Bukan Mauku

Bukan Mauku
Bersikap Cuek


__ADS_3

Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka terpejam, betapa nyaman nya tidur dalam pelukan cuaca yang dingin tak di rasakan, yang ada adalah kehangatan dari suhu tubuh masing-masing.


Sudah beberapa hari Naya bersikap cuek pada suaminya, seperti hari ini Naya lebih sibuk mengurus anak-anak, beberes kamar seisinya, lanjut sarapan, sikap Naya pada Dimas masih tetap dingin, walau di hadapan orang berusaha tetap mesra, seperti kali ini di dapur berada asistennya dan supir, Sikap Naya pada suaminya seakan baik-baik saja.


Naya mengambilkan piring dengan nasi dan lauknya, "Ini yang sarapannya," dengan senyuman yang mengembang.


Dimas mengangguk dan menarik piringnya, mereka berdua sarapan dengan lahap, "Bi tolong jagain baby twins ya,? aku masih harus sering-sering ke butik, urusan 'ku belum selesai," Naya melirik Bi Meri.


"Oh, iya Bu," Timpal Bi Meri mengangguk.


Naya meneguk minumnya setelah isi piring tandas, lantas mengambil bekas makannya dan Dimas ke wastafel untuk di cuci sendiri, lalu mengelap tangan sampai kering, menyiapkan obat untuk Dimas minum.


"Yang, aku akan ke kantor," ucap Dimas menatap wajah Naya.


"Terserah," Sahut Naya singkat.


Dimas tertegun, seharusnya Naya melarang dirinya pergi ke kantor dengan alasan masih kurang fit, namun apa yang di dengar barusan oleh telinga Dimas, Naya malah berkata terserah.


Seakan ada rasa terhiris dalam hati nya, apa lagi melihat Naya menyiapkan pakaian kerjanya di atas tempat tidur, tanpa menoleh Naya bersiap-siap tuk pergi ke butik, dengan membawa laptop di tangannya, Naya mendekati dua buah hatinya, mengusap kepala mereka bergantian, kemudian meraih tangan Dimas dan menciumnya.


"Aku pergi duluan," lirih Naya sambil melangkah kan kakinya, namun tangan Dimas menghentikan langkahnya Naya.


"Sayang," suara Dimas sangat lirih, maju dan berdiri tepat depan Naya.


Naya hanya termangu menunggu apa yang akan Dimas katakan selanjutnya, sembari melirik jarum jam di dinding.


"Bunda, kenapa Bunda gak perduli lagi sama Ayah kenapa,?" suaranya bergetar.


Naya mendongak , "Maksudnya,?" mengernyitkan keningnya seakan tidak mengerti akan maksud sang suami.


"Maksud 'ku.., kenapa Bunda gak perduli lagi sama Ayah, kenapa hem," menatap lekat dan tangannya masih menggenggam pergelangan Naya.


"Siapa yang gak perduli,? aku berusaha siapkan keperluan 'mu," Naya melirik pakaian yang di atas tempat tidur, "Kenapa belum siap-siap,? bukannya mau ke kantor."


Dimas menggeleng-geleng pelan, "Bunda sudah gak mengerti lagi Ayah, harus berapa puluh kali lagi Ayah harus meminta maaf,?" bibir Dimas bergetar suaranya berat, mata pun berkaca-kaca.


"Loh, bukankah Ayah sendiri yang ingin pergi kerja, kenapa aku yang seolah di salahkan," Naya mengalihkan yang Dimas maksud.


"Kenapa Bunda pura-pura gak mengerti yang aku maksud,? jangan diamkan aku seperti ini lagi, sepi, aku gak kuat Bunda buat begini terus," rajuk Dimas lesu.


"Emang siapa yang diamkan kamu,? bukankah kita juga sering bicara," Naya melepaskan tangan dari genggaman Dimas suaminya.


"Iya memang Bunda bicara sama Ayah iya, tapi tetap sikap Bunda dingin sama Ayah, cuek tidak seperti biasanya," aku Dimas, menatap lekat mata Naya yang berusaha menghindari dirinya.


"Sudah lah, aku harus pergi nanti anak-anak keburu bangun lagi," ujar Naya yang berniat pergi.


"Berapa puluh kali lagi saya harus minta maaf,? harus merajuk gimana lagi agar hati Bunda mencair dan memaafkan Ayah, harus kah aku bersimpu agar Bunda percaya itu hanya sebuah kecelakaan," suara Dimas meninggi rasanya lelah harus menjelaskan beruang-ulang.


Helaan demi helaan napas Naya begitu berat, sesungguhnya dia percaya bahwa kejadian itu tidak benar, tidak mungkin suaminya melakukan sesuatu yang tidak terpuji di hadapan mereka, Hanya entah kenapa hatinya masih terasa sakit, marah dan dadanya begitu sesak bila terbesit bayangan itu.


"Aku tahu dan percaya kok, cuma..,entah kenapa aku masih merasa kesal, marah, bila ingat itu," tutur Naya menunduk dalam melihat lantai.


"Sayang, Ayah kangen senyum Bunda, mesra Bunda ketika sedang berdua, tidak seperti akhir-akhir ini," Dimas memeluk Tubuh Naya membenamkan kepala Naya ke dadanya.

__ADS_1


Naya pun membiarkan suaminya memeluk erat, ia memang merasa kangen masa-masa hangat bersama, entah ia yang terlalu egois terbawa perasaan atau entah lah, yang jelas itulah yang di rasakan oleh Naya.


"Maaf kan aku yang,? aku gak mungkin mendua apa lagi meninggalkan Bunda, tidak akan pernah," lirih Dimas mengusap lembut punggung sang istri.


Mendengar itu Naya menangis terisak, ia merasa sangat bersalah telah bersikap dingin pada suaminya tapi itu bukan tanpa alasan, "Aku juga minta maaf sudah egois, berkeras hati," ucap Naya semakin memperdalam wajahnya di dada sang suami.


"Ayah juga sayang," cup mengecup pucuk kepala Naya.


Mereka berpelukan sangat erat, hanya suara napas dan detak jantung yang terdengar serta debaran yang lebih kencang.


"Katanya mau kerja,? kan belum fit benar, tunggu satu atau dua hari lagi," ujar Naya.


"Siapa bilang mau kerja? cuma ingin tahu jawaban Bunda saja, ingin tahu Bunda perduli apa tidak, ternyata sedih sekali, Bunda cuek," Dimas nyengir kuda, Naya mendongak lantas memukul bahu Dimas yang bekas luka.


"Aw.., sakit yang," Dimas meringis mengusap bahunya yang Naya pukul barusan.


"Syukurin," kemudian berhambur kepelukan Dimas kembali.


Ketika suasana yang hening, yang hanya ada deru napas yang bersahutan, detak jantung yang berdebaran, saling meluahkan rasa yang beberapa hari ini terpendam sehingga menimbulkan rasa rindu seolah lama tidak bertemu.


Tiba-tiba oa.., oa..,oa.., buah hatinya bangun, membuat pelukan mereka memudar, Naya mendongak dan bibir mereka sama-sama melukis senyuman, yang akhirnya saling tatap, tangan Dimas membingkai wajah wanitanya, cup mendaratkan ciuman di kening sang istri, "Anak kita bangun," sembari menunjuk dengan wajahnya kearah baby twins.


Naya memutar badan berjalan mendekati sang buah hati, Dimas masih berdiri di tempat semula, terlihat jelas rona kebahagian tergurat di wajahnya.


Naya mengurusi dulu anak-anak nya, serta memberi asi sebelum ia pergi ke butik, Bi Meri datang tidak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia baru masuk setelah dipersilahkan oleh penghuni kamar, dia datang untuk mengasuh si baby twins.


"Rita mana Bi apa sudah berangkat sekolah,?" tanya Naya melirik Bibi.


"Sudah Bu, tumben Ibu belum berangkat? apa mereka rewel dari tadi," Bibi menatap Naya dan baby twins.


Bibi melirik Tuannya dan tersenyum, mungkin Tuan lagi ingin di manja Bu, hihihi."


"Mungkin, ya sudah, aku berangkat dulu," Naya berdiri," Titip ya Bi,?" Naya melangkah menghampiri Dimas.


"Yang aku berangkat dulu," meraih tangan Dimas tuk bersalaman.


"Oke, hati-hati, sebentar lagi Ayah akan ke klinik, nanti mampir ya," Dimas sembari melambaikan tangan.


"Terserah," sahut Naya yang membukakan pintu terus berlalu meninggalkan kamarnya.


Naya menuruni anak tangga dan di bawah bertemu Bi Taty yang sedang menyapu, Bi.., titip anak-anak ya, aku pergi dulu," berdiri sebentar.


Bi Taty menghentikan menyapu nya sesaat, "Tumben baru berangkat?"


"Em.., iya Bi, itu..,baby besar 'ku rewel," terdenyum lucu, mendengar itu membuat Bi Taty tertawa renyah.


"Hai...,elahh.., Tuan sudah besar masih manja saja, kurang belaian kali Bu.., hahaha."


Naya tersenyum, "Kali Bi, ya sudah pergi dulu ya,?" Naya segera melangkahkan kakinya keluar Rumah, di teras bertemu dengan Pak Mad yang sedang mengurus tanaman bunga dan buah-buahhan.


"Pak, nanti kalau Tuan mau keluar tolong diantar ya,? jangan dulu dibiarkan pergi sendiri," pesan Naya.


Pak Mad membungkuk hormat, "Baik Bu, nanti saya antar, itupun kalau Tuan bilang," sahut Pak Mad dengan sopan.

__ADS_1


"Makasih Pak," kemudian Naya melanjutkan langkahnya menuju butik.


Di butik para pegawai sebagian tengah mengemas barang untuk pengiriman, dan sekarang soal pengiriman Naya sendiri yang menangani.


Bukan tidak percaya sama asistennya namun Naya berpendapat semasih bisa ia kerjakan kenapa tidak, makanya Naya menangani sendiri, atau semua di bawah pengawasannya langsung.


Setelah beberapa hari barulah ketahuan dalang di balik kerugian usahanya tersebut, ternyata orang dalam juga namun Naya bungkam tidak ingin mempermasalah kannya, cukup tahu dan biar itu menjadi tabungan nya kelak, itu pikir Naya ihklas.


Dalam hal pulsa pun kini Naya pantau dari kejauhan, lagi pula kalau di usaha yang satu ini tidak Naya percayakan sepenuhnya pada Zidan karena dalam hal belanja saldo yang masih memasok dari Sukabumi masih Naya yang mengurusnya, Zidan hanya sebatas menjual dan pernak pernik asesoris handphone saja yang dia tangani.


Kanaya masih menyibukan diri di butik sampai akhirnya terdengar suara adzan dzuhur yang bersahutan dan suaranya timbul tenggelam, Naya memesan buat makan siang para pegawainya, kalau dia sendiri sudah bersiap mau pulang kasihan pada baby twins nya.


"Oya Lisa, sebentar lagi akan datang makanan buat makan siang, aku mau pulang sekarang, dan pesanan-pesanan yang belum sempat di kirim hari ini bilang saja besok pagi di kirim," pesan Naya pada Lisa dan anak buahnya.


"Baik Bu terimakasih,?" ucap mereka serempak.


Naya beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, sebentar mampir dulu ke konter.


"Zidan, kau sudah makan siang,?" tanya Naya sambil mendudukan tubuhnya di sofa, menatap Zidan yang tengah melayani pelanggannya.


Zidan menoleh sasaat pelanggannya pergi, "Belum."


"Kalau gitu beli makan dulu sana, biar aku yang menggantikan mu di sini."


"Em.., ,nanti saja Bu belum lapar kok," tolak Zidan sopan.


Naya merogoh sakunya mengambil selembar uang dan diberikan pada Zidan, "Ini buat beli makan siang, sana beli dulu, biar aku di sini sebentar yang menunggui."


Zidan mengambil uang yang diberikan Naya, termenung sebentar seraya berpikir, "Makasih Bu, baik lah kalau begitu, Zidan mau ke warung sebentar," dia bergegas pergi meninggalkan Naya sendiri.


Naya menatap kepergian Zidan sampai hilang dari pandangan, Naya mendekati komputer dan ngecek-ngecek di sana.


Tidak lama Zidan kembali dengan menjinjing kantong makanan dan minuman, "Maaf agak lama Bu,?" Zidan mengangguk, yang di balas Naya dengan senyuman.


Kemudian Naya berdiri dan pamitan untuk pulang, segera melangkahkan kaki nya menuju pulang, sesampainya di Rumah bertemu dengan Bibi yang sedang bersih-bersih, "Suami 'ku sudah pulang belum.?"


Bibi menoleh seraya berkata, "Tuan, belum pulang."


"Oh, sama Pak Mad kah perginya,?" tanyanya Naya lagi.


"Iya, ditemani suami saya, dan mereka belum pulang," timpal Bibi lagi.


"Em.., anak-anak tidur kah.?"


"Mereka baru tidur, dari sebelumnya bermain beberapa jam."


"Tapi gak rewelkan Bi,?" Naya takut mereka rewel membuat repot Bibi.


"Tidak, mereka sangat anteng kok," sahut Bibi lagi.


Naya bergegas menaiki tangga langsung ke kamar dan mendapati buah hatinya tangah tertidur dalam posisi tengkurep, Naya menarik sudut bibirnya tersenyum.


Setelah berada di dalam kamar mandi, Naya memutar keran mengisi air ke dalam bath tub memberikan cairan aroma terapi sedikit, lalu Naya masuk berendam di sana.

__ADS_1


****


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️


__ADS_2