
Endro setengah berlari dan menggoda perawat tersebut namun mereka hanya tersenyum dan berlalu, Endro kembali dan menutup pintu, duduk di ruang tunggu bersama Dery yang sudah duduk manis.
Dimas berjalan, "Saya mau lihat baby saya sebentar, tolong titip istriku," ucap Dimas seraya berdiri menatap kedua sahabatnya.
Keduanya mendongak dan Endro berkata, "Saya ikut, kebetulan belum nengok ponakan ku," Endro berdiri untuk ikut Dimas keruang baby nya.
"Yuk, dan kau,?" beralih pandangan pada Dery.
"Saya di sini saja," jelas Dery sambil berbaring dan tangannya memeluk bantal sofa.
"Ok, saya tidak lama, akan segera kembali," Dimas juga Endro berjalan beriringan, menuju ruang baby.
Dery menatap keduanya sampai hilang di balik pintu, ia sengaja menunggui Naya kasian kalau di tinggal sendiri dan kalau dia sadar tidak ada orang.
Dimas menatap kedua baby nya dari balik kaca, dengan bibir melukis senyuman, dada yang tadinya sesak cemas sekarang berasa lega, kehadiran baby nya yang di nantikan penuh dengan kecemasan sudah lahir dan melihat dunia ini.
Betapa besarnya sang maha pencipta, hingga menciptakan dua malaikat kecil padanya, dengan sangat sempurna tidak kurang suatu apa pun, begitu sempurnanya, baby yang masih merah itu tampak lelap tertidur di dalam inkubator.
"Lucu sekali keponakan 'ku, gemees.., rasanya ingin 'ku cubit pipinya hem..," ucap Endro menatap kagum kedua baby itu.
Dimas menoleh kearah Endro dengan senyuman merekah di bibirnya, "Siapa dulu Ayahnya,?" menyeringai dan kembali menatap baby kembarnya penuh bahagia.
Dery mendekati tempat tidur Naya membetulkan selang infusan, Naya masih belum ada tanda-tanda sadar, duduk sebentar dekat Kanaya memandangi sangat lekat wajah Naya yang terlihat sangat pucat.
Dery hembuskan napas yang berat dan panjang seolah ingin melepaskan beban dalam hatinya, "Kau harus kuat, tidak boleh lemah, kau tidak boleh menyerah, suami dan anak-anak mu sangat membutuhkan dirimu, saya tidak ingin kehilangan yang ke sekian kalinya meski kau bukan siapa-siapa," tak terasa air mata Dery menetes dan langsung menyekanya, Dery berdiri kembali duduk di sofa tempat semula.
Suara langkah kaki mendekati ruang rawat Naya, Dimas masuk di ikuti oleh Endro melihat Dery masih di tempat semula, Endro menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah.
Dimas langsung menghampiri Naya yang masih terbaring lemas dan belum sadar diri, "Sayang sadarlah, aku merindukan senyuman manis mu, suaramu yang bawel dan perhatian yang selama ini kau berikan, aku tidak sanggup bila harus kehilangan," Dimas meremas jemari Naya dan menciumnya, air bening menggenangi sudut mata Dimas.
Perlahan jari Naya bergerak, Dimas menyadari gerakan jari Naya langsung Dimas menoleh Naya yang sedikit membuka matanya, "Sayang, kamu sudah sadar,?" Dimas mendekat dan mengecup kening sang istri.
"Haus," gumam Naya, langsung memberikan minum air putih.
"Aku senang kau sudah sadar," ucap Dimas terlihat jelas kebahagian terlukis di wajahnya.
Naya mengerjapkan matanya menyapu pandangan ke setiap sudut ruang, dan nampak Dery, Endro berdiri dekat tempat tidur, mereka menghampiri setelah mendengar suara Dimas yang sangat antusias.
"Aku dimana,?" tanya Naya melirik sang suami.
"Di rumah sakit sayang, kau pingsan tadi, untung lah sekarang kau sudah sadar," lagi-lagi mengecup kening Naya.
Naya terdiam menerawang dengan apa yang telah terjadi menimpanya, "Astagfirullah," Naya menangis dan menyentuh perutnya yang kempes, Naya semakin histeris, "Anak 'ku, kenapa aku harus bertemu dia lagi dan kenapa harus terjadi seperti ini, kenapa harus terjadi,? kenapa,? hik..,hi..,hik..," Naya pikir kejadian tadi telah merenggut anak-anak yang di nantikan nya, ia pikir ia telah kehilangan janin yang selama delapan bulan ini ia kandung.
__ADS_1
Semua yang berada merasa haru, melihat Naya menangis, lama-lama Dimas sadar dengan maksud Naya, "Sayang tenang lah," ucap Dimas, namun tangis Naya semakin pecah dan mengelus-ngelus perutnya.
"Sayang dengar aku,? tenang sayang tenang aku akan jelaskan sesuatu," Dimas meraih kepala Naya ke dalam dekapannya, mengelus kepalanya lembut.
"Sayang, dengar aku," Dimas lirih dan Naya sudah agak tenang walau masih tersedu.
Naya mengangguk pelan, mengeratkan pelukan, nyaman dan tenang bila berada dalam pelukan suaminya.
"Anak..,kita selamat mereka.., baik-baik saja namun karena terlahir prematur jadi mereka saat ini berada di inkubator," jelas Dimas lembut mengusap punggung istrinya.
Sontak Naya mendongak pada Dimas, wajahnya yang pucat seolah berseri kembali, "Benarkah,? jadi anak-anak kita tidak-!
"Tidak sayang, mereka selamat, kamu terpaksa di sesar sebelum waktunya dikarenakan kondisi yang memaksa Bunda sesar hari ini," sambung Dimas menatap bola mata Naya yang berkaca-kaca.
Naya menoleh Endro juga Dery yang terdiam juga, "Benarkah,? anak kami selamat," seakan tidak percaya pada suaminya siapa tahu suaminya hanya ingin menghibur saja.
Dery mengangguk pelan, dan Endro lalu tersenyum seraya berkata, "Benar kakak, anak kalian selamat, sehat dan normal, hanya di sebabkan lahiran diusia delapan bulan prematur jadi harus di pisah dulu dari kakak, tapi mereka aman kok di sana," Endro menunjuk ke arah belakang, "Mereka sangat lucu-lucu dan menggemaskan sekali," Endro meyakinkan.
Naya kembali menoleh Dimas yang tak henti-hentinya mengulas senyuman dan mengangguk, Naya mengusap pipinya yang basah, "Kalau begitu, aku ingin melihat mereka, boleh ya,?" menatap lekat suaminya.
"Boleh, tapi..,besok aja, sekarang sudah malam kau harus banyak istirahat, besok aku antar ke sana, sekarang kah makan dulu lalu minum obat, biar cepat pulih," jelas Dimas.
"Tapi yang.., sebentar aja," memelas.
"Iya besok, sekarang makan dulu dan minum obat hem," Dimas memainkan alisnya.
Naya terdiam meski kecewa permintaannya tidak terpenuhi namun menurut saja karena yakin ini untuk kebaikan dirinya.
Dimas menyuapi Naya makan, dan Naya pun menurut namun ia jadi kepikiran akan Yuda gimana sekarang dia di tangkap kah, "Em.., Yuda gimana di tangkap polisi kah.?"
"Oh jelas, dia sudah sepantasnya menginap di penjara atas tuduhan penculikan, bahkan karena ulahnya wanita yang belum waktunya melahirkan harus sesar sebelum waktunya," sahut Endro dengan geramnya mengepalkan tangan.
Naya menatap Endro sembari mengunyah pelan otaknya berputar, Kemudian menoleh Dimas, "Benarkah.?"
"Ayah tidak akan memaafkan dia, apa lagi kalau kejadian yang lebih fatal menimpa Bunda, tidak akan." ucap Dimas mengeraskan rahangnya, "Rasanya ingin sekali 'ku patahkan tangannya yang telah berani menyentuh istriku."
Dery menghela napas, kemudian menghembuskan nya, "Tidak perlu kau mengotori tangan mu itu, aku sudah memberi pelajaran pada bandit itu," dengan nada santainya.
"Apa yang sudah kau lakukan,?" tanya Dimas bersamaan dengan Endro, merasa kaget mendengar ucapan Dery barusan, begitupun Naya menatap penasaran kearah Dery.
Dery malah mengibaskan tangannya ke udara, "Tidak peru kalian tahu, sudah lah, yang jelas kita tidak akan pernah berhubungan dengan bajingan itu lagi."
Dimas menggeleng walau rasa penasaran memenuhi ruang hatinya namun ya sudah lah buat apa juga berhubungan dengan orang yang gak penting, sekarang sudah jelas istrinya sudah aman bersama dirinya lagi.
__ADS_1
"Kau tidak membunuhnya kan Dery,?" Endro menatap curiga.
"Sembarangan, kau pikir saya pembunuh,? iya sih," menyeringai.
"Ya Tuhan.., kenapa kau dekatkan saya dengan seorang pembunuh," Endro mendongakkan wajah ke langit-langit, "Sebaiknya kau menyerahkan diri saja Dery jangan menjadi buronan, percayalah meski kau dipenjara kami akan selalu menjenguk mu, kami tidak akan melupakan jasa kau itu," jelas Endro lagi.
Dengan ekspresi dingin Dery berkata, "Ya saya seorang membunuh," membuat Endro bergidik ngeri, "Dan Kanaya salah satu saksinya saya membunuh."
Semua pasang mata memandanginya tak berkedip bahkan Naya tidak mengerti karena ia tidak merasa seperti yang Dery ucapkan barusan.
"Kau ngelantur Dery, perasaan kau tidak mabuk," ucap Dimas.
Dery melirik ketiga orang yang berada di tempat tersebut, "Saya suka membunuh.., binatang yang ingin menggangu saya seperti ulat, ular dan Kanaya pernah menjadi saksinya," menaikan kedua bahunya.
"Ya Tuhan.., saya kira beneran," Endro mengusap dadanya, "Hampir saya jantungan bro.."
Naya terdiam lalu tersenyum dan menggeleng, Dimas menatap curiga, "Ada apa sayang, jangan-jangan kalian-!"
"Apa sih yang..,? curiga aja," waktu di villa, ketika aku di kebun buah kan ada ular terus Dery bunuh," jelas Naya menggeleng pelan.
"Hem.., Ayah kira apa."
"Emang apa,?" tanya Naya melotot.
"Nggak."
Endro berdiri dari duduknya, "Dery, saya mau pulang, masa kritis kan sudah lewat baiknya kita pulang aja takut ganggu, besok aja kita balik lagi itu pun kalau sekiranya tidak ganggu mereka."
"Hah.., ganggu apaan, justru saya berterimakasih sangat pada kalian sudah sudi membantu dan menemani saya sampai saat ini," ucap Dimas pada Endro dan juga Dery.
"Tidak apa, sudah sewajarnya saya membantu itupun kalau saya bisa," sahut Dery yang juga beranjak, bersiap pulang.
"Iya nih, kaya sama siapa aja kau ini bro," sambung Endro, "Eh.., ngomong-ngomong, kami gak bawa kendaraan, motor i di rumah kau bro, kau kan gak gak bakalan ke mana-mana ya,? jadi mobil you i bawa pulang dulu lah," menatap Dimas.
"Huuh.., kalian bawa lah, tapi besok pagi anterin ke sini lagi bah," tegas Dimas.
"Oh siap, yuk Mr Dery kita pulang, biarkan mereka berdua di sini," ajak Endro pada Dery sambil menyambar kunci dari meja, "Oya bro ingat ya jangan macam-macam dulu lah, kasian masih luka," melirik Dimas sembari menyunggingkan bibirnya.
"Apa maksud kau,?" Dimas melempar botol minun yang sudah kosong ke punggung Endro namun Endro ngeles dan tertawa sambil bergegas pergi bersama Dery.
"Sayang.., jangan buang sampah sembarangan," lirih Naya pada Dimas.
"Bukan buang sampah yang," sambil mungut kembali botol kosong tersebut lalu duduk kembali di sebelah Naya dan berbisik, "I love you Bunda."
__ADS_1
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏