Bukan Mauku

Bukan Mauku
Meninggalkan Jejak


__ADS_3

"Iya Bi," Naya singkat, setelah beberapa puluh menit berkutat dengan wajan dan kompor akhirnya nasi goreng cumi ala Kanaya sudah siap.., Naya tata di meja makan, di lanjut bikin susu cokelat panas, tanpa di panggil Dimas turun, melihat Mamanya di ruang tengah, dan istrinya di dapur menata piring di atas meja makan.


Dimas berdiri di tempat, "Mak, sudah sarapan belum,?" tanya Dimas pada Mamanya, dan bu Hesa menoleh lalu berdiri menghampiri.


"Sarapan dulu, sepertinya sudah siap tuh,?" sambung Dimas melangkah ke dapur, menghampiri istrinya, ketika sudah dekat, cup, mendaratkan kecupannya di kening sang istri, Naya melirik Ibu mertua, wajah Naya menjadi merah malu dengan sikap Dimas padanya.


"Sudah siap sayang,?" Dimas duduk di kursi yang sudah di geser Naya untuknya, begitupun Naya duduk di samping Dimas, langsung mengambilkan nasi goreng, sebelumnya memberikan segelas susu hangat pada Dimas.


"Bismillah..," Dimas meneguk susu hangat sampai tandas, lantas melahap suapan nasi goreng dari istrinya, dengan nikmat.


Naya tak lupa mengambilkan buat sarapan Ibu mertuanya, "Nanti nambah lagi ya Mak.?"


Bu Hesa hanya mengangguk dan menggeser piringnya, lalu melahap nasi goreng buatan Naya, "Enak juga," batin bu Hesa.


Dimas makan dari tangan Naya sampai suapan terakhir, Dimas meneguk segelas air putih bergantian dengan Naya, lalu Dimas meraih piring dan gelas bekasnya ke wastafel untuk di cuci, usai mengelap tangan Dimas kembali pada Naya dan Ibunya, "Aku berangkat dulu Mak,?" Dimas mencium punggung tangan Bu Hesa, kemudian mengalihkan pandangan pada sang istri.


"Sayang, aku pergi kerja,"ucap Dimas dengan tatapan lekat pada sang istri.


"Iya sayang hati-hati ya,? mau pake mobil apa motor,?" tanya Naya sambil meraih tangan Dimas dan menciumnya.


"Aku bawa kunci motor yang," Dimas pun mencium kening sang istri.


"Oh, ya hati-hati saja, cepat pulang ya,?" dengan nada manja.


"Iya sayang, aku akan cepat pulang,?" sambil mengusap kepala Naya, "Oya hari ini sayang akan perawatan kecantikan, dan-dan yang cantik ya,?" bisik Dimas di telinga Naya.


Naya senyum samar, sambil merapikan kemeja warna putih yang di padukan celana bahan hitam, Dimas menatap lekat dan mendekati wajah Naya, Naya yang menyadari langsung menjauh, dan menoleh Ibu dan bi Taty yang berada di sekitar situ.


Mata Dimas melirik ke sekitar dengan cepat ia mendaratkan kecupannya di bibir Naya, Dimas menyeringai merasa menang dan puas, Dimas berjalan setengah berlari, mengucap salam, sambil melambaikan tangan.


Naya merasa kecolongan, dari tadi ia lagi-lagi lengah, kecolongan terus, Naya menatap kepergian Dimas, "Wa'alaikum salam."


Bu Hesa berdiri, "Mesra terus tapi.., kapan hamilnya.?"


Naya menoleh Ibu mertuanya, "Allah belum memberi kepercayaannya padaku Mak, nanti juga kalau sudah waktunya insya'allah Mak, doakan saja.?"


"Ah, kali aja-!" sambil memalingkan muka.


"Kali apa Mak,?" Naya menatap lekat, "Apa maksud Mama, aku--!" Naya pun tak melanjutkan perkataannya, ia menunduk dalam, ada rasa nyesek di dada.


Naya memalingkan pandangannya, mengusap setetes air bening di sudut matanya, ia berjalan menuju tangga, sementara bi Taty membatu di dekat wastafel, matanya memandangi majikannya.


"Bi, aku ke atas dulu ya,? Mamak, aku tinggal dulu ya,?" ucap Naya pada kedua wanita yang ada di tempat tersebut, lalu naik lift.


Bu Hesa menoleh, "Mantu yang gak sopan, ada mertua malah di biarin bukannya di temenin di ajak ngobrol."


"Jam segini Ibu melaksanakan duha, beribadah," kata bi Taty sedikit menjelaskan, bu Hesa hanya melirik, dan melengos ke depan.


Usai melaksanakan duha, Naya menunduk mengusap sambil mengusap perutnya, "Aku juga sebenarnya ingin seperti wanita lainnya, hamil dan melahirkan, memberikan keturunan pada suami tercinta, namun aku tidak tau apa aku mampu,? tuk hamil dan melahirkan apa aku kuat,? huh," Naya menarik napas dalam-dalam, "Ya Allah.., aku serahkan segalanya padamu, dan ikhlaskan aku akan ketetapanmu,?" Naya mendongak ke langit-langit terus mengusap wajahnya.


Naya melipat mukenanya, menyimpan di atas meja kecil dekat tempat tidur, Naya duduk di tepi tempat tidur miliknya, mengambil ponsel untuk menulis, ia beranjak mendekati pintu balkon, Naya berdiri melihat-lihat suasana sekitar dari balkon, "Hem.., sepertinya enak kalau berendam di kolam renang," gumam Naya memandangi kolam renang yang berada di bawah, baru nyadar di bawah ada kolam renang.


"Ih, pengen ke sana, tapi malas jalannya," Naya memajukan bibirnya, "Tapi.., apa salahnya ya,? sambil belajar jalan jauh," Batin Naya, bertekad turun menghampiri kolam renang yang letaknya di samping rumah.

__ADS_1


Setelah melintasi tangga, Naya berjalan beberapa langkah berhenti, jalan lagi berhenti lagi, Naya mengambil jalan pintu dapur, dan di sana tidak ada Bibi entah kemana, di ruang tengah pun tak kelihatan begitupun dengan mertuanya tidak ada.


Walau dengan membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Naya berdiri dekat kolam renang dan duduk di kursi yang ada menghadap kolam, Naya menghela napas, "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, dan akhirnya aku mampu ke sini, meski capek, namun setidaknya ada perubahan bahwa aku mulai bisa jauh, capek sih,?" di wajahnya tergambar senyuman bahagia.


Sudah satu jam Naya duduk di tepi kolam renang, namun belum berani turun, takut gak bisa naik, ia bersandar ke bahu kursi, sambil sibuk dengan ponselnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas empat puluh, siang, Naya beranjak perlahan ingin balik ke rumah, Naya melihat-lihat di situ ada pintu mungkin langsung ke ruang tengah, Naya mendekati namun terkunci, gordennya pun tertutup, coba mengetuk beberapa kali tak ada yang mendengar, terpaksa Naya kembali ke pintu semula ia keluar.


Naya membuka pintu dapur nampak Bibi sedang memasak, Naya masuk dan menutup pintu, alangkah kagetnya bi Taty melihat kemunculan Naya dari pintu dapur.


"I-ibu, dari mana,? sejak kapan Ibu di luar, apa benar ini majikan ku,? bukankah Ibu tadi di atas,?" bi Taty seakan tidak percaya dia mendekati Naya dan menyentuh tangan Naya.


"Iya Bi, ini aku, dari kolam renang, dari sekitar jam sembilan/ sepuluh aku di sana," dengan memberi senyumnya,


"Ya ampun Bu.., kenapa gak ajak Bibi,? kalau Tuan tau gimana,? kalau Ibu di luar terjatuh gimana,? pasti Tuan menyalahkan Bibi, karena Bibi tidak bisa menjaga nyonya," bi Taty sontak merasa tubuhnya lemas dengan tatapan nanar, menjadi cemas kalau saja terjadi sesuatu kepada majikannya tadi.


Naya meraih tangan bi Taty yang duduk di sebelahnya, "Bi, aku tidak ke napa-napa Bibi tenang aja, aku baik-baik aja, lihat kan aku baik-baik aja, aku harus belajar jalan jauh Bi."


"Bibi jadi khawatir Bu, dari tadi Bibi gak ngeh Ibu tidak ada di kamar, Bibi gak nyadar, Bibi kira Ibu tidak keluar." Bibi terbata-bata, begitu khawatir, dan takut Dimas marah.


Bu Hesa mendengar di dapur riuh, keluar dari kamar, "Ada apa sih,? saya kira banyak orang, ternyata hanya orang dua saja."


Naya dan bi Taty terdiam, "Tidak ada apa-apa Mak," Naya tak ingin bercerita.


"Oh, saya kira ada apa,? ya sudah saya masuk kamar lagi," tutur bu Hesa sambil melengos.


"Bu, lain kali kalau mau keluar, minta di antar sama Bibi ya,?" bi Taty kembali menatap Naya.


"Iya Bi, sudah jangan cemas, lanjutkan aja lagi masaknya, aku mau ke atas aja capek, dan nanti kalau orang dari salon datang, suruh ke atas aja,?" Naya beranjak dari duduknya.


"Sudah lah Bi, aku ke atas dulu ya,?" Naya berjalan sesekali berpegangan ke dinding, lantas naik lift ke lantai atas.


Di Rumah Sakit


Sekian lama Dimas tidak bertemu dengan Citra, dan kini mereka dipertemukan lagi di ruang operasi, Dimas masih dengan sikap cueknya, sementara Citra kabarnya kini dekat dengan Endro, Dimas merasa lega kalau memang Endro sudah mendapatkan hati Citra, karena dengan begitu Dimas akan lepas Dari Citra.


Dimas tengah bersantai di ruangannya, di sisi pintu berdiri seorang pria yang mirip artis yang bernama Randy pangalila ya itu Endro, "Dok, boleh saya masuk.?"


Dimas menoleh, "Masuk lah bro."


Endro masuk mendekati Dimas, dan menggeser kursi untuk duduk depan Dimas, "Apa kabar istrimu bro.?"


"Baik, kenapa,?" tanya Dimas menatap dengan tajam.


"Nggak, cuma nanya saja, aku mau ke sana belum sempat juga, ingin bertemu istrimu, hebat dia, bisa mengunci sosok Dimas dari godaan seorang Citra," Endro menggeleng dan berdecak kagum.


Helaan napas Dimas kasar, "Sudah lah, jangan sebut namanya di kait-kaitkan denganku, cukup, apa lagi bukan kah sekarang kalian sudah dekat, terus pepet dia, jangan sampai lengah, sudah, anggap yang kemarin itu tidak pernah terjadi."


Endro mengangkat alisnya, "Iya sih aku sudah mulai dekat dengannya," tiba-tiba dari luar Citra datang menghambur memeluk bahu Endro.


"Sayang, rupanya kau ada di sini,? aku mencari dirimu di ruangan pribadimu tidak ada," tanpa canggung, Citra mencium pipi kanan dan kiri Endro, membuat Endro merasa kaget, di sisi lain merasa senang di perlakukan begitu oleh Citra sang pujaan hatinya, Dimas yang melihat itu, santai aja.


"Sayang, ke kantin yuk,? cari makan lapar nih,?" mengusap perut yang datar dan memperlihatkan lekukan tubuhnya, dia bergelayut mesra di tangan Endro sembari di tariknya, kebetulan dia mengenakan dress pendek pertengahan paha mulusnya, membuat Endro menelan saliva nya sendiri berulang-ulang, dengan body gold milik Citra, tak salah bila membuat pandangan dan pikiran para pria termasuk Endro liar.

__ADS_1


Dimas berusaha memalingkan muka, membuang pandangan ke sembarang tempat, agar bola matanya sedikit terjaga.


"Tuh, bro.., bidadari seksi kamu sudah lapar, ajaklah makan,?" seru Dimas memandangi Endro dengan senyuman miris.


Endro mengangguk, "Baiklah sayangku.., kita ke kantin ok,?" Endro berdiri dan berjalan menggeser kursinya, "Bro.., aku pergi dulu ya,?" ucap Endro pada Dimas, dan di balas anggukan oleh Dimas.


Endro berjalan lebih dulu dari Citra, namun wajah Citra menoleh kearah Dimas matanya mendelik dengan senyuman sinis, seolah ingin memanas-manasi Dimas, dengan tingkahnya pada Endro.


"Hem.., aku gak akan tergoda olehmu, dan aku gak bakalan cemburu sama kau," gumam Dimas, sambil memijit pelipisnya.


Dimas beranjak dari duduknya mau ngecek pasiennya, di ruang IGD Dimas bergegas, mempercepat langkahnya.


Citra dekat dengan Endro bukan karena cinta tapi dia ingin membuat cemburu seorang Dimas, sampai detik ini dia masih terobsesi berat dengan Dimas, dia belum merasa puas kalau belum mendapatkan Dimas.


Endro, setidaknya ia merasakan kalau Citra menerima cintanya bukan karena sudah cinta, tapi karena kecewa, dengan penolakan Dimas terhadapnya, namun setidaknya Citra bisa belajar mencintai dirinya saja sudah cukup bagi Endro.


"Kenapa sayang,? ayok di makan,? katanya tadi lapar,?" Endro memecah keheningan.


"Iya," jawab Citra begitu singkat, sampai makan selesai sikap mereka begitu kaku, meskipun endro banyak bicara namun Citra banyak diam.


"Sudah, kita balik ke tempat kerja sekarang,?" Citra berdiri dan meraih tasnya, endro pun beranjak dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar.


Mereka berjalan melintasi koridor rumah sakit, terlihat Dimas tengah berjalan berlawanan arah, Citra memutar otaknya mencari ide yang bagus, ketika sudah dekat Endro dan Dimas saling bertegur sapa.


"Sudah makannya,?" Dimas dengan senyum terbaiknya.


"Iya nih, kau mau kemana,?" Endro balik tanya.


"Ke Kantin, cari minum," sahut Dimas, dan ketika pas Citra berjalan dekat Dimas Citra terpeleset mengakibatkan tubuh Citra menabrak tubuh Dimas, tak ayal tubuh Dimas mundur kebelakang, dan merangkul pinggang Citra yang berbentuk biola, Namun Dimas segera melepaskan dan mendorong tubuh Citra untuk berdiri dan di raih oleh Endro.


"Hati-hati Citra,?" ucap Endro sambil membantu Citra berdiri tegak.


Dimas merasa kaget, dan merapikan pakaiannya, dadanya terhentak ketika dua gunung tinggi dari Citra menubruknya, namun Dimas segera menormalkan perasaannya, "Gila.., apa-apaan nih anak,?" gumam Dimas.


"Ma-maaf dok, gak sengaja, kaki aku terpeleset jadinya menubruk dada dokter,?" Citra menunduk, dan di balik itu dia tersenyum licik, tanpa orang sadar Citra sudah meninggalkan sebuah jejak di bahunya Dimas.


"Nggak apa-apa," Dimas melengos.


Pandangan Endro mengikuti langkah Dimas, lalu melirik Citra yang masih berdiri di tempat, "Apa ada yang sakit Citra sayang,?" dengan tangan masih merangkul pundak Citra.


"Kaki sakit yang," dengan nada super manja, kemudian Endro memapah Citra ke ruangannya.


Sementara Dimas sudah duduk di kantin dan memesan minuman, sebentar setelah minumannya kandas ia langsung berdiri setelah membayar ia memutuskan untuk pulang, memang sudah waktunya pulang, dan RS agak santai.


Sesudah mengambil barang-barang dari meja kerjanya, Dimas menelusuri koridor rumah sakit untuk ke luar menuju parkiran dan mengambil motornya yang terparkir di sana, tak lupa dengan helmnya Dimas langsung menaiki motornya, setelah tancap gas Dimas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, rasanya ingin segera sampai rumah, untuk bertemu bidadari di hatinya, yang menunggu di rumah.


Di tengah jalan ponselnya berdering, Dimas menepi dan mengangkat sebuah telepon, dari anak buahnya yang meminta dia datang ke perkebunan karena ada hal penting yang harus di bicarakan saat itu juga, Dimas pun menyanggupinya.


Dimas mengirim pesan singkat no kontak my love, bahwa ia akan terlambat pulang, sebab ada urusan mendadak di perkebunan sawit.


Dimas: "Sayang, ijin ya,? aku akan telat pulang karena ada urusan mendadak di perkebunan, jaga diri baik-baik dan tunggu aku pulang, I Love you," kirim, tidak menunggu balasan, Dimas langsung menancap gas, melarikan motor ke perkebunan yang ia tuju.


,,,,

__ADS_1


Apa kabar reader ku malam ini,? semoga ada dalam lindungan Allah yang maha kuasa ya,? terimakasih telah memberi aku lake, komen, dll nya, oya agar aku lebih baik menulisnya, kalau ada tulisan aku yang salah ketik atau nama yang salah penempatan nya, coba di kritik ya,? karena aku ingin belajar lebih baik lagi untuk para pembacaku semua🙏🙏


__ADS_2