
Bi Meri tak bisa berkata-kata hanya mengangguk sembari mengusap air mata, Rita bocah kecil yang belum mengerti apa-apa cuma bengong ngelihatin Ibunya dan Naya berpelukan sambil menangisi perpisahan.
Dimas beranjak dari duduknya, memegangi pundak Naya dan membantu berdiri, "Yuk sayang, kita berangkat sekarang," Dimas menggandeng Naya keluar rumah menuju mobil, di buntuti oleh pak Mad dan istri.
Dimas membuka pintu depan, Naya duduk di sebelah kemudi, Dimas mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi, sebelum menyalakan mesin Dimas melihat kearah pak Mad dan istri yang menggendong Rita.
"Saya pamit dulu Pak,? Bi.., sampai jumpa lagi," Dimas mengangguk.
"Iya pak dokter, hati-hati di jalan,?" balas pak Mad membungkuk hormat.
Naya pun memandangi kedua orang tersebut, "Bi, aku pergi ya terimakasih atas semuanya, Rita tante pulang dulu ya,? ntar Rita nyusul ya ke rumah tante," Naya mengalihkan pandangan pada Rita yang bengong aja, Naya mengusap pipinya yang basah dengan air mata.
"Sama-sama Bu, hati-hati dan sehat selalu," ucap bi Meri mengangguk.
Naya melambaikan tangan pada bi Meri dan Rita, Dimas pun memutar kemudi melajukan mobilnya, "Bismillah.., akhirnya kita pulang juga," Ucap Dimas sambil mengemudi.
Pandangan Naya keluar dan wajahnya nongol di jendela, melihat jalanan yang sudah di lalui, "Katanya pengen pulang..,? tapi kok sedih sih, gak mau pulang apa,?" tanya Dimas sembari menoleh sesaat.
Naya melirik, "Nggak yang, sedih aja berpisah sama mereka," pandangannya kembali keluar.
"Kalau Tuhan mengijinkan kita semua pasti akan bertemu kok yang, jangan sedih ah," tangan kiri Dimas mengusap kepala Naya, Naya pun menoleh memberi senyumnya.
"Gitu dong senyum, kan cantik, kesayangan ayah," Dimas memfokuskan lagi matanya ke depan, rona bahagia terpancar dari wajahnya, Naya hanya menatap kearah suaminya dengan seutas senyuman tipis di bibirnya.
Setengah dari perjalanan Naya tertidur, Dimas melirik istrinya yang tidur pulas, dengan senyuman tipisnya, Kerena merasa lelah Dimas menepikan mobilnya, di pinggir jalan, karena lelah Dimas memposisikan kepalanya ke belakang jok, dan memejamkan matanya.
Naya terbangun lirik sana lirik sini, masih dalam mobil, dan suaminya pun tertidur begitu pulas, Naya menggosok matanya.
Dia membuka sebuah kantong berisi buah, "Lapar," batin Naya.
Dimas bangun, menoleh Naya yang tengah makan buah Apple, Naya pun menoleh sambil tersenyum, "Udah bangun,? ini minum," Naya memberikan air mineral.
Langsung di sambut oleh Dimas lantas meneguknya, sampai setengahnya, "Gimana kalau kita cari makan dulu,? pasti lapar kan," Dimas memegang kemudi.
"Lapar sih, tapi.., sayang baru bangun, jadi nanti aja cari makannya," Naya menyuapi buah Apple yang sama dengan yang Naya gigit.
Dimas menggigit dan mengunyah nya, Naya memperhatikan jalan sekitar, "Kok ada yang aneh, rasanya waktu itu gak lewat sini deh yang."
Dimas celingukan, "Ah sama kok yang, jalan ini juga," dengan santainya.
"Bukan yang, aku ingat kok," Naya kekeh.
"Sayang.., jalan kan bisa lewat mana aja, yang penting sampai tujuan dengan selamat, jangan bawel ah," Dimas menyeringai.
__ADS_1
Naya mengambil ponsel dari sakunya, lalu membuka google maps mencari alamat, "Sayang.., ini bener bukan kearah alamat kita, sudah terlewat, bukan ke arah sini jalannya," Naya tetap kekeh dengan pendapatnya.
Dimas melirik sesaat dari pandangan ke depannya, "Benar ini jalannya sayang, tenang aja gak bakalan tersesat kok jangan takut," ujar Dimas tenang.
"Tapi yang.., lihat nih deh, alamat kita sudah ke lewat, perhatikan dong," Naya masih kekeh dengan pendiriannya.
Dimas hanya melirik sekilas, kemudian fokus lagi ke jalanan di depan, mobilnya terus melaju melintasi kuda-kuda besi lainnya yang semakin lama semakin ramai, karena semakin memasuki kota.
Hati Naya menjadi dongkol karena ia yakin ini bukan jalan arah pulang ke rumahnya, sementara Dimas seolah tak perduli, mobil berhenti tepat depan resto, Dimas turun dan mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk Naya.
Naya malah terdiam bukannya turun, bengong, malas juga buat turun, sedangkan hari sudah mulai petang, bahkan bentar lagi magrib, namun rumah semakin menjauh jadi heran sendiri.
"Sayang ayuk kita makan dulu,?" Dimas menatap istrinya yang termangu di tempat.
Naya melirik, "Malas ah, turunnya juga, pengen cepat pulang, segera sampai rumah," merengek-rengek.
"Sayang.., kita belum makan siang, dan sebentar lagi magrib nih, kita sholat magrib di sekitar sini dulu," Dimas melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dengan malas Naya turun, Dimas mengunci pintu mobil, lalu menggendong istrinya di bawa ke dalam resto.
Dimas mencari lokasi yang nyaman dekat jendela, tak lama pelayan menghampiri dan Dimas memesan nasi putih dan sotong pangkong, dan ayam goreng kampung.
"Mau pesan apa yang,?" Dimas melirik istrinya yang banyak diam.
"Ok, dan minumnya.., dua jus jeruk," ucap Dimas pada pelayan tersebut.
Dimas mengambil air putih dan meminumnya, Naya tak berkata apa pun matanya ke luar jendela, Dimas memandanginya dengan senyuman, di wajah Naya tersirat jelas ada kegundahan dari cara menghela napas aja terdengar begitu berat.
"Sabar sayang, bentar lagi kita akan sampai tujuan, semoga kau senang, menikmati suasana di sana," Batin Dimas.
Naya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar, menoleh suaminya yang tengah senyum-senyum memandanginya.
Naya memberi isyarat dengan matanya, kenapa Dimas memandanginya terus dan senyum-senyum segala apa yang lucu, Naya menaikan pundaknya.
Naya celingukan melihat pengunjung lain, yang pada asik makan, "Kenapa sih senyum-senyum aja,? apa ada yang lucu gitu, dan apa yang lucunya, aneh," Naya menggeleng pelan.
Dimas menggeleng juga sembari masih dengan senyuman yang terus menghiasi bibir merahnya, "Nggak," jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja.
Akhirnya pesanan mereka datang juga, pelayan menyimpan pesanan di meja depan Dimas dan Naya. keduanya menatapi makanan yang siap santap.
"Silahkan selamat menikmati,?" pelayan mempersilahkan.
"Terimakasih," Dimas mengangguk, "Oya, kalau masjid atau mushola di mana ya,? apa ada yang dekat di sekitar sini,?" tanya Dimas pada pelayan tersebut.
__ADS_1
"Oh ada di sebelah sana tuan," pelayan menunjuk ke suatu arah yang tak jauh dari resto yang kini Dimas dan Naya duduki.
Dimas juga Naya melihat yang orang itu tunjukkan, "Makasih banyak mbak,?" ucap Dimas.
"Ya sama-sama, mari.?" pelayan membalikkan badan meninggalkan meja Dimas.
"Kali ini, aku buat sayang bebas dari tugas."
Naya terdiam sembari mencerna maksud dari ucapan Dimas barusan, tangannya meraih gelas jus jeruk kemudian di sedotnya.
Di awali dengan membaca basmalah, Dimas mengambil sotong di masukkan ke mulutnya sendiri, Naya memandangi dengan heran, "Tumben.., gak minta di suapi,?" dengan penuh tanda tanya.
"Kan Ayah sudah bilang kali ini sayang bebas dari tugas, karena kali ini Ayah mau makan sendiri aja," menyuapkan lagi ke mulutnya.
"Baguslah," Naya mulai mengambil ayam goreng, sup dan sambalnya tang ketinggalan.
Namun baru tiga suap Dimas sudah ngeluh, "Nggak enak, hambar, kenapa ya,?" Dimas meneguk air putih.
Naya memejamkan matanya sembari menghela napas panjang lalu memasukan sendok ke mulutnya, dan menyuapi suaminya makan seperti biasa. Dimas tersenyum istrinya mengerti dengan kode yang dia berikan.
"Hem.., enak, enak banget," Dimas lirih.
"Bilang aja mau di suapi,? gak perlu bilang hambar, gak enak lah, apalah," Naya menggeleng.
"Itu sayang ngerti aku kasih kode, pinter sekali istri aku, he..,he..,he..," Dimas terkekeh.
"Nggak lucu."
"Sayang kenapa sih kok sewot gitu,? marah kah sama Ayah, tapi Ayah salah apa ya,?" Dimas mengetuk-ngetuk telunjuk ke dagunya seolah-olah mengingat-ingat sesuatu.
Naya menggigit ayam goreng dengan lahap tak lantas menjawab pertanyaan Dimas, "Nggak sewot, biasa aja."
"Hem.., iya kah.?"
Naya menyuapi lagi Dimas sampai pesanan habis, selesai makan Dimas memanggil pelayan untuk membayar, lalu Dimas beranjak begitupun Naya berdiri setelah menghabiskan minumnya.
Kemudian mereka mendatangi masjid yang tadi pelayan tunjukkan, kebetulan tidak jauh dari sana dan sudah mulai terdengar yang membaca sholawat, menandakan sebentar lagi adzan magrib, Dimas dan Naya setelah mengambil air wudu mereka berada dalam barisan yang sudah di tentukan.
Mereka pun sholat berjamaah, dengan warga setempat, usai sholat Dimas mendekati sang istri dan duduk di sampingnya, berzikir bersama berdoa bersama pula, dan Akhirnya Dimas membawa Naya ke mobil kembali, hari sudah begitu gelap di hiasi hujan gerimis.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪
__ADS_1