Bukan Mauku

Bukan Mauku
Bahas anak


__ADS_3

Naya mengambil piring dan gelasnya tuk di cuci, mungkin Dimas lupa untuk mencucinya sebelum berangkat kerja.


Habis mencuci Naya balik ke kamar, "Bi aku mau duha dulu ya,? nanti aku balik lagi.


"Mangga Bu," sahut bi Taty, Naya tersenyum sambil berjalan mendekati tangga, berdiri sebentar menatap tangga sampai atas.


"Bismillah..," Naya untuk pertama kalinya menaiki tangga tanpa lift, Satu dua tiga anak tangga ia lewati lanjut sampai tengah-tengah, Naya merasa lelah, namun ia harus tetap semangat, terdiam sementara waktu, untuk mengumpulkan tenaganya.


Terus Naya lanjutkan langkahnya, dengan berat di kakinya, ternyata naik lebih berat ketimbang turun, Naya menarik napas dalam-dalam akhirnya Naya sampai di tangga paling atas, "Akhirnya..,sampai juga, semoga esok aku bisa lebih baik lagi, Aamiin," Naya berjalan gontai ke dalam kamarnya.


Setelah di dalam Naya menghampiri pintu kamar mandi, hampir 10 menit Naya di kamar mandi, kemudian Naya keluar mengambil mukena lantas di pakainya, kemudian menunaikan duha seperti biasa, selepas melaksanakan duha, Naya menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah, lagi-lagi ia tidak menggunakan lift untuk turun melainkan dengan langkahnya.


Naya mulai terbiasa menuruni tangga, dengan langkahnya tanpa lift, Naya bersyukur setidaknya ada perubahan yang lebih memuaskan meski belum sepenuhnya, berdiri belum mampu tanpa pegangan, namun apa pun yang terjadi Naya syukuri, karena Naya melihat yang di sekitar, bahwa masih banyak orang yang kondisinya lebih payah dari dirinya.


Naya melangkahkan kakinya ke ruang tengah di sana ada Ibu mertuanya dan Maria serta putranya yang tengah bermain dengan mainan, menoleh ke dapur kosong, Naya duduk di sofa yang kosong, "Kalian sudah sarapan belum,?" tanya Naya pada Ibu mertua dan iparnya.


Mereka mengalihkan pandangan pada Naya yang mereka tidak tau akan kedatangan Naya sebelumnya, "Eh, Kakak, sudah Kak," sahut Maria lagi pandangannya tertuju pada TV.


"Baguslah," Naya mengangguk dan matanya tertuju pada televisi.


"Kau belum ada tanda-tanda hamil,?" tanya bu Hesa membuka pembicaraan.


"Hamil, belum Mak," Naya menoleh Ibu mertuanya.


"Jangan di tunda, kalian itu sudah pada dewasa, masa mau di tunda,? keburu tua, lagian apa sih yang kalian tunggu,?" ujar bu Hesa.


Naya menaikan alisnya, "Kami sama sekali tidak menundanya, tapi.., kalau belum waktunya gimana,?" ucap Naya dengan lirikan sekilas.


"Kalau tidak di tunda, ya usaha, pengobatan ke, jangan terlalu santai keburu tua," sambung bu Hesa.


Naya menatap lekat Ibu mertuanya, "Usaha, gimana Mak,? kalau Allah belum ngasih,? dengan lirih.


"Periksa ke dokter kandungan, siapa tau ada masalah, dalam kandungan kamu, Dimas bukan keturunan mandul, tapi.., keturunan banyak anak," seru bu Hesa sambil meneguk minuman jusnya.


"Aku gak masalah jika Allah tidak memberikan aku anak, toh banyak juga keponakan, misalnya anak Maria, bukankah sama aja dengan anak kami,?" dengan nada datar, sebenarnya perkataan bu Hesa sangat menyinggung hati Naya namun ia tak mau ambil pusing.


"Tapi saya mau keturunan dari Dimas, yang lain sudah pada ngasih, sedangkan Dimas anak sulung saya belum juga ada tanda-tanda mau ngasih cucu,? sudah nikahnya telat, ngasih cucu juga apa lagi, aneh saya,? ketus bu Hesa.


Dengan tatapan sangat lekat, "Mak.., jodoh rejeki dan maut sudah ada yang ngatur, begitupun soal anak, sabar aja dulu Mak,? kami juga mau kok punya momongan, sekalipun kondisi aku seperti ini, aku juga mau seperti yang lain, namun.., aku pasrahkan pada yang maha kuasa, di kasih syukur, nggak, ya berarti aku gak di percaya sama Allah untuk menitipkan anak padaku, aku yakin Allah akan memberi yang terbaik padaku, sedikasihnya aja."


"Tidak usah ceramah depan saya,? saya tau itu, pokoknya saya minta cucu, titik," dengan menyilang kan tangan di dada.


Maria akhirnya ikut bicara juga, "Ih Mama, emang membuat anak gampang apa,? butuh proses tau,? lagian kan tidak bisa memaksakan diri kalau belum waktunya."


"Mamah, aku mau adek dong,? mamah buat adek ya buat aku," ucap Izak anaknya Maria sambil menatap lekat.


"Iya nanti Mamah kasih adek buat kamu," tutur Maria.


"Tapi.., kapan mah,? oya mah membuat adek itu dari apa sih,?" Izak kembali bertanya.


"Iya nanti, dari-dari.., oh iya dari terigu, lalu di bikin adonan, bulat-bulat, iya," Maria kelimpungan.


Naya tersenyum samar mendengar jawaban Maria, begitupun bu Hesa.

__ADS_1


"Bukannya.., kalau dari terigu terus di bulat-bulat itu cilok ya mah,?" sambung Izak mengerutkan keningnya.


"Izak pinter deh, iya bener sayang," sahut Naya tersenyum.


"Terus, kalau bikin adek gimana tante,? masa dari terigu sih,?" menggeleng kebingungan.


"Em..," Naya berpikir sejenak, "Adek itu, hasil dari kasih sayang Mamah dan Papah, dan adanya dari perut Mamah, seperti adanya Izak sekarang,?" ujar Naya mengusap kepala Izak.


"Oh begitu ya tante,? jadi Mamah harus gendut dulu ya tante,? oya, Mamah teman aku juga perutnya gendut terus melahirkan adek baby," Izak dengan polosnya, dan dia lumayan mengerti dan puas dengan jawaban dari Naya.


"Iya sayang," sambung Naya, Maria hanya menyeringai sambil menggaruk tengkuknya.


"Kau yang punya anak, tak bisa menjawab segitu pun," sinis bu Hesa sambil tertawa.


"Mama.., kenapa gak Mama aja yang jawab,? helaah Mama ini," Ketus Maria.


"Sudah ah, oya Bi apa ada yang harus di beli bahan-bahan dapur gitu,?" Naya melirik bi Taty yang baru nyamperin.


"Sepertinya masih cukup kok Bu, gak tau kalau besok," sahut bi Taty sambil duduk dekat Naya, Maria beranjak dengan Izak.


"Mau kemana Mar,?" Naya melirik Maria yang menuntun Izak ke depan.


"Mau berenang Kak, di kolam renang," sambil terus berjalan.


"Oh," Naya membulat kan bibirnya, di berita ada seorang wanita lumpuh total namun mempunyai anak dan tengah mengandung lagi, membuat pikirannya Naya menerawang.


"Tuh, dia aja yang lumpuh total bisa memberi anak pada suaminya, walau dirinya merepotkan suaminya sih, tapi.., setidaknya memberi keturunan," ketus bu Hesa melirik Naya.


Naya mengalihkan pandangan pada mertuanya, "Kenapa sih Mak,? anak terus yang Mama bahas, aku juga mau Mak memberi keturunan, kalau aku bisa, dan aku tidak ingin terlalu merepotkan suami aku, seperti kata Mama barusan keadaan seperti itu merepotkan, iya kan,? sudahlah Mak, sabar aja sedikasihnya aja.?"


Bi Taty mengusap punggung tangan Naya, "Jangan di dengarkan Bu, biar aja kita mah serahkan aja pada yang maha kuasa Bu, kita kan cuma bisa ikhtiar dan berdoa kan Allah juga yang menentukan."


Naya menghela napas kasar, dan dengan mata nanar, "Iya Bi," mengusap air yang menggenang di sudut matanya, kadang aku takut gak bisa memberikan keturunan, dan aku takut--!"


"Sudah jangan sedih Bu, Bibi yakin Allah akan memberikan yang terbaik pada Ibu dan Tuan, Tuan sangat sayang sama Ibu, gak mungkin Tuan berpaling hanya gara-gara keturunan," sambung bi Taty.


Lagi-lagi Naya menghela napas, "Bi, aku ke atas dulu ya, mau istirahat rasanya kepalaku jadi pusing, dan nanti siang aku mau terapi lagi," Naya beranjak dari duduknya, berjalan mendekati tangga, di tengah-tengah kepalanya merasa sangat pusing, Naya berhenti berjalan memegangi pelipisnya.


Bi Taty mendekati, "Ibu, tidak ke napa-napa,?" dengan cemasnya.


Naya menggeleng, " Tidak Bi," Naya menguatkan diri untuk naik."


"Bibi antar ya,? takut jatuh ya Bu, Bibi antar," bi Taty dengan sangat cemasnya.


Naya menggeleng," Nggak usah Bi, aku bisa sendiri," Naya duduk di kursi lift, "Bi, ini uang, kalau ada yang minta sumbangan atau yang minta-minta kasihkan," Naya memberikan beberapa lembar uang pada bi Taty.


"Oh, iya Bu," bi Taty mengambilnya.


Kemudian Naya menekan tombol naik, kepalanya masih terasa pusing, namun ia gak boleh manja, lagian mau manja sama siapa, suami tidak ada, bi Taty mengikuti Naya menaiki tangga, khawatir dengan majikannya, setelah sampai, dengan tertatih beberapa kali berhenti Naya masuk kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Bu minum obat ya,?" bi Taty mencarikan obat di kotaknya, dan memberikan pada Naya dengan segelas air mineral yang sudah tersedia di kamar tersebut.


Naya menggeleng, "Nggak usah Bi, makasih,? aku sulit minum obat, sakitnya cukup di istirahatkan saja, nanti juga sembuh kok, Bi jangan khawatir, Bibi kerjakan aja tugas Bibi, biar aku istirahat," Naya memejamkan matanya, sambil menarik selimut, di bantu sama bi Taty.

__ADS_1


"Bibi telepon kan Tuan ya,?" bi Taty begitu cemasnya.


"Jangan Bi, aku gak mau membuat dia khawatir, aku baik-baik aja, dan jangan bilang pada yang lain juga," cegah Naya.


"Baik.., Bu,?"


"Tolong Bi, jangan buat suami aku tidak tenang," lirih Naya.


"Baik lah, kalau butuh sesuatu panggil Bibi, telepon saja ya Bu,?" bi Taty beranjak dari duduknya, Naya hanya memberi isyarat dengan matanya.


Bi Taty keluar kamar dengan rasa cemas, melihat majikannya sakit, baru kali ini Naya mengeluh sakit, "Ya Allah sehatkan majikan ku," sambil berjalan menuruni tangga.


Sementara Naya yang merasakan pusing, sungguh terngiang semua ucapan Ibu mertuanya tentang anak, jatuhlah tetesan air bening dari sudut matanya membasahi belakang telinga karena ia tengah telentang, air mata pun terasa panas, mungkin di sebabkan karena badan yang menjadi kurang fit.


Naya mengusap air matanya, "Aku harus kuat tidak boleh sakit, nanti sore mau terapi, harus kuat."


Naya memejamkan matanya lalu tertidur, dengan tidur hilanglah semua yang mengganggu pikirannya,


******


Suatu hari Naya tengah bermain dengan dua gadis kecil yang sedang lucu-lucunya, berlari-lari di taman bunga bersama Dimas, Sementara Naya duduk di kursi memperhatikan mereka.


"Mamah..,? Mamah..,? kedua anak itu berwajah sama berhamburan ke pelukan Naya, dan Naya menyambut memeluk keduanya.


"Sayang.., akhirnya kita mempunya buah hati yang lucu-lucu, semoga menjadi anak-anak yang solehah, baik hati dan pintar seperti Mamahnya," Dimas memeluk Naya dan kedua putrinya dengan erat, rona wajah Naya tergambar jelas sebuah kebahagiaan yang teramat sangat.


"Terimakasih sayang,?" sudah memberikanku kebahagian yang lebih aku harapkan,?" sambung Dimas.


"Aku juga sangat-sangat berterimakasih kepada Allah yang telah memberikan ku segalanya, suami yang amat sayang terhadapku, yang menerima aku apa adanya, sangat tulus mencintaiku, dan kini aku dapatkan dua anak sekaligus, anak kita sayang," Naya menenggelamkan wajahnya di dada Dimas.


Dimas mencium pucuk kepala Naya, kedua putri kecil mereka kembai bermain-bermain, "Aku sangat bahagia sayang,? teruslah mendampingiku dalam suka maupun duka, sampai kita kakek dan nenek."


"Insya'Allah yang, teruslah sayangi aku,? jangan berubah sedikitpun," pinta Naya.


Lalu keduanya melepaskan pelukan masing-masing, Dimas mengecup kening Naya dengan mesranya, "Aku janji gak akan pernah menyia-nyiakan dirimu sayang,?" Naya pejamkan mata ketika bibir Dimas menempel di keningnya, kemudian tangan Dimas menggandeng pinggang istrinya, sembari mengawasi kedua putrinya yang tengah asik bermain.


Namun tiba-tiba datanglah kabut hitam diantara mereka membuat pandangan lama-lama samar, blur, kedua putrinya yang bermain yang jaraknya sekitar lima meter tak terlihat, Dimas dan Naya setengah berlari menghampiri kedua putrinya namun hilang tak berjejak apa lagi kabut hitam semakin tebal, Naya berteriak memanggil-manggil, "Dinda, Karin..,? di mana kalian sayang,? ini mamah," teriak Naya semakin kencang mengingat tak ada jawaban dari mereka sama sekali.


"Karin..,? Dinda sayang, Papa mencari kalian, ayuk pulang sayang, jangan main-main, kemari lah, Papa tak suka," pekik Dimas mencari-cari namun tetap hening,


Naya kalut, cemas khawatir, heran dimana kedua putrinya tersebut, "Sayang jangan membuat Mama cemas, dimana kalian berada, jawab panggilan Mama,? Dinda, Karin, putri Mama jawab panggilan Mama, jawab,?" Naya tubuhnya mendadak lemas dan terjatuh, air matanya mulai membasahi kedua pipinya, tangis pilu pun pecah, "Sayang.., dimana,? ini Mama kalian jawab panggilan Mama,? hik..,hi..,hik..," tangisnya tersedu-sedu sangat memilukan bagi yang mendengar.


Dimas yang terus memanggil kedua putrinya, tetap tak ada jawaban kecuali suara tangis Naya yang pecah sangat memilukan, dalam gelapnya kabut hitam, Dimas memutuskan untuk mendekati istrinya yang tengah menangis memanggil-manggil Dinda dan Karin.


"Sayang, anak kita tidak ada," Dimas memeluk sang istri yang terduduk di tanah.


"Tidak yang, tidak anak kita pasti ada di sini yang pasti ada," Naya memukul-mukul dada Dimas.


"Sayang.., aku sudah cari, kabutnya masih gelap, dan tak ada terdengar suaranya sama sekali," Dimas terus memeluk untuk menenangkan istrinya.


Naya tidak percaya "Tidak, pasti mereka ada di sini, Karin.., Dinda ini Mama mencari kalian jangan buat Mama khawatir, Dinda.., Karin.., ke sini sayang, Mama menunggu kalian," Naya terkulai dalam pelukan Dimas rupanya Naya pingsan.


Beberapa saat kemudian Naya terbangun, melihat-lihat kanan dan ke kiri, ternyata ia berada di atas tempat tidur berselimut, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, ia mengingat-ingat kejadian yang sebenarnya terjadi menimpanya, ia mengernyitkan keningnya, mengedarkan pandangan tak ada siapa pun sekalipun Dimas, jam dinding menunjukkan pukul 12.30 waktu setempat.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2