? dan keluargamu juga sepertinya tak pernah menghubungi dirimu.?"
"Ada yang, sebentar lagi kita akan bertemu mereka kok." mengelus punggung tangan sang istri. "Sudah, bobo yuk.?" meraih kepala Naya agar tidur di dalam dekapannya.
Naya tak bicara lagi, hanya mengikuti ajakan suaminya, mata Naya hampir terpejam Dimas semakin mengeratkan pelukannya. "Yang..," panggil Dimas mengecup kening sang istri.
"Hem.., ngantuk yang..," Naya tanpa membuka matanya.
Ke esok harinya semua sudah berkumpul, bersiap berangkat ke rumah milik Dimas, "Kita sarapan dululah." ucap Dimas.
"Oh, harus itu, harus sarapan dulu kita, biar tak sakit mag." sahut suami Lely.
Kemudian mereka semua mencari sarapan di sekitar penginapan tersebut, "Aku tunggu aja di penginapan ya.? nanti setelah kamu sarapan baru jemput aku.?" Naya menatap sendu Dimas.
"Kenapa.?" Dimas menaikan alisnya heran.
"Aku gak mau sarapan biar disini aja menunggu," jawab Naya menunduk.
"Ikut ajalah.?" sambung adik laki-laki Naya. "Biar gak balik lagi ke sini."
Dimas menoleh si Aa, kemudian pada Naya, "Benar kata si Aa, biar kita gak balik lagi, kau ikut saja lagian kau harus sarapan juga." lembut Dimas mengangkat dagu sang istri.
"Tapi aku gak lapar, lagian--!"
"Lagian apa sayang hem.?" dengan tatapan lembutnya, memotong perkataan naya.
"Pasti aku hanya akan merepotkan mu saja, kesan-kemari mengendong aku." ucap Naya membuat pilu yang mendengar.
"Sayang.? kau istriku, kau tanggung jawabku, jadi wajar dong aku membawa dirimu kemana pun," Dimas mengusap lembut lengan istrinya.
__ADS_1
"Ta-tapi--!" Naya tak meneruskan ucapannya, keburu satu telunjuk di tempelkan Dimas pada bibir Naya.
Kini mereka sudah berada di dalam rumah makan buat sarapan sebelum sampai rumah.
"Hi..bro.? kau sudah sudah balik rupanya, apa kabar bro.?" sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dan menghampiri Dimas, yang tengah sarapan bersama Naya dan yang lain.
Dimas mengulurkan tangannya. "Baik bro, sedang apa kau di sini, Endro.?"
"Cari buaya bro, ha..ha..ha, cari sarapan lah, apa lagi di tempat makan seperti ini." jawab pria tersebut mendelik kan matanya.
"Kali aja cari buaya betina ha..ha..ha..!" sahut Dimas tertawa.
"Emang saya buaya laki ya cari betina lah, massa jeruk makan jeruk.? tak asik bro." kata Endro memesan buat sarapannya. "Oya, kau sama siapa.? bukannya waktu itu kau bilang ada urusan ya.?" sembari menyedot teh manis miliknya.
Dimas menyimpan sendok di piring, kedua tangan berpangku di meja, menghabiskan dulu makanan di mulut. "Iya benar, sekarang sudah beres, tinggal menata masa depan saja,"
Endro menaikan kedua alisnya, "Maksud kau bro.?"
Dimas menyedot minumnya sampai tandas alias abis, "Aku sudah menikah bro." ucap Dimas sembari menunjuk sang istri dengan dagunya, Endro dari tadi tak ngeh dengan kehadiran seorang wanita berjilbab yang berada di samping Dimas, "Oh," Endro bengong entah apa yang dia pikirkan.
Naya tersenyum dan mengangguk pelan pada Endro, di balas senyuman oleh aja oleh Endro, yang menyuapkan sarapannya, "Lumayan sih gak jelek amat, kulitnya putih juga, dapat dari mana si Dimas.? kayanya bukan orang sini.!" gumam Endro yang sesekali melirik Naya,
"Kenapa bro.? aneh.? atau penasaran.?" bisik Dimas sambil menyenggol lengan Endro.
"Hah, nggak, dia gadis Bandung ya.? sepertinya bukan gadis sini bro.?" berpura-pura melihat kemana padahal mencuri pandang,
"Jaga tuh mata, jangan sampai saya congkel keluar." ketus Dimas, melihat Endro diam-diam mencuri pandang, Endro terperangah mendengar ucapan Dimas yang hanya dia yang mendengar.
"Santai bro.? saya tak macam-macam"
"Ya gak macam-macam, tapi saya melihat kedua mata kau kemana.?" dengan ekspresi datar.
"Sory bro.? lagian kau tak menjawab pertanyaan saya tadi.?" Endro mwnatap tajam.
"Oh, ya bukan gadis sini, tapi..,asli Sukabumi." jawab Dimas,
__ADS_1
"Weii, mojang Sukabumi bro, jauh-jauh nya kau mencari dia.? pantas." sahut Endro mengangguk anggukan kepalanya, Endro sudah selesai sarapan ia beranjak dari duduknya, "Ok aku duluan ya.? nanti kita pasti bertemu kembali bro.?" Endro dan Dimas berjabat tangan dan mengusap bahu masing-masing.
"Hem.., hati-hati bro." ucap Dimas melepas kepergian Endro dengan tatapannya. pak Nanang tengah mengobrol dengan putra-putranya, dan Naya sibuk dengan ponsel di tangan.
"Yang, yuk berangkat.! biar cepat sampai.?" memgang bahu sang istri, Naya mendongakkan kepalanya. "Iya."
Selama perjalanan, Naya dan Dimas lebih banyak diam dengan pikirannya masing-masing, hanya pak Nanang dan putranya yang asik berbincang.
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah lumayan Mewah minimalis berlantai dua, "Ini lah rumah kita sayang, aku bangun dengan hasil kerja diriku." ucap Dimas pada Naya yang mengamati rumah tersebut.
" Ini rumah nya.?" tanya Pak Nanang turun dari mobil.
"Wah hebat rumahnya Bang.?" sambung suami Lely, si Aa membawa koper dan tas di punggung berisi pakaian ganti untuk mereka bertiga.
"Iya Pak, yuk masuk.!" sahut Dimas membuka pintu mobil dan menggendong Naya dari mobil,
"Bang di dalam ada siapa.?" tanya suami Lely pada Dimas yang berjalan mendekati pintu.
"Biasanya, suka ada di bawah pot bunga, coba cari dek tolong.?" suruh Dimas pada adik iparnya. si Aa menemukan sebuah kunci lalu segera membuka pintu dan membukanya, mereka segera masuk, Dimas mendudukan tubuh dirinya dan Naya di sofa ruang tengah, yang lain melihat-lihat ke sekitar sudut rumah.
Pandangan Naya mengedari ruangan tersebut. "Yang siapa yan ngurus.? bukan kah waktu itu di sewakan.?" Naya melirik Dimas yang memejamkan mata sembari bersandar ke belakang sofa.
"Hem, iya waktu itu, sekarang sudah egak lagi, lagian kalau rumah ini di sewakan kita tinggal di mana yang.?" Dimas membuka matanya dan duduk tegak di samping sang istri. "Sayang gak akan mau maukan seandainya tinggal bersama mertua hem.?"
Naya diam tak menjawab, perkataan Dimas ada benarnya, Dimas meraih lengan Naya. "Sayang di sini hanya akan ada kita berdua menikmati masa-masa pacaran kita, seperti yang sayang mau."
Dimas melirik pada kedua adik iparnya. "Anggap saja rumah sendiri, tapi kalau mau makan, di dapur belum tersedia apa-apa berarti harus pesen, atau kalau mau di sebrang ada warung mau belanja apa aja silahkan, yang kasih si Aa uang biar dia belanja keperluan dapur."
"Aku gak pegang uang yang.?" Kata Naya menatap Dimas lembut.
"Sayang tuh di sebalah kamu dompet milik aku, ambil aja perlunya berapa." Dimas menunjuk kan tas kecil yang ada dompetnya.
Naya mengambil dompet tersebut dan mengambil uang beberapa lembar, di berikan pada adiknya. "Belanja apa.?" tanya Si Aa bingung, tak langsung mengambil uang tersebut, Naya menatap Dimas yang juga menatapnya, setelah beberapa saat saling pandang, Naya mengalihkan pandangannya pada sang adik.
"Di dapur pasti tidak apa-apa, beli aja beras, sayuran, lauk, pokonya semua keperluan dapur lah, nanti aku yang masak." Naya memberikan uang itu, "Kita capcus belanja lah, apa aja kita borong," sahut suami Laly.
__ADS_1
,,,,
Kira-kira orang tua Dimas merestui apa egak ya..? terimakasih kepada yang suka mampir di novel ini, mampir juga di karya ku yang satu lagi ya. ok jangan lupa lake, komennya, rating, dan vote nya juga.