
Truk yang Dimas tabrak akhirnya menabrak bahu jalan kemudian terjun kedalam jurang tidak jauh dari mobil mersi yang tadi terjatuh.
Dimas sudah berada di Rumah sakit setempat, keluarganya belum satupun yang menjenguk, Aldo yang datang duluan sebab polisi menelpon di panggilan terakhir di ponselnya Dimas dan kebetulan Aldo lah orangnya.
Di kediaman Dimas, Naya syok setelah mendengar berita tentang kemalangan telah menimpa Dimas, apa lagi di suasana malam, Naya menangis tersedu ingin sekali ia pergi menjenguk suaminya di Rumah sakit namun Aldo bilang jangan dulu, besok pagi aja kasian si kembar kalau ditinggal sekarang, doa kan saja semoga semua baik-baik saja, itulah pesan Aldo.
Sandi dan kedua orang tuanya langsung meluncur ke Rumah sakit, menjenguk dan memastikan keadaan Dimas saat ini.
Naya ditemani dua asistennya di kamar terus membujuk dan menghibur Naya yang tengah kalut, gundah, gelisah dan juga sedih dengan keberadaan suaminya sekarang.
"Ibu yang sabar, semoga tuan baik-baik saja," Bi Taty mengusap punggung Naya yang masih ber isak air mata.
"Gimana aku nisa tenang, kalau sudah jelas-jelas suami 'ku kecelakaan," Naya mengusap air matanya.
Bi Meri pun "Iya Ibu harus kuat, yakin kalau semua akan baik-baik saja."
Naya menoleh baby twins nya yang tengah anteng bermain, Naya mengusap pipinya yang basah, ia harus kuat dan tawakal ikhlas dengan semua yang terjadi, dan berdoa semoga suaminya segera pulang dalam keadaan baik, tak kurang suatu apapun.
Baby twins merengek meminta mimi, dan langsung Naya meraih salah satunya untuk diberi asi, Naya menatap penuh kasih baby Arif yang duluan diberi asi.
Di Rumah sakit Dimas masih berbaring tak berdaya, bahkan belum siuman, kepalanya diperban tangan dan juga kaki mengalami luka walau termasuk luka ringan, kata dokter yang agak parah ya itu di bagian kepala yang kena benturan kuat.
Dimas mengigau dan menyebut-nyebut nama istrinya "Naya Bunda..,?" beberapa kali Dimas memanggil nama istrinya.
Aldo mendekat pada Dimas dan menggenggam tangannya seraya berkata, "Kau sudah siuman bro.?"
Dimas membuka mata perlahan, mengamati suasana sekitar, "Aku dimana,?" gumamnya sembari menatap tajam kearah Aldo.
"Kau sedang berada di Rumah sakit, kau mengalami kecelakaan," sahut Aldo menjelaskan.
Dimas termenung sesaat mengingat apa yang telah terjadi terhadap dirinya, samar terbayang tragedi yang hampir merenggut nyawanya itu, Dimas memegangi kepala yang terasa sangat sakit, ''Aw..,'' rintihannya.
Kenapa,? perlu 'ku panggilkan dokter," tanya Aldo menatap sahabatnya tersebut.
"Tidak-tidak perlu," sekujur badannya pun berasa remuk semua, "Apa striku tau.?"
"Tau, sudah saya kabari dan dia memaksa untuk datang namun aku larang, kasian baby kau kalau ditinggalkan," jawab Aldo sembari mengambilkan air putih untuk Dimas.
Bu Hesa dan suami juga Sandi datang, Hu Hesa langsung memeluk putra sulungnya, "Kau kenapa,? kenapa kau tidak hati-hati," Bu Hesa menangis sambil memeluk putranya itu.
"Gimana kejadiannya Dimas,? sampainterjadi demikian, kau tidak lengah kan," tanya Bapaknya Dimas.
__ADS_1
"Iya Bang gimana kejadiannya,?" tambah Sandi.
Aldo menoleh keluarga Dimas, "Baiknya, biarkan Dimas istirahat dulu, jangan ditanya dulu lah, di pasti masih syok," Aldo mengingatkan orang tua Dimas.
Mereka pun mengerti dan membiarkan Dimas istirahat, setelah sebelumnya meminum obat.
Ke esokan harinya Naya sudah bersiap untuk menjenqguk suaminya di Rumah sakit, Naya akan diantar kesana oleh Dery, dengan mobil milik Dimas, sekalian Endro minta di jemput ditempat tugasnya.
"Bi.., titip baby aku ya, mungkin nanti juga Mama pulang," ucap Naya pada asistennya.
"Iya Hu, jangan khawatir, mereka akan Bibi jaga," sahut Bi Taty dan Bi Meri.
"Rita, titip dede bayi ya? tante mau pergi dulu sebentar," Naya mengusap pucuk kepala Rita yang bengong dengan mainannya.
Naya mencium kening kedua babynya bergantian, "Yang anteng ya, tidak boleh rewel, Bunda mau menemui Ayah dulu," bisik Naya ditelinga kedua babynya yang terlelap tidur.
"Bi titip ya?"
"Iya Bu akan kami jaga jangan khawatir," sahut BinTaty.
Kemudian Naya keluar dan berjalan menuruni anak tangga, bergegas berjalan menuju mobil yang sudah di panaskan oleh Dery yang sudah menunggu.
Setelah selesai, Dery memutar kemudi meluncurkan mobil ke jalanan, selama perjalanan tidak ada yang bicara selain suara mesin yang terdengar, jantung Naya gelisah tak menentu khawatir akan keadaan suaminya, takut parah lukanya atau gimana.
Selang hampir satu jam mobil sampai ke tujuan, yang sebelumnya menjemput Endro di tempat tugasnya, mobil sampai ke tujuan, Dery memarkirkan mobilnya dihalaman Rumah sakit dimana Dimas di rawat, Naya turun di ikuti oleh Dery seolah menjadi ajudan bagi Naya menjaga dan melindungi.
Keduanya berjalan di koridor Rumah sakit, Dery menunjukkan arah yang harus dituju, sampailah di sebuah ruangan dan disanalah Dimas di rawat, Dery yang membukakan pintu, setelah pintu terbuka tampaklah Dimas terbaring lemah dengan banya perban dintangan, kaki paling parah di kepala.
Naya langsung berhambur memeluk Dimas, "Yang.., kamu kenapa, kok bisa kejadian ini sih," Naya menangis.
"Hi.., malah nangis, bukannya ngucap salam apa lah malah nangis,?" goda Dimas sambil memeluk erat dan mengelus lembut punggung sang istri.
Naya tetap menangis dalam pelukan sang suami, ada rasa getir, takut kehilangan, sementara ia jauh dari keluarga dan harus membesarkan kedua baby twins, isak tangis Naya membuat haru Dimas sehingga ia pun matanya berkaca-kaca.
"Sayang.., dengarkan, aku baik-baik saja sebantar juga akan sembuh kok percayalah,?" Dimas meyakinkan istrinya yang masih terisak dan semakin erat memeluk tubuhnya.
Perlahan Naya melepas pelukannya, Dimas menyeka air mata Naya yang membuat matanya sembab, "Jangan menangis sayang, aku kuat kok tidak lama juga pasti sembuh, doa kan ya,?" sembari tersenyum kuat.
Naya pun menyunggingkan bibirnya tersenyum getir, "Aku takut kamu kenapa-kenapa," sambil mengelus setiap luka di tubuh Dimas.
"Aw.., sakit sayang," rintih Dimas meringis.
__ADS_1
"Oh maaf," Naya menyesal.
"Kenapa harus kesini segala,? diam saja di Rumah jaga anak kita, aku gak perlu terlalu di khawatirkan aku baik-baik saja, doa kan agar bisa cepat pulang.
"Aku sangat cemas yang, aku takut kamu meninggalkan aku," lirih Naya seakan berbisik, melirik ke meja ada sarapan Dimas yang belum di makan, "Pasti belum sarapan kan,?" Naya mengambil tempat sarapan dan menyuapi Dimas.
Sementara Dery duduk di sofa bersama Aldo dan Endro yang menatap Dimas dan Naya yang begitu mesra dan romantis, sungguh membuat iri para jomblo yang berada di situ.
Keluarga Dimas sudah pulang sebelum Naya datang, khawatir baby twins gak ada yang menjaga di Rumah ketika Naya ke Rumah sakit.
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
Assalamu'alaikum semuanya reader 'ku yang menunggu kelanjutan kisah Dimas dan Naya.
Oya apa kabar semuanya,? semoga kabar kalian semua ada dalam lindungan dan rahmatnya Aamiin.
Aku tidak memaksa kalian memberi dukungan lagi terserah kalian saja lah, hihihi.
__ADS_1