Bukan Mauku

Bukan Mauku
Berenang


__ADS_3

Jangankan Dery dokter Aldo aja begitu baik dan akan dengan mudahnya mendapatkan Naya bila Naya tidak bersuami, beberapa kali Dimas menggeleng membuang pikiran aneh dari pikirannya.


"Bobo yuk dah malam, capek juga."


"Hem..," gumam Naya, menarik selimut sampai ke leher, Dimas menggantikan lampu lalu naik kembali ke tempat tidur membaringkan diri di sebelah sang istri.


Hari-hari Naya lewati di rumah, tidak ke konter dipercayakan sama pekerjanya, di bidang busana juga Naya cuma menggambar membuat sempel yang lain di kerjakan oleh Lisa dan asistennya alhamdulillah semakin kesini semakin berkembang.


Naya jadi lebih banyak santai, tidak banyak kegiatan yang ia lakukan, kandungannya pun semakin membesar di usia tujuh bulan Naya harus mengikuti serangkaian acara tujuh bulanan.


Semakin membesarnya kandungannya Naya semakin tersiksa saja susah bergerak, tidur pun serba salah, naik tangga pun sudah tak mampu, untung masih ada lift duduk yang memudahkan Naya naik turun.


Dimas sebagai suami siaga berusaha selalu ada untuk mendampingi sang istri ketika ada di rumah, Dimas merasa kasian melihat sang istri begitu kesusahan.


Seperti saat ini hari minggu Naya tengah duduk di sofa depan televisi, ditemani Dimas di sampingnya, "Mau makan apa sayang aku ambilkan."


"Gak usah yang, masih kenyang nih," sembari mengusap perutnya.


"Jangan duduk terus harus banyak gerak biar lahirannya mudah," celetuk Bu Hesa dari belakang.


Naya menoleh ke sumber suara, "Tapi Mak.., capek."


"Gak baik banyak duduk," ucap Bu Hesa lagi sambil duduk di sofa yang lainnya.


"Uuh.., ketika aku masih mampu gak boleh sibuk, jangan kecapean, ketika aku sudah tak mampu di larangnya juga berdiam diri," gerutu batin Naya.


Dimas menggenggam tangan Naya dan meremasnya, "Gak usah terlalu di dengar omongan Mama," bisik Dimas ditelinga sang istri.


Naya mengiyakan dengan isyarat matanya, Naya meringis merasakan tendangan baby nya.


"Kenapa yang,?" Dimas cemas melihat istrinya meringis.


"Nggak," sambil masih meringis dan mengelus perutnya.


Dimas pun ikut mengelus perut Naya lembut, "Sayang.., jangan menyiksa Bundanya ya kasian."


Naya menarik napas dengan teratur, dalam beberapa saat Naya terus saja menarik napas teratur.


Setelahnya Naya terlihat lebih tenang, "Gimana yang,? sudah agak baikan."


"Itu hal biasa bagi Ibu hamil, jadi jangan manja," jelas Bu Hesa menatap tajam.


"Mak.., Naya kan badan nya tidak sekuat yang lain, jadi wajarlah Mak kalau Naya manja," ucap Dimas bela istrinya.


"Jangan manja, jadi Ibu hamil itu harus kuat, sekuat baja, Mama dulu dari pertama mengandung Dimas tak pernah mengeluh ataupun manja, semua pekerjaan rumah dikerjain sendiri, boro-boro ada baby siter seperti sekarang, apa-apa ada pembantu, dulu Mamak tidak seperti itu."


"Mak..," Dimas memandangi Ibunya dan istri bergantian.

__ADS_1


Naya hanya diam dan mendengarkan, tak tahu harus berkata apa, menyadari keadaan yang memang tak sekuat yang Bu Hesa bilang.


Dia begitu lemah, tapi itu bukan yang dia pinta atau yang dia inginkan, semua yang terjadi sudah kehendaknya yang maha kuasa.


Melihat wajah Naya cemas, gelisah, dan mendengar Mamanya terus ceramah, Dimas berinisiatif mengajak Naya ke taman, "Bunda ke taman yuk."


Mendengar ajakan Dimas, Naya merasa ada angin segar ada celah untuk menghindari ocehan Ibu mertuanya, "Yuk," Naya langsung beranjak dari duduknya setelah menerima uluran tangan Dimas.


Mereka berjalan menuju taman, "Pelan aja jalannya Bun," Dimas menggandeng pinggang Naya.


"Iya."


Sesampainya di taman Naya disuguhi pemandangan yang lumayan nyaman, air yang bening, bunga yang bermekaran, ikan yang berenang ke tepian mencari makan, Naya duduk memandangi ikan-ikan di kolam, di sampingnya bunga-bunga yang sebagian mekar dan sebagian lagi, masih kuncup terlihat indah.


Dimas duduk di tepi kolam renang, dengan kaki menjuntai ke air, Naya melirik suaminya yang duduk dengan santainya kaki di air.


"Iih.., mau turun," rengek Naya.


Dimas bangun dan membantu Naya duduk di tepi kolam juga, perlahan menjuntai kan kakinya ke dalam air yang jernih.


"Makasih yang,?" ucap Naya tersenyum pada Dimas.


"Sama-sama sayang, sengaja aku ajak Bunda kesini agar terbebas dari ocehan Mama," ujar Dimas sembari memandangi air kolam, ingin rasanya nyebur, berenang ke tengah.


Naya menoleh dengan senyuman manisnya, bangga dengan suaminya yang selalu pengertian terhadap istrinya.


"Hem..," gumam Dimas tanpa menoleh.


"Berenang, sepertinya segar ya.?"


Em.., justru itu yang ada dalam pikiran 'ku, pengen dari tadi nyebur," sahut Dimas, membuka bajunya dan byuurrr.., Dimas nyebur hingga membuat airnya muncrat.


Melihat suaminya berenang, Naya pun perlahan turun dan menyusul suaminya berenang ke sebrang sana.


Naya dan Dimas asyik berenang sesekali berpelukan dan tertawa bersama, melepas segala penat yang selalu menghantui, baru kali ini Naya merasa lepas dari segala beban.


"Happy sayang,?" tanya Dimas menatap wajah istrinya yang basah kuyup.


"Happy," Naya mengangguk pelan bibirnya mengukirkan senyuman.


Dimas merangkul tubuh sang istri sangat erat, lalu mengajak berenang kembali kejar-kejaran, "Kejar Ayah yang."


"Nggak mau ah capek," Naya berenang dengan santai saja.


Dimas kembali menghampiri istrinya, "Istirahat yuk," Dimas mengusap wajahnya, mengibaskan rambutnya kebelakang, Naya bengong melihat suaminya yang terlihat sangat seksi dan tampan.


"Yang,?" panggil Dimas namun Naya tidak menjawab tetap menatap kearah dirinya tak berkedip.

__ADS_1


Dimas mengibaskan air ke wajah sang istri seraya berkata, "Sayang,? lihat apa sih," membuat Naya tersadar dari lamunannya.


"Em.., apa.?"


Lagi-lagi Dimas mengibaskan air kearah sang istri, "Melihat apa sih dan apa yang sedang di pikirkan, bengong aja, terpesona kah dengan suami 'mu ini.?"


Naya tersipu malu, "Ge'er," Naya menunduk dan menepi, "Bantu naik,?" dengan manjanya mengulurkan tanagn pada Dimas yang sudah duduk di bibir kolam.


Dimas menyambut tangan Naya lalu membantunya naik, "Wah beratnya badan istri aku nih.., oh iya ada baby yang lucu di sana makanya berat sekali."


Menatap wajah Naya yang basah Dimas bertanya, "Bunda beratkah dengan perut besar seperti ini,?" sembari mengelus erut Naya yang di balut pakaian basah.


Naya menoleh dan mengernyitkan keningnya, sembari memberi jawaban, "Keihatannya gimana,? Ayah pikir berat gak kira-kira," balik bertanya sambil menyedot minuman jus yang Bi Meri suguhkan.


Dimas menyunggingkan senyumnya, "Yang tahu gak.?"


"Apa.?"


Lihat kanan dan kiri, "Dengan pakaian basah seperti ini Bunda sangat seksi," pean Dimas setengah berbisik.


Sontak Naya memperhatikan tubuhnya dan segera menyilangkan tangannya agar menutupi dadanya.


"Percuma di tutupi juga, aku sudah puas melihatnya, sepertinya semakin mengembang saja," goda Dimas, membuat mata Naya melotot kerahnya, Dimas malah terkekeh.


"Bersih-bersih yuk nanti Bunda kedinginan," ajak Dimas melirik istrinya yang masih betah main air.


"Masih betah."


"Takutnya Bunda kedinginan, dan bukan cuma Bundanya yang sakit nanti otomatis baby kita juga," Dimas berdiri dan mengangkat tubuh sang istri di bawanya ke dalam kamar, tidak lupa membawa bujunya yang tadi ia buka, Naya melingkarkan tangan di pundak sang suami.


"Bi tolong di pel bekas kaki saya," pinta Dimas ketika melintasi asistennya di dapur, takut basah lantai bekasnya berjalan.


"Baik Tuan," Bi Meri mengangguk dan mengambil alat-alat pel.


Sesampainya di kamar langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, sebeum mandi di bawah sower mereka berendam lebih dahulu di bath tub dengan air aroma terafi.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Dimas sambil menyelam pasti meminum air pula, di mana ada kesempatan di situ pula ia lakukan.


Dengan tatapan yang penuh kabut gairah, Dimas mencumbu istrinya, menyatukan b**** kedua nya, sesekali naik ke bukit-bukit yang indah dan bermain di sana, kemudian lama-lama turun ke lembah madu yang selalu jadi dambaan setiap peminatnya.


Tidak membuang waktu, segera menyatukan miliknya, Naya meringis, dan memelas, "Jangan buru-buru, pelan aja," sembari mendongak tangannya melingkar kuat di leher sang suami.


Dimas mengangguk dan mengurangi kecepatannya, agar sang istri benar-benar merasa nyaman, peluh yang keluar dari pori-pori kulit, bercampur dengan air di bath tub.


Sore-sore Dimas sudah rapi karena ada pertemuan di sebuah tempat, yang mengharuskan ia pergi bersama Endro juga Dery, dokter Aldo gak bisa ikut karana ada suatu keperluan yang lebih penting lagi dan nanti bila urusannya selesai akan menyusul.


,,,,

__ADS_1


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏


__ADS_2