
Aldo apa lagi Endro termangu, seakan tidak percaya, dengan apa yang terjadi, keduanya memang melihat itu murni kecelakaan, bahkan yang membuat bikin kacau dan kepikiran, ya itu pandangan Naya yang pasti salah paham, sebab yang dia lihat pas di pangkuan bukan pas jatuhnya.
Naya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, dadanya sesak, sakit, seakan tak percaya namun nyata, di depan matanya Dimas tega mengkhianati.
Ia memeluk guling tak mampu lagi membendung air mata yang sedari tadi ingin keluar dari bendungannya, dan Naya menangis tersedu.
Dimas langsung bergegas memasuki kamar dan mengunci pintu, mendekati Naya yang menangis pilu, melirik kedua buah hatinya yang sangat nyenyak bobo.
Tangan Dimas mengusap punggung Naya, baru kali ini melihat iastrinya menangis seperti ini, "Sayang, yang tadi itu tidak seperti yang kau lihat, Citra jatuh pas ke pangkuan Ayah, bukan disengaja, percayalah Bunda," penjelasan Dimas tidak serta merta membuat Naya menghentikan tangisnya.
Hati Naya terlanjur sakit, dari sekian lama menikah baru kali ini hatinya benar-benar terbakar oleh api cemburu, kalau saja tidak melihat dengan mata sendiri mungkin tidak akan sesakit ini.
Dimas bingung dan tidak kuat melihat wanitanya menangis, dengan suara parau seraya berkata, "Bunda.., ayah minta maaf, semua yang Bunda lihat adalah tidak benar, itu kecelakaan yang.., percaya sama aku."
Dimas terus saja meyakinkan, namun Naya tidak merespon walaupun tangisnya sudah berhenti, Naya sudah merasa lebih tenang, terserah lah tidak ingin terlalu ambil pusing, Naya bangkit dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Dimas menatap langkah Naya, ia menggaruk kepalanya kasar sangat frustasi dengan keadaan ini, yang ia sesali adalah kenapa harus terjadi? terbayang ketika Marina memeluknya waktu di Rumah sakit kalau saja Naya melihatnya, tidak terbayang gimana marah dan hancurnya hati Naya kala itu, untung saja waktu itu Naya tidak melihatnya.
mencuci muka, menatap pantulan wajahnya yang basah mata sembab memerah, kemudian ia basuh berulang.
Bagaimana pun dia harus bersikap dewasa, tidak semestinya bersikap demikian, walau sakit masih, kesal iya, marah pasti, namun ia harus mengesampingkan egonya, sejenak termenung di sana.
Bagaimana pun Naya harus memikirkan nasib tamu suaminya di luar, Sesaat Naya kembali dan Dimas masih tertegun di tepi tempat tidur dengan rambut acak-acakan.
Melihat istrinya keluar dari balik pintu, Dimas langsung menghampiri, "Sayang, yang tadi itu--!" namun penjelasannya tergantung dengan seiring tangan Naya dinaikan.
"Cukup, aku tidak ingin mendengar alasan apa-apa saat ini, yang aku pikirkan adalah nasib tamu di luar, mereka pasti merasa gak nyaman dengan adanya kejadian ini," ucap Naya sambil menunduk malas melihat wajah suaminya.
Dimas terdiam bingung harus berbuat apa di saat ini, Naya melihat putaran jarum jam di dinding dan sudah waktunya makan malam, ia berjalan menuju pintu berdiri sejenak dan menarik napas panjang.
Dimas pun membuntuti langkah sang istri, sehingga berdiri berdampingan, Dimas membukakan pintu, tampak Aldo berdiri dekat jendela memandangi suasana di luar yang gelap dan berhias cahaya lampu di tempat-tempat tertentu.
Di sudut ruang Endro tengah berdebat kecil dengan Citra sedari tadi sehingga wajah Citra di tekuk kesal, "Kalau saja mereka bertengkar, dan itu pasti, itu gara-gara kamu baby, terus aku juga yang malu, malu muka ini di depan Kanaya, mau taro dimana nih muka baby..," dengan ekspresi muka yang kesal dan menunjuk wajahnya sendiri.
"Kenapa mesti malu hah,? itu tidak disengaja, aku jatuh, kalau jatuh tidak kepangkuan Dimas dan tangannya tidak meraih tubuhku, aku pasti ke lantai loh, pasti kesakitan, ya tinggal bilang saja itu tidak disengaja, kok repot," Citra cemberut tangannya menyilang di dada.
"Ya tidak bisa sesederhana itu baby.., siapa pun yang ada di posisi dia pasti marah, kesal, cemburu, melihat pasangannya bermesraan dengan orang lain," ujar Endro penuh penekanan.
Citra menatap Endro sesaat lalu membuang muka seolah menatap lantai, "Perduli amat aku dengan semua itu, dan bagus lah, setidaknya aku dapat merasakan rangkulannya, sentuhannya, ah.., tatapannya," batin Citra, diam-diam senyum terlukis di bibir tipisnya.
Endro menggeleng, "Ah kamu tidak mengerti," dengan nada datar dan sulit dimengerti.
"Loh, kok kalian belum turun,? makan malam sudah siap loh," Naya menatap kearah ketiga orang tersebut.
__ADS_1
Suara Naya membuat semuanya menoleh kearah Naya dan Dimas yang berdiri bergandengan tangan, ketiga nya saling tatap heran.
"Ayok turun, makan malam sudah siap, kalian sudah lapar kan,?" Naya tersenyum dibuat semanis dan seramah mungkin.
Aldo mengangguk dan turun duluan, di ikuti Naya dan Dimas, lantas Endro meninggalkan Citra yang masih berdiri di temat.
Citra masih mematung menatap punggung mereka yang menuruni tangga, "Eh tunggu,?" sembari bergegas mengikuti langkah mereka.
Semuanya sudah duduk melingkari meja makan, masing-masing mengambil piring dan bergantian mengambil nasi dan lauknya, suasana masih canggung dan Naya mulai membuka pembicaraan.
"Ayok makannya jangan sungkan-sungkan, ambil semaunya, oya gimana rencana persemian kliniknya,?" Naya melirik ke Aldo dan Endro terakhir melirik suaminya dan menyuapkan sesendok sayur dengan mesra.
"Oh, jadi minggu depan, itupun kalau kerjaan nya selesai dalam beberapa hari ini," timpal Dimas menoleh sang istri setelah menerima suapan dari Naya istrinya.
"Sebenarnya sih, tergantung pihak yang berwenang, peralatan kan belum masuk, sebelum diresmikan otomatis peralatan siap lebih dahulu kan," ucap Endro disela mengunyah nya.
"Itu gampang bro, kalau selesai, tinggal bersihkan datang kan semua peralatan, beres." tambah Aldo dengan tangan berpangku di atas meja.
"Em.., semoga semua lancar ya,?" harap Naya sambil menarik sudut bibirnya melengkungkan senyum.
Dalam Hati Citra beradu argumen, "Kenapa tampak mesra sih,? bukannya bertengkar, marahan gitu, kalah amat pesona gue oleh Kanaya, padahal apa sih kurang nya gue ? justru jauh bila dibandingkan dengan dirinya, tapi.., tetap saja gue kalah saing di mata pria khususnya Dimas," batin Citra sambil memasukan sendok ke mulutnya.
Naya menyuapi Dimas dengan sangat mesra, membuat yang melihat menatap iri, membuat Endro pun ikut-ikutan, menyuapi Citra yang sedari tadi terdiam membisu.
Selesai makan mereka berpamitan, kebetulan waktu sudah larut malam, Dimas mengantar mereka sampai depan teras, sementara Naya naik ke atas takut baby nya terbangun.
"Kalian tidak bertengkar kan,?" tanya Aldo pelan menatap datar kearah Dimas yang tengah menata kosong.
Dimas menoleh, "Tidak." sahut Dimas dengan cepat.
"Kalau saja Kanaya salah faham, kami bisa menjelaskannya bro," tambah Endro yang khawatir pada sahabatnya itu.
"Nggak, kami baik-baik saja kok, makasih atas perhatian kalian," Dimas menepuk bahu Aldo dan Endro bergantian.
Aldo dan Endro saling pandang entah apa yang ada dalam pikiran mereka, "Syukurlah, kalau begitu saya jalan dulu," Aldo merogoh sakunya mengambil sebuah kunci.
"Yaps, betul, kalau ada masalah hubungan kami saja bro," Endro pun menumpangi Motor kesayangan nya, mengenakan helm, lantas melajukan ke jalanan meninggalkan halaman Rumah Dimas.
Kedua sahabatnya sudah menghilang di telan kegelapan malam, Dimas memasuki Rumah, dan menguncinya, lantas ia langsung naik menuju kamar nya dan Naya.
Di Sana Naya tengah menyusui kedua buah hatinya, "Sayang sudah sholat isya belum,?" tanya Dimas mendekati.
"Sudah," dengan cepat Naya menjawab.
__ADS_1
"Kok gak nunggu Ayah,?" timpal nya lagi.
"Takut keburu anak-anak bangun," sedikit ketus dan tidak mau menatap kearah suaminya.
Dimas terdiam, rupanya sang istri masih marah, meski tadi di depan orang namak ramah dan mesra bukan berarti sudah hilang kemarahannya, itu hanya untuk menunjukan bahwa tuan rumah harus bisa menghargai tamunya, helaan napas Dimas berat dan dia masuk kamar mandi setelah sebelumya mengecup kening baby Arif dan Kayla.
Naya melirik punggung Dimas, hatinya masih sangat kesal, rasa sesak masih memenuhi relung hatinya, "Sayang bono yang nyenyak ya, bismillah.., bangun pagi gak boleh rewel ya buah hati Bunda," Naya mengajak baby nya bicara dan tersenyum, keduanya seolah mengerti mereka tertawa memperlihatkan gusi yang belum tumbuh gigi tersebut.
Melihat tawa baby nya mampu membuat Naya sedikit lupa akan kesedihan yang tadi, tawa mereka penawar luka dan lelah.
Dimas selesai sholat kembali mendekati dan duduk dekat Kanaya, melirik ke anak-anak yang sudah tidur, Naya mengeser duduk nya bersandar ke bahu Tempat tidur, membuka laptopnya dan mulai menulis.
Dimas 0un menggeser duduk mendekati Naya, "Yang..,?" panggil Dimas menatap sang istri.
"Hem..," gumam Naya tanpa menoleh sedikit pun, matanya fokus ke layar laptop.
"Yang, masih marah kah,? Ayah minta maaf itu murni Citra terjatuh, bukan sengaja ngapa-ngapa, mereka pun tau kejadian yang sesungguhnya, dia--!"
"Sudah lah, jangan di bahas lagi, percuma, aku lagi ingin menulis jangan membicarakan itu agi," ujar Naya memotong penjelasan Dimas.
"Tapi Bunda marah terus sama Ayah, dan aku gak ingin masalah ini berkepanjangan," tambah Dimas.
"Siapa bilang hem,?" Naya menatap sebentar dan bibirnya tersenyum tipis yang dibuat-buat.
"Aku yang bilang Bunda.., ! senyum itu terpaksa, tidak tulus, aku ingin senyuman yang tulus, sebuah senyuman yang tidak di buat-buat," tukas Dimas menatap sendu ia paling gak betah tidak terbiasa bia harus di diamkan sang istri.
Naya terdiam sebentar lalu menatap sangat lekat, luka ini masih terasa, dan wajar bila 'ku banyak diam, di depan mata suami beradegan mesra denagn wanita lain, wajar gak bika aku marah,? wajar gak bila aku cemburu,? yang tidak wajar itu bila pasangan tidak merasakan apa-apa," masih menatap netra mata Dimas yang sendu.
"Ayah tahu bila Bunda cenburu, itu tandanya Bunda sangat sayang sama Ayah, tapi Ayah gak betah jika Bunda diamkan, Ayah gak nyaman Bunda bersikap cuek gitu," rajuk Dimas lirih.
Bibir Naya bergetar, mata kembali berkaca-kaca, ia mendongak ke langit-langit agar air mata yang menggenang tidak terjatuh lagi.
"Bunda dengar gak Ayah ngomong hem,?" tanya Dimas memegang bahu Naya.
"Dengar," timpal Naya singkat.
Akhirnya Naya menutup laptop dan berbaring menyamping manarik selimut sampai menutupi leher, Dimas menatap punggung Naya, tidak biasanya tidur menyamping memunggunginya.
Dimas turun menggantikan lampu temaram, kemudian menghela napas lantas berbaring menatap langit-langit, menoleh kearah istrinya yang sudah tidak bergerak mungkin sudah tertidur, Dimas gelisah guling kiri guling kanan tidak karuan.
Akhirnya baring menyamping dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri, tangan Dimas melingkar di pinggang Naya istrinya yang tidak ada respon sedikitpun dari Naya membuat Dimas tersenyum getir lalu mengeratkannya hingga tubuh Naya tertarik ke tubuh Dimas menjadi nempel seperti prangko, diam-diam Naya pun mesem di balik selimut.
Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka terpejam, betapa nyaman nya tidur dalam pelukan cuaca yang dingin tak di rasakan, yang ada adalah kehangatan dari suhu tubuh masing-masing.
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️