Bukan Mauku

Bukan Mauku
Gangguan terus


__ADS_3

"Mana Ayah tahu sayang," sembari meraih tangan Naya dan memberi kecupan lembut, kemudian Dimas turun dari tempatnya dan bergegas ke toilet.


Naya menatap kepergian Dimas ke toilet, pikirannya melayang ingatannya masih pada seorang wanita tadi, "Ya Allah.., apa yang ada dalam pikiran wanita itu,? jagalah rumah tangga 'ku ya Allah, jangan biarkan kerikil-kerikil sekecil apa pun masuk kedalam kehidupan kami, Aamiin," lalu mengusap wajahnya.


Tak lama Dimas keluar dari toilet, kemudian menemui dokter yang menangani dirinya, untuk meminta ijin pulang karena sudah merasa lebih baik.


Dokter memberi saran agar bersabar dan nginap satu malam lagi namun Dimas tetap kekeuh minta pulang, toh bisa istirahat di Rumah tukasnya Dimas.


Setelah nego beberapa waktu akhirnya dokter mengijinkan Dimas pulang dengan syarat tetap banyak istirahat dan melakukan cek up rutin sebelum kondisinya benar-benar pulih.


Dimas menyetujui dan akhirnya Naya dan Dery mengemas barang Dimas, namun bunga yang di meja tidak Naya bawa, dengan alasan lupa.


Kini mereka sudah berada dalam mobil, Dery yang duduk di depan setir bersiap mengemudikannya, "Kalian sudah siap belum,? melihat orang yang dibelakang dari kaca spion.


Dimas menoleh kearahnya, "Jalan," sembari menyandarkan bahunya kebelakang jok, Naya melirik kearah Dimas namun tidak sedikitpun bicara, kemudian Naya menatap jalanan yang tembus dari kaca jendela.


Dery pun masih tidak habis pikir akan sosok perempuan tadi yang keluar dari kamar Dimas dan yang sangat mencengangkan adalah sikapnya yang nampak frustasi sekali, lalu apa hubungan mereka?


Namun Dery tak kuasa bertanya pada Dimas maupun Naya, nanti dikira ngurusin urusan orang, gak ada kerjaan.


Sepanjang jalan tidak satupun yang bersuara, kecuali gerungan suara mesin dari mobil Dimas yang di kemudikan Dery, Dimas terpejam dan Kanaya anteng dengan pandangan nya ke jalan seolah menghitung kuda-kuda besi yang berlalu lalang.


Naya menghela napas dalam-dalam melirik suaminya tengah memejamkan mata, melihat Dery sedang fokus dengan setirnya, "Dery, boleh aku minta tolong.?"


Dery menoleh lewat kaca spion, "Ada apa,? katakan saja," kembali matanya tertuju ke depan.


"Aku haus, tolong belikan air mineral," tutur Naya seakan memelas.


"Boleh," Dery terus melajukan mobil sampai akhirnya menemukan Indomaret di depan, Dery menepikan mobil di pinggir jalan kemudian turun.


Melihat Dery turun, Naya merogoh sakunya untuk mengambil uang buat beli minuman, "Ini uang nya Dery."


Kepala Dery nongol lewat jendela, "Ini saja dulu," kemudian berjalan, bergegas menuju Alfamart.


Tinggallah, Naya bersama Dimas yang ada di mobil tersebut, "Kenapa dari tadi monyong aja tuh bibir? wajah di tekuk, begitu,'' tanya Dimas sembari mencolek dagu sang istri.


"Iih apaan sih, siapa juga yang monyong, kalau gak ngomong karena tak tahu harus ngomong apa bingung," ujar Naya memberi alasan.


Selang beberapa detik, Dery kembali membawa kantong keresek berisi minuman yang Kanaya minta.


Dery masuk ke dalam mobil dan memberikan pesanan pada Naya, Naya pun menyambut dengan senyuman.


"Makasih Dery," ucap Naya pada Dery.


"Sama-sama," Dery mengangguk pelan.


Kemudian Dery memutar kemudi melajukan mobil melesat melanjutkan perjalanannya menuju pulang ke Rumah Dimas.


Selang beberapa waktu kemudian mobil masuk ke sebuah halaman Rumah Dimas, Naya dan Dimas turun bergandengan memasuki Rumah, di sambut oleh keluarga Dimas bahkan baby twins pun menyambut kepulangan sang Ayah dan Bunda nya.


Dery memarkirkan langsung ke garasi, setelah itu baru memasuki Rumah Dimas, yang tengah di sambut oleh keluarganya.


"Ayah pulang hore Ayah sudah pulang." Maria memangku baby kayla yang tangannya mengangkat dan mata beningnya memandangi kedua orang tuanya.


Baby Arif pun meronta-ronta di pangkuan oma nya, ingin di gendong sang Ayah, rupanya Baby Arif sudah sangat rindu pada sang Ayah yang beberapa hari ini tidak bertemu.


"Halo baby Ayah, yang ganteng,?" Dimas ingin langsung meraih Arif dan menggendongnya, mencium dan memeluknya.


Namun di cegah oleh Bu Hesa agar mencuci tangan lebih dahulu, barulah Dimas di perbolehkan menggendong baby twins nya.


Dimas pun menuruti dan bergegas mencuci tangan sampai bersih.


Melihat Arif di gendong sang Ayah, baby kayla juga meronta-ronta ingin di gendong nya, bahkan merengek-rengek, sampai nangis berderai air mata bawang.


"Aduduh.., putri Ayah kenapa nangis sayang hem kangen kah sama Ayah?" Dimas menggendong Kayla memeluk dan mencium kening, pipi gembul kayla, yang sebelumnya memberikan baby Arif kepada Bundanya.


Kalau sudah di gendong kayla pun tenang dan ketawa-ketawa senang, Kayla Dimas kembalikan pada Maria lantas ia berpamitan untuk ke kamar beristirahat.


"Sayang, aku naik dulu ya? pengen bersih-bersih dulu lengket nih," mengusap bahu istrinya serta mencium kening baby Arif yang tengah di beri asi.


"Iya, sana mandi biar segar," dengan nakalnya Naya mengedipkan mata sebelah, membuat Dimas menyeringai mencubit pipi istrinya dengan gemas kemudian, bergegas meniti anak tangga.


Setelah beberapa langkah meniti tangga Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah Dery.


"Dery, jangan pulang dulu ya,? nanti ada yang harus di bicarakan.


Dery menoleh Dimas, "Oke."


Dimas memutar kembali tubuhnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar, setelah memasuki kamarnya, Dimas memandangi seluruh isi kamar yang tidak ada yang berubah setelah beberapa hari ia tinggalkan.


Langkahnya tertuju ke kamar mandi, memutar keran mengisi bath tub, ingin berendam sebentar sepertinya segar bila merendam diri, sesekali memanjakan dan merileksasi kan dirinya.


Selepas memberi baby Arif asi, Naya naik ke lantai dua, kebetulan baby Kayla belum haus dan asik bermain sama Tantenya Maria.

__ADS_1


Naya ingin menyediakan keperluan Dimas seperti pakaian untuk gantinya.


Mata Dery mengawasi langkah Kanaya, sembari menggendong baby Arif yang anteng dan kekenyangan.


"Uuh, Arif cemakin gendut nih, makan apa nih hem bikin gemes-gemes," Dery mengajak Arif berbicara, yang diajak bicara ketawa memperlihatkan gusi yang belum ada giginya itu.


"Om Dery sudah punya anak berapa nih, mahir juga gendong anaknya dan anak pun sepertinya nyaman di pangkuan om Dery," Maria melirik Dery yang duduk disebelahnya.


Dery terdiam tak segera menjawab, tangannya mencubit kecil pipi baby Arif, "Belum."


"Belum apa nih,?" Maria heran kurang mengerti dengan jawaban Dery.


Dengan malas Dery berkata lagi, "Belum punya anak."


"Oh.., belum punya anak," Maria mengangguk, dan melanjutkan mengajak baby Kayla bermain di pangkuannya.


"Kayanya baby Arif ngantuk tuh om," ujar opanya Arif pada Dery.


"Iya kayanya Om," Dery mengangguk sembari mengayun baby Arif yang kedip matanya tinggal 5 wat lagi.


"Sini, sama oma sayang,?" Bu Hesa mau mengambil Baby Arif dari tangan Dery namun Dery tidak memberikannya dengan alasan biar tidur di pangkuannya saja.


Di kamar Naya sudah menyiapkan pakaian buat suaminya yang lagi mandi, Naya membereskan tempat tidur, merapikan tempat anak-anak yang sedikit berantakan.


Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, kepalanya masih di perban karena belum bisa di buka, butuh satu dua hari lagi untuk membukanya.


Dimas melihat istrinya yang tengah beberes kan bantal, "Sayang, sudah memberi asi nya?"


Naya mendongak, "Sudah, tapi.., Baby Kayla gak mau dia makanya aku tinggalkan, itu bajunya sudah 'ku siapkan," menunjuk ke atas tempat tidur.


"Makasih sayang," ucap Dimas sembari meraih pakaiannya lalu di pakainya.


Naya duduk di tepi tempat tidur, meraih handuk bekas Dimas yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Kenapa sih gak bisa ya menyimpan nya di kamar mandi langsung biar cepat kering nah."


"Iya yang bentar," sembari menaikan celana pendeknya di depan Naya, lalu mengambil handuk dari tangan Naya ia gantung di kamar mandi.


Sekembali dari kamar mandi berjalan ke tempat rias menyemprotkan minyak wangi ke badannya membuat wanginya memenuhi ruang kamar tersebut, kemudian duduk di samping Naya.


Naya merapikan rambut suaminya yang tidak kena perban, "Wanginya," Naya mencium baunya.


"Iya dong sayang," merangkul bahu Naya agar mendekat pada dirinya.


"Dery menunggu yang," Naya mengingatkan suaminya pada Dery yang menunggu di bawah.


"Hem.., aku juga kangen," sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya.


Cup Dimas mengecup kening sang istri sangat lembut, tangannya mengusap punggung Naya, saat-saat inilah waktunya meluahkan rasa rindu, menuangkan rasa kangen, yang terdengar hanyalah deru napas yang bersahutan dari keduanya.


Tok.., tok.., tok.., "Nay.., Arif bobo nih," pekik Bu Hesa dari luar.


"Ah.., ada aja gangguannya, bila orang mau bermanja-manja, gak ada kesempatan untuk berduaan apa,?" Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.


Naya melepaskan diri dari pelukan suaminya mendongak menatap pintu dan menatap suaminya bergantian, "Iya.., bawa masuk aja Mak," sahut Naya sambil merapikan kerudungnya.


Pintu terbuka dan nampak Bu Hesa menggendong baby Arif yang tertidur pulas, "Arif mungkin kekenyangan sampai tidur, adiknya malah masih asik dan anteng bermain di bawah," Bu Hesa menidurkan baby Arif ke tempatnya.


"Oya kah,? sama siapa mereka Kayla Mak," tanya Dimas menoleh Ibunya.


"Sama Maria, opanya dan Dery, Arif juga tidur di pangkuan Dery tadi," sahut Bu Hesa bergegas keluar setelah menidurkan baby Arif, tidak lupa menutup pintu kembali.


Dimas menyimpan bantal yang barusan ia peluk dan kembali memeluk tubuh sang istri dari samping, "Lanjut ah," sembari menyeringai nakal.


Naya memberontak, "Yang kasian Dery menunggu, temuin dulu sana,? bikin orang nunggu ih."


"Hah.., di tolak lagi nasip-nasip," melepas rangkulannya dengan wajah kecewa.


"Ayah.., kan kamu yang bilang gitu sama Dery, hargain orang dong," Naya menggeleng.


"Iya-iya, tapi ini dulu," menunjuk pipinya.


"Apaan,?" Naya pura-pura gak ngerti.


"Iih.., cium dulu disini," lagi-lagi menunjuk pipinya.


Naya melengkungkan bibinya tersenyum, cup cup mencium pipi kiri dan kanan Dimas, Dimas pun senyum puas lalu turun dan menemui Dery.


Ketika Dimas masih di pintu, "Yang tolong bilang sama mereka Baby Kayla diantar ke sini lah, biar tidur."


"Baiklah sayang," sahut Dimas sembari menutup pintu.


Dimas memanggil Dery agar naik ke lantai dua biar berbincang di sana, kini keduanya sudah duduk santai di sofa yang berada depan kamar Dimas.

__ADS_1


Keduanya bicara serius tentang kerjaan Dery yang hampir rampung, dan Klinik nya pun jadi, perkiraan bulan depan dibuka peresmiannya.


"Saya sangat berterima kasih atas kerjaan kau yang selama ini membantu kami, dan kau juga sering membantu kami juga bahkan kau siap mengantar istri saya kemana-mana, terimakasih banyak,?" ujar Dimas.


"Sama-sama itu biasa saja," bukan kah sudah sewajarnya saya banyak membantu, lagian kalian sudah 'ku anggap keluarga sendiri," tutur Dery menatap kearah Dimas.


"Ya, kau begitu baik pada kami bah," Dimas mengembangkan senyumnya.


Karena sudah terdengar suara adzan meski timbul tenggelam namun jelas, magrib sudah tiba, Dery pun pamit untuk pulang.


Dimas dan Naya menunaikan sholat magrib bersama, setelah sekian lama tidak sholat berdua, Naya mencium punggung tangan Dimas, begitu pun Dimas mengecup pucuk kepala Naya.


Terasa hati ini tenang, nyaman bila menunaikan sholat berdua, Dimas melipat sejadah dan menyimpannya di atas meja.


Naya membuka kitab suci dan membacanya, oa..,oa..,oa.., tiba-tiba baby Arif menangis dan Dimas segera menggendongnya, baby Arif langsung tenang dalam pangkuan Dimas.


Oa..,oa..,oa.., Kayla pun bangun dan menangis, "Sepertinya baby Kayla haus Bun," Dimas menidurkan baby Arif yang bermain.


Dimas menggendong baby Kayla lalu dikasihkan pada Naya yang menutup kitab sucinya, Kayla tenang setelah berada dalam pangkuan Bundanya, lalu Naya pun memberi asi.


Dimas mengambil kitab suci lantas menyimpan di tempatnya, Dimas memperhatikan baby Kayla yang tengah minum asi dengan nikmatnya membuat Dimas menelan saliva nya sendiri.


"Sekarang jatah Ayah hilang sama baby twins Ayah nih," sambil mengusap lembut kepala putrinya.


"Bicara apa sih,? kan memang jatah nya sebelum ada beby ya sayang ya," ucap Naya menatap wajah Kayla lekat.


"Hah mana ada seperti itu,?" sahut Dimas.


Setelah baby Kayla kenyang dan tidur lagi, kini giliran baby Arif yang minum asi, kali ini Dimas duduk dibelakang Naya dan memeluk istrinya dari belakang, meletakkan dagunya pundak sang istri, "Kalau sudah punya baby semua berbeda ya Bun?"


"Berbeda gimana,?" Naya melirik Dimas yang wajahnya menempel ke pipinya.


"Ya berbeda, dulu kita cuma berdua, bulan madu pun bisa kapan saja, sekarang setelah punya baby gak leluasa, ada aja gangguan nya, jangankan mereka melek, tidur saja bisa bangun tiba-tiba, menganggu kesenangan kita," keluh Dimas, sambil tangannya bergerilya kemana-mana.


"Loh kan emang maunya punya keturunan,? kenapa sekarang mengeluh, kan sudah resiko kali ah," Naya heran.


"Hem.., bukannya ngeluh sayang, cuman menceritakan," cup mencium pipi sang istri,


"Ah, gak punya anak ingin punya anak segera, audah di kasih anak ada aja alasannya, kata Allah mau kamu apa sih,?" Naya senyum samar.


"Tuh, baby Kayla tidur lagi, sini Ayah tidurkan," Dimas mengambil alih baby Kayla untuk di tidurkan di tempatnya.


Dimas menatap wajah-wajah polos baby twins nya, mengusap kepala keduanya, kemudian meninggalkannya menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat.


Dimas mencumbunya, "Mumpung mereka tidur sayang," bisiknya di telinga Naya, suaranya sudah mulai berat, tatapannya berselimut kabut hasrat yang menggebu.


Dimas membuka kerudung Naya lalu mengecup kening dan pipi, tangannya memeluk kepala sang istri dan mengelus rambut Naya.


Lengan Dimas menarik tengkuk Naya agar mendekati dirinya, bibir mereka menyatu, Dimas menyesap dan me*****nya penuh desakan hasrat yang menggebu.


"Kakak, Abang .., makan malam nya di tunggu sama Mama dan Bapak, sekarang," teriak Maria dari balik pintu.


Suara Maria membuat Dimas dan Naya terkejut dan saling bersitatap, keduanya mengusap bibir masing-masing dan menetralisir deru napas yang terngah-engah.


"Ya Tuhan.., ada saja gangguannya, terus kapan bisa lancar nih, sudah gak kuat..," Dimas frustasi dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan tengkurep agar bisa menekan sesuatu yang sedari tadi bangun.


Sebagai istri Naya mengerti apa yang suaminya rasakan, "Sabar yang.., nanti juga ada waktunya," lirih Naya mengusap punggung suaminya.


"Tapi kapan..,?" Dimas memelas namun masih keadaan tengkurep.


"Makan dulu yuk ! lagian belum minum obat yang, yuk,?" bujuk Naya dengan sangat lembut.


"Nggak mau ah, gak lapar," rajuk Dimas yang ada rasa kesal, kecewa yang menyesak di dalam dada.


"Sayang makan dulu yuk, kan belum minum obat ya,? mau ya,?" menarik pergelangan tangan Dimas, yang tidak goyah sama sekali.


"Hem...," Dimas menggeliat malas.


"Ya sudah kalau gak mau terserah sih, yang jelas malam ini gak ada-!"


Dimas langsung terbangun duduk menghadap Naya, "Nggak ada apa.?"


" Em.., gak ada apa ya,?" mengetuk-ngetuk telunjuknya ke dagunya.


"Apa,?" semakin penasaran dibuatnya.


Naya mengecup mesra punggung tangan Dimas, "Sekarang, makan, lalu menunaikan isya setelah itu baru kita bobo, oke.?"


Dimas menaikan alisnya, dalam pikirannya langsung terbayang yang ia inginkan, ia tersenyum tipis, "Tapi.., gimana nih, junior 'ku bangun sayang,?" keluhnya Dimas.


"Kalau bangun ya suruh tidur, repot amat," ucap Naya sambil melangkah menuju pintu.


"Hah emangnya gampang,?" bergegas langkahnya ke kamar mandi sekejap, barulah turun untuk makan malam.

__ADS_1


****


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️


__ADS_2