
"Aku tuh banyak kerjaan di sana, tapi.., ah Mama ada-ada aja," batin Naya sambil mengambil kertas dan pilot dari meja, kemudian menggambar di atas tempat tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Dimas melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Kalian mau nginap apa mau pulang,?" tanya Dimas pada ketiga kawannya.
"Ah kami pulang aja takut ganggu kalian," sahut Endro melirik Aldo dan Dery.
"Iya," sambung dokter Aldo, Dery pun berdiri bersiap untuk pergi.
"Baik lah, sampai jumpa lagi," ucap Dimas lagi.
Mereka berjalan beriringan, di antar Dimas sampai pintu, selepas semuanya menjalankan kendaraannya masing-masing, Dimas bergegas naik lagi ke lantai atas.
"Kau tidak mau mengobrol dulu sama kami Dimas,?" tanya Bu Hesa dari ruangan televisi.
Dimas menoleh kerah orang tuanya, "Tidak Ma, capek," sahut Dimas lalu meneruskan langkahnya.
Ceklek, kenop pintu di putar, pintu terbuka nampak istrinya di atas tempat tidur bersama lembaran kertas di depannya, usai mengunci pintu, Dimas mendekati merangkak naik ke atas tempat tidur.
Dan memeluk tubuh sang istri, "Belum bobo sayang,?" cup mencium kepalanya.
"Mereka sudah pulang kah,?" tanya Naya menatap wajah suaminya.
"Sudah, makanya aku mau bobo, bobo yuk,?" Dimas berbaring dan menepuk tempat tidur mengajak Naya berbaring juga.
"Aku sedang menggambar, Mama gak boleh aku ke ruangan kerja, aku harus istirahat katanya, sedangkan kerjaan 'ku banyak," gerutu Naya sambil mengecek lembaran gambarnya.
"Kan bisa esok pagi sayang," Dimas kembali duduk di sebelah istrinya.
"Sebentar lagi ya,?" Naya kekeh.
Namun Dimas menarik tubuh Naya dan mendekap dengan erat, "Sudah, besok aja, baby besar 'mu ini lagi butuh kasih sayang," bisik Dimas di telinga Naya.
"Tapi..."
Tangan Dimas yang satu mengambil lembaran kertas dan pilot lalu di simpan ke atas meja dekat tempat tidur.
"Nggak ada tapi-tapi yang, perintah suami nih," bisik Dimas lagi.
"Heran, perasaan malam ini gak Mama gak kamu juga, kekang aku mulu," Naya mencebik kan bibirnya, membuat Dimas tambah gemas.
"Bukan mengekang sayang, suami kamu lagi kangen nih," lagi-lagi berbisik dan melancarkan aksinya mencumbu sang istri.
__ADS_1
"Hm.., ya udah lampu matikan dulu sana," titah Naya menunjuk lampu yang masih terang.
"Biar ajalah terang," sahut Dumas dengan malas nya.
"Yang.., kan kamu tahu aku gak suka bobi bila terlalu terang, kecuali siang hari," bela Naya memelas agar Dimas mematikan lampu.
Dimas melepas dekapan, sebelum akhirnya turun dan menggantikan lampu menjadi temaram, dengan girangnya langsung naik kembali dan memeluk tubuh sang istri.
"Sudah sayang."
"Sebentar, 'ku pengen pipis dulu ya,?" lirih Naya mendorong dada sang suami perlahan.
"Uuh..,ck ck ck, ada-ada aja, ya sudah sana tapi.., jangan lama-lama ok,?" Lagi-lagi Dimas melepas mangsa dari dekapannya.
Diam-diam Naya mesem dan turun berjalan menuju kamar mandi, selang beberapa menit Naya kembali menghampiri Dimas yang sudah berbaring.
Dimas bangun setelah melihat istrinya sudah kembali, "Sudah sayang.?"
"Belum," menyeringai sambil naik lagi ke tempat tidur, lalu menarik selimut hendak berbaring, namun Dimas dengan sigap mendekap kembali, "Kangen."
"Hem..," gumam Naya dalam pelukan suaminya.
Dimas menghujani Naya dengan kecupan di setiap titik yang dia suka, tangannya dengan mudah menyelinap ke ruang tertentu dan bermain-main di sana, Naya hanya pasrah dengan apa yang Dimas lakukan.
Bi*** Dimas mulai bermain di bukit kembar yang selalu menantang, lalu naik lagi kembali ke bi*** Naya dan m******* nya lembut dan penuh kehangatan.
"Dimas.., Naya, kalian belum tidurkan,?" pekik Bu Hesa dari balik pintu, tak kepalang menggedor pintu tak beraturan.
Sehingga keduanya kaget dan menghentikan kegiatannya, Dimas dan Naya saling tatap, "Ada apa Mama menemui kita malam-malam,?" gumam Dimas menatap istrinya.
"Buka saja yang, kali aja ada penting," lirih Naya sambil bergegas merapikan pakaiannya yang sudah tidak beraturan.
Lagi-lagi terdengar suara Bu Hesa memekik, "Naya.., dengar Mama kan.?"
Dimas manarik napas kasar, dan mendengus kesal, ia bergegas memungut pakaiannya yang sudah jatuh di lantai, "Uuh.., ganggu aja," sambil turun mendekati pintu.
Pintu Dimas buka perlahan, nampak Mama nya berdiri depan pintu, belum sempat Dimas bertanya, tanpa permisi Bu Hesa masuk ke dalam kamar dan mendekati tempat tidur dimana Naya sedang duduk memeluk selimut.
Kanaya menatap Ibu mertuanya, "Ada apa Mak,?" lalu melihat jam menunjukkan pukul 22.30 dan kembali menatap Ibu mertua yang tumben-tumbenan datang malam-malam ke kamarnya.
Dimas duduk di tepi tempat tidur, kepala mulai pening, menatap Ibunya yang belum menjawab pertanyaan dari istrinya, beliau hanya memperhatikan tempat sekitar terutama tempat tidur.
"Entah kenapa, tiba-tiba ingin tidur di dekat cucu 'ku, bolehkan saya tidur disini,?" jelas Bu Hesa sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur menatap putra dan mantunya.
__ADS_1
Mulut Dimas menganga, mana mungkin Ibunya tidur bersamanya malam ini, gimana dengan kegiatan yang tadi tertunda, padahal sudah mendekati ujung, lagi pula gak biasanya beliau ingin tidur sama putra dan menantu segala.
"Te-tapi Mak,?" Dimas menatap Ibunya.
"Kalau kalian tidak suka Mama tidur di sini untuk kali ini saja, Mama gak bisa membayangkan jika Mama tidak bisa bertemu hari lagi," dengan nada sedih dan memelas.
"Apa maksud Mama,?" Dimas bingung dengan maksud Ibunya itu.
Dengan cepat Naya berkata, "Oh, boleh kok Mak boleh tidur aja, gak apa-apa kok kami senang," ucap Naya, sontak Dimas melotot pada Naya, apa jadinya kalau Bu Hesa menginap di tempat tidur ini, gimana nasib juniornya dong.
Namun Naya malah tersenyum, dan mempersilahkan Bu Hesa tuk berbaring di dekatnya, "Bener gak apa-apa nih, gak ganggu kan,?" Bu Hesa pura-pura merasa risih.
"Nggak Mak, sudah tidur aja," ucap Naya sambil menarik selimut menutupi tubuh Bu Hesa yang diam-diam tersenyum licik.
Dimas tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mengusap kasar rambutnya, sambil berbaring Naya melihat tingkah suaminya, "Kasian suami 'ku ya Allah, dosa kah aku," batin Naya merasa berdosa.
Dimas berpindah duduk menjadi di sofa, bengong di sana di temani air mineral di tangan, memijat batang hidungnya, lalu beranjak menuju pintu.
"Yang mau kemana,?" tanya Naya yang melihat Dimas berjalan membuka pintu.
"Mau bikin susu hangat."
Bu Hesa melirik dan mesem-mesem sendiri, "Sukurin, gak bisa enak-enak malam ini hi..,hi..,hi..."
Dimas terus berjalan menuruni anak tangga, ia butuh sesuatu yang menghangat kan, di dapur sudah sepi Dimas mengambil dan membuat susu hangat untuknya.
Duduk di kursi meja makan sendiri termenung sembari menunggu susunya agak dingin, kepalanya masih terasa pening, darah nya naik ke kepala sehingga terasa pusing, entah kenapa hati merasa jengkel.
Setelah habis minuman hangatnya, Dimas kembali ke kamarnya, sebelum naik lagi tidak lupa mencuci bekas minumnya terlebih dahulu.
Baru kemudian naik dengan gontai di tempat tidur nampak istri dan Ibunya sudah lelap, perlahan Dimas mendekati sang istri lalu mengecup keningnya, membuat Naya terbangun, "Bobo yang, sudah malam," bisik Naya dengan suara khas bagun tidur, dan menepuk tempat untuk Dimas berbaring.
Mata Dimas melihat Ibunya yang menggeliat dan beralih posisi menjadi menghadap ke Mereka, "Belum ngantuk," bisik Dimas di telinga sang istri, kemudian meraih laptopnya di bawa ke balkon ingin mencari angin di sana.
Ingin Naya melarangnya agar suaminya tidak pergi ke balkon sudah malam tidak baik angin malam untuknya, namun Naya urungkan niatnya, takut mengganggu Ibu mertua yang sedang tidur, Naya meliriknya sesaat lalu kembali memejamkan matanya.
Walau sudah larut, Dimas belum bisa tidur, ia duduk santai di kursi balkon dengan laptop di pangkuan, sesekali melihat langit yang hitam pekat tanpa satupun bintang yang menghiasi, sepertinya awan sudah tidak tahan menahan beban sehingga hujan pun berjatuhan ke bumi.
Helaan demi helaan napas yang panjang dari hidung Dimas seolah-olah ingin melepaskan beban yang menghimpit dirinya, melihat air hujan yang berjatuhan semakin deras, Dimas menutup laptopnya dan membawanya masuk, menyimpannya di tempat biasa, lantas ia berbaring di samping tubuh istrinya tanpa bisa ngapa-ngapain selain tidur.
Naya yang merasakan suaminya berbaring di sampingnya, ingin sekali memeluknya dengan mesra namun malu bila di lihat Ibu mertuanya, yang bisa ia lakukan hanya menggenggam lengan Dimas di balik selimut di letakkan diatas perutnya.
Bibir Dimas menyungging, menerima genggaman tangan dari istrinya, melirik namun mata istrinya terpejam, lalu kemudian ia pun segera terpejam mengingat waktu sudah semakin larut, junior yang sedari tadi bangun ia biarkan begitu saja dan tidur tengkurep untuk menyembunyikan nya😛
__ADS_1
,,,,
Apa kabar reader yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏