Bukan Mauku

Bukan Mauku
Istri yang bawel


__ADS_3

Naya mengangguk pelan, "Udah ah, jangan nangis, jelek tau gak,?" ucap Naya sembari mengusap pipi suaminya, kemudian Dimas membenamkan lagi wajahnya di dada Naya kembali, tangannya sedikit memijat pelan perut Naya, hingga membuat Naya terpejam.


Tepat pukul empat sore, Naya terbangun, Dimas menatap lekat wajah sang istri.


"Kenapa menatapku seperti itu,?" dengan suara parau.


"Nggak, gimana masih sakit,?" Dimas mengusap perut Naya lembut.


Naya pun mengusap perutnya, "Sudah tidak sakit lagi yang,?" mengulas senyumnya.


"Syukurlah, kalau saja masih sakit, jangan terapi dulu," ucap Dimas memegangi tangan Naya dan menciumnya.


"Aku sudah tidak apa-apa yang,?" Naya bangun dari baringan nya.


"Iya seandainya sayang,? jangan memaksakan diri," sambung Dimas.


Dimas dan Naya bersih-bersih, lalu sholat ashar berdua, selepas itu Naya keluar kamar dan duduk di sofa menunggu kedatangan Aldo, tak begitu lama menunggu, yang di tunggu pun datang dan kini Naya tengah terapi bersama dokter Aldo, di temani oleh Dimas, mereka sambil ngobrol, tentang rencana kerjasama mereka.


"Nanti Endro datang, kita bicarakan ini dengan benar-benar matang," ucap Dimas, sembari meneguk air minumnya.


"Ok," sahut Aldo, sembari mengurut Naya.


Endro datang bersama kekasihnya, Citra, setelah berjabat tangan mereka berdua duduk di sofa yang kosong.


"Apa kabar kalian," sapa Naya menatap kedua orang yang baru datang.


"Baik kak,? seperti yang kau lihat, begitu pun dengan calon istriku, iya kan sayang,? melirik Citra dan mengelus tangannya, Citra tersenyum samar.


"Syukurlah, aku senang kalian berkunjung ke tempat ini,?" ujar Naya sembari tersenyum ramah.


"Tenang aja kak kami pasti akan sering main ke sini nanti, apa lagi kalau kakak di tinggal sendiri di sini, secara Dimas mau tugas ke luar daerah," Endro memainkan matanya pada Dimas.


"Sembarangan,? siapa yang akan meninggalkan istriku di rumah,? aku ajaklah, gak mungkin kubiarkan sendiri," sambar Dimas tegas.


"Hehehe kali aja, baguslah kalau mau di ajak,?" Endro nyengir.


"Iya lah, istriku,?" sambung Dimas.


Sementara yang lain hanya mendengarkan, percakapan Dimas dan Endro.


"Kalau saja tidak membawa istrinya, aku berani susul Dimas, tapi.., sayang, istrinya akan di ajak hem," batin Citra mempunyai niat licik, dan manarik napas panjang, matanya mencuri-curi pandang pada Dimas.


Terapi pun selesai tepat waktu magrib, Naya dan Dimas langsung masuk kamar tuk menunaikan sholat magrib, Aldo turun ke lantai bawah, sementara Endro dan Citra masih di tempat semula berdua.

__ADS_1


Dimas dan Naya menunaikan sholat magrib, di lanjut belajar membaca iqra sebentar, setelah melipat bekas sholat mereka bersiap buat makan malam,


"Yuk yang,? gak baik membuat tamu menunggu kasian," ucap Naya melirik kearah Dimas, yang hendak duduk di sofa.


"Iya-iya, bawel," sahut Dimas berjalan mendekati pintu, di ikuti Naya dari belakang, "Istriku bawel bah," Dimas pelan.


"Tahu bawel kenapa mau,?" sahut Naya dari belakang.


Dimas membalikan badan menghadap Naya yang berdiri, tangan Dimas membingkai wajah Naya, dengan tatapan mata yang sangat teduh, "Karena aku cinta, aku sayang, sama istriku yang bawel ini."


"Masa,?" Naya mencebikan bibirnya, membuat Dimas gemas, Dimas menunduk dan mendongakkan wajah Naya, cup Dimas menciumnya, ******* bibir Naya penuh kehangatan, hembusan napas mereka saling menghembus menyapu wajah masing-masing.


Perlahan Naya menjauhkan wajahnya, "Sudah yang, mereka pasti sudah menunggu,?" mengusap bibirnya yang basah.


Dimas senyum tipis, dia pun mengelap bibinya dengan punggung lengan, lalu membalikkan lagi tubuhnya hendak melangkah ke luar.


"Hati-hati yang,?" Dimas menoleh ke arah Naya yang masih mematung di tempat.


"Iya tenang aja Pak," jawab Naya.


"Ok Bu, saya duluan ya,?" setelah membuka pintu Dimas langsung menghampiri kawan-kawannya, yang kebetulan sudah berkumpul di tempat semula.


"Yang, aku duluan turun ya,?" lirih Naya pada Dimas, yang di balas dengan anggukan.


Naya mengangguk kan kepalanya pada Aldo, Endro dan Citra, kemudian turun menuju dapur, Dimas duduk diantara mereka dan mulai membahas rencana pembangunan klinik.


"Oh, sudah Bu," jawab bi Taty.


"Astagfirullah.., aku baru ingat, ada satang gak pesanan aku,? buah mudanya Bi,? aku benar-benar lupa," Naya menepuk keningnya.


"Datang, Bibi sudah bikinkan seperti perintah Ibu, tapi.., beberapa kali Bibi ketuk pintu kamar, tak ada yang menyahut Bu, Bibi pikir Tuan sama Ibu sudah tidur, ya sudah Bibi masukan lemari pendingin aja," ujar bi Taty.


"Oh, iya Bi kami ketiduran, lagian ya Allah aku benar tak ingat Bi, ya sudah lain kali aja di makannya, makasih Bi sudah di buatkan,?" Naya tersenyum kearah bi Taty.


"Ah, sama-sama Bu, sudah jadi tugas Bibi kan,?" bi Taty mengambil beberapa menu di piring yang dia pegang, "Maaf Bu, Bibi lapar, mau makan duluan saja,?" mengangguk hormat.


"Silahkan Bi," dengan ramah, "Mau kemana makannya di sini aja,?" titah Naya ketika melihat bi Taty hendak membawa piringnya ke sofa.


Bi Taty menoleh, dan menuruti perintah majikannya, bi Taty duduk di sebelah namun agak jauhan dari Naya,


"Mereka tengah meeting, aku kurang ngerti yang mereka bahas,?" ucap Naya menyangga dagunya dengan kedua tangannya, berlantaikan meja.


"Em.., gitu ya Bu,?" sembari makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian bi Taty selesai makannya, sedangkan Naya sibuk menulis di ponselnya, "Mau Bibi buatkan jus Bu.?"


Naya menoleh dan memandangi bi Taty sesaat, "Boleh Bi, makasih ya,?" ucap Naya, "Ih, aneh sekali, kok sekarang aku banyak malasnya,? sampai-sampai pengen minum jus aja harus di bikinkan orang,?" menggeleng, bi Taty yang melihatnya tersenyum samar, sambil mengupas buah.


Dimas dan kawan-kawannya turun, nyamperin Naya di meja makan tengah meneguk jus, cup Dimas mencium pucuk kepala Naya, "Maaf sayang sudah menunggu lama.?"


Naya melirik, "Tak apa yang."


Aldo membuang pandangan ketika kemesraan nampakndepan matanya, lalu Duduk di sebelah Dimas.


Semuanya sudah duduk melingkari meja makan, "Silahkan makan,? maaf ya cuma seadanya nih,?" ucap Naya pada tamu-tamunya.


"Wah.., apa yang seadanya,? banyak begini kok,?" sahut Endro memperhatikan, masakan di meja, "Gratis lagi."


Dimas melirik kepada Endro, "Enak aja gratis,? bayar."


Endro bengong, lalu mengalihkan pandangan pada Naya, "Beneran kak harus bayar.?"


Naya malah tersenyum, "Nggak lah,? ayok makan.?"


Mereka pun mulai makan malam, seperti biasa Naya dan Dimas satu piring bersama, toh Dimas makannya di suapi juga, habis makan mereka semua pindah duduk di ruang tengah, melanjutkan perbincangan yang tadi tertunda, sementara Naya beres-beres sebentar lalu nyamperin Dimas dan duduk di sampingnya, Biar gak mengerti dengan yang mereka obrolkan, namun setidaknya belajar mengerti.


"Kita sudah sepakat klinik yang akan secepatnya di bangun dan akan di beri nama Kanaya klinik, dan semua akan di mulai setelah saya tugas dari luar daerah," ujar Dimas penuh keseriusan.


"Ok," Endro manggut-manggut, bagitupun Aldo.


"Naya akan di ajak,? kira-kira, Naya sendiri mampu tuk mengikuti Dimas,?" pandangan Aldo tertuju ke Naya dan Dimas.


"InsyaAllah," sahut Naya dengan cepat.


"Mampu tidak mampu, Naya sudah tanggung jawab saya Al, jangan khawatir, dia istriku," dengan nada tidak suka Aldo bicara seperti itu.


"Iya, emang siapa bilang, dia istri saya,?" Aldo pelan.


"Berarti meeting kita hari ini selesai dong,?" tanya Endro mencairkan suasana yang kaku.


"Tuk sementara ini, selesai," ucap Dimas.


"Sayang, kita pulang sekarang, aku antar kau dulu,?" Endro mengelus tangan Citra.


"Ok," Citra menyoren tasnya.


Karena sudah malam akhirnya mereka pamit pulang, Aldo dan Endro juga Citra beranjak dari tempat tersebut, untuk pulang dan masuk ke mobilnya masing-masing, Dimas mengantar sampai pintu.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2