
Dimas tersenyum lebar "Makasih Der,? baiklah saya pulang lebih dulu, saya tunggu di penginapan," Dimas pulang dengan riang meskipun belum membawa pesanan dari Naya namun setidaknya ada harapan kalau Naya akan makan rujak malam ini juga.
Kini Dimas berjalan di koridor hotel menuju kamarnya, membuka pintu nampak Naya duduk di sofa menonton televisi, Naya menoleh suaminya yang berjalan dengan tangan kosong, Dimas membuka jaketnya dan menghampiri Naya di sofa.
Assalamu'alaikum.., sayang belum bobo,?" Dimas mengusap pucuk kepala Naya lembut, dan Naya melihat jam di ponselnya menunjukan pukul sepuluh tiga puluh menit.
"Wa'alaikum salam..."
"Yang, rujak nya nanti kawan Ayah nganterin ke sini, tunggu aja yang sabar ya,?" mengelus perut sang istri.
Naya terdiam enggan menjawab, ia menyandarkan kepala di bahu sofa.
Dimas speechless, kelu, tak bisa bicara selain ikut bersandar di samping Naya dan mencium pucuk kepala istrinya yang sedang ngambek, tak ada yang bersuara kecuali suara televisi.
Kemudian Dimas mencoba membujuk, "Jangan ngambek sayang, insya Allah nanti rujaknya datang."
Naya menoleh kebelakang kearah Dimas, "Emang siapa yang marah,? cuman kesel."
Dimas senyum tipis, "Itu sama aja sayang, Ayah sudah berusaha loh nyari.., namun hasilnya nihil, terus ketemu kawan katanya dia akan mencarikan buat Bunda, sabar ya.?"
"Sudah gak pengen," sahut Naya ketus, "Sekarang maunya mangga matang yang manis."
Dimas menggeleng, dan mengusap dadanya "Sabar..," batinnya, lalu mengambil ponsel untuk menelpon seseorang dan minta di carikan mangga matang sekalian.
"Iya nanti di bawakan sayang," menatap Naya yang fokus nonton televisi.
Sekitar empat puluh menit, Dery sudah berada depan pintu, Dery merogoh saku mengambil ponselnya untuk memberi tahu Dimas kalau dia sudah berada depan pintu kamar nya.
"Nah..,pesanan Bunda sudah datang, tunggu bentar yang," Dimas bergegas melangkah membuka pintu, dan benar saja Dery sudah berdiri depan pintu, dengan kantong kresek di tangan.
"Ini, saya bawakan rujak juga mangga yang matangnya," Dery memberikan kantong tersebut yang langsung Dimas ambil, dan memberikan selembar uang warna merah, namun Dery tolak.
__ADS_1
"Ambillah, untuk ganti uangmu tadi membeli nya," Dimas kekeh memberikan uang agar Dery ambil.
"Tidak usah, ambil saja, permisi,?" Dery membalikan badan melengos meninggalkan Dimas yang masih berdiri di tempat.
Setelah Dery menghilang Dimas menutup pintu, menghampiri Naya dan membuka isi kantong tersebut.
Melihat Dimas membawa kantong dan membuka isinya, Naya semakin di buat ngiler, menatap rujak tersebut.
"Rujaknya sudah siap Bunda di makan ya?" Dimas menyuapi Naya rujak, di sambut oleh mulut Naya, memakannya dengan sangat lahap.
"Em.., enak yang, pedasnya pas," ucap Naya sambil mengunyah.
Dimas tersenyum senang, "Baguslah, jadi sekarang gak ngambek lagi kan,?" menatap dengan lekat wajah Naya, dan Naya hanya menggeleng sembari tersenyum.
Dari rujak sampai buah manis habis dalam waktu itu juga, Naya kekenyangan sampai ketiduran di sofa, sehingga Dimas membopong ke tempat tidur.
Di sebuah kamar tengah duduk memeluk lutut seorang pria bertopi, ya dia adalah Dery, duduk termenung di bawah tempat tidur.
Menatapi sebuah poto seorang wanita berkaca mata, rambut sebahu, wajahnya persis wajah Naya, namun bertuliskan nama Yulia dan Dery, ya Yulia kekasih Dery yang sudah lama meninggal dan sampai detik ini Dery belum mendapatkan pengganti, pas menemukan seseorang yang kebetulan wajahnya mirip Yulia ternyata sudah di miliki orang.
"Kenapa kau meninggalkan 'ku begitu cepat Yulia? aku belum sempat memiliki 'mu, dan kini aku menemukan sosok seperti dirimu, namun dia miliknya orang, tidak mungkin aku miliki juga," gumam Dery, "Tuhan.., apa aku tidak pantas mencinta dan di cinta,?" teriak Dery sampai suaranya menggema ke seluruh ruangan, buliran air mata menggenang di sudut matanya.
"Dulu aku mencintai kekasih 'ku kau ambil lebih dulu, setelah itu kau temukan aku dengan wanita membuat aku jatuh cinta tapi dia istri orang, apa yang harus aku lakukan,?" Dery teriak-teriak sendiri mengusap kasar kepalanya nampak frustasi sekali.
Kicauan burung terdengar sangat merdu, embun bergenangan di dedaunan bening berkilauan bak permata yang bersinar.
Disebuah kamar masih terbaring, di balik selimut tebal, Dimas dan Naya masih betah di atas tempat tidur saling peluk satu sama lain.
Ini hari-hari terakhir mereka disini liburan di Batu payung, dan lusa akan meninggalkan tempat tersebut, kembali ke habitat yang sesungguhnya, mulai beraktifitas lagi dengan kesibukan harian.
Naya semakin menenggelamkan wajahnya di dada Dimas, yang bertelanjang dada, Dimas semakin mempererat pelukannya pada sang istri.
__ADS_1
"Hem..,esok lusa kita pulang, masa-masa berduaan akan segera berakhir," mengelus rambut Naya yang panjang.
"Di rumah juga bisa berduaan," Naya mendongak menatap wajah tampan Dimas.
"Bisa, tapi.., sepertinya hari-hari yang akan datang ayah akan lebih sibuk, kamu juga akan ada akegiatan meskipun jangan terlalu sibuk, jaga kesehatan, jaga baby kita," ujar Dimas membayangkan hari esok.
Naya termenung tidak berkata-kata sesaat, lalu Naya bangun sembari menarik selimut dan menjepitnya agar menutupi dada, "Aku gak mau kamu terlalu sibuk, apa lagi sampai gak ada waktu buat aku, gak mau," Naya menggeleng dan menampakkan wajah sedihnya.
Dimas pun duduk bersandar di samping Naya, "Sayang..., semuanya untuk kita juga," Dimas menarik pundak Naya agar mendekat ke dalam dekapannya.
"Pokonya gak mau, gak boleh, waktu istirahat ya istirahat, jangan sibuk lagi, gimana dengan duriku kalau ayah selalu sibuk, siapa yang akan memperhatikan aku, mengurus 'ku, baby kita gimana," Naya menangis, di dekapan Dimas.
Dimas termangu, sekarang istrinya lebih sensitif, lebih egois, kurang mau mengerti, mungkin karena perbawa hamil aja membuat mood nya naik turun dan terlalu sensitif.
"Iya-iya sayang, baik lah aku akan ikuti mau 'mu, tenang saja dan jangan sedih, sudah-sudah," mengusap punggung Naya dengan sangat lembut agar Naya lebih tenang.
Jari Dimas mengangkat dagu Naya agar mendongak supaya ia mudah menyentuh bibir ranum Naya yang membuat ia tergoda untuk selalu menyentuhnya.
Setelah menyeka air matanya, Dimas mendekatkan wajahnya pada wajah Naya sehingga napas Dimas menyapu kulit wajah Naya yang terasa hangat.
Bibir Dimas menyentuh dan mengisap bibir Naya, sementara tangan Dimas bermain-main di dua bukit kembar yang indah milik istrinya, semakin Naya menggeliat geli semakin nafsu Dimas meninggi dan memuncak kembali ke ubun-ubun.
Sehingga tidak bisa menahan lagi, Dimas langsung aja pasang kuda-kuda dan menancap gas, Naya yang sudah siap tinggal pasrah menerima landasan.
Dimas tersenyum melihat ekspresi Naya yang sekarang lebih agresif, membuat Dimas tambah geregetan untuk semakin melancarkan aksinya, Dimas duduk dan membawa Naya dalam dekapannya sembari terus memompa miliknya, dengan seperti ini lengannya semakin bebas untuk berekspektasi dengan liar.
Meski gairahnya tinggi, namun tetap hati-hati, walau pelan tapi pasti, menuju puncak kenikmatan yang selalu menjadi candu untuk keduanya, entah kenapa setelah ketahuan hamil, ke inginan untuk di sentuh atau berhubungan pun semakin meningkat di rasakan sang istri, beberapa jam kemudian barulah mengakhiri penyatuannya.
"Ah..,terimakasih sayang,?" cup.. Dimas mengecup kening, pipi Naya sebagai ucapan terimakasih yang sudah membuat ia puas dan bahagia di buatnya, Dimas semakin menarik selimut supaya menutupi dada Naya dan Naya menjepit diantara tangannya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!