
"Tidak, bawa saja ke mari," titah Dimas dengan jelas, Naya hanya diam mendengarkan, sambil memasukan sarapan ke mulutnya, Dimas sudah bersiap untuk berangkat kerja di hari pertama ini, "Hati-hati yang jangan ngebut,?" Naya mencium punggung tangan Dimas, tak lupa Dimas pun mengecup kening sang istri dengan mesra.
"Sayang juga jaga diri baik-baik di rumah, istirahat ya,? jangan capek-capek," Dimas berjongkok, menyentuh perut Naya, "Calon baby ayah, jaga bunda ya, jangan buat bunda menderita, kasian bunda," Dimas menempelkan telinganya di perut sang istri, "Anak baik."
Sementara Naya bibirnya tak lepas dari senyuman, melihat kelakuan suaminya yang menggelikan.
Setelah mengucap salam Dimas berangkat kerja, Naya masih duduk di tempat semula, Pak Mad menghampiri setelah mengantar Dimas ke depan, sambil membungkuk Pa Mad berkata, "Bu, apa ada yang harus saya kerjakan lagi, saya rasa pekerjaan rumah sudah selesai, kecuali mencuci.?"
"Em.., sepertinya mencuci biar kami aja yang kerjakan, lagian sedikit kok Pak," Naya dengan senyum ramah.
"Oh baiklah, kalau begitu saya mohon pamit dulu, nanti saya suruh istri saya kemari menemani Ibu, dan saya akan kembali siang hari," ucap Pak Mad berdiri depan Naya.
"Em.., silahkan Pak," Naya mengangguk.
Pak Mad, membalikan tubuhnya, pergi untuk pulang dan janji akan mengirimkan istrinya ke sini, usai Pak Mad tidak ada Naya pun kembali ke dalam kamar, memungut pakaian kotor, di keranjang, niatnya mau nyuci tapi..,mata terasa sangat mengantuk akhirnya Naya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak butuh waktu lama, Naya terlelap dalam buaian mimpi.
Tidak lama beberapa puluh menit kemudian, Pak Mad menyuruh istrinya yang bernama Meri, untuk mendatangi kediaman Dimas, Karena sudah tidak asing lagi dengan rumah tersebut, bu Meri langsung masuk saja ke dalam, apa lagi suaminya cerita bahwa majikannya ini jalannya tidak normal, jadi jangan menunggu di bukain pintu.
Meri masuk menggendong anak bungsunya yang bernama Rita, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan namun kosong, setelah di dalam Rita bermain-main di sana, Bu Rita melihat cucian dekat mesin cuci, langsung saja dia cuci, selesai nyuci Meri duduk di sofa, sembari mengawasi putri kecilnya.
Pukul sembilan Naya terbangun, langsung ke kamar mandi mengambil air wudu tuk sholat duha, tiba-tiba terdengar suara anak kecil, "Apa istri Pak Mad sudah datang kali ya," Naya beranjak keluar kamar, benar saja ada anak kecil yang sedang bermain lari sana lari sini, di sofa tengah duduk di sofa seorang ibu-ibu.
Dari depan pintu Naya menyapa, "Em.., permisi, anda istri Pak Mad bukan.?"
Naya sangat hati-hati, menatap teduh orang tersebut, dia menoleh lantas memberi senyuman, "Iya Bu, maaf saya tadi masuk tanpa permisi dulu,?" mengangguk.
"Oh gak apa-apa Bi," Naya menghampiri dan duduk di sofa yang sama.
Bocah kecil itu mendadak terdiam tidak seperti tadi yang begitu aktif, bengong memandangi Naya, lalu dengan ciri has nya, "Tante, kenapa jalannya seperti itu.?
"Huu..,s Rita," kata bi Meri menempelkan jarinya di bibir dan menggeleng.
"Maaf Bu, maafkan anak saya,?" bi Meri merasa malu.
"Tidak apa kok," Naya kembali tersenyum, sejenak tercipta rasa canggung, namun Naya berusaha mencairkan suasana, dengan cara mengobrol dan mengajak bermain Rita.
Naya baru ingat bahwa dia tadi pagi mau nyuci, tapi keranjangnya sudah kosong, "Bibi yang nyuci kah.?
"Oh, iya Bu tadi," bi Meri mengangguk.
"Jadi malu, oya Bi anggap saja di rumah sendiri ya,? mau makan mau apa, jangan sungkan, ke dapur saja, lihat di lemari ada apa, pokonya anggap rumah sendiri aja,"
__ADS_1
"Bu, Rita bawa jeruk dari lemari pendingin," Rita lari-lari dari dapur membawa jeruk.
"Eh.., ja-!" bi Meri tak melanjutkan perkataannya, karena Naya mengangkat tangannya ke atas angin.
"Biar saja, kalau lapar juga cari aja makanan di sana dan ambil sendiri," tegas Naya.
"Maaf Bu,?" bi Meri mendudukkan Rita di sofa.
"Sini tante kupas mau,?" Naya menawarkan bantuan dan anak itu langsung mendekati Naya, lalu Naya mengupas kan buah jeruk tersebut, "kalau Rita mau lagi ambil lagi ya, masih ada kan.?"
"Iya tante, masih banyak kok, aku suka banget deh," bocah itu melahap jeruknya.
Bi Meri hanya tersenyum canggung, "Em.., apa ada yang bisa saya lakukan Bu,? mungkin Ibu butuh sesuatu dari dapur, saya ambilkan."
"Makasih Bi, gak usah, nanti merepotkan Bibi," tolak Naya merasa gak enak, meski rasanya pengen sekali meneguk jus buah.
"Tidak apa-apa Bu, sekalian saya mau ke dapur kali aja bekas Rita di sana berantakan," bi Meri beranjak dari duduknya.
"Em.., kalau tidak merepotkan sih, tolong bikinkan jus buah mangga Bi,? eh Rita mau gak jus buah,? nanti ibu Rita bikinkan," Naya melirik Rita yang tengah bermain dan makan jeruk.
"Mau tante mau," Rita bersorak membuat suasana jadi rame.
"Bikin aja yang banyak, mungkin Bibi mau juga," sambung Naya.
Rita bermain di sofa bersama Naya, bi Meri sudah berada di dapur membuka pintu lemari pendingin yang isinya masih penuh dan komplit, mengambil dua buah mangga matang, setelah di kupas dibuatkan jus untuk Naya dan putri kecilnya.
Tidak lama bi Meri sudah kembali membawakan dua gelas jus di simpan di atas meja, Naya langsung menyambar dan meneguknya, "Hem.., segar banget."
Naya begitu menikmati jusnya, bi Meri tersenyum melihat Naya begitu menikmati buatannya, dia melihat sisi baik dari orang yang baru dia kenal tersebut.
"Rita kok gak di minum jusnya, katanya suka..,tapi di biarkan,? gimana sih, di minum lah sayang, nanti mubazir loh," Naya mengusap kepala Rita yang asik nonton upin ipin.
"Suka, mubazir itu apa tante,?" Rita mendongak ke Naya.
"Em.., mubazir itu.., tidak bermanfaat."
"Tidak bermanfaat itu apa sih tante,?" tanya Rita lagi.
"Artinya..,tiada guna, atau..,kalau jus itu tidak Rita minum, nantinya kan di buang, sayang dong, Ibu sudah capek-capek bikinkan Rita jus, eh..,tidak di minum," Naya sedikit kebingungan untuk menjelaskannya, pada anak kecil ini.
"Och..," membulatkan mulutnya begitu menggemaskan sekali anak ini.
__ADS_1
"Maaf Bu, Rita memang bawel anaknya," bi Meri menjelaskan.
Naya kembali mengulas senyum, "Tidak apa-apa kok," Naya meneguk tetesan terakhir dari jusnya.
Melihat itu bi Meri menawarkan lagi, "Biar saya bikinkan lagi Bu.?"
Naya menoleh dengan senyum ramahnya, "Tidak Bi makasih," Naya menyimpan gelas di meja.
"Rita jangan nakal ya,? Ibu mau lihat cucian dulu, jangan ke mana-mana juga." bi Meri pergi ke tempat cucian.
Naya sibuk chating ngan dengan keluarganya yang di Sukabumi yang menanyakan kabarnya, mereka saling berbagi kabar dan cerita, namun Naya masih memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya, biar nanti saja bila sudah waktunya, sekarang masih terlalu dini bila harus di ceritakan.
Bi Meri kembali, " Maaf Bu mau di masakan apa untuk makan siang.?"
Naya terdiam sesaat, "Em.., ayam goreng, dan sayuran ijo aja Bi kalau mau masak, tapi.., kalau Bibi mau makan apa misalnya, terserah masak aja, dan seandainya di lemari tidak ada yang Bibi suka bicara aja, biar beli saja," ujar Naya.
"Bibi gampang Bu," bi Meri membalikan badan kembali ke dapur, Rita tertidur di sofa sepertinya kekenyangan, Naya sudah menyuruh untuk di pindahkan ke kamar sebelah, namun Ibunya menolak dengan alasan tidur Rita gak akan lama.
"Oya Bi, aku masuk kamar dulu ya, sudah dzuhur juga," Naya pun beranjak.
"Iya Bu," bi Meri menoleh sesaat, kemudian melanjutkan langkahnya.
Kini Naya sudah berada di kamar, langsung masuk kamar mandi melucuti semua pakaiannya, cuaca begitu panas, mau berendam di bathtub sepertinya adem tuh bila berendam di air dingin, dering telepon beberapa kali terdengar namun Naya biarkan saja, namun karena terus saja berdering, Naya meraihnya. ternyata Dimas yang menelpon.
"Apa kabar sayang sekarang.?"
"Baik, ini lagi berendam, ada apa,?" tanya Naya sembari memainkan busa.
"Kangen, ada gak istri Pak Mad, menemani Bunda,?" suara dari sebrang sana.
"Ada yang lagi masak, udah ah lagi mandi nih," jelas Naya.
"Sayang..,suami telepon kok begitu sih, gak kangen kah.?"
"Gak, lagian bentar lagi juga pulang," ketus Naya.
"Iya sayang bentar lagi Ayah pulang, hanya ingin memastikan saja permaisuri, bidadari ku baik-baik saja saat ini, jangan capek-capek ya,? ya sudah muach love you Bunda,?" Dimas memberikan kecupan jauh. membuat Naya bergidik namun menarik bibirnya senyum.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1
Nb..
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang umat muslim,