
Mobil terus melaju menerobos hujan yang tak berhenti dari sore, beberapa kali Dimas terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
******
Naya semakin tak bergeming, laki-laki yang satunya memberi isyarat untuk segera keluar, "Jangan coba-coba berteriak meminta tolong, kalau tidak mau peluru ini menembus jantung kau.?" sergah orang itu sambil melotot, Naya hanya mengangguk dan menutup mulut dengan kedua tangannya, kaki orang tersebut melangkah mundur, mengikuti temannya yang lebih dulu keluar kamar, namun pistol tetap saja masih mengarah pada Naya, Naya pun terpejam. "Ya Allah selamatkan lah aku, jika usiaku masih panjang.?" menarik napas sangat dalam.
Naya merasa lega, setelah kedua orang tersebut menghilang, menarik napas dalam. "Alhamdulillah."
Dimas yang baru sampai halaman memberi sejumlah uang pada supir taksi, dan supir tersebut mengucap terimakasih, Dimas turun berpayung kan jaket agar air hujan tak mengenai kepala, ia melihat dua orang berbaju hitam keluar dari pintu, membuat Dimas bertanya-tanya. "Siapa mereka.? ngapain malam-malam begini di rumahku.?"gumam Dimas, seketika khawatir pada Naya yang berada di dalam rumah tersebut.
Mereka jalan mengendap-ngendap membuat Dimas semakin curiga, "Hei..,siapa kalian.?" pekik Dimas sambil mendekati orang tersebut namun mereka berjalan cepat dan menumpangi sepeda motor, secepat kilat motor pun melesat menjauh tempat tersebut. "Hei tunggu.?" tetapi tak ada guna, Dimas berlari memasuki rumahnya sambil mengamati keadaan ruangan yang ia lewati tak ada yang mencurigakan.
Dimas masuk kamar di lihatnya sang istri duduk di atas kasur berbalut selimut, tampak shock, "Sayang..,?" panggil Dimas mendekati, membuang jaket yang menutupi kepalanya, Naya hanya melirik dengan ujung matanya air mata berjatuhan, Dimas meraih tubuh sang istri dan mendekapnya.
"Ada apa sayang.? siapa orang yang tadi keluar dari sini.? kamu tidak apa-apa kan sayang.? tidak terjadi apa-apa kan sayang.?" Dimas menyelidik keadaan Naya yang menangis sesegukan dan tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Naya kecuali suara tangisnya, Dimas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, Berantakan isi lemari berceceran, isi laci juga berantakan, perlahan Naya melepas pelukannya, lantas menyeka air mata di pipi.
"Yang..,? sudah tenang, sudah ada aku di sini." Dimas memberikan air minum pada Naya. "Minum yang, agar kau lebih tenang, setelah itu baru kamu ceritakan apa yang telah terjadi, ok.?" ujar Dimas sembari dan meminumkan air putih pada Naya.
Usai minum Naya menatap suaminya. "Kamu melihat mereka di mana.? kenapa baru pulang jam segini.?" tanya Naya sambil melirik jam dinding.
"Sayang kan jauh, lagi pula hujan dari sore, aku minta maaf membiarkan kau sendiri, sekarang cerita ada apa.? apa yang tadi adalah pencuri, karena tidak mungkin tamu biasa seperti itu.?" Dimas menaikan alisnya sebelah.
"Nomor ponsel juga gak aktif.? tau gak aku cemas, aku khawatir, mana di tambah ada orang masuk, entah mau mencuri apa.? yang jelas aku tak melihat mereka mengambil apa pun, dari kamar ini.?" dengan menggeleng pelan, Dimas membereskan barang yang berceceran, mengamati laci, laptop jam tangan mahal miliknya, uang di laci, ponsel istrinya beserta kunci motor yang tergeletak di meja.
"Terus mencari apa mereka.?" Dimas melipat tangan di dada. "Oya, sebentar aku ke lantai atas sebentar yang." Dimas setengah berlari menuju lantai atas, Naya bengong.
Selepas tenaga Naya terkumpul, ia turun dan berjalan perlahan ke dapur.
Di lantai atas Dimas mengamati setiap ruangan, tak ada yang aneh, apalagi hilang, semua masih seperti semula. "Mencari apa mereka.?" dengan tangan di lipat sebelah, yang satu memegang dagunya, setelah merasa di lantai atas aman, Dimas menuruni tangga dari pertengahan tangga terlihat Naya sudah berada di kursi meja dapur.
"Bagai mana di atas apa ada yang hilang.?" Naya menatap Dimas yang turun dari tangga. "Yang makan dulu, pasti lapar kan.?" akhirnya nyuruh suaminya untuk makan.
Dimas mendekati berjongkok di samping Naya, meraih tangan sang istri. "Yang.., sayang gak ke napa-napa kan.? sayang tidak di apa-apain kan.? bilang sama aku.?" dengan wajah khawatir.
"Aku tidak apa-apa yang, alhamdulillah alah menjagaku, hingga aku baik-baik saja." ucap Naya menenangkan.
"Tapi aku gak habis pikir, apa yang mereka inginkan.?" Dimas mengerutkan keningnya.
"Aku gak tau yang, yang aku dengar dari percakapan mereka, katanya di sana gak ada barang yang berharga." Naya menaikan bahunya. "Padahal jelas-jelas--!"
"Jelas-jelas apa yang.?" Dimas memotong perkataan Naya. "Jelas-jelas ada barang berharga yang bisa aja mereka ambil dari rumah ini.?"
Naya mengangguk pelan, sambil menyuapi suaminya, "Bismillah dulu, oya, di atas gimana.?"
"Aman gak ada yang hilang sama sekali yang." jawab Dimas sembari mengunyah.
Naya menarik napas. " Huuh.., tadi hampir jantungku mau copot, bahkan mungkin jika waktunya, bisa aja saat ini aku sudah tidak bernapas lagi."
__ADS_1
Dengan refleks Dimas menoleh wajah sang istri dan menolak sendok yang hampir di mulutnya. "Apa maksud sayang.?" dengan tatapan lekat dan tajam, Naya malah balik menatap mata sang suami.
"Bilang yang.? kamu di ngapa-ngapain sama mereka.? brengsek." wajahnya mendadak merah padam.
"Sabar yang.., nanti aku ceritakan hem, sekarang makan aja dulu." lirih Naya membuat Dimas berusaha tenang dan membuka mulutnya. usai makan selesai barulah Naya bercerita tentang kejadian tadi, dari awal sampai akhir.
Dimas sangat tertegun mendengarkan dengan seksama, ia terharu dan memeluk sang istri, "Maafkan aku sayang.? tidak menjagamu, untung saja bunda tidak disakiti penjahat tersebut, kalau sampai itu terjadi aku gak akan bisa memaafkan diriku sendiri yang." Dimas memeluk erat kepala sang istri.
Tak terasa air mata pun menetes sudut mata Dimas, "Sayang maafin aku,?" Dimas menatap wajah Naya dengan lembut, Naya pun menarik bibirnya senyum samar. "Tidak apa-apa yang, kau lihat kan? aku tidak kurang sedikitpun.?"
"Aku benar-benar tak akan memaafkan diriku sendiri, kalau bunda sampai ke napa-napa." Dimas menggenggam tangan Naya sangat erat.
Dengan senyum manisnya Naya menyentuh pipi Dimas. "Sudah, aku tidak apa-apa yang, sudah malam, bobo yuk,?"
"Baik lah bunda, kita ke kamar sekarang.?" Dimas membungkuk kemudian membopong sang istri ke dalam kamar.
Kini mereka sudah di dalam kamar, berbaring satu selimut, kepala Naya berada di dada sang suami, Naya mendongakkan kepala pada Dimas. "Baca doa dulu yang.?"
"Hem.., sahut Dimas sambil terpejam, pukul 00.00 malam, mereka pun tak butuh waktu lama untuk tertidur lelap.
Naya menggeliat memicingkan matanya, ia terperangah melihat jam, sudah menunjukkan pukul lima pagi, rupanya sepanjang malam terlewati dengan sangat lelap, "Bangun sudah siang.?" sambil turun dari tempat tidur, perlahan berjalan menuju kamar mandi.
Naya memandangi tubuhnya di cermin yang berada di kamar mandi. "Kok banyak tanda merah.?" Naya termangu mengingat-ngingat kejadian semalam, mereka baru tertidur sekitar pukul 00.00 dan tidak ada yang mereka lakukan, seingatnya. "Tapi.., kenapa.? jangan-jangan semalam--!" Naya seketika membuka pakaiannya tuk bersih-bersih, ia yakin semalam tanpa ia sadari suami melakukan sesuatu.
Lima belas menit kemudian Naya kembali dari kamar mandi, mengambil pakaian lengkap, kemudian ia kenakan, lanjut mengeringkan rambut sebentar, kemudian melaksanakan sholat subuh.
"Em.., besok aja, aku capek." sambil menggeliat dan melanjutkan tidurnya.
"Yang.., bangun mandi dulu, belum sholat subuh juga gimana sih.? ayok ngaku semalam ngapain aku.? ngaku.?" ucap Naya menggoyangkan tangan Dimas, mendengar perkataan sang istri Dimas terperanjat, duduk, alisnya terangkat sebelah. "Kok tahu.?" sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Ih, dasar mencuri kesempatan." Naya cemberut.
"Em..curi kesempatan, gimana sih sayang.?" lirih dan mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
"Udah, sana mandi ah.?" mendorong dada suaminya.
"Iya, iya bawel, istriku, cintaku permaisuri di hatiku.!" sambil mencubit kedua pipi Naya lantas berjalan menuju kamar mandi.
Naya ke dapur mau bikin sarapan, membuka jendela lebih dulu, "Sarapan apa.? kan yang sore masih ada, hangatin ajalah, sayang dari pada mubazir." gumamnya.
Dimas selesai mandi langsung mengerjakan sholat yang sebelumnya mengenakan baju kemeja pendek berwarna polos dan celana panjang bahan warna hitam, usai sholat ia keluar kamar menghampiri istrinya di dapur.
Naya melihat sang suami menghampiri, melongo, mengamati penampilan Dimas, yang sangat rapi, Dimas duduk di kursi dekat meja makan, "Kenapa.? kagum ya.?" terkekeh sendiri. Naya juga duduk dekat suaminya. "Ganteng." pelan.
"Hem.., baru tahu kah.? kalau suamimu ini ganteng.?" dengan muka sok kiyut.
"Geer.! Emang mau kemana.? tadi katanya gak masuk kerja dulu capek.?" sambil menyodorkan piring berisi nasi dan sayur juga ayam goreng kesukaan Dimas.
__ADS_1
"Ya sih, tapi terlalu lama yang liburnya, gak enak, apa bunda mau ikut.?" Dimas menatap sang istri.
"Kalau gak enak sih jangan di makan pak.?" ejek Naya sambil tertawa kecil.
Dimas mencubit kedua pipi gembul sang istri dengan gemasnya. "Bukan gitu sayang..,! bunda ikut gak ke rumah sakit.?"
"Egak ah, orang gak sakit kok, lagian kejadian semalam pun tak kan membuat aku trauma tuh," Naya menunduk, Dimas pendengar ucapan Naya menjadi tertegun, "Yang apa harus.? aku suruh Maria menemani bunda.?" tatapannya lekat penuh arti.
Naya mendongak. "Tak-tak usah yang, aku gak mau merepotkan mereka, Maria punya urusan sendiri, suami dan anak, jangan di ganggu hanya untuk menungguiku, aku mohon..,jangan merepotkan orang yang..?"
"Tapi bunda sendiri, di rumah, kalau ada--!" Dimas tak melanjutkan perkataannya, "Tidak yang, aku yakin kejadian itu cukup sekali di rumah ini, jangan khawatir, kau kerja aja dengan tenang, ok.?" Naya mengusap pipi Dimas.
"Aku khawatir yang takut bunda kenapa-napa." memegangi tangan Naya.
"Percaya lah.?" Naya memasukan sendok ke mulut begitupun Dimas mulai memakan sarapannya.
"Yang, kalau ada rejeki aku akan memasang lift agar sayang dengan mudah bolak-balik ke sana, jadi kita pun bisa tinggal di kamar atas, kamar atas lebih nyaman yang,"
"Emang apa bedanya.? di atas sama di bawah.? bukankah fasilitasnya sama aja.?" tanya Naya dengan tatapan pada wajah tampan suami.
"Emang sama, luasnya sama, namun di atas terhubung keluar balkon, dan bunda bisa menghirup udara segar di sana," sambil menyuap kembali,
"Kenapa gak bikin aja balkon di belakang kamar kita yang.? di hiasi bunga dekat pagar balkon buat senyaman mungkin di sana, kan pasti bisa.?" ucap Naya sedikit memberi saran.
"Hem.., benar juga.?" Dimas mengerenyitkan keningnya. "Akan aku buatan balkon seperti yang kamu mau, dan lift juga akan aku pasang buat kenyamanan istriku, supaya gak bosan di rumah."
"Oya yang ada nomor warung serba lengkap gak.? yang bisa di hubungi gitu.? biar kalau aku butuh sesuatu aku pesan online, aku bayar di rumah dengan ongkosnya, aku gak mau terlalu menyusahkan kamu yang.?" Naya memelas. "Masalahnya ketika aku butuh, sayang gak ada di rumah,"
"Iya sayang nanti aku carikan, sekarang abisin dulu makannya," Dimas melahap habis makanan di piring, setelah meneguk air minum, Dimas beranjak diri duduknya berjalan menuju kamar, mempercepat langkahnya untuk mengambil kunci motor, dompet dan ponsel miliknya.
Tak lama, Dimas sudah kembali. "Yang yakin gak apa-apa sendiri lagi.?" dengan tatapan tak percaya.
Naya menunjukkan senyum di wajahnya. "Yakin, tak usah khawatir begitu yang.!"
"Gimana gak khawatir yang..,? dengan kejadian semalam, hem..?" memeluk tubuh sang istri, beberapa menit mereka saling berpelukan begitu erat, di sesekali kecupan hangat di kening dan di pipi.
Naya perlahan melepaskan diri. "Sudah yang nanti kesiangan."
Dimas pun melepaskan pelukannya. "Ok sayang, aku pasti cepat pulang kok, tunggu ya.? jaga diri baik-baik.?"
"Hem.." singkat. "Sayang juga hati-hati ya? jangan ngebut loh.?" Naya mencium tangan Dimas.
"Iya bawel..," setelah mencium kening sang istri Dimas berlalu, pergi menuju garasi hendak mengambil motor kesayangan nya.
,,,,
Terimakasih ya pada yang sudah berkenan membaca atau mampir di cerita Bukan Mauku ini, jangan bosan ya.? terus dukung aku dengan lake komen dll nya, dan semoga Allah selalu menjaga reader semua Aamiin.
__ADS_1