
"Biar saya saja dok yang membereskannya." Dimas mengambil alih, karena sudah waktunya berangkat kerja, mereka pun bergegas keluar dari tempat itu, berjalan mendekati motornya Dimas, dan mereka berangkat berboncengan.
Setelah sekian bulan tanpa komunikasi, akhirnya Dimas bisa menghubungi Naya.
Tut, tut, tut.., tak ada yang mengangkat, Dimas kembali mengulang panggilan, hingga akhirnya ada yang menyahut.
"Halo,.!
"Halo juga, selamat sore, apa kabar.? sapa Dimas dengan nada lembutnya.
"Sore juga, baik, kemana saja kamu.? baru ingat aku kah.? sehingga baru kabari aku.? handphone juga selalu gak aktif, sengaja kah.?" cerocos Naya dari sebrang.
Dimas tertawa hening, sebentar melihat ponselnya, lalu ia dekatkan kembali di pipinya, "Sorry aku baru sempat, aku lagi di pedalaman jadi sulit sinyal bah, bagaimana bisa telepon kamu.?"
"Tapi..,kan setidaknya kabari aku walau sebentar.? gerutu Naya sedih
"Kangen kah.?" Dimas menyelidik.
Naya terdiam sejenak, menatap sunset sore dari jendela di kamarnya.
"Nggak" singkat.
"Nggak sedikit ya.?" Dimas senyum tipis.
"Sedang apa, kabarnya gimana.?" Naya mengalihkan pembicaraan.
"Aku sekarang di atas bukit, mencari sinyal, ingin telepon keluarga juga kamu." sahut Dimas.
"Oh, begitu kah.?" Naya masih memandang sunset sore.
"Beberapa hari lagi aku mau pulang, dan kita pasti akan intens lagi komunikasi." dengan senyum senang.
"Aku kira sudah lupa sama aku.?" menunduk ke bawah.
"Gak sayang, aku gak mungkin lupa sama kamu, malahan aku kangen.!" goda Dimas mesem.
"Gombal.!" Naya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
"Gombal, siapa bilang.? beneran kok" kata Dimas. "Ya sudah dulu ya? nanti kalau sudah pulang ke Sekadau aku telepon lagi" tambah Dimas, ingin menyudahi teleponnya.
Naya sesungguhnya merasa berat, masih ingin berbincang sama dia, tapi tak mungkin menahannya. "Ya sudah hati-hati ya, jaga ke sehatan juga.?" pintanya.
__ADS_1
"Iya sayang, makasih ya, sudah khawatir sama aku.?" dengan hati yang berbunga-bunga.
"Siapa juga yang khawatir nggak juga" elak Naya.
Dimas hanya tersenyum mendengar ucapan Naya yang enggan mengakui perasaannya sendiri. "Ya sudah dulu lah.! jaga diri baik-baik, jaga kesehatan juga." Dimas menyudahi teleponnya.
"Ok"
Magrib tiba, Naya pun melaksanakan sholat Magrib setelah mengaji Naya baru bangkit, lantas seperti biasa menganyam jaring sebagai kerjaannya sehari-hari.
sejenak ia berpikir, apa benar ia suka sama Dimas.? ia merasa kehilangan ketika Dimas tiada, ke khawatiran selalu datang ketika terbesit dia sama wanita lain. "Cemburu kah aku.?" gumamnya sembari mengangkat kan bahu "Entahlah"
Ke esok harinya, keluarga riuh, karena mendengar berita duka, suami dari adik Naya meninggal, baru kemarin keluarga menjenguk ia sakit, sekarang datang berita duka ia menghembuskan napas terakhir.
Bapak, Ibunya Naya, bersama paman, bibi dll. menyewa mobil tuk melayat ke tempat Lely, hanya Naya aja yang di rumah, karena bukan ia tak mau ke sana, namun sikon yang tak memungkin kan untuknya.
"Innalilahi...,ya Allah aku tahu bahwa usia, jodoh dan Rejeki sudah dalam ketentuannya, manusia hanya bisa berencana engkau juga yang maha menentukan," menghela napas kasar, tak terasa berlinang lah air mata,
"Kau begitu sangatlah muda, namun Allah sudah menjadikanmu seorang janda muda anak satu, semoga kau kuat.! semoga akan ada hikmah di balik semua ini.!" batinnya, mengusap air mata di sudut bibirnya.
"Dan semoga Allah menerima iman islamnya, mengampuni segala dosa kesilapan nya, mungkin ini yang terbaik untukmu Iparku.! semoga di beri ke lapangan dalam kuburnya, Aamiin.
Suatu malam Dimas menghempaskan tubuhnya di atas kasur, setelah perjalanan yang lumayan jauh, jarak tempuh mencapai seharian, dengan menggunakan motor, lalu mengantar dokter Karmila terlebih dulu, makanya badan terasa capek sekali.
Sesaat ia berbaring, kemudian beranjak duduk, menoleh ponselnya, tujuannya mau telepon seseorang, namun ingat belum ngisi pulsa, niat ia urungkan, ketika ponsel mau di simpan, nada dering berbunyi, ia melihat kontak yang memanggil, ternyata dokter Karmila yang menelpon, kemudian ia terima.
"Ya, ada apa dok.?" Dimas menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Tak Ada apa-apa dok, hanya ingin menanyakan, apa sudah sampai rumah.?" tanya Karmila.
"Oh, sudah ini baru mau mandi, kamu sudah makan, sudah mandi.?" Dimas tersenyum miring.
"Baguslah kalau sudah sampai, sudah nih, sekarang lagi baringan aja capek banget ya.?" balas Karmila.
"Iya nih capek banget, coba ada yang memijat enak kali ya di saat capek begini hi..hi..!" seru Dimas mengulum senyumnya.
"Makanya punya istri dok, biar ada yang urus jika di rumah" sahut Karmila, mesem-mesem.
"Ya nih sedang mencari-cari kali aja ada yang mau sama aku, mau mijitin, mau memandikanku, menemani tidur juga." Dimas membuka kancing kemejanya.
"Gak usah di cari, aku juga mau kok," gumam Karmila.
__ADS_1
"Pastilah banyak yang mau sama kamu, gak mungkin gak mau menjadi istri seorang dokter Dimas, kecuali kamunya yang gak mau, hi..hi..hi.." kata Karmila.
"Mungkin,! sudah dulu ya.? aku mau mandi dulu." pamit Dimas, ingin menyudahi panggilan dari Karmila.
"Baik lah sampai jumpa lain waktu.? met malam moga mimpi indah." ucap Karmila.
"Ya sampai jumpa lagi di lain waktu." tut, tut,tut, panggilan terputus.
Lalu ia beranjak dari duduknya melangkah ke kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya yang begitu lengket, selang berapa menit ia sudah memakai kaos dan celana pendek.
Kemudian keluar kamar, menuruni tangga menuju dapur.
"Makan dulu Dim.?" kata bu Hesa yang berdiri di dekat meja makan, Dimas yang menunduk mendongakkan kepalanya.
"Iya Mak, belum tidur.?" ia menduduk kan tubuhnya di kursi, mengambil piring dan bu Hesa menyendokkan nasi dan sayur, dan Dimas langsung melahapnya.
Ia menyudahi makannya dengan meneguk minum air putih, kemudian beranjak mendekati wastafel untuk mencuci piring.
Dimas menghampiri Mamak dan Bapaknya yang duduk di sofa, ia duduk di sebelah bu Hesa.
"Gimana kabar keluarga ini selama aku gak ada Mak.? melirik Mamaknya.
"Mamak pusing, adikmu Sandi mau nikah,kuliahnya gimana.?" keluh bu Hesa.
"Ya gak gimana-gimana Mak, kuliah ya kuliah aja.?" pandangannya beralih ke tv.
"Yang penting dia mau bertanggung jawab, terhadap istrinya kuliahnya. biar saja lah.!" tambah Bapaknya Dimas.
"Kan belum kerja Pak,!" melirik suaminya.
"Kalau dia bertanggung jawab, pasti dia akan mencari kerja Mak." tambahnya.
"Tapi..,kamu gimana Mas.? kamu sudah di langkahi oleh Maria, apa sekarang harus di langkahi lagi sama Sandi.?" bu Hesa menatap lembut putra sulungnya.
Dimas merebahkan bahunya ke sofa, mengalihkan pandangan dari tv ke bu Hesa, "Tak apa Mak, biar Sandi duluan yang menikah,"
"Apa kamu tak ingin menikah Dimas.?" tatapannya semakin lekat.
,,,,
Untuk yang suka jangan lupa lake, komen yang banyak, dan vote nya agar aku bertambah semangat belajar menulis novelnya.??
__ADS_1