Bukan Mauku

Bukan Mauku
Perawatan


__ADS_3

"Bu, tadi Tuan juga pesan sama Bibi, katanya Bibi ambil uang untuk bayaran pak Dery kalau kerjaannya sudah rampung gitu,? katanya lagi, Tuan itu tidak ingin pak Dery bertemu Ibu,? emang kenapa ya Bu,?" tanya bi Taty penasaran.


Sambil menghela napas panjang, "Aku nggak tau Bi, aku aja gak kenal sama dia, bertegur sapa juga gak pernah."


"Em.., Bibi tau Bu, Tuan pasti cemburu sama orang tersebut, takut mengambil miliknya," bi Taty memainkan alisnya, menggoda Naya.


Naya menatap lekat, "Bibi apaan sih,? apa coba yang pantas di cemburu,? aku di sayangi dia aja sudah bersyukur, lagian gak mungkin lah," Naya mengibaskan tangan.


"Ibu sangat beruntung, punya suami yang sangat sayang sama Ibu, oya Bu, gimana kaki Ibu, masih sakit,?" bi Taty mengamati kedua kaki Naya, lantas Naya menunjukkan kakinya yang membiru.


"Em.., lain kali harus hati-hati ya Bu,?" Bibi menunjukkan perhatian pada majikannya.


"Iya Bi, terimakasih," Naya merasa senang, seakan ada teman selain suaminya.


Di siang hari, ada dua orang wanita cantik bertamu membawa tas kotak, penampilannya modis, dan sangat menarik, Bibi membukakan pintu, dia merasa heran , "Maaf, mau bertemu siapa ya.?"


Salah satu wanita tersebut mengangguk hormat memberikan senyumnya, "Saya ingin bertemu Bu Naya apa ada,? dan bisa bertemu dengannya.?"


"Em.., ada perlu apa ya,?" Bibi masih bertanya dengan rasa herannya.


"Saya dari salon kecantikan, kami di undang oleh dokter Dimas, untuk perawatan istrinya," sahut salah satu wanita tersebut.


Akhirnya Bibi mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu, "Tunggu sebentar ya Nona-nona, saya akan memberi taukan pada majikan saya di dalam," tanpa menunggu jawaban, bi Taty mempercepat langkah kakinya menemui Naya di kamar.


Tok..,


Tok..,


Tok. , "Bu..,? di luar ada tamu dari salon kecantikan, apa langsung di suruh ke sini aja Bu,?" pekik Bibi dari balik pintu.


Naya tengah berbaring pun beranjak bangun, "Suruh masuk aja Bi," teriak Naya.


"Baik Bu," Bibi kembali menemui tamunya, bi Taty mempersilahkan kedua tamu itu masuk langsung ke dalam kamar Naya, Bibi membukakan pintu kamar untuk kedua tamu, Naya pun tersenyum, mulai lah mereka perawatan dari mulai wajah, tubuh dan rambut Naya, hingga berjam-jam Naya melakukan perawatan, luluran badan, creambath rambut, maskeran wajah, dan baru selesai pukul 17.00 sore.


Naya duduk manis di sofa, kedua wanita dari salon berpamitan pulang, di antar oleh Bibi sampai pintu.


Tak lama Bibi kembali, ke dalam kamar Naya, "Bu tangganya sudah selesai, pak Dery sudah bersiap pulang."


"Oh, iya Bi ini amplopnya tolong berikan pada pak Dery," Naya memberikan sebuah amplop berisi uang gaji mereka.


Bi Taty mengambil dan membawanya keluar, menghampiri Dery yang duduk di sofa ruang tengah, "Pak Dery ini uang gaji pak Dery dari Ibu," Bibi menyimpan amplop tersebut di atas meja.


Dery menatap amplop tersebut, "Bi, bisa saya bertemu Ibu sebentar saja,?" Dery mengalihkan pandangan pada bi Taty.


Bi Taty bengong, dia ingat Dimas sudah berpesan bahwa Dery jangan sampai bertemu dengan istrinya, "Maaf pak Dery, Ibu tidak bisa keluar, lagian kan bayaran pak Dery, sudah, sudah di terima,? jadi tak ada alasan untuk bertemu beliau," ujar Bi Taty dengan tatapan datar.


"Benar, tapi.., saya mau pamit pada yang punya rumah," sambung Dery berkeras hati ingin bertemu dengan Naya.


"Nanti Bibi yang sampaikan pada Ibu," bi Taty kekeh.


Dery menghela napas kasar, "Saya ingin bertemu sebentar Bi,?" entah apa alasan Dery hingga ingin bertemu dengan Naya, "Saya tidak akan macam-macam Bi, saya ingin bertemu dengan beliau," sambung Dery sedikit memohon.


"Tidak bisa pak--!" Bibi menggantungkan perkataannya.


"Biar saya yang menemuinya, Ibu tidak perlu repot-repot menemui saya," Dery terus memohon.


"Percuma pak Dery, Ibu tidak akan membuka kan pintunya," ucap Bibi, "Silahkan pulang, itu kawan pak Dery sudah menunggu di luar," dengan sedikit tegas.


Dery masih duduk sambil melirik kawannya yang sudah berada di luar dekat motor, dia begitu berat untuk meninggalkan tempat tersebut, dia mengusap kasar rambutnya, lalu perlahan beranjak dari duduknya, meraih sebuah amplop di atas meja, berjalan dengan gontai, "Saya permisi Bi.?"


Bi Taty begitu heran dan tak habis pikir dengan sikap Dery, ngotot banget ingin bertemu majikannya.


Dery sebelum mengenakan helm ia menoleh ke arah kamar Naya, kebetulan jendela masih terbuka, dan terlihat jelas ada seorang wanita tengah duduk di sofa sendirian, terlihat jelas wajah Naya yang fokus dengan ponsel di tangan.


Dery anteng, begitu intens mengamati sosok wajah yang mungkin tidak akan pernah ia temui lagi, sampai kawannya menepuk pundak Dery membuyar kan lamunan Dery.


Bi Taty terus mengamati Dery sampai mereka pergi menjauhi tempat tersebut, bi Taty menutup pintu, dan jendela.

__ADS_1


Naya melirik sebuah motor melaju dengan cepat dari jendela, namun ia tak menyadari kalau sebelumnya, orang yang menaiki motor tersebut memandangi dirinya lumayan lama.


Bi Taty mendekati pintu, "Bu.., boleh Bibi masuk.?"


Naya menoleh ke sumber suara, "Masuk aja Bi."


Bi Taty membuka pintu kamar Naya, lalu masuk mendekati majikannya duduk di sofa sama, "Bu, tadi pak Dery ngotot pengen ketemu Ibu."


Naya terperangah lalu memandangi wajah bi Taty, "Buat apa ketemu aku,? kan gajinya sudak di kasih kan.?"


"Iya Bu, alasannya mau pamit lah, sampai memohon-mohon loh Bu katanya dia hanya ingin bertemu, tidak akan macam-macam."


"Terus Bibi bilang apa,? Naya penasaran terus menatap Bibi dengan lekat.


"Bibi bilang, Ibu gak bakalan bukain pintu, percuma," sahut bi Taty, "Setelah di luar pun pak Dery melihat ke arah kamar Ibu dari kejauhan."


Naya menarik napas dalam, "Aku gak kenal dia, ya sudah, berarti lift nya sudah bisa di gunakan ya Bi.?"


"Sudah Bu, Bibi sudah mencobanya," sahut Bibi sangat antusias.


Naya tersenyum samar, ia melihat jam di layar ponselnya, sebentar lagi memasuki waktu magrib, "Kok Dimas belum pulang sih,?" gumam Naya dalam hati.


"Bibi tinggal dulu ya Bu, nanti kalau butuh sesuatu panggil Bibi,?" kata bi Taty sambil berjalan meninggalkan kamar majikannya, Naya hanya mengangguk pelan, melihat PRT nya keluar kamar.


Ponsel yang barusan ia simpan di atas meja, Naya ambil kembali mencari kontak my husband lalu ia kirim pesan singkat padanya.


Naya: "Yang masih di mana,? kok belum pulang juga, magrib nih."


Ting..., langsung ada balasan, dari my husband


Dimas: "Aku masih di lahan sayang..,! bentar lagi aku pulang, sudah rindu kah.?"


Naya: "Tidak."


Dimas: " Tidak sedikit,? berarti banyak rindunya,,?"


Naya: "Ya sudah hati-hati, jangan terlalu malam pulangnya.?"


Dimas: "Ok sayang.., I love you.?"


Balasan terakhir dari Dimas memakai **** kecupan, membuat hati Naya berbunga-bunga, ponsel ia simpan di atas meja, ia beranjak melangkahkan kaki perlahan ke kamar mandi.


Tak selang lama Naya kembali dengan air wudu yang membasahi kulit Naya membuat terlihat bagai butiran kristal yang mengkilat.


Naya melaksanakan sholat magrib sendiri, pukul sembilan belas Dimas masih belum kelihatan batang hidungnya, Naya beranjak perlahan keluar kamar, terlihat bi Taty duduk di ruang tengah sedang menonton TV.


Setelah melihat Naya keluar kamar bi Taty langsung menghampiri majikannya, "Bu, kenapa tidak panggil Bibi aja,? kalau butuh apa-apa.?"


"Nggak kok, aku tidak butuh apa-apa, aku cuma mau lihat-lihat tangga, oya, Bibi sudah makan,?" tanya Naya bersandar pada dinding.


"Bibi sudah Bu, Bibi siapkan makan buat Ibu ya,? mau makan di mana,? di kamar,? di ruang tengah,? atau di dapur saja,?" bi Taty dengan senyum tulusnya.


"Em.., tidak Bi, aku belum lapar, lagian Dimas juga belum pulang," Naya tampak gelisah sekali.


Bi Taty tersenyum dan menggoda majikannya, "Oh, ibu kangen sama bapak ya,? baru sehari ini, sudah kangennya setengah mati, hi..,hi..,hi..."


"Iih, Bibi bisa aja,?" Naya melihat-lihat tangga, Bi Taty menunjukkan cara menggunakan lift nya, dan mencontohkan pada Naya, membuat Naya tertarik ingin mencobanya.


"Bibi contohin dulu, nanti aku mencobanya," Naya merhatiin bi Taty dengan seksama.


Setelah Bi Taty balik lagi, kini gantian Naya duduk du kursi lift tersebut, "Bismillah..," Naya memencet tombol naik, kursi pun naik ke lantai atas, Naya merasa deg, degan, berdebar takut jatuh, "Ya Allah, ya Allah, ya Allah," gumam Naya, akhirnya kursi berhenti ketika sampai di lantai atas.


Bi Taty yang mengikuti Naya pun sampai sembari ngos-ngosan sebab sedikit berlari khawatir majikannya kenapa-napa, Naya menghela napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar.


Naya mengedarkan pandangan pada semua sudut lantai dua, ada beberapa ruangan di sana termasuk kamar utama yang Dimas tempati sebelumnya dan akan segera di tempati lagi, tempatnya paling dekat dengan letak tangga berada, Naya pun perlahan masuk ke kamar Dimas sambil mengamati, sampai lah Naya di balkon melihat suasana sekitar langit hitam tanpa awan putih menjadikan begitu gelap gulita.


Bi Taty kembali setelah mendapat ijin dari Naya, dan Naya ingin menyendiri di balkon, sambil menunggu Dimas pulang.

__ADS_1


Dari keberangkatan.


Setelah sekian lama berpacu dengan waktu di jalanan, akhirnya Dimas sampai di tempat tujuan, karena sudah ada pasien yang membutuhkan perawatan dari dokter seperti Dimas, langsung saja Dimas terjun ke lokasi pasien, kebetulan pasien di luar RS, Dimas belum sempat absen ke kepala, belum juga duduk di ruangannya, sudah di butuhkan masyarakat.


Meskipun begitu Dimas begitu menikmati tugasnya karena itu sudah menjadi tugas dan cita-citanya, dari masa kecilnya.


Pukul sebelas siang ia baru kembali RS, ia duduk di kursi kebesarannya, dengan helaan napas yang panjang, "Akhirnya bisa santai juga," Dimas memejamkan mata, melepas penat dalam dirinya.


"Permisi dok, boleh aku masuk,?" tiba-tiba suara itu membuyarkan konsentrasi Dimas dalam mengheningkan cipta, Dimas membuka mata, menoleh ke sumber suara, di tengah pintu tengah berdiri seorang wanita cantik mengenakan dress di atas lutut, atasannya mengenakan brezer putih kebesarannya, siapa lagi kalau bukan Citra, dokter magang yang seksi dan body gold.


Sesaat Dimas menatapnya, Citra mendapat tatapan dari seorang Dimas seperti itu merasa berada di atas angin, dia berjalan mendekati Dimas berirama lenggok kanan dan kiri, bagai jalannya seorang peragawati dalam kompetisi gaun terindah di musim semi.


Tak lama Dimas menunduk, lalu mengedarkan pandangan ke lain arah, "Ada apa,? silahkan duduk.?"


"Makasih dok, sulitnya bertemu dokter,? dan waktu itu dokter kemana,? saya tunggu di kantin, eh.., dokter tidak nongol, BT jadinya," ujar Citra mengerucutkan bibirnya.


Dimas mengulum senyumnya, "Oh, waktu itu, saya ada kepentingan mendadak, jadi saya pulang cepat, iya pulang cepat."


"Begitu kah,?" menaikan alisnya sembari mengamati wajah Dimas yang tampan itu.


"Lagian kan ada Endro,? apa salahnya kan di temani dia,? sama aja," sambung Dimas.


Mendengar perkataan Dimas membuat Citra memutar bola matanya yang indah, seakan tak suka mendengar nama Endro, "Gimana kalau kita makan siang sekarang,? aku traktir deh, mau yah,? plis..?" menyatukan kedua tangannya, Dimas menggeleng pelan sebagai penolakan.


"Plis.., dok, mumpung santai nih,?" lagi-lagi memohon.


Tok..,


Tok..,


Tok.., "Siang dok, maaf, ada pesan dari dokter Geri, dokter di minta membantu beliau saat ini juga, di tunggu,?" ucap seorang suster terburu-buru.


"Baik sus," Dimas dengan cepat berdiri dan mengikuti suster tersebut yang lebih dulu berjalan tergesa-gesa, tanpa berkata Dimas meninggalkan Citra yang tengah duduk dan menunggu jawaban.


"Dok, gimana,?" pekik Citra kesal, lagi-lagi ia merasa gagal dengan rencananya berkencan dengan Dimas.


Dimas mengibaskan tangan di udara, "Sorry, mungkin lain kali kalau ada waktu."


Dimas semakin mempercepat langkahnya ke tempat yang sudah di tentukan, Citra pun beranjak dari kursi dan setengah berlari mengejar Dimas.


Hari ini Dimas begitu sibuk, sampai gak sempat makan siang, ia keluar dari ruang operasi hampir setengah tiga, tak lama di ruangannya, Dimas langsung ke parkiran untuk mengambil motornya, karena sudah ada janji dengan pekerjanya, Dimas tak lantas pulang ke rumah, namun ia mampir ke lahan sawit nya yang lama tidak ia kontrol.


Pukul setengah empat sore Dimas baru sampai di tempat, di sambut oleh anak buahnya, "Aduh bos kemana saja,? baru ingat kami ya..,?" ucap salah satu anak buah Dimas di lahan sawitnya.


"Ada, sorry saya sibuk dengan keluarga baru saya, gimana kabar kalian,?" Dimas memandangi anak buahnya satu-satu bergantian.


"Baik bos, kenapa gak undang-undang kami ketika bos menikah,? wah kami di lupakan," ujar anak buah Dimas.


"Bukan lupa, tapi memang tak ada resepsi, bagi kami yang penting halal saja bah," Dimas duduk di antara mereka.


Mereka berbincang tentang perkebunan sawit milik Dimas, dan Dimas pun mengecek sebagian lahan perkebunannya, lalu berbincang kembali tentang masalah-masalah dalam hal sawit yang di antaranya saingan-saingan, dan harga sawit yang naik turun, serta masih banyak lagi masalah yang mesti di perbincangkan.


Di tengah-tengah perbincangan, dreet.., ponsel Dimas bergetar, ia segera merogoh sakunya mengambil ponsel miliknya, Dimas membaca pesan singkat tersebut, wajah Dimas mesem-mesem sendiri, di wajahnya tergambar dengan jelas rona bahagia tengah menghiasi hatinya.


Setelah beberapa saat, Dimas memasukan ponsel ke dalam kantongnya, karena dirasa sudah cukup dengan urusannya Dimas pamit untuk pulang, namun tiba-tiba ada sebuah mobil masuk ke halaman mes tersebut.


Dari jendela keluar kepala wanita muda dan berparas cantik, semua yang berada di sana merasa kaget dan penasaran, siapa dia, yang datang.


"Sial.., buat apa gadis itu(Citra) mengikuti aku,? sampai kesini segala,?" gumam Dimas pelan.


"Itu.., istri kau ya,?" tanya pekerjanya.


"Bu-bukan, dia teman kerja saya, kalau istri saya, ini orangnya," Dimas menunjukkan sebuah poto dari ponselnya, dimana dia serta istrinya.


,,,,


Terimakasih reader ku,? semoga kabar kalian saat ini ada dalam lindungan Allah yang maha esa. jangan lupa lake, komen, rating dan vote nya, satu lagi meninggalkan jejak ya,? aku tunggu agar aku tambah semangat.🙏

__ADS_1


__ADS_2