
Supir yang tengah fokus menyetir sesekali melirik dari kaca spion sedikit keheranan, melihat ekspresi penumpangnya.
Beberapa jam perjalanan, Dimas menyuruh supir untuk berhenti, "Berhenti di depan Pak."
Supir pun menuruti menghentikan mobilnya tepat didepan rumah makan, "Kita Masuk ke sana dulu, duduk di dalam, sambil menunggu seseorang." ucap Dimas keluar mobil, dan mengajak supir tuk mengikutinya.
"Biar saya di sini aja Pak." supir menolak ajakan Dimas.
"Kita makan dulu Pak, kalau sudah makan Pak supir boleh nunggu di sini, saya gak enak kalau harus makan sendirian," kata Dimas membungkuk kan badannya dengan kepala mendekat ke jendela mobil berbicara dengan supir.
Supir tersebut turun, mengikuti Dimas yang berjalan masuk restoran tersebut.
Usai makan supir kembali ke mobilnya, biar menunggu di sana, sementara Dimas masih duduk di dalam karena tengah menunggu seseorang, Dimas sudah hampir satu jam menunggu di tempat tersebut, namun yang di tunggu belum juga nampak di matanya.
Sekali melihat jam di tangannya kemudian mengecek ponselnya, nampak gelisah sekali di wajahnya, karena merasa lelah Dimas memutuskan menunggu di mobil saja.
Tok, tok, tok, Dimas mengetuk kaca jendela mobil, di dalam terlihat samar supir tengah tidur pulas, supir pun terkejut, tak lekas membuka pintu dia mengucek kedua matanya, dan mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu, setelah sadar dia membuka pintu yamg terkunci, sebelumnya membuka kaca jendela depan. "Mau jalan sekarang Pak.?" tanya supir tersebut, Dimas masuk duduk du jok belakang dan bersandar ke belakang.
"Tidak, saya tunggu di sini saja lah, capek." sahutnya.
"Maaf, emang menunggu siapa.?" tanya supir melihat dari kaca spion depan.
"Menunggu Paman saya, mungkin tak lama lagi akan sampai." jawab Dimas sambil menghela napas dalam dan memejamkan matanya.
Beberapa waktu kemudian Dimas membuka matanya, menoleh keluar jendela sudah mulai sore, melik jam pukul 03.15 menit, lagi Dimas menarik napas panjang. "Pak saya sewa mobil ini sampai tujuan ya.?" ucap Dimas menoleh supir yang sama baru membuka mata.
Pandangan Dimas mengedar ke kanan dan ke kiri, akhirnya wajah Dimas kembali berseri dan tersenyum, setelah melihat sorang laki-laki menghampiri.
Dimas membukakan pintu sebelahnya, "Aduh om, lama sekali, kok baru datang."
"Tau kan jarak tempuh yang cukup jauh," sambil masuk dan duduk di samping Dimas,
"Apa kabar om.?" mengulurkan tangan, dan di sambut oleh Pamannya. "Baik."
"Mau makan dulu.? apa jalan langsung.?" tanya Dimas dengan tatapan datarnya.
"Om sudah makan siang, barangkali kau belum makan.?" ucap pamannya.
__ADS_1
"Saya sudah makan om, ya sudah jalan saja." Dimas melirik supir. di sambut dengan anggukkan, mobil pun melaju.
"Jadi rencana kamu seperti itu Dimas.?"
"Iya om.!" Dimas mengangguk,
"Emangnya dirimu sudah yakin dengan keputusan itu.? bahkan Ibu menentangnya.? dan...,tak akan ada penyesalan.?" om Fadil menatap Dimas dengan tajam.
"Aku sudah yakin seyakin-yakinnya, saya hanya akan menikahinya, tak ingin yang lain, seperti apapun dirinya itu akan jadi pilihanku om." Dimas memalingkan muka ke sembarang arah.
Om Fadil menepuk bahu Dimas, "Baiklah kalau begitu." sembari menarik napas kasar.
"Baiknya kita cari penginapan aja dulu di sekitar sini Pak." pinta Dimas pada supir. "Tapi sepertinya sudah dekat nih pak alamatnya.!" kata supir, Dimas sesaat berpikir.
"Tap pasti sangat sore, itupun kalau cepat ketemu alamatnya, kalau sebaliknya sulit ketemu, otomatis akan kemalaman, udahlah cari penginapan aja, besok pagi aja lanjutkan perjalanan." ucap Dimas pada supir.
Akhirnya seperti permintaan Dimas, mencari penginapan terlebih dahulu untuk istirahat semalam saja.
Usai makan malam Dimas memutar mutar ponselnya, mau menelpon Naya namun ia urungkan, kebetulan seharian ini tak ada satupun panggilan ataupun pesan dari Naya.
"Kangen yang.!" gumamnya, lantas membaringkan tubuh di atas kasur, pandangan lepas ke atas langit-langit, memikirkan rencana selanjutnya, di hari esok.
******
Yuda tengah berbincang dengan pamannya, membicarakan akan rencana dia yang akan ke tempat Naya untuk meminta maaf, syukur-syukur bisa di ajak kembali, walau harus mengesampingkan rasa malu yang teramat besar.
"Seharusnya elo malu, sudah menyianyiakan anak orang, sekarang mau ngajak kembali, emang gak ada wanita lain yang mau sama elo.?" ucap paman Yuda.
"Intinya gua mau minta maaf om, malu ya tinggal malu, dari pada gua di bayangi dosa, sekarang adik gua kena imbas mungkin dari kesalahan gua, dia di telantarkan suaminya, mana lagi keadaan hamil." sahut Yuda sembari melongo.
"Ya itulah, siapa yang menanam pasti dia yang akan menuai,"
"Sudah lah om, dukung gau napa.? antar gua ke sana besok, kalau gua sendiri gua gak tau rus berkata apa.?" kata Yuda dengan tatapan memelas.
"Lah sama, gua juga gak tau harus bicara apa nanti.? gua malu elo sudah mencampakkan si Naya." sambung Paman Yuda.
"Tapi kan om sudah tua, setidaknya sudah punya pengalaman, dan bisa merangkai kata, bicara sama orang tuanya, lah gua.?" ucap Yuda.
__ADS_1
"Sama gua juga bingung, lagian gimana kalau mantan elo dah nikah lagi.?" ujar Paman Yuda.
"Gak mungkin.!" sambar Yuda dengan cepat.
"Kenapa gak mungkin.?" tanyanya.
Dengan tersenyum dan percaya diri. "Hanya gua yang mau sama dia."
Paman Yuda hanya nyengir kuda mendengar ucapan ponakannya.
Obrolan berakhir dengan sebuah kesepakatan, besok pagi akan berangkat menemui mantan Yuda, dialah Kanaya.
******
Pagi-pagi Dimas sudah bangun dan mandi, sehingga begitu segar dan bugar, setelah mengenakan pakaian dengan rapi tak lupa menyemprotkan minyak wangi, ke seluruh badannya.
Ia membawa koper keluar kamar, dan di masukan ke dalam bagasi mobil, Dimas menunggu yang lain di dalam mobil.
Supir masuk dan duduk di belakang kemudi, susul oleh om Fadil duduk di depan dengan supir, supir menoleh kearah Dimas, "Jadi pak cari makannya.?"
"Emangnya si makan kabur ya.? sampai harus di cari segala.?" tanya Dimas pada sang supir, Dimas terkekeh sendiri, supir ataupun Om Fadil hanya bengong mencerna ucapan Dimas, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Kemudian berhenti tepat depan warung makan, mereka turun dari mobil, masuk ke warung tersebut, kini mereka sudah duduk dengan sarapannya masing-masing. "Pak sekarang sarapannya di cari lagi gak.?" Dimas mengulum senyumnya.
"Nggak Pak, sekarang tinggal santap hi..hi..hi.." supir tertawa pelan.
Om Fadil hanya senyum saja menoleh Dimas dan supir tersebut.
Dimas melahap sarapan yang di atas meja dengan membaca doa sebelumnya.
Dimas meneguk segelas air putih, lalu membayar semua sarapan yang sudah ludes itu, "Kita berangkat sekarang Pak, sudah jam delapan nih." Dimas melirik jam di tangannya, mereka bertiga kemudian beranjak, meninggalkan warung makan.
Dalam sekejap mobil yang tumpangi Dimas meluncur, meninggalkan tempat tersebut, selang beberapa waktu kemudian Dimas sepertinya sudah berada di daerah alamat yang di tuju, di jalan bertanya-tanya, "Kalau kecamatan dan Desanya sudah tepat nih Pak," kata supir, "Tinggal Rt/RW, kampung nya yang belum ketemu."
Dimas menarik napas dalam, om Fadil melirik Dimas yang tengah memandang lepas, "Telepon dong, tanya di mana.?"
Dimas dengan wajah berseri merasa lega, setidaknya sudah hampir sampai, inilah detik detik pertemuan, dengan seseorang yang sangat ia rindukan, "Biar saja om, nanti juga pasti ketemu, terus aja jalan pasti ketemu kok," ucap Dimas ia ingin memberi kejutan pada calon istrinya.
__ADS_1
,,,,
Apa kabar para reader ku.? semoga saat ini ada dalam lindungan yang maha kuasa, terimakasih masih mengikuti kisah Dimas&Kanaya, dan mohon doanya semoga Dimas&Kanaya bisa bertemu di dalam kisah nyatanya, Aamiin ya Rabbal Al-Amin.🙏🙏