
Dimas diam sesaat, dan mengerutkan dahinya, "Nanti malam ke rumah, kebetulan, Aldo nanti ada juga, kita obrolkan nanti ok,? aku pulang duluan," Dimas beranjak bergegas meninggalkan tempat tersebut, sebelum pulang Dimas mengambil tas kerja di ruangan pribadinya.
Kini Dimas sudah berada di atas motornya, setelah memakai helm, Dimas melajukan motornya, dengan kecepatan sedang, tak terlalu lama di jalan Dimas sampai ke rumah, setelah menyimpan motor di garasi, Dimas barulah masuk kedalam rumah lewat pintu dapur, dan di sana Naya sudah menunggu.
"Assalamu'alaikum.., sayang,?" Dimas nyamperin Naya mengecup kening Naya.
"Wa'alaikum salam," Naya pun mencium punggung lengan Dimas, " Mau makan dulu apa mandi dulu,? sudah sholat belum,?" Naya memandangi wajah Dimas.
"Belum, boleh gak makan dulu lapar yang,?" Dimas melirik jam dan mengusap perutnya yang keroncongan dari tadi.
"Ok lah," Naya mengambil piring di isi beberapa menu kesukaan Dimas, sebelumnya memberikan segelas air putih.
Dimas melirik bi Taty yang membelakangi mereka, lalu Dimas menyentuh dagu Naya di buat menghadapkan wajahnya, cup Dimas mendaratkan ciuman nya di bibir Naya membuat mata Naya terbelalak, "Apa-apaan sih,?" sambil melirik bi Taty yang masih membelakangi.
Dimas hanya menyeringai, "Kangen yang,? lagian bi Taty tidak melihat kita," dengan tangan masih di posisi semula, Dimas menatap sendu, cup.., mengecup lagi dengan sangat hangat dan lembut.
Naya berusaha menolak karena malu kalau sampai ketahuan bi Taty, "Bismillah yuk makan,?" Naya mengalihkan ke makanan, Naya mulai menyuapi Dimas, dengan sangat lahapnya.
"Sepertinya makan rujak enak kali ya yang siang-siang gini,?" ucap Dimas di sela makannya.
"Kayanya, tapi gak ada bahannya di rumah," ujar Naya, "Aku pesan aja, buah buat rujaknya, biar nanti di antar ke sini.?"
"Terserah bunda aja, aku tau makan aja nanti, sahut Dimas sambil membuka mulutnya.
Naya memesan buah muda lewat ponselnya, "Yang nambah lagi gak makannya.?"
"Gak, cukup, aku mau mandi dulu, lepas itu baru sholat, temenin yang,?" pinta Dimas, dengan tatapan penuh harap.
"Aku mau cuci piring dulu," ucap Naya namun bi Taty mendengar langsung menghampiri.
"Biar Bibi aja Bu yang nyuci, Ibu ikut Tuan saja," bi Taty mengambil bekas makan majikannya.
"Em.., makasih ya Bi,? oya sebentar lagi ada orang yang akan mengantar buah muda, tolong di ambil dan ini uangnya, kasihkan ya tolong,?" Naya memberikan uang buat bayar pesanannya.
__ADS_1
Bi Taty mengambil uang tersebut, "Baik Bu, nanti buahnya mau di buatkan apa.?"
Naya melirik Dimas yang sudah berdiri, mengambil tas dan kunci motornya dari meja, "Buatkan rujak, sambal kacang, tolong ya Bi nanti di antar ke atas saja.?"
"Oh, baik Bu,? nanti Bibi antar kan kalau sudah siap," bi Taty mengangguk.
Naya berjalan beriringan dengan Dimas meski tak secepat Dimas, mereka menaiki anak tangga, Naya tepat di depan Dimas, setelah sampai Dimas membukakan pintu untuk Naya, pintu Dimas tutup rapat, Dimas Meletakkan barangnya di atas meja, Naya langsung menyiapkan baju untuk Dimas, dan Dimas duduk di tepi tempat tidur, membuka kancing kemeja putihnya, yang di bantu oleh Naya.
"Yang, sepertinya aku mau di tugaskan keluar daerah, sayang ikut ya,?" ucap Dimas sambil membuka kemeja dan kaosnya.
Naya terdiam sejenak, "Kalau aku gak mau gimana,?" Naya menatap lekat.
"Sayang harus ikut, masa aku sendiri di sana,? gak sanggup yang,?" memelas, "Gak lama kok, paling satu dua minggu saja."
Naya tak lantas mengiyakan, "Sudah mandi dulu sana,? keburu siang yang,?" perintah Naya, Dimas pun menuruti sang istri, dia berjalan dengan handuk, tiba-tiba Naya punya pikiran iseng, ketika Dimas melintasi dirinya jari Naya menarik handuk Dimas membuat handuk terbuka, memperlihatkan pemandangan yang buat Naya tertawa geli, Dimas bukannya memasang handuk kembali malah memeluk Naya yang tertawa geli melihat suaminya hanya mengenakan dalaman saja.
"Sayang kok iseng banget sih,? awas ya sayang harus tanggung jawab,?" Dimas mendidih tubuh Naya di tempat tidur dan mencumbunya.
Dimas hendak membuka penutup juniornya, membuat Naya menjerit kecil, "Jangan sayang, aku mohon,? mandi sana,? jam berapa nih.?"
Dimas menyeringai dan melanjutkan aksinya, lantas menyambar handuknya lalu di lilitkan pada pinggangnya, membuat Naya merasa lega, hampir saja kena terkam suaminya, Dimas melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan hiang di balik pintu.
Naya merapikan pakaiannya yang acak-acakan, "Akhirnya, tak jadi di terkam suamiku, huhu," menarik napas panjang, lalu merapikan tempat tidur, usai itu Naya berjalan ke balkon, "Uuh panasnya ini cuaca,?" Naya duduk di kursi balkon.
Tak lama Dimas keluar dari kamar mandi, matanya mencari keberadaan istrinya yang tidak terlihat di tempat semula, lalu Dimas menoleh ke arah balkon pintu terbuka dan Naya tangah duduk di kursi, setelah mengenakan pakaian dengan rapi, mengenakan sarung untuk sholat.
Naya melamun sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangannya, dia berpikir ikut gak ya,? rasanya kalau ikut tak ada kawan kalau Dimas sedang bekerja, namun bila tak ikut kasian suaminya, dulu sebelum nikah pernah Dimas berkata, jika aku ada tugas di mana aja Bunda harus ikut bagaimana pun kondisi dirinya, Naya menghela napas lantas menghembuskan dengan kasar.
"Sayang sedang melamun apa nih,?" Dimas menghampiri Naya yang tengah bengong.
Naya melirik, "Nggak kok, lagi dengerin musik," sahut Naya, Dimas duduk di samping Naya, cuaca yang tadinya panas mendadak teduh, Naya menyandarkan kepalanya di bahu Dimas, dan Dimas melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.
"Dokter Aldo datangnya nanti sore, ngantuk, bobo siang yuk,?" ajak Dimas sembari mengecup kening sang istri.
__ADS_1
"Nggak mau ah, sayang sendiri aja," sahut Naya.
"Temani lah yang,?" Dimas memelas, "Janji deh gak macam-macam, bobo doang, ok,?" kata Dimas meremas jemari Naya.
"Bohong ah,?" sambung Naya dengan seulas senyumnya, Dimas beranjak dan meraih tubuh sang istri di gendongnya seperti memanggul sebuah karung, membuat Naya meronta minta di lepaskan, memukul punggung Dimas agar menurunkannya, namun Dimas tak perduli, Naya baru dia turunkan ketika sudah berada di atas tempat tidur, Dimas rebahkan tubuh sang istri kemudian di susul nya berbaring.
"Aduh, sakit..," Naya memegangi perut, giginya mengerat menahan sakit, membuat Dimas panik dan bangun.
"Sayang kenapa hem..,?" Dimas meraba yang Naya pegang.
Wajah Naya pucat, "Sakit yang,? sakit."
"Sakit kenapa,?" Dimas semakin cemas.
"Tapi bohong,?" Naya sedikit tertawa samar.
Dimas menatap tanpa ekspresi, "Sayang.., jangan bercanda, gak lucu,? aku gak suka,! aku gak suka hal seperti ini,? karena aku tahu sayang kadang suka sakit di daerah perut kalau datang bulan, jangan bercanda yang,?" Dimas bersandar di bahu tempat tidur dengan melipat tangannya.
Naya terdiam, wajahnya tatap sedikit pucat menahan sakit, "beneran sakit tapi.., tidak terlalu kok, mungkin kena pundak kamu," Naya memunggungi Dimas, memejamkan mata sebisanya menahan sakit.
Dimas membaringkan lagi tubuhnya memeluk Naya dari belakang, mengelus perut Naya, dagunya dia tempelkan di bahu Naya, "Maafkan aku sayang,? aku gak bermaksud sayang sakit, hik hik hik," dengan suara parau rupanya dia nangis.
Naya mengubah posisi menjadi telentang, menoleh ke wajah Dimas, dengan senyum getir menahan sakit dan berkata, "Sayang kok nangis kenapa,? aku yang sakit kok kamu yang nangis sih.? gak lucu.?"
Dimas malah membenamkan wajahnya menyembunyikan di dada Naya, "Aku gak mau sayang sakit,?" ucap Dimas sembari hik..hik.. nangis, membuat Naya jadi terharu.
"Aku gak ke napa-napa yang sebentar juga sehat,?" Naya membelai rambut Dimas yang berada di dadanya, sebentar Dimas mendongak pipinya basah dengan air mata, "Maafkan aku yang.?"
Naya mengangguk pelan, "Udah ah, jangan nangis, jelek tau gak,?" ucap Naya sembari mengusap pipi suaminya, kemudian Dimas membenamkan lagi wajahnya di dada Naya kembali, tangannya sedikit memijat pelan perut Naya, hingga membuat Naya terpejam.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1