Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sholat magrib


__ADS_3

Tak ada salahnya sebelum membaca lake terlebih dahulu guys..! tak ada salah nya juga saling menghargai karya orang lain, intinya saling mendukung.


Terimakasih reader ku yang masih sudi mampir di karya aku ini, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah yang maha esa.


******


Pada sore hari Naya mencoba ke dapur, melihat-lihat sekaligus mau masak buat makan malam, Dimas masih tertidur di kamarnya, tadinya kamar Dimas terletak di lantai dua mengingat sekarang punya istri yang kondisinya seperti Naya mau tidak mau harus pindah ke lantai bawah, dan untungnya di bawah ada kamar, yang fasilitasnya sama dengan milik Dimas yang di atas, jadi kamar tersebut mereka tempati sekarang.


Naya sudah berada di dapur, peralatannya sudah lumayan komplit lah kalau untuk sementara waktu, Naya memasak nasi di rice cooker Yong ma, kemudian memotong sayuran untuk menumis, dan lauknya ada tongkol, niatnya mau di bumbui aja biar sedap.


Yang lain masih pada istirahat abis sholat ashar, mereka masih tiduran di kamar atas, semua masakan sudah siap, kebetulan antara meja dan tempat masak amatlah dekat jadi Naya tak kesulitan untuk memindahkannya.


Ia balik ke kamar, Dimas nampak masih tertidur pulas, Naya berjalan masuk ke kamar mandi, "Halaah..,baju aku abis, yang aku bawa kemarin kotor semua," gumam Naya dengan sedikit berpikir. "Ya sudah ini ajalah, pakai minyak wangi ini." gumamnya lagi. habis mandi Naya keluar dari kamar mandi, duduk di tepi tempat tidur yang ukurannya king size itu.


"Yang..,bangun, bentar lagi magrib." lirih Naya pada Dimas yang tak tak sedikitpun beralih dari posisinya semula, setelah beberapa kali panggilan dari Naya Dimas baru mendengarnya, dia membuka mata perlahan dan mengucek kedua matanya, sesaat terdiam untuk mengumpulkan kesadaran, dia menoleh ke samping ada seorang wanita sedang menyisir rambutnya,


Dimas sedikit menarik bibir tersenyum, mendekati dengan membuka kedua tangan yang akan memeluk tubuh sang istri, namun Naya segera bersuara. "Jangan, aku dah wudhu yang, tuk sholat magrib, maaf.? bangun mandi sanah..! sholat bareng Bapak dan yang lainnya, setelah itu makan."


"Hem.." Dimas menggaruk kepalanya sendiri yang tak gatal, "Tadinya mau kangen-kangenan dulu barang sebentar yang.?" dengan wajah masam.


"Sayang.?" lirih Naya dengan tatapan lembutnya. "Masih banyak waktu kan.?"


"Apa yang.? maunya sekarang gimana.? masa gak boleh sih.?" gerutu Dimas mengibaskan selimut. dan turun dari tempat tidur, Naya menggeleng pelan. "Ya sudah, sekalian aja kamu tidur di kamar atas ajalah."


"Kenap.?" Dimas heran menghentikan langkah yang mau ke kamar mandi dengan handuk di pundak.


"Habis segitu aja sudah menggerutu sih.?" dengan sedikit manja. sebelum membuka pintu kamar mandi Dimas tersenyum dam membalikkan badan menghadap Naya, "Gak lah sayang mana mungkin aku mau tidur jauh dari kamu yang, lagian sayang juga belum tentu mau tidur jauh dari suami yang ganteng ini, ha..ha..ha.." Dimas terkekeh sendiri sembari melintasi pintu.


Naya pun tersenyum simpul, setelah menyiapkan baju buat suami, ia bersiap sholat magrib kebetulan sudah terdengar dari jauh suara adzan yang menandakan siang akan bergantian malam. di mana sebuah malam yang gelap menyuruh penghuni dunia ini beristirahat dari segala rutinitas keseharian, hening, agar manusia menikmati ketenangan.

__ADS_1


Dimas yang baru keluar kamar mandi, melihat sang istri bersiap sholat, setelah mengeringkan rambutnya, ia segera memakai pakaian yang sudah di sediakan sang istri, kemudian keluar kamar tuk mencari keberadaan sang mertua dan adik iparnya.


Dimas berjalan menaiki tangga mau ke kamar yang ia tinggali sebelumnya, di sana bapak mertua dan yang lain tengah bersiap-siap. "Ayok Bang sholat bareng.?" ajak suami Lely mempersilahkan Dimas berdiri di sampingnya. mereka berempat melaksanakan sholat magrib bersama.


Selesai sholat Dimas turun ke kamarnya, namun kamar kosong, "Yang..? di mana.?" Dimas membuka kamar mandi kosong juga, lantas ia keluar kamar menuju dapur, mencari keberadaan sang istri.


Ternyata benar saja dia sedang mencucu peralatan dapur bekas memasak tadi, Dimas melihat meja sudah tersedia beberapa menu walaupun hanya menu sederhana. "Yang kapan kau masak.?" Dimas memecah keheningan, membuyarkan sebuah lamunan Naya semabari mencuci. "Hah.?" mulutnya menganga.


"A-apa yang tadi.?" tanya Naya melirik suaminya yang tengah duduk di kursi meja makan, yang sebelumnya memindahkan tempat nasi ke meja makan.


"Hem.., melamunkah.? memikirkan apa sih sayang.?" Dimas malah bertanya. melihat ekspresi Naya yang nampak memikirkan sesuatu.


"N-nggak, memikirkan apa pun," Naya gugup. dan melangkah pelan ke arah sang suami dan duduk di sampingnya,


"Hati-hati yang.? jangan sampai terjatuh," Dimas begitu khawatir pada istrinya itu.


"Nggak apa-apa yang, jatuh mah sudah biasa." Naya mengibaskan tangan depan wajahnya.


"Ya lupa ingatan kali..?" Naya menunduk.


"Apa lagi sayang.? sedang memikirkan apa sih hem.?" Dimas mengangkat dagu Naya dengan jarinya, menjadi saling pandang.


"Yang, kok orang tua kamu belum datang kesini sih.?" tanya Naya penasaran dan itu yang menggaljal pikirannya saat ini.


Dimas terdiam tuk sesaat. "Yang bapak lagi ada urusan di luar kita kamu tau kan.? dan Umi capek habis dari ladang, adik-adik sibuk bah, kau paham sayang.?"


Naya mengangguk pelan, mencoba mengerti dengan apa yang Dimas katakan meski ia tahu mungkin itu hanya sebuah alasan saja, tapi Biarlah, Naya tak mau memikirkan nya lagi.


"Mungkin besok mereka ke sini untuk bertemu menantu dan besannya, kalau beliau tak datang, biar aku yang mengajak Bapak mertuaku ke rumah Mamak, dan kamu tunggu saja di rumah ini, ok.?" Dimas menyentuh lembut punggung lengan sang istri.

__ADS_1


Pak Nanang dan kedua putranya sudah turun dan menghampiri meja makan, "Wah sudah siap nih.? suami Lely langsung duduk mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi dan sayur, tahu dan tempe.


"Ayok pak makan,?" suruh Dimas pada mertuanya yang masih berdiri dekat kursi, mengamati hidangan yang ada si meja.


"Ini yang tadi di belanjakan.?" tanya pak Nanang sambil duduk mengambil piring.


"Iya pak, gak suka.?" tanya suami Lely, "Kalu gak suka mau di masakin mie.?"


"Nggak, ini aja sudah cukup." jawab pak Nanang, sembari menyendokkan nasi ke piringnya di tambah tongkol dan tahu.


"Sayang kok diam saja, makan,?" melirik Naya yang cuma bengong, bukannya makan.


"I- iya, makan aja duluan," sahut Naya.


"Yang kita satu piring aja makanmya ya.? itupun kalau menunya yang kita makan sama." Dimas menoleh sang istri, sementara Naya mengerutkan dahinya, "Boleh lah."


"Kecuali selera kita berbeda." tambah Dimas menarik senyumnya. tak ada yang membuka suara selama makan berlangsung, hanya suara dentingan sendok ke piring yang terdengar nyaring.


Selesai makan bersama, mereka berkumpul di ruang tengah, pak Nanang menanyakan keberadaan besannya, dan Jawaban Dimas sama dengan yang tadi ia ceritakan pada sang istri.


"Kalau besok mereka tak ada datang, aku akan membawa Bapak ke sana tenang aja." ucap Dimas meyakinkan mertuanya.


Pak Nanang mengangguk, sembarinmengisap sebatang rokok di jarinya.


"Bang kayanya saya betah kalau tinggal di sini.? bersama istri tentunya." ujar suami Lely menyeringai.


"Tinggal aja di sini tak ada yang larang kok, bagus malah ada yang menemani kakakmu kan.?" Dimas dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tapi bingung sih, mau kerja apa di sini.?" tambahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya sih banyak cuman..butuh proses, begitipun aku jika tinggal di tempat kalian." Dimas menaikan alisnya dan semua diam hanya suara dari TV saja yang terdengar.


,,,,


__ADS_2