Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sehangat sinar mentari


__ADS_3

Sementara waktu mereka berdua sibuk dengan ponselnya masing-masing, sampai suara adzan magrib terdengar dari ponsel Naya, Naya melirik Dimas yang duduk di sofa, begitu fokus pada ponselnya, "Yang magrib, sholat magrib dulu yuk,? agar tenang kalau sudah sholat, aku mau tiduran lagi, rasanya pening nih kepalaku."


Dimas melirik menyimpan ponsel di atas meja, dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, sembari berpikir ketika dia kerja siapa yang akan menemani istrinya,? gak enak kalau harus menyuruh Pak Mad, emang mungkin ada seharian di rumah, namun secara dia laki-laki, "Oh iya, suruh istrinya juga di sini, sampai istriku sehat," gumam Dimas sambil menyalakan air.


Sehabis sholat magrib Naya tidur kembali, sementara Dimas duduk di sampingnya sang istri, sibuk dengan laptop di pangkuan.


Perut keroncongan cacing-cacing pada demo minta makan, namun Dimas malas untuk ke dapur, hanya meminum air mineral yang dia lakukan.


Usai melaksanakan sholat isya Dimas naik merangkak di atas tempat tidur, menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat, "Sehat-sehat sayang,? apa lagi sekarang sedang menantikan buah cinta kita,?" Dimas mengelus perut sang istri yang masih rata dan menciumnya.


Pandangan Dimas naik lagi ke atas, mengelus rambut Naya mendaratkan bibirnya di kening Naya yang tengah terlelap, rasa kantuk pun menghampiri, Dimas berbaring di samping Naya satu selimut, tidur menyamping memeluk sang istri.


Pagi-pagi buta Dimas terbangun, suara burung berkicau saling bersahutan, Dimas membuka matanya perlahan, melirik ke samping kosong, istrinya entah kemana, Dimas mengibaskan selimutnya dan segera turun sembari mengucek matanya.


"Sayang, sayang di mana,?" mendekati kamar mandi namun sepi, Dimas melirik jam dinding pukul 05 pagi, dia membuka pintu perlahan, tampak Naya tengah mengenakan jubah mandi, rupanya dia sudah mandi dan terlihat sangat segar.


"Sayang, sudah mandi,?" Dimas bertanya dan mematung di pintu.


Naya mengangguk pelan, "Iya, badan rasanya lengket banget, gerah, sayang mandi sana, aku tunggu untuk sholat."


"Bunda sudah baikan sekarang,?" nada penasaran, bersandar di pintu.


"Udah lumayan kok baikan," Naya melintasi Dimas wanginya dari baunya Naya seger banget ingin rasanya memeluk dan menciumnya, namun Dimas tahan, kasian sudah punya wudu, Dimas masuk.


Naya duduk di atas tempat tidur melirik pintu kamar mandi terbuka, "Yang..,? kok pintunya gak di tutup sih.?"


"Biar saja, paling Bunda yang ngintip," pekik Dimas dari dalam sana.


"Iih.., buat apa juga ngintip,? orang suka lihat kok, hehe," Naya pelan dan mengambil pakaian miliknya dan milik Dimas pakaian buat kerja.


Tak lama Dimas keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan dalaman, "Ya ampuun.., kenapa gak pake handuk sih,?" Naya menutup mata dengan sepuluh jarinya.


"Ha..,ha .,ha.., lupa bawa handuk yang,! lagian kenapa menutup mata segala,? kaya perawan yang baru lihat barang laki-laki saja,?" ucap Dimas sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, bukannya di lilitkan di pinggang, malah sengaja membiarkan terekspos begitu saja.


Naya melirik sesaat dan segera memalingkan lagi muka, "Tutup yang, malu di lihat orang gimana,?" Naya menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Kan cuma ada kita berdua, gak ada orang lain juga," Dimas dengan sengaja mendekati Naya ingin menggodanya.


Naya tidak berani melihatnya namun dari sudut mata ketauan Dimas mendekatinya dengan masih telanjang, "Sayang.., menjauh ah, cepetan pake baju, sudah siang, mau sholat," pekik Naya dengan suara manja, pandangannya tetap kelain arah.


Dimas menyeringai, lalu mengenakan semua pakaian yang sudah tersedia, akhirnya mereka menunaikan sholat pagi.


Tok..


Tok..


Tok.., terdengar pintu depan ada yang mengetuk, rupanya pak Mad yang datang untuk menyiapkan sarapan buat Dimas dan istri, Dimas yang sudah melipat sejadah nya langsung menghampiri keluar dari kamar, untuk membuka kunci pintu.


"Permisi Pak dokter,?" sapa Pak Mad mengangguk hormat.


"Iya Pak, silahkan masuk,?" sahut Dimas dan melengos ke kamarnya lagi, sedangkan Pak Mad melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat sarapan, kemudian bersih-bersih setelah itu dia bisa pulang, tidak lupa sebelum menyiapkan sarapan, Pak Mad membukakan semua gorden jendela rumah.


"Siapa yang,?" tanya Naya ketika melihat Dimas masuk dan menutup pintu.


Naya duduk di sofa, tempat tidur sudah rapi, Dimas membuka gorden kamar agar cahaya pagi masuk ke kamar, Dimas melangkah dan duduk dekat Naya, "Itu.., Pak Mad mau bikin sarapan buat Kita." Dimas membelai rambut Naya dengan lembut.


"Sayang belum sehat benar, lagian jangan capek-capek, jaga baik-baik calon baby kita," bisik Dimas.


"Iya yang,?" Naya mendongak menatap wajah sang suami, yang juga memandanginya, kedua insan ini bersitatap, akhirnya menyatukan bibirnya saling memberikan kecupan hangat, sehangat sinar mentari pagi yang mulai menyinari bumi, dalam beberapa saat mereka memadu kasih, saling peluk dan cium penuh kehangatan, entah kenapa dengan tak sengaja Naya meremas sesuatu yang tak pernah dia sentuh, membuat Dimas pejamkan mata dan melenguh panjang merasa nikmat.


Naya kaget dan langsung melepas apa yang ia pegang, ia menjauhkan diri dari Dimas, jantungnya berdebar dan menetralisir kan napas yang tak beraturan, Dimas membuka mata menatap istrinya yang menjauh, napas Dimas terengah-engah, kemudian meraih tubuh sang istri merangkulnya dengan sangat erat, bibirnya mengunci bibir sang istri, Naya sadar pagi menjelang siang, dengan lembut ia mendorong dada Dimas, melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Sayang.., sudah siang,? nanti terlambat, belum sarapan juga," Naya lirih, mengancingkan pakaiannya yang kacau, tak lupa juga merapikan pakaian dan rambut Dimas.


Terlihat jelas kecewa di wajah Dimas, namun apa daya yang dia katakan sang istri benar, "Terus gimana yang juniorku bangun,?" Dimas melirik kearah itu.


Naya malah terkekeh, "Suruh tidur,?" bisik nya dengan santai.


"Yang.., emang segampang itu,? hah istriku tidak mau tanggung jawab,?" Dimas beranjak bergegas ke kamar mandi entah mau di apakan juniornya tersebut di kamar mandi.


Naya menggeleng, meraih vitamin dan air mineral, kemudian meminumnya, walau masih terasa pusing namun tak ingin ia tunjukan pada Dimas takut dia khawatir, Naya keluar kamar ingin memastikan Pak Mad membuat sarapan, dan betul saja di meja sudah tersedia untuk sarapan, Naya mencari keberadaan Pak Mad, yang tengah bersih-bersih halaman, Naya membuatkan susu coklat hangat buat Dimas.

__ADS_1


Dimas mendekati Naya yang sudah duduk menghadapi sarapan, "Ini yang susuk coklatnya.?"


"Kan sudah tadi,?" jelas Dimas senyum samar.


"Tadi,? apaan,?" Naya mengernyitkan keningnya kurang mengerti.


"Tadi kan sudah, minum asi Bunda,?" sekenanya tanpa malu, membuat Naya melotot, sudut matanya melirik Pak Mad yang menghampiri.


Dimas mengangguk, "Makan Pak?"


"Terimakasih Pak dokter, silahkan sarapan, biar saya nanti saja, lagian setelah selesai beres-beres di sini saya pamit pulang," Pak Mad menunduk.


"Oh," Dimas.


"Beneran Pak, makan bersama,?" ajak Naya.


"Terimakasih Bu, silahkan di nikmati sarapannya,?" Pak Mad berdiri tegak bak satpam yang sedang bertugas.


Naya mengambil piring dan menuangkan nasi goreng, telor ceplok, dan juga sayuan, tak buak waktu Naya menyuapi Dimas, Pak Mad tercengang, melihat pasangan tersebut begitu mesra, usai makan Dimas menanyakan apa Pak Mad mempunyai istri, "Kalau ada dan tidak sibuk,? tolong kesini biar istri saya ada kawannya,? itupun selama saya kerja.?"


"Ada Pak dokter, namun kami punya anak yang berusia empat thn yang harus istri saya jaga."


"Oh, tidak masalah Pak, bawa saja ke sini, kalau saya sudah di rumah, istri anda boleh pulang,?" jelas Dimas.


Pak Mad mengangguk, "Baik Pak, kalau begitu, saya akan menyuruhnya menemani Ibu, kalau memang tidak keberatan membawa anak kami.?"


"Tidak, bawa saja ke mari," titah Dimas dengan jelas, Naya hanya diam mendengarkan, sambil memasukan sarapan ke mulutnya, Dimas sudah bersiap untuk berangkat kerja di hari pertama ini, "Hati-hati yang jangan ngebut,?" Naya mencium punggung tangan Dimas, tak lupa Dimas pun mengecup kening sang istri dengan mesra.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


Nb..


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang umat muslim,

__ADS_1


__ADS_2