
Bi Taty tidak ingin menjawab, dia malah melengos meninggalkan bu Hesa, yang menggerutu, "Gimana mau punya anak, pagi-pagi sudah tidur, gak ada kerjaan, eh tapi.., emang semua kerjaan sudah ada art ya,? buat apa kita sebagai majikan capek-capek, bener-bener," sambil menyeringai sendiri.
Naya tertidur begitu lelap, sampai pukul 11 siang baru terbangun, duduk sejenak, "Haus, ingin minum yang dingin," Naya menuruni tangga, sesampainya di dapur langsung membuka lemari pendingin.
Di lemari sudah tertata penuh dengan sayuran ikan dll nya, Naya mengambil air dingin dan satu buah mangga, Naya duduk di kursi meja makan lalu meneguk air dingin.
"Baru bangun Bu,?" sapa bi Taty dari belakang Naya.
"Oh iya Bi," Naya menoleh, "Bi tolong ambilkan pisau.?"
"Ini Pisaunya, apa perlu Bibi bantu,?" bi Taty menyimpannya di atas meja.
"Makasih Bi, gak-gak, aku aja cuma mengupas kok, Bibi lanjut masak aja," Naya tersenyum.
"Hadeeh.., pagi-pagi sudah tidur, mendekati penyakit,? jam segini baru bangun,?" ucap bu Hesa yang baru datang dan duduk depan Naya.
"Em.., ngantuk Ma," sahut Naya.
"Yang sehat itu tidur siang, bukan pagi,?"
"Iya Ma, aku tau," Naya memasukan potongan buah ke blender, untuk membuat jus.
"Oya, Mama saranin ya,? banyak-banyak makan, atau sayuran yang menyuburkan rahim, biar cepat hamil,?" ucap bu Hesa.
Sejenak Naya terdiam, "I-iya Ma.?"
Naya meminum jusnya sampai tandas, kemudian membantu bi Taty memasak, sementara bu Hesa hany duduk manis, tanpa apa-apa yang dia kerjakan paling komen inilah itulah, bikin kesel.
Naya mencuci tangannya, mual dan pusing mulai menyerang, Naya duduk di sofa, "Bi sudah selesai kok, sholat dulu aja, beres-beresnya nanti aja habis sholat,? titah Naya pada bi Taty.
"Iya Bu, Bibi mau sholat dulu," bi Taty masuk kamarnya.
Naya beranjak mau ke kamarnya, namun bu Hesa mengajak ngobrol, "Boleh Mama bertanya.?"
"Em.., boleh Mak, ada apa,?" Naya menatap sendu.
"Sudah periksa kandungan belum,?" dengan pandangan tajam.
Naya terdiam, "Em.., emang kenapa Ma.?"
"Apa sudah pasti jika kandungan mu subur,? kali aja kering, sesering apa pun kalian berhubungan juga gak akan berbuah," jelas bu Hesa.
__ADS_1
"Sudah kok baik aja," sahut Naya, "Oya Ma, Aku ke atas dulu ya,? mau sholat dulu," tak ingin berkepanjangan, Naya melangkahkan kakinya mendekati tangga.
Bu Hesa terdiam, memandangi kepergian Naya menaiki anak tangga, Naya dalam hatinya beradu argumen, "Kenapa sih, selalu saja itu yang di tanyain,?" gerutu Naya, "Uuh.., sabar kenapa.?"
Sesampainya di kamar Naya langsung berendam sejenak di bathub, pikirannya menerawang sembari memainkan busa, "Kenapa akhir? akhir ini aku sering mual dan pusing,? apa lambungku kambuh,? apa jangan-jangan aku..,ah gak mungkin, belum lama ini aku datang bulan kok," batin Naya.
Usai mandi dengan jubah mandinya Naya keluar kamar mandi, setelah rapi menunaikan sholat dzuhur, Naya panjatkan doa meminta kesehatan kebahagiaan untuk semua keluarganya yang ada di sini maupun yang ada di Semi, Naya duduk di sofa sambil menulis lagi di ponsel, mau turun mager, takut di tanya-tanya yang macam-macam sama Mama mertua.
Dimas setelah menyimpan motor di tempatnya dia berjalan gontai memasuki ruangan dapur, di sana ada bi Taty yang tengah menata masakan si atas meja, Mamanya di ruang TV, "Bi,?" sapa Dimas.
"Oh, Tuan baru pulang,?"
"Iya Bi, istri saya di mana,?" sembari melangkah.
"Di atas Tuan," sahut bi Taty.
Sebelum naik ke atas, terlebih dahulu Dimas nyamperin Mamanya, "Ma, Bapak belum pulang,?" mencium tangan bu Hesa.
"Belum, mungkin sore baru pulang," bu Hesa lirih.
"Oh, aku ke atas dulu Mak, mau bersih-bersih lengket," Dimas bergegas menaiki tangga, "Oya Mak, kalau belum makan, makan bah aja duluan."
"Iya."
"Assalamu'alaikum..,?" Dimas mendekati sang istri, setelah menyimpan tas dan kunci motor.
"Wa'alaikum salam, yang," Naya mencium punggung tangan Dimas.
"Sedang apa sayang hem,?" mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
"Lagi tidur, Hi..,hi..,hi..," sahut Naya membuat Dimas mengernyitkan dahinya.
"Em..,kangen sayang,?" Dimas memeluk tubuh Naya, sangat erat, "Setengah hari aja terpisah kangen berat yang," Dimas mencium pucuk kepala Naya.
Naya terdiam merasakan hangatnya pelukan sang suami dan membenamkan wajah di dadanya.
Perlahan Naya melepaskan diri, "Bersih-bersih sanah, lagian belum sholat kan,?" Naya mendongak.
Dimas menarik napas, "Hem.., gak tau kangen apa.?"
"Tau yang, tapi.., ada yang harus lebih di dahulukan yang..,faham,?" Naya mengelus rahang suaminya dan melepas kancing kemeja sang suami.
__ADS_1
"Iya-iya bawel," lalu Dimas beranjak berjalan ke kamar mandi.
Naya memasukan kemeja kotor kedalam keranjang, kemudian menyiapkan pakaian buat ganti Dimas.
"Oh iya, belum menyiapkan pakaian untuk di bawa pergi,?" gumam Naya, tak lama Dimas nongol dari balik pintu.
"Yang, baju yang mana aja yang mau di bawa,? ke luar kota,?" tanya Naya menoleh suaminya yang tengah mengenakan kaos.
"Terserah yang mana aja, jangan terlalu banyak lah ribet, lagian gak akan lama juga," sahut Dimas.
"Hem..,baiklah, kopernya mana yang,?" sambung Naya namun taj ada jawaban, "Yang, kopernya mana,?" Naya menoleh ke arah suaminya, yang tengah menunaikan sholat, "Oh iya, lagi sholat."
Naya mengambil beberapa pakaian lengkap untuk di bawa besok, di simpan di bawah tinggal masukan ke koper yang entah di mana.
Dimas mengambil satu koper dari atas lemari, "Pakaian kita berdua masukan ke satu koper aja, bawa yang perlu aja, jangan banyak-banyak."
"Iya, cuma segini kok, ini baju aku, dan ini baju kamu, lengkap tapi."
"Ok," Dimas mengangkat Naya berdiri, "Itu nanti saja bereskan nya, sekarang kita makan dulu, lapar nih.?"
"Oh iya, duluan sana turun,?" dengan senyumannya.
"Gak mau,? kita harus bareng turunnya," Dimas menggendong Naya di bawanya ke dapur yang berada di bawah.
Bu Hesa sudah berada di meja makan tengah makan siang, "Mama duluan makan, lama di tunggu juga.?"
"Gak apa-apa Mak, duluan aja," ucap Naya sembari duduk di samping Dimas, langsung mengambil piring dan beberapa menu masakan, tidak menunggu lama langsung aja menyuapi Dimas, bergantian dengan dirinya sendiri.
"Yang, ada buah mangga,? pengen jus," Dimas melirik Naya.
"Bi, tolong buatkan jus,? gak sibuk kan,?" Naya menoleh bi Taty.
"Baik Bu," bi Taty mengambil buah dan mengupasnya.
"Makan yang menyuburkan, agar cepat hamil,?" jelas bu Hesa.
"Hamil lagi yang di bahas," gumam Dimas sembari mengusap kedua tangannya, "Gak ada yang lain apa yang harus di bahas."
"Iya dong, Mama kan ingin melihat kamu punya anak, emangnya kamu mau, gak punya keturunan, ih.., amit-amit, gak ada keturunan kami yang mandul,?" ujar bu Hesa bergidik, Naya menatap suaminya dan menggeleng agar tidak perlu menjawab lagi.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐