Bukan Mauku

Bukan Mauku
Prematur


__ADS_3

Karena tidak ada respon dari dalam, di balik pintu orang-orang tengah berusaha mendobrak pintu yang di kunci dari dalam, dengan kekuatan beberapa orang akhirnya brakkkk pintu berhasil terbuka.


"Sayang,?" teriak Dimas namun tak bisa apa-apa karena Naya berada di tangan Yuda.


"Jangan mendekat, kalau kalian tidak ingin wanita ini celaka," sergah Yuda, kini tangannya tidak membekap lagi namun mengunci bawah leher Naya.


"Yang tolong aku..," suara Naya yang di tujukan pada Dimas, wajahnya begitu pucat, kaki bergetar rasanya sudah tidak sanggup untuk berdiri.


"Lepaskan istri 'ku, dan apa maksud kau ini hah kurang ngajar, dasar setan kau berani menyakiti istriku, lepas kan dia," ujar Dimas menatap tajam kearah Yuda, semua polisi menodongkan senjata pada Yuda.


"Ha..,ha..,ha..," Yuda tertawa padahal hatinya menciut melihat senjata yang siap menghantam dirinya, belum lagi ancaman penjara sudah siap menantinya.


Tapi selama Naya masih di tangan setidaknya keselamatan Yuda masih aman, namun bagai mana dengan Naya, ia merasa ngeri bila melihat senjata tajam di tangan Yuda, dalam hatinya terus berdoa semoga semua akan baik-baik aja.


"Dokter Dimas yang terhormat, harus kau tahu, bahwa wanita yang kau nikahi adalah istriku," hardik Yuda, "Saya tidak pernah menceraikannya, mana suratnya mana-mana, tidak ada kan.?"


Naya menggeleng seraya berkata, "Itu tidak benar."


"Kalau kau benar suami dia mana, apa yang pernah kau lakukan buat istri hah, mencampakkannya,? menyia-nyiakan iya," Dimas beradu mulut dengan Yuda.


"Yang pernah saya lakukan untuknya adalah.., meme****** nya, yeayyy ha..,ha..,ha..," tertawa sangat puas.


Dimas semakin di buat napsu, amarahnya dibuat meledak-ledak namun tak bisa berbuat banyak.


Yang sangat di khawatirkan semua orang adalah Yuda nekat menyakiti Naya dengan benda tajamnya, membuat semua ektra memutar otak bagaimana caranya supaya korban selamat.


"Ok, semua bisa di bicarakan," ucap polisi dengan tenang dan tangan kosong, langkahnya mendekati Yuda.


Yuda mundur ke dekat jendela, begitu ada kesempatan Naya menggigit sekuatnya pergelangan Yuda membuat dengan refleks Yuda melepas Naya dan senjatanya pun lepas terpental ke depan, Yuda kesakitan.


Naya bergegas menjauhi Yuda namun kaki Yuda masih sempat menghalangi langkah Naya, membuat tubuh Naya oleng, jatuh ke depan sehingga perutnya membentur lantai, Naya menjerit kesakitan dan menggulingkan dirinya ke samping, Dimas segera berjongkok mengangkat kepala Naya.


Dimas panik, "Bunda..,?" namun Naya hanya bergumam "Sakit," lalu pingsan.


"Sayang sadar, bangun,?" tambah cemas, Dimas mau mengangkat sang istri dan di bantu Dery, "Pendarahan," ucap Dery pada Dimas.


"Apa,? ambulan, minta ambulance terdekat Dro," pinta Dimas pada Endro yang mau membantu mengangkat Naya.


Endro pun gerak cepat, menelpon ambulance, Kemudian Naya di bawa keluar dari ruangan itu, Yuda sudah ditangani pihak berwajib, sambil di giring matanya menoleh lesu pada Naya yang tak sadarkan diri.


Ambulance datang dan Naya segera di baringkan di dalamnya, Dimas mendampingi tak ingin jauh, ditemani oleh Endro, sedangkan Dery membawa mobil Dimas membuntuti ambulance dari belakang.


Naya langsung di bawa ke ruang gawat darurat dan ditangani oleh dokter ahli, dengan wajah lesunya Dimas duduk di kursi tunggu bersama Endro.


Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, Dimas gelisah berjalan ke depan ke belakang dengan menyilang kan tangan, sesekali melihat pintu ruangan Naya di rawat.


Datanglah Dery menghampiri, "Gimana keadaan Istri mu,?" dengan tatapan cemas.


Dimas hanya menoleh tanpa menjawab apa pun.


"Enggak tau, belum ada kabar nih," sahut Endro bantu jawab.

__ADS_1


Dery mendekati Dimas dan menepuk halus pundak Dimas, "Semoga Kanaya baik-baik saja."


Tatapan Dimas tertuju ke pintu dimana Naya di tangani, hatinya begitu khawatir, takut terjadi yang tidak pernah di inginkan, tangannya mengepal, rahangnya pun mengeras, "Yuda.., ini gara-gara ulah kau istriku seperti sekarang ini, saya tidak akan pernah memaafkan kan kesalahan yang telah kau perbuat."


Akhirnya pintu terbuka dan keluar seorang dokter, Dimas langsung menghampiri, "Gimana istri saya dok.?"


"Istri anda pendarahan dan-!"


"Dan apa dok,? katakan, lakukan yang terbaik untuk istri saya dok saya mohon," ucap Dimas penuh kekhawatiran.


"Istri anda harus di operasi, kami harus mengeluarkan janinnya, demi keselamatan mereka," ujar dokter tersebut.


"Lakukan saja dok, segera jangan sampai terlambat dok selamatkan anak dan istri saya," penuh permohonan.


"Baiklah, silahkan anda mengisi formulir sesuai yang berlaku," dokter masuk lagi sebentar dan tidak lama ada penambahan dokter dan perawat, Naya di pindahkan ke ruang operasi.


Dimas memenuhi syarat-syarat yang sudah menjadi kewajibannya sebagai keluarga pasien.


Setelah memenuhi serangkaian persyaratan, mengisi formulir, Dimas menghela napas dalam-dalam, "Ya Allah selamatkan istri dan anak-anak 'ku," mendongak ke langit.


"Kalian kalau mau pulang, pulang lah biar saya sendiri di sini," melirik kedua kawannya.


"Huuh," Dery membuang napasnya, "Saya di sini saja," lalu melirik Endro.


"Saya pulang dulu lah, nanti saya kembali ke sini lagi," Endro merapikan pakaiannya.


"Ok, jangan bilang siapa pun kondisi ini," pinta Dimas pada Endro.


Namun baru beberapa langkah Endro membalikkan badan, "Sebentar, saya pulang pake apa,? motor di kantor polisi tadi.''


"Bukannya motor kau di pake sama supirnya Dimas pulang,?" tanya Dery menatap datar Endro.


"Aduh iya ya,? kok saya lupa ya," menepuk jidatnya, "Ya sudah pinjem mobil, saya pulang cuma ganti pakaian aja dan akan membawa makanan kemari, jadi mana kuncinya,?" Endro menadahkan tangan pada Dery.


Dery merogoh saku dan mengambil kunci mobil Dimas lalu di serahkan pada Endro, Dimas hanya melirik tak bersuara.


Kemudian Endro memutar badan dan bergegas pergi untuk pulang.


Dimas melirik Dery yang sedang duduk di kursi sisi koridor, "Saya mau magrib dulu, saya titip ya, kalau ada apa-apa kasih tau saya."


"Ok, tenang aja, yakin semua akan berjalan lancar," ucap Dery sambil mengangguk.


Dimas pun berlalu mencari tempat yang bersih di sekitar sana, setelah mengambil air wudu, Dimas bersimpuh dengan tulus pada yang maha kuasa, menyerahkan segalanya, meski penuh dengan permohonan yang ia panjatkan namun hakikatnya Allah juga yang maha menentukan segalanya.


Selepas memanjatkan doa Dimas tak serta merta berdiri dan pergi ia sebisanya berzikir, menyebut asma Allah berulang kali, kemudian ia bangkit kembali ke tempat semula.


Didalam ruangan operasi Naya yang berada di bawah alam sadarnya di akibatkan obat bius, benar-benar tidak merasakan dengan apa yang tengah terjadi terhadapnya, ia hanya mendengar suara suaminya yang terus memanggil namanya tanpa henti.


Naya ingin sekali menjawab namun suaranya tertahan di tenggorokan sehingga tidak keluar suara, tangannya ingin melambai namun tiada tenaga sama sekali, hanya buliran air mata yang menggenang di sudut matanya hingga akhirnya jatuh juga.


Sesaat matanya terbuka sedikit dan melihat banyak orang berpakaian putih berjejer disekitarnya, kemudian kembali terpejam.

__ADS_1


Dimas yang begitu gelisah, khawatir, cemas, sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah dua hampir dua jam pintu ruangan belum terbuka juga.


"Makan dan minumlah dulu, kau belum makan, ingat hidup butuh tenaga karena," ucap Dery pelan menyimpan kantong yang ia bawa barusan di atas kursi.


Pilihan Dimas adalah air mineral saja, Saya gak lapar, dan makan pun hati saya gak tenang kalau belum ada kabar baik," ucap Dimas kembali seperti setrikaan tidak bisa berdiam diri.


"Hem..," gumam Dery mengerti dengan yang apa dirasakan Dimas saat ini.


Dan..,akhirnya yang di nantikan, terdengar samar dari ruangan Naya suara bayi bersahutan, membuat bibir Dimas menyungging senyuman bahagia melirik Dery yang juga melirik kearahnya.


"Alhamdulillah ya Allah..," hatinya agak tenang setidaknya sudah mendengar suara bayi dan pastinya terlahir dengan selamat, tinggallah kabar istrinya yang membuat Dimas masih dilanda rasa gundah gulana.


Pintu terbuka dan suara tangisan bayi semakin jelas, dokter kandungan keluar, Dimas langsung menghampiri, di ikuti Dery, "Gimana dok," menatap penuh rasa penasaran.


"Selamat ya pak, istri dan anak-anak anda selamat," jawab dokter tersebut sembari tersenyum.


"Ya Allah.., terimakasih," Dimas mendongak dan mengusap wajahnya.


"Namun istri anda masih belum sadar dan butuh waktu untuk itu, bayi anda karena lahirnya prematur jadi harus di inkubator terlebih dahulu dalam beberapa hari, permisi.?"


"Terimakasih dok,?" Dimas mengangguk.


"Sama-sama."


Beberapa perawat membawa bayi kembarnya Naya yang masih merah, mungil, lucu menggemaskan, melintasi mereka, Dimas tersenyum ingin sekali menyentuh dan menggendong namun belum waktunya.


Dery begitu terpesona melihat baby Naya dan Dimas, baby itu akan dibawa ke ruangan baby yang prematur dan di masukan ke inkubator.


Dimas masuk menghampiri Naya yang masih belum sadar, "Sayang lihat anak-anak kita sudah lahir dan mereka sangat lucu sekali," ucap Dimas menggenggam tangan Naya dan mengecup kening sang istri.


"Sudah lahiran kah,? mana baby nya,? tanya Endro mengagetkan Dery yang berdiri depan pintu, Endro baru kembali dengan menjinjing kantong makanan dan minuman.


"Sudah," suara Dery pelan.


"Terus baby nya mana,?" Endro celingukan.


"Di inkubator karena prematur," sambung Dery lagi.


"Oh iya ya baru usia kehamilan delapan bulan," gumam Endro.


Dimas membantu perawat menyiapkan pemindahan Naya ke ruangan khusus, dan melintasi kedua sahabatnya itu.


Keduanya mengikuti Dimas yang membawa Naya ke ruangan kelas VIP, dimana ruangan khusus satu pasien yang pasilitas nya bagus, toilet, ruang tunggu, televisi dan lemari pakaian.


"Maaf pasien perlu istirahat yang cukup, jadi jangan ganggu pasien," ucap salah satu perawat lalu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Endro setengah berlari dan menggoda perawat tersebut namun mereka hanya tersenyum dan berlalu, Endro kembali dan menutup pintu, duduk di ruang tunggu bersama Dery yang sudah duduk manis.


,,,,


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2