
"Iya.., aku kasih," sahut Naya, sambil beranjak mendekati wastafel untuk mencuci piring, sepertinya saat ini bi Taty sedang berada di kamarnya, biarlah dia istirahat.
Dimas berdiri, " Aku ke atas dulu ya,? ikut yuk,?" menatap Naya dengan lembut.
Naya membalas tatapan Dimas, "Em.., duluan aja, nanti aku nyusul belakangan, mau beres-beres dulu."
"Ya sudah ayah mau mandi dulu," sambil berjalan lalu menaiki anak tangga, melangkah dengan cepat memasuki kamar dan ingin segera membersihkan diri, sudah lengket dan gerah, Dimas berendam sebentar.
Tak lama Dimas keluar dengan handuk terlilit di pinggang, duduk di tepi tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana, lama-lama rasa kantuk menyerang Dimas, dan akhirnya tidur pulas.
Naya masih di bawah dengan Bibi, "Bi aku ke atas dulu ya,? nanti kalau ada tamu kasih tau aku.?"
"Iya Bu, Ibu istirahat aja," sahut Bibi sambil menyapu.
Naya mendekati tangga, dan naik lift, mau ke kamarnya di atas, clek, kenop pintu di buka, Naya masuk ke dalam tak lupa menutup pintu, Ia mengerjapkan matanya, di tempat tidur di suguhkan dengan pemandangan yang ah,
"Sayang,?" Naya menggeleng pelan, melihat Dimas tengah tidur dengan hanya mengenakan handuk di pinggang, mungkin dia kecapean, lelah membuat dia ketiduran sangat nyenyak.
Naya duduk di samping Dimas yang tengah tidur, sembari memandangi wajah yang lelah, rasa kesalnya menyapa kembali ketika ingat foto itu lagi, Naya mengusap kasar air mata yang jatuh dari pipinya, kemudian ia pun membaringkan tubuhnya membelakangi Dimas.
Baru mau memejamkan mata, Naya membuka kembali matanya, dikarenakan merasakan tangan Dimas yang memeluknya dari belakang, Naya pindahkan tangan tersebut namun tangan Dimas kembali memeluknya.
Sementara Dimas tersenyum samar, terus saja memeluk Naya semakin erat, sampai suara adzan berkumandang, Naya tidak bisa tidur, ia terus gelisah, ia beranjak bangun dari tidurnya, melirik suaminya yang ikut bangun mengucek mata dengan tangan kanannya.
"Sampai lupa pake baju,? tidurnya, gimana kalau handuknya lepas,? gak berselimut juga lagi," Naya mengamati tubuh Dimas yang hanya mengenakan handuk.
Dimas menyeringai turut mengamati tubuhnya sendiri, "Seksi kan yang,?" memainkan mata menggoda sang istri.
"Ih.., pake baju sana,? sudah ashar juga," Naya turun dari tempat t!dur, begitupun Dimas mengenakan baju yang sudah Naya sediakan tadi.
Melihat Naya masuk kamar mandi, Dimas bertanya, "Sayang mau mandi kah.?"
"Tak, mau ambil air wudu aja," singkat.
"Oh," melanjutkan berpakaian, tak lama Naya keluar, Dimas masuk kamar mandi, Naya memakai mukena menggelar dua sejadah untuk Dimas dan dirinya.
Naya melirik kearah pintu di mana Dimas keluar dari sana, Dimas mengelap wajahnya dengan handuk kecil, lalu mengenakan sarungnya, kemudian mereka sholat bersama.
Di bawah.
Tok..,
Tok..,
Tok.., "Tuan.., ada tamu, sudah menunggu di bawah,?" teriak bi Taty dari balik pintu.
Setelah Naya mencium tangan Dimas, "iya Bi, suruh nunggu dulu sebentar," balas Naya, lalu Dimas mencium pucuk kepala Naya lembut, lalu bergegas membuka pintu.
"Siapa Bi,?" tanya Dimas setelah membuka pintu dan berhadapan dengan bi Taty.
"Sepertinya seorang dokter Tuan, katanya mau terapi gitu,?" Bibi sambil mengingat.
"Oh, ya sudah bilang tunggu sebentar,?" ucap Dimas dan menutup pintu kembali.
"Baik Tuan," sahut Bibi sambil membalikkan badan berjalan turun ke lantai dasar.
Dimas dan Naya membereskan peralatan sholatnya di simpan di atas lemari, "Sayang aku keluar duluan, nanti sayang aku jemput jadi tunggu aja di sini," Dimas berjalan melintasi pintu, sementara Naya hanya mengangguk.
Dimas melangkah cepat menuruni tangga, tuk menemui tamunya, ternyata benar yang tengah menunggu itu dokter Aldo spesialis tulang yang akan terapi Naya.
"Halo dok, apa kabar,?" Dimas mengulurkan tangannya.
Aldo berdiri dan menyambut tangan Dimas dengan ramah, "Halo juga, kabar baik."
__ADS_1
Dimas menunjuk kursi, "Silahkan duduk,?" Dimas duduk berhadapan dengan Aldo.
"Dimana istrimu,? bisa kita mulai sekarang,?" ucap Aldo menatap Dimas dengan tatapan tajam.
"Oh, ada di atas, mari kita ke sana, sekarang,?" Dimas beranjak dari duduknya, di ikuti oleh Aldo berjalan menaiki tangga.
Ketika melintasi bi Taty, Dimas menghentikan langkahnya, "Bi bawakan minum ke atas ya.?"
"Baik pak,? nanti Bibi bawakan," sahut Bibi mengangguk hormat.
Dimas melanjutkan langkahnya, bersama dokter Aldo, "Kabar keluarga kau bagai mana Al,?" tanya Dimas pada Aldo, seorang pria tampan berkaca mata, yang usianya tidak jauh di atas Dimas.
"Baik, tapi..,!" Aldo tidak meneruskan perkataannya.
"Kenapa,?" Dimas dengan tatapan penasaran.
Aldo menggeleng, "Tidak, tidak ada apa-apa," sambil tersenyum memperlihatkan barisan giginya.
Sampailah depan kamar, di sana berbaris sofa lengkap dengan mejanya, "Silahkan dok menunggu di situ, saya akan menjemput istri saya sebentar."
Dokter Aldo melihat-lihat suasana di sana sebuah ruangan dengan dinding kaca hingga menerawang pemandangan di luar sana kemudian dia duduk di sofa yang sudah di tunjukkan oleh Dimas.
Sementara Dimas masuk kedalam kamar dimana istrinya sudah menunggu, Naya tengah duduk di tepi tempat tidur menoleh kearah Dimas yang baru datang berjalan mendekati dirinya.
"Dokter Aldo kah yang datang,?" Naya memandangi wajah Dimas penuh tanda tanya.
"Iya sayang, yuk kita keluar, semoga usaha kita ini membuahkan hasil yang sangat baik," Dimas penuh harap.
"Aamiin ya Allah," jawab Naya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Tapi.., benih yang aku tanam, kok belum juga berbuah ya,?" Dimas mengulum senyumnya sambil menaikan alisnya.
Naya terdiam mencoba mencerna dengan apa yang di maksud suaminya tersebut.
Dengan wajah yang seketika mengguratkan kesedihan, "Apa sayang tidak ingin mempunyai anak kita,? hem.., kalau bunda tak mampu melahirkan secara normal,? kan bisa cesar sayang,?" Dimas menggenggam erat tangan Naya dan menciumnya dengan hangat.
Naya tak tega melihat ekspresi wajah Dimas dengan kata-kata yang merajuk, "Yang bukan tidak ingin, aku juga ingin mempunyai dua anak yang seperti kita impikan, satu laki-laki dan satu perempuan, dua anak yang lucu, tapi.., Allah kan lebih mengetahui yang.?"
Dengan menghela napas kasar, "Ya sudah, kita bahas lain kali saja, sekarang terapi dulu, dokter Aldo sudah menunggu di luar," Dimas membopong tubuh sang istri untuk menemui dokter spesialis, yang sudah menunggu sedari tadi.
Naya masih menangkap sinyal kesedihan di wajah tampannya sang suami, ia merangkul lehernya, Naya membisikkan sesuatu di telinganya, "Aku sangat menyayangi dirimu," membuat Dimas menarik bibirnya senyum.
Tibalah di luar, di mana dokter Aldo menunggu, Naya, Dimas turunkan dan duduk berdampingan dengan dirinya.
"Apa kabar Naya,? kabarmu baik kan,?" ucap Aldo tersenyum ramah pada Naya begitupun Naya mengangguk ramah pada Aldo dan menangkupkan kedua tangannya.
"Baik dok, tapi.., di bilang baik,? ya baik, kalau di bilang gak baik,? seperti itu lah dok," sahut Naya sambil melirik Dimas.
Aldo menggeleng dan senyum tipis, "Bisa aja," Aldo langsung memeriksakan kaki Naya yang lemah tersebut, dia pijat perlahan-lahan, begitupun dengan tangan Naya yang juga terasa berat untuk di gerakkan.
Sambil berjongkok Aldo memijat kaki dan tangan Naya, "Aku sarankan Bu Naya menghindari sayuran yang mengandung banyak air dan juga kacang-kacangan, kurang baik untuk kesehatan dirimu, seperti kacang-kacangan juga sebaiknya di kurangi ya,? dan mulailah diet sehat, perbanyak makan buah-buahan seperti alpukat, pisang, fir, Apple, dan mangga,"
Dimas bersandar di sofa, dengan menyilang kan tangan depan dada, matanya tak pernah lepas dari Naya dan Aldo sedikitpun, mau buang air kecil saja ia tahan, karena tak ingin meninggalkan Naya berduaan dengan Aldo, matanya terus mengamati gerak gerik Aldo.
Bi Taty naik membawakan minuman dan cemilan dalam nampan, Bibi berjongkok menyimpan gelas dan piring kue di atas meja, "Silahkan di minum Tuan,?" Kata Bibi mempersilahkan kepada tamu dan majikannya, ingin sekali Dimas bilang, "Bi tunggu di sini tungguin Ibu, saya ingin ke toilet sebentar," namun niat itu ia urungkan, selama masih bisa di tahan pikirnya.
Sehingga Bi Taty pergi dari tempat tersebut, Dimas masih setia menemani sang istri, tanpa berkata apa pun, Dimas hanya mengamati, percakapan Aldo dan Naya, yang sesekali meraka tertawa, bagai orang yang sudah kenal lama, Naya kan orangnya mudah kenal, sebenarnya mudah berbaur dengan orang baru sekalipun.
Paling Dimas senyum samar bila mereka sesekali tertawa, Aldo mengambil tas miliknya mengeluarkan vitamin-vitamin yang dia rasa baik untuk Naya.
"Ini vitaminnya di minum pagi dan malam, jangan lupa, semoga nantinya setelah stip by stip, akan membawa perubahan, kau harus semangat, terus berusaha," ucap Aldo dengan tatapan yang sulit di artikan pada Naya.
"Baik dok, saya akan memperhatikan selama 24 jam agar dia tidak lupa meminum vitaminnya,?" sahut Dimas, menyambar beberapa lembar vitamin itu.
__ADS_1
"Baik lah, saya rasa cukup dulu untuk sekarang ini, dan akan kita lanjutkan beberapa hari kemudian," ucap Aldo sambil duduk dan meneguk minuman yang ada di atas meja.
"Ok, terimakasih dok, sampai jumpa lain kali," Dimas berdiri mengulur tangan tuk berjabat, seolah ingin segera tamunya pergi, namun Aldo hanya mendongak dengan santainya dia menyimpan gelasnya dan kemudian meneguk kembali, membuat Dimas mendudukkan tubuhnya lagi di samping Naya.
Naya sedikit tidak enak dengan tingkah suaminya, "Silahkan di cicipi kue nya dok," Naya mengembangkan senyumnya, dan menyodorkan piring berisi kue.
"Terimakasih Bu Naya," Aldo mengangguk, dan mencoba kuenya.
Sementara Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, hatinya merasa kesal, kok Aldo malah duduk santai bersamanya.
"Enak juga di sini ya,? nyaman, belum begitu ramai, pemandangan nya juga lumayan indah,?" ucap Aldo melihat-lihat berjalan mendekati dinding kaca.
"Oh, tentu saja memang membuat saya betah di sini dok, lain kali ajaklah istrimu kesini,? kita makan bersama," ujar Dimas mendekati Aldo yang berdiri dekat dinding tersebut.
Aldo mengangguk, perlahan berbalik kearah sofa, dan duduk kembali serta meneguk lagi minumnya, dia mulai berkemas, membuat Dimas tersenyum, "Akhirnya dia akan pulang," gumam Dimas dalam hati.
"Em.., kalau boleh tau, dokter sudah punya putra berapa,?" Naya menatap penasaran.
"Saya, sudah dua, satu laki-laki dan satu lagi perempuan," sahut Aldo sambil sibuk dengan ponselnya.
"Oh, dua," ucap Naya, istri dokter ibu rumah tangga apa wanita karir.?"
"Perawat, dia seorang perawat di salah satu RS di kota ini," jawab Aldo yang memasukan ponselnya ke dalam tas, kemudian dia beranjak dari duduknya.
"Sudah mulai gelap, saya pamit dulu dokter Dimas, lusa saya akan kembali," Aldo mengulurkan tangan pada Dimas, mereke berjabat tangan dan berpelukan.
"Terimakasih dokter Aldo, semoga usaha kita berhasil,?" ucap Dimas sambil menepuk punggung Aldo, dan memeluknya.
"Sama-sama dok, kita hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban, untuk istri anda,?" Aldo tersenyum, lalu menangkupkan kedua tangan pada Naya, Naya pun membalasnya.
Dimas melirik sang istri, "Yang aku akan mengantar Aldo pulang sampai depan pintu," tanpa menunggu jawaban, mereka berjalan beriringan, sebelum menuruni anak tangga Aldo melirik ke arah Naya dan melemparkan senyumannya.
Sementara Naya hanya senyum samar, dan menunduk, mencoba berdiri, "Eh..," oleng membuat jatuh terduduk kembali, lututnya tak bertenaga sama sekali, Naya merilekskan kakinya mengumpulkan sedikit tenaganya, lalu berdiri kembali perlahan masuk ke dalam kamar miliknya, menghempaskan dirinya ke atas kasur.
Dimas mengantar Aldo sampai pintu, "Sekali lagi terimakasih dok dan jangan bosan menangani istriku,? kami butuh bantuan dari dirimu dok,?" ujar Dinas berdiri di sebelah pintu.
"Iya, aku akan berusaha semampu diriku untuk membantu memulihkan istri kau, semoga aja ada jalan untuk sembuh,?" ucap Aldo, penuh harap seperti Dimas.
"Baik lah saya pulang dulu, sampai jumpa lagi,?" Aldo masuk ke dalam mobil silver miliknya.
"Sampai jumpa juga dok," Dimas mengangguk.
Aldo menancap gas, serta melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Dimas yang dia rasa ada sebuah ketenangan di rumah tersebut.
Setelah mobil Aldo menghilang Dimas mengunci pintu dan bergegas naik ke atas, istrinya pasti sudah menunggu di sana, namun Naya sudah tidak berada di tempat yang tadi terapi, yang ada hanya gelas dan piring, juga beberapa lembar vitamin tergeletak di meja, "Pasti sudah masuk kamar," Dimas menyambar vitamin Naya, dan membalikkan badan mendekati tangga, melihat ke bawah, "Bi tolong bereskan gelas di atas ya,?" pekik Dimas.
Meski tak ada jawaban, Dimas meneruskan lagi langkahnya tuk masuk ke dalam kamar, Naya berbaring di tempat tidur, "Yang sudah ambil air wudu belum.?"
Naya melirik sayu, "Belum, aku lagi libur."
Dengan alis terangkat, "sejak kapan,? tadi sore sholat bareng,?" tanya Dimas ragu.
"Baru.., saja datangnya," sahut Naya meyakinkan.
Dimas lesu, "Harus puasa dong, satu minggu lagi hah,?" menarik napas kasar, tak bersemangat, duduk dekat Naya yang tengah berbaring tubuhnya tambah lemas kalau sedang datang bulan begini.
"Sholat dulu sanah, nanti keburu lewat magribnya," titah Naya pada Dimas yang menatap sendu dirinya, dengan wajah yang tak bersemangat Dimas masuk ke kamar mandi, di sana malah terdiam bukannya ambil air wudu, malah bengong.
Naya ingat sebuau foto dan akan membicarakannya dengan Dimas, bila Dimas selesai sholat magrib, apa maksudnya coba menyimpan foto mantan,? kalau di ponsel sih tidak ada, dua nama yang menjadi satu D&S.
,,,,
Salam hangat dariku reader ku, semoga kabara kalian malam ini ada dalam lindungan Allah yang maha esa, terus dukung aku ya.., jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya 🙏🙏
__ADS_1