
Kepala Dimas menggilir wajahnya menghadap kearah Naya namun tubuhnya masih sama, "Ada macan bangun, kalau 'ku berbalik takutnya menerkam," ucap Dimas pelan, mulanya Naya gak mengerti namun lama-lama ia faham dengan maksud suaminya, bahwa di balik tubuhnya yang tengkurep ada yang sedang bangun ! membuat Naya terkekeh.
*****
Waktu yang di nantikan sudah tiba, di mana peringatan kelahiran dan juga peringatan hari pernikahan bu Hesa yang kini di rayakan secara sederhana namun banyak mengundang sanak dan kerabat pun datang.
Acara sengaja di rayakan nya di rumah Dimas, bukan di rumah pribadi, karena biar tempatnya lebih strategis, dari mana-mana mudah terjangkau.
Suasana rumah menjadi ramai, tamu sudah berdatangan, rekan-rekan Dimas pun turut datang untuk mengucapkan selamat kepada orang tua Dimas.
Diantaranya dokter aldo, dokter Endro, dokter Karmila, dan beberapa lainya, termasuk Citra, semua berkumpul di sana,
Bu Hesa tampak cantik dengan gaunnya, berdampingan dengan sang suami yang tampak gagah keduanya mengenakan batik buatan Kanaya.
Kanaya sendiri mengenakan dress batik dan kerudung wara senada dengan dress nya, walau sederhana namun nampak cantik, membuat orang-orang memandanginya, Naya duduk manis di antara sofa di sudut ruangan yang tidak jauh dari bu Hesa berdiri menghadap kue ultah.
Setelah kata sambutan, membaca doa, tiup lilin dan memotong kue, dan potongan pertama tentu saja buat suami tercinta, semua bertepuk tangan, dan akhirnya semua memberikan selamat, termasuk Dimas dan Naya.
Naya menyalami ibu mertuanya seraya berkata, "Mak ini hadiah dari kami, memang tak seberapa, tapi.., hanya ini yang kami bisa kami berikan, dan tentunya doa yang paling utama untuk kalian, semoga Mama suka," memberikan paper bag, memeluk sebentar bu Hesa.
"Iya Mak," Dimas menatap Ibunya.
Dengan nada datar bu Hesa berkata, "Hem.., bukannya ada sebuah kejutan buat kami, apa cuma ini kah.?"
Dimas menoleh Naya hingga tatapan merekapun bertemu, sebentar mereka terdiam sambil saling pandang.
"Wah.., kami sangat berterimakasih, atas kadonya terutama doa yang lebih penting untuk kami, untuk keluarga kami," jelas Bapak nya Dimas menatap semua yang hadir di sana.
Citra menghampiri bu Hesa, kemudian saling berpelukan cium pipi kanan dan kiri, "Maaf tante Citra cuma punya liontin ini untuk tante semoga Tante suka ya,?" dengan bangganya dan langsung memakaikan kalung itu di leher bu Hesa.
"Ya Tuhan.., bagus sekali liontin nya Citra, pasti sangat mahal banget..," sangat kagum dan antusias sekali, lalu membuka paper bag dari Naya, mengambil kotak di dalamnya, mata bu Hesa terbelalak melihat isinya sebuah cincin berlian, lalu di pakaikan di jarinya dan pas, rona bahagia menghiasi wajah paruh baya nya.
Kemudian satu per satu yang lain memberikan hadiahnya masing-masing.
"Ok, sebelum kita makan-makan, ada hal yang mungkin sangat berarti buat keluar ini, terutama buat keluarga kecil saya pribadi itu amat-amat sangat berarti," ucap Dimas dan melirik sang istri, yang duduk di sofa tempatnya tadi.
__ADS_1
Semua saling berbisik, "Hal penting apa sih?"
Deg deg deg jantung Naya berpacu lebih cepat, akan kah kabar kehamilannya akan di sambut bahagia oleh keluarga suaminya, atau gitu-gitu aja, helaan napas panjangnya berhembus tuk hilangkan kecemasannya.
"Saya .., beserta keluarga sangat mengharapkan kehadiran.., malaikat kecil yang hadir dari keturunan saya dan istri, dan kini...," Dimas mendekati Kanaya dan duduk di sampingnya, menggenggam jemarinya erat dengan senyuman yang terus merekah di bibir keduanya terutama Dimas.
"Kami sengaja tidak memberi tahu dari sebelumnya, sebab saya ingin ini sebagai kado terindah buat kami semua," pandangan Dimas tertuju kepada orang tuanya, dan semua mata penasaran pada Dimas dan Kanaya.
Dimas memberi jeda untuk ucapannya, "Calon malaikat kecil itu sudah tumbuh di dalam rahim istri saya, dan sudah berusia sekitar 2.3 bulan, dan kabar ini sangat membahagiakan untuk kami berdua khususnya."
Bu Hesa kaget mulutnya menganga di balik telapak tangan yang membungkamnya, tidak menyangka kalau istri Dimas tengah mengandung, padahal ia sudah merencanakan akan menyuruh Dimas nikah lagi dengan wanita pilihannya yang akan secepatnya memberikan ia cucu.
Citra menggeleng merasa kecewa, pupus sudah harapan untuk semakin dekat dengan Dimas, gagal total rencananya bersama bu Hesa.
Bu Hesa dan Citra sudah merencanakan, apa pun caranya Dimas harus bisa menikahi Citra, sekalipun Citra masih harus menyelesaikan kuliahnya, toh sebentar lagi dia wisuda, Citra wanita smart pinter berpendidikan tinggi, jauh jika harus dibandingkan dengan Kanaya.
Di mata bu Hesa Kanaya hanya wanita dari kalangan bawah, ok kalau soal ekonomi bu Hesa memahami karena dia pun tidak kaya-kaya amat, menengah ke atas lah, yang sangat bu Hesa sayangkan, adalah kondisi Kanaya yang di matanya kurang memenuhi syarat, dan yang setau dirinya sekolah pun Kanaya tidak pernah, apa lagi pendidikan tinggi, terus apa yang bisa ia banggakan dari sosok Kanaya begitu pikirnya.
Namun akhir-akhir ini Kanaya semakin memperlihatkan kemampuan dirinya, bahwa tidak sekolah bukan berarti tidak bisa apa-apa, tidak sekolah bukan berarti tidak pinter, tidak mengenyam pendidikan bukan berarti tidak pandai mencari uang, dan tidak sekolah tinggi bukan berarti dia tidak mampu berkarya atau menghasilkan sesuatu.
Tidak sedikit kok orang-orang yang sukses walau dengan pendidikan minim, berapa banyak orang tua di jaman dulu yang tidak pernah sekolah, namun beliau sukses mendidik anak-anaknya agar menjadi orang-orang sukses di jaman sekarang ini.
Orang bodoh sekalipun dapat berotak jenius, asal dia punya keinginan untuk berubah, niat selalu belajar, selalu semangat dan terus berusaha tak kalah dengan namanya kegagalan, pantang mundur dengan segala kebaikan, percaya bahwa rejeki sudah ada yang ngatur, itulah salah satu kunci orang-orang yang bakal sukses.
Kurang lebih sebulan usaha Kanaya berjalan baik konter nya lumayan pesat dalam seminggu aja omset sekitar sebuluh juta, lumayan lah meski sangat baru bukanya.
Sementara dalam usaha online pakaian yang diberi nama Kanaya online lumayan juga lakunya, ini pertanda bahwa Kanaya akan mampu menjadi orang sukses dengan kemampuannya sendiri meski tidak berlebel berpendidikan.
Jadi jangan terlalu meragukan orang yang tidak berpendidikan itu tidak bisa apa-apa, atau yang kondisinya terbatas tidak mampu melakukan apa-apa karena itu tergantung pada orangnya.
Perlahan bu Hesa mendekati Naya dan duduk di sebelahnya, dengan mata berkaca-kaca bu Hesa memeluk Kanaya, selama ini di lubuk hatinya tudak merestui putra sulungnya menikahi Kanaya, dan sangat meragukan kemampuan dia dalam hal apa pun, bahkan tidak mengakui akan kebaikan hatinya, ketulusannya, bu Hesa menatap wajah Naya seraya berkata, "Apa benar kau hamil,?" dan Naya mengangguk.
Bu Hesa kembali memeluknya, "Kenap tidak dari sebelumnya kalian memberi tahu kami.?"
"Kan tadi sudah Dimas bilang, biar menjadi kejutan," Naya lirih dan meletakkan gadunya di bahu sang ibu mertua.
__ADS_1
"Saya sangat bahagia mendengarnya, dan saya minta maaf karena selama ini saya sangat meragukan kau, dalam setiap hal, saya jadi malu," tiada terasa air pun jatuh dari sudut mata bu Hesa.
"Mama tidak perlu minta maaf, karena Mama tidak ada salah apapun, dan kenapa mesti malu,?" jelas Naya sambil mengusap punggung bu Hesa.
Naya pun merasa haru dan menitiskan air bening, baru kali ini merasakan pelukan dari bu Hesa bahkan terasa tulus, tanpa paksaan, ataupun kepuraan, selama ini ibu mertuanya seolah bersikap dingin terhadap dirinya meski sering satu atap, seolah bu Hesa tidak suka akan kehadirannya, namun kini Naya merasakan juga pelukan hangat seorang ibu dari suaminya.
Adegan itu menghifnotis orang-orang yang berada di situ, merasa terharu dan bahagia akan kehadiran calon baby Dimas dan Naya nanti, Aldo bengong entah harus merasakan apa, bahagiakah, atau sedih kah, yang jelas dari bibirnya terucap kan kata selamat.
Citra tertegun berdiri di samping Endro yang turut merasa bahagia, sebentar lagi akan ada yang memanggilnya om, om Endro, "Wah sebentar lagi saya akan punya ponakan dari sahabat saya nih, huuh baby mereka akan memanggil saya dengan sebutan om Endro," gumam Endro sambil tertawa kecil.
Mendengar gumaman Endro, Citra menggeleng pelan entah apa yang di pikirkan, menyimpan gelas ke meja lalu pergi dari tempat itu.
"Eh.., sayang mau ke mana,?" Endro mengikuti langkah Citra yang berjalan melewati orang-orang.
"Naya, maafkan saya ya,?" kembali menatap Naya dengan tatapan sendu penuh kasih.
Naya tersenyum getir, "Kan tadi sudah 'ku bilang, tidak perlu minta maaf, Mama gak ada salah kok."
Mantu dan mertua itu saling melempar senyum, "Bolehkah saya menyentuh cucu saya.?"
Dengan senyum manisnya Naya mengangguk, "Tentu boleh lah Mak."
Pandangan bu Hesa turun kearah perut Naya yang tertutupi ujung kerudungnya, Tangan bu Hesa meraba mengelus perut mantunya, bu Hesa tersenyum seraya berucap, "Cucu 'ku ini oma, maaf baru kali ini oma menjenguk 'mu, oma sangat rindu dan ingin segera menimang dirimu, sehat-sehat di sana ya.?"
Dimas yang dari tadi terdiam menyilang kan tangan di dada tak henti-hentinya mengulas senyumnya.
Bapak mertua juga tidak mau kalah sama bu Hesa ia mendekat, "Tuh kan Mak, kalau sudah waktunya kan hadir juga," sambil ikut mengusap perut Kanaya walau sebentar.
Kebahagian keluarga di saat ini tiada mampu di lukis kan dengan kata-kata, sulit di gambarkan dengan kanvas, semua hanya dapat di rasakan, rona bahagia terlihat jelas di wajah-wajah keluarga besar Dimas.
Akhirnya semua orang-orang di sana bukan cuma ngasih selamat pada bu Hesa beserta suami, namun juga mengucapakan selamat pada Dimas dan Naya, kemudian semuanya mencicipi makanan yang sudah di sediakan.
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komenan dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,ðŸ¤