Bukan Mauku

Bukan Mauku
Meminta restu


__ADS_3

"Iya, tapi.., gak ada yang angkat nih telepon dari aku, mungkin pada sibuk kali," sambil memutus sambungan teleponnya.


Semua sudah berkumpul di ruang tengah duduk melingkar untuk makan malam bersama, kecuali Bu Hesa yang tidak berkumpul dan makan di dalam kamar, di anterin Maria dan di suapi.


Sambil makan diselangi tawa dan canda yang renyah, namun Naya tampak murung, senyum pun samar bila mendengar ada yang lucu, dia selesai duluan, melihat dapur yang berantakan Naya mencoba membereskannya sebelum naik ke kamar, anak-anak kebetulan ada yang mengasuh di atas.


Naya asik dengan lamunannya sambil beres-beres dapur, dalam pikirannya terbesit semua omongan Bu Hesa tadi siang terngiang jelas di telinga.


Di mana Bu Hesa mengutarakan semua isi hatinya, bahwa dia tak pernah suka atau pun merestui putra nya menikah dengan dirinya, sungguh membuat luka dalam hatinya, pedih, perih namun tak berdarah, tanpa terasa ada buliran di sudut matanya yang langsung ia seka.


"Hi.., sedang apa,? sendiri saja nih,?" suara seseorang dari belakang Naya tersadar dari lamunannya dan membuat tubuh nya memutar menoleh ke sumber suara.


"Oh, aku kira siapa,?" gumam Naya tersenyum getir.


"Ya saya, Kamal, ngomong-ngomong kenal di mana sama Abang,?" tanya Kamal penasaran.


"Hah..?"


"Kau kenal di mana sama Abang,?" Kamal mengulangi pertanyaannya sebab Naya pura-pura tak mendengar.


"Oh, kenal di handphone," Naya fokus mencuci tangannya.


"Di handphone, em.., LDR mulanya ya?"


"Hem..," gumam Naya.


"Mal, Mama suka sama Kanaya, orang nya lembut, baik, ramah, sopan, kalau saja Naya belum bersuami akan Mama jodohkan sama kamu," ujar Tante Liana sambil tertawa.


Kamal terbatuk-batuk, mendengar ucapan Mamanya, uhuk..,uhuk..,uhuk, "Mama, bercanda kelewatan, Kamal mana mau di jodohkan sama Mama, emangnya Kamal ga bisa nyari apa,?" Kamal menggeleng.


Naya hanya tersenyum ingin naik ke kamar namun dia tahan sesaat.


"Iya kan Mama cuman, kalau, seandainya, seumpama, kan gitu," elak Tante Liana.


Kamal menoleh Naya, "Sorry ya, Mama memang suka bercanda, jangan di dengerin ya,?" sambil tersenyum.


"Iya," sahut Naya," oya aku permisi dulu ke atas," Naya mengangguk dalam, kemudian bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Kini Naya duduk di tepi tempat tidur, melihat buah hatinya bermain bersama anak-anak lain, "Kakak, sudah makannya,?" tanya seseorang setelah melihat Naya berada di situ.

__ADS_1


Senyum Naya samar seraya berkata, "Sudah, apa kalian sudah makan juga,?" Naya menatap anak gadis yang mungkin berusia empat belas tahunan.


"Kami sudah Kak tadi Sore," sahutnya.


"Em..,baguslah, baby apa kau happy,? lama nih belum mimi, gak haus kah hem," menatap kedua buah hatinya yang begitu anteng.


Baby Arif meronta minta di gendong sama sang Bunda dan matanya mulai lelah, mungkin dia capek, lantas Naya membaringkan baby Arif dan menyiapkan susu formula, akhir-akhir ini sudah mulai jarang minum asi, terbiasa dari botol.


Baby Kayla pun sudah mulai uring-uringan, Naya pun menyiapkan botol untuknya, "Sayang, maaf ya baby twins nya ngantuk, mau bobo, apa kalian mau bobo di sini juga hem,?" menoleh anak yang masih bermain.


Mereka menggeleng, dan membereskan mainan, lalu mereka semua keluar dari kamar tersebut.


Setelah, buah hatinya tertidur Naya merenung di balkon, menghirup udara malam, pandangannya jauh menatap langit yang begitu luas terbentang, di hiasi bintang yang terlihat dari kejauhan.


"Dapat kah hati 'ku seluas langit,? namun aku manusia biasa ya Allah..,yang dihiasi napsu dan amarah, sudah 'ku duga dari awal, kalau orang tua suamiku khususnya Ibu gak merestui kami berdua bersatu, namun bukan kah ini sudah jalan dan takdir mu, kami bersatu sampai detik ini sehingga menghadirkan keturunan dari buah kasih kami, jaga dan lindungi rumah tangga 'ku ya Allah, aku pasrahkan padamu," Naya mendongak menahan air bening keluar yang mengalir di pipinya.


"Sebelum bertemu dan menikah pun, begitu banyak halang rintang serta jalan yang berliku, menghalangi niat kami, haruskah sekarang pun rumah tangga 'ku penuh liku,?" gumam Naya kembali.


Helaan napas yang dalam lalu di hembuskan dengan berat untuk melepas segala kegundahan dan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.


"Sayang, gimana pegawai mu sudah dapat di hubungi belum,? suara Dimas dari belakang Naya, Dimas masuk kamar yang tidak menemukan sang istri, cuma yang ada hanya baby yang tengah tidur nyenyak di kasur, kemudian mencari ke balkon barulah mendapati sang istri tengah berdiri dengan tangan memegangi pagar balkon.


"Apa katanya,?" Dimas berdiri dan bersandar pinggir balkon.


"Ya begitu, Lisa di tangkap, harusnya kita segera pulang yang, tapi Mama-!"


"Sabar sayang, kan besok acara kita, lagian ya seperti yang Bunda bilang, Mama kan sakit, masa kita mau pulang,?"


"Tapi kan Mama sudah membaik yang.., gak apa lah kita tinggalkan, lagian kan Ayah juga mau kerja, lagian kan bukannya mau acara peresmian klinik,?" Naya menatap sendu sang suami.


Dimas menatap istrinya lekat-lekat, dia tahu ketidak nyamanan sang istri bila lebih lama tinggal di sana, lagi pula banyak hal yang membuat mereka harus segera kembali, "Ok, besok sore kita," merangkul sang istri.


Ucapan Dimas barusan membuat Naya tersenyum merona, akhirnya Dimas memenuhi permintaannya, "Makasih yang,?" berhambur kepelukannya Dimas.


Tak ayal Dimas menyambut pelukan sang istri, dan mengusap punggung nya dengan lembut, "Ayah sayang Bunda," sembari mengecup pucuk kepala Naya.


"Aku juga," lirih Naya.


"Kenapa menangis tadi,?" tanya Dimas mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Kapan.?"


"Tadi, waktu Ayah baru datang, Bunda mengusap air mata," ucap Dimas sangat lirih.


"Oh tadi, gak ah cuma kelilipan mata saja," elak Naya menyembunyikan yang sebenarnya.


"Sejak kapan istri Ayah pandai bohong hem,?" lanjut Dimas tidak percaya begitu saja.


"Siapa yang bohong,? gak ada," Naya tetap mengelak padahal matanya mulai berkaca-kaca, pertanyaan Dimas seolah menyiram luka yang masih membutuhkan penyebuhan.


"Berceritalah, kalau tidak bohong," desak Dimas, Naya menelan saliva nya dan bibirnya pun bergetar nahan tangis yang ingin membeludak saat itu juga.


"Kok Diam sayang, ceritalah, sebelum bayi kita terbangun hem,?" timpal Dimas kembali.


Rasa sesak semakin memenuhi ruang dada, beribu kata ingin rasanya dia keluarkan sebagai ungkapan perasaannya, namun bingung harus memulai dari mana,? kata demi kata yang ingin dia lontarkan tersekat di tenggorokan.


Naya mendongak dengan mata sudah dipenuhi airmata hingga englihatannya berkaca-kaca, dan Akhirnya dinding penghalang ambruk juga dan air mata membanjiri tanpa mampu di bendung lagi.


"Yang,?" Naya kembali membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Dimas terus mengelus punggung sang istri dengan sangat lembut.


Lama-lama, Naya bercerita tantang apa yang dia alami tadi siang dan apa saja yang dia dengar dari sang Ibu mertua, dan masalah intinya.., Ibunda sang suami tidak suka dan tidak merestui pernikahan Naya dengan putranya, kata-kata itu sangat menyakitkan hati dan membuat luka yang cukup mendalam.


Naya menangis tersedu di dada suaminya, sehingga menimbulkan isakan yang hebat, dan Dimas pun terkejut mendengar cerita sang istri tentang Ibundanya, ternyata perlakuan sang Ibu pada istrinya lebih dari yang dia tahu.


Dimas tak tega mendengar perkataan Naya, dan tangis Naya membuat hatinya mencelos, sedih, matanya tak mampu menahan buliran air mata yang menggenang, dan akhirnya Dimas menangis juga.


"Maafkan aku sayang? jika membuat kau terluka, tapi apa dan bagai mana pun tak akan merubah segalanya, kita berdua yang jalani, bukan orang lain, teruslah bersama 'ku, Bunda taukan kalau Ayah gak akan pernah sanggup hidup tanpa Bunda," sambil terisak tak sanggup lagi menahan rasa sedih yang kini menyelimuti hatinya.


"Aku gak tau apa aku bisa membuat Mama menerimaku, meminta restunya,?" lirih Naya kembali.


"Sabar sayang, yakinlah satu saat nanti Mama akan menerima Bunda dan menyayangi Bunda," timpal Dimas mengusap punggung sang istri.


Tangis Naya berangsur reda dan hanya meninggalkan isakan dalam pelukan sang suaminya, keadaan hening yang terdengar isakan bekas tangisan Naya dan Dimas.


,,,,


Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.

__ADS_1


NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏


__ADS_2