Bukan Mauku

Bukan Mauku
Ngidam Mie ayam.


__ADS_3

Mandor apa,? kemarin ada yang datang Dimas bilang mandor, siapa dia kebetulan aku gak memperhatikannya, tapi.., mungkin karena dia tau bahwa Naya istri Dimas aja kali.


Kanaya mengambil lembaran kertas untuk menggambar, lalu melihat yang jualan pentol, "Iih.., kayanya enak tuh makan pentol," Naya menelan air liurnya sendiri.


Kemudian Naya keluar dari konter ingin memanggil abang yang jualan pentol.di sebrang jalan, mau nyebrang gak berani takut jatuh, akhirnya teriak.


"Abang.., abang yang jualan pentol, kemari,?" pekik Naya sambil melambaikan tangannya, kebetulan jalan lengan jadi sekali teriak aja si abang langsung nengok dan mendorong gerobaknya ke depan konter.


Si abang pun sampai depan Kanaya konter, di sambut senyuman ramah Naya, si abang mengangguk ramah juga.


"Berapa bang pentol nya,?" tanya Naya yang berdiri depan pintu.


"Murah Bu cuma Rp 10/porsi."


"Oh, satu porsi aja ya bang, yang pedas dan pake kantong aja, tolong di antar ke dalam," pinta Naya.


"Baik Bu"


Naya masuk dan duduk di sofa meneruskan menggambar yang tadi ia tinggal.


Tidak butuh waktu yang lama untuk membuatkan satu porsi pentol pesanan Naya, si abang membawakannya ke dalam, "Permisi Bu, ini pentol nya sudah siap."


"Oya bang, makasih dan ini bayarannya."


"Sama-sama Bu, semoga cocok dengan lidah Ibunya, semoga jadi langganan," setelah itu si abang pun pergi mendorong gerobaknya.


Naya memakan pentol nya dengan nikmat, setelah di Kalimantan baru akhir-akhir ini Naya bebas jajan, apa yang ia mau ia beli dan memakan tanpa ragu, sedangkan kalau ada Dimas banyak larangan nya, jangan makan ini gak boleh makan itu, nanti begini nanti begitu, terlalu posesif.


Eskrim dimakan, apapun yang dia lihat dia mau, beli makan, dari pada nanti baby nya ileran kan mending laksanakan aja.


Cuman ada satu yang belum terlaksana, ya itu ngidam makan mie ayam gerobak dan makannya malam bersama suami, belum terlaksana dan kebetulan belum ngomong,


Sehabis sholat dzuhur, Naya menerima pesan dari sang suami yang isinya.


^^^^^^"Sayang, aku gak pulang dulu ya,? aku mau langsung ke perkebunan yang sudah lama tidak di cek, pulang nya nanti malam."^^^^^^


^^^"Oh iya, hati-hati aja yang, jangan lupa makan siang dulu ya.?"^^^


^^^"Iya bunda, bunda juga, oya nanti sore dokter Aldo mau datang, jadwal terapi kan, oke jaga dairi baik-baik, hati-hati juga sayang 'ku."^^^


Naya mesem-mesem sendiri, lantas melipat mukena dan sajadah menyimpan di tempat semula, kemudian ada beberapa orang yang datang untuk membeli pulsa data, Naya pun melayani mereka dengan baik.


"Uuh.., lama juga gak tidur siang, mau di tutup aja ah, ngantuk," huaam Naya menguap.


"Assalamu'alaikum.., Bibi bawakan makan siang nih Bu."


Naya menoleh ke sumber suara, ternyata bi Taty yang datang dengan membawa rantang untuknya, "Wa'alaikum salam.., aku mau tutup Bi, mau pulang."

__ADS_1


"Loh tumben, biasanya sore tutupnya,?" tanya Bibi merasa heran.


"Aku ngantuk Bi pengen tidur, kalau Bibi mau nungguin boleh hi..,hi..,hi.., bercanda Bi, pulang ah lagian masih banyak tugas di rumah juga, gimana tugas yang aku kasih sudah selesai.?"


"Sudah Bu, ruang kerja Ibu sudah berpindah dan kamar yang di bawah juga sudah Bibi bersihkan."


"Bagus lah makasih ya Bi, semoga aja jadi mereka datang, agar Bibi tidak capek sendiri," ucap Naya sambil mengunci pintu.


"Kalau ada pembeli gimana Bu, sayang atuh pelanggan.?"


"Tak apa Bi, mungkin rejeki yang lain, lagian kalau rejeki aku, kan bisa lewat online, yuk jalan, kasian Bibi kesini bawa makan, padahal 'ku sudah jajan pentol, eskrim, jadi masih kenyang," sambil jalan pelan mengobrol.


"Jangan jajan terlalu sembarangan Bu.., pesan Tuan juga, takut gak steril dll." jelas Bibi.


"Hah.., iya Bi"


Naya memutar bola matanya seraya berkata di batinnya. "Sama aja."


Sesampainya di rumah, Naya berjalan dengan gontai.


"Ibu gak mau makan dulu,? tanya Bibi.


"Egak ah Bi, kok sepi kemana orang-orang,? mereka Mama dan Bapak."


"Loh.., Nyonya dan tuan kan ke rumah nya dulu mau lihat-lihat katanya, kan tadi pagi bukannya bilang.?"


"Mau, Bibi bikinkan jus buah atau susu hangat.?"


"Em.., jus aja, bawa kan ke kamar ya,?" sebelum menaiki tangga, Naya menoleh lagi, "Nanti sore dokter Aldo mau datang untuk terapi, aku di temani siapa ya."


"Tuan kemana.?"


"Ke perkebunan, pulang nya malam, ya udah, aku mau tidur siang dulu ngantuk." sambil menaiki anak tangga.


Di ujung tangga lantai atas aya mengedarkan pandangannya ke tempat yang kemarin ada mesin dan peralatannya, sekarang kosong seperti semula hanya ada satu set sofa untuk bersantai, karena semuanya di pindahkan ke ruang sebelah.


Mau ngecek ke ruang kerja, mata terasa sepet akhirnya langsung masuk kamar dengan lelahnya.


Kini Naya sudah berada di dalam kamar langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit sembari mengelus perutnya yang sudah ketara berisi, tersenyum dan mengucap syukur karena telah menerima titipan yang amat istimewa,


Kemudian tertidur sangat lelap, beberapa kali ponsel berbunyi pun tak di hiraukan nya.


****


Dimas menatap ponselnya beberapa kali panggilan terabaikan, "Tumben gak di angkat, kemana dia,?" mengerutkan dahinya.


Mencoba lagi menelpon namun hasilnya tetap sama, hati mulai cemas takut ke napa-napa terjadi sam istrinya, kemudian Dimas menelpon ke nomor Bibi di rumah agar mengecek keberadaan Naya di konternya.

__ADS_1


"Bi, tolong lihat Ibu di konter takut ke napa-napa, saya sudah berkali-kali telpon gak di angkat,?"


"Tuan, Ibu sudah di rumah, tadi bilangnya pengen tidur, mungkin sedang tidur di kamar makanya telpon tuan gak di angkat," suara Bibi dari sebrang.


"Sudah di rumah,? tumben konter sudah di tutup, sama siapa pulangnya,?" tanya Dimas penasaran.


"Sama Bibi, tadinya Bibi mengantarkan makan siang seperti biasa, tapi.., ibu pengen pulang dan menutup konter," sambung Bibi lagi.


"Oh, ya udah kalau ad adi rumah istirahat sih, saya takut masih di konter dan.., ya sudah Bi makasih.?"


Dimas menyimpan ponsel ke dalam sakunya lalu berbincang dengan rekan dan anak buahnya.


Sore-sore Dimas masih di lapangan, meski hatinya gelisah, mengingat yang di rumah, sekarang ini sedang terapi mungkin tidak ada yang mendampingi, terpaksa membiarkan istrinya terapi tanpa kehadiran ia di sisinya.


"Wah sepertinya kau gak fokus nih, memikirkan yang di rumah ya,?" tanya seorang kawan pada Dimas yang sedikit bengong.


"Ah nggak juga"


"Jangan bohong kawan, kau pasti memikirkan istrimu di rumah kan, ngaku kawan,? apa perlu saya menawarkan seseorang untuk penawarnya,?" menyeringai.


Dimas menatap tajam, "Apa maksud kau, coba kau ulang.?"


"Apa perlu saya tawarkan seseorang untuk penawarnya,? saya punya penawar yang bagus, cantik dan seksi mau gak,?" jelas orang yang tadi, yang lain hanya tersenyum samar.


"Oh.., kau maksud saya laki-laki kesepian,? saya ada istri di rumah bro," sedikit kesal.


Pria itu menyunggingkan bibirnya, "Itukan di rumah, bukan di luar, kalau mau saya akan kenalkan, gak bakalan nyesel malah pasti akan ketagihan, karena-!"


"Cukup, jangan kau teruskan lagi, saya tidak mau," jelas Dimas sambil menggeleng, rahangnya mengeras, ia mengerti dengan apa yang kawannya maksudkan.


"Santai kawan santai, saya kan cuman menawarkan, mau beli atau tidak terserah kau."


Dimas hanya mengibaskan tangan nya di udara sambil pergi menjauhi pria tersebut yang tersenyum sinis, dan sorot mata yang licik.


"Apa dia sudah gila atau mabuk apa, dia pikir saya laki-laki apa, jangan sekarang sudah punya istri, dari dulu juga saya gak pernah memakai yang gituan, dasar tuh orang," gerutu Dimas sambil berjalan ke toilet.


Hujan begitu deras mengguyur bumi, bagai air yang di tumpahkan saking derasnya, membuat Dimas yang sudah bersiap pulang harus di urungkan, dan kebetulan Dimas membawa motor yang jelas-jelas dia akan kehujanan.


Hatinya tambah gelisah, ingin segera pulang, wajah istrinya terus membayang saking kangennya, hanya bisa kirim pesan bahwa ia telat pulang di sebabkan hujan deras.


Naya membalas, meminta dirinya untuk segera pulang, kalau hujan sudah reda, lalu memberi sun jauh, gambar merindu, membuat Dimas tersenyum sendiri dan semakin rindu untuk pulang.


,,,,


Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,


Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat, bantu author dong..,!!

__ADS_1


__ADS_2