Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dasar pengantin baru


__ADS_3

"Iya bawel..," setelah mencium kening istri Dimas berlalu, pergi menuju garasi hendak mengambil motor kesayangan nya.


Tidak lupa memakai helm, kini motor Dimas sudah meluncur ke RS tempatnya bekerja, sesampainya di sana ia mempercepat langkah kaki agar segera sampai tempat tujuan, di koridor banyak bertamu para staf, Dimas tersenyum, banyak juga yang menyapa menanyakan kabar karena lama tak masuk, setelah masuk ruangan ia keluar kembali menuju ruangan kepala,


Beberapa menit berbincang akhirnya Dimas keluar, kebetulan ada pasien yang harus di tangani.


"Dokter Dimas.?" panggil seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba putih, tiada lain dia adalah Citra yang kemarin jadi bimbingan Dimas, Dimas menoleh dengan senyum di bibir.


"Apa kabar dok.? lama tak jumpa dengan anda.?" ujar Citra menatap wajah Dimas yang dia rasa semakin bersinar dan tampan.


"Baik." dengan singkat, Citra bibirnya sudah menganga, Dimas rasa pasti akan bicara lagi padanya.


"Maaf saya lagi bekerja, bisa lain kali bicaranya.?" kata Dimas sembari tersenyum di balik masker di wajahnya.


Citra memanyunkan bibir mungilnya. "Dasar.., dokter dingin, sedingin salju di indonesia, yang kebanyakan mencair karena panas, hi..hi..hi.." gumam Citra sambil membantu dokter lain praktek.


Dimas tengah duduk di kursi kebesarannya, seorang wanita cantik menghampiri dan mengetuk pintu yang terbuka.


Tok..


Tok..


Tok.. "Siang dok.?" Citra berdiri di tengah pintu sembari menebarkan senyum terbaiknya.


"Siang juga, ada apa.?" sahut Dimas dengan tatapan tajam.


Citra masih berdiri, "Tak di suruh masuk kah.?" gumam Citra yang masih mematung.


Dimas menoleh kembali. "Masuk.?" akhirnya menyuruh Citra masuk.


Citra pun masuk berjalan lenggak-lenggok seperti jalannya seorang peragawati, kemudian duduk depan Dimas, duduk sangat manis dengan kaki bersilang memamerkan paha mulus yang tidak di tutupi, kerena hanya memakai rok span pendek, ketika duduk ya terangkat.


Dimas melihat semua gerak-gerik Citra di depan matanya hanya mengangkat kedua alisnya. "Ada apa.? yang bisa saya bantu.?"


"Ada dok, tolong periksa jantung saya yang selalu berdebar kencang ketika dekat dengan anda.?" sahut Citra sekenanya.


"Apa.?" Dimas mengerenyitkan keningnya, dengan tatapan sangat tajam.


Menyadari Dengan apa yang dia ucapkan Citra menjadi gelagapan. "Ma-ma-maksud saya, ingin mengajak makan siang bareng, iya makan siang bareng." meralat perkataannya.


Dimas mesem-mesem sembari menyangga dagunya. "Sebentar lagi saya pulang, istri saya menunggu di rumah."


"Apa.? istri.?" Citra tercengang di buatnya, "Dokter su-sudah menikah.?"


Dimas mengangguk, "Iya, istri, sudah."


"Ka-kapan.?" tanya Citra menatap dengan rasa penasaran. dia pikir kok gak ada undangan, kira-kira siapa wanitanya yang berhasil menaklukkan hati Dimas.


"Beberapa minggu lalu." sahut Dimas ia tahu Citra ada hati padanya.


"Tapi dok, kok tidak ada undangan dari dokter.?" merasa heran.


"Kami menikah di luar kota, belum mengadakan resepsi, karena istri saya menolaknya." ucap Dimas sedikit menjelaskan pada Citra yang wajahnya berubah sedih dan masam, entah apa yang dia pikirkan.


Citra diam membisu, pupus sudah harapan tuk mendekati Dimas pria sang pujaan hatinya, tapi.., bukan Citra namanya yang begitu aja lantas menyerah. dia akan berusaha pantang mundur demi mencapai setiap apa yang dia mau, di balik sedihnya ada senyuman sinis di bibinya.


"Hi..,Citra..?" panggil Dimas membuyarkan lamunan Citra yang begitu anteng.


"Iy--iya, dok.?" Citra mendongak melihat Dimas yang sudah beranjak dari duduknya, bersiap pulang rupanya.


"Saya mau pulang, lagian sudah tidak ada kerjaan lagi kan.?" Dimas melihat jam yang di tangannya.


"Em.., kalau begitu saya permisi dulu dok.? sampai bertemu lagi.?" Citra pun berdiri meninggalkan ruangan Dimas dengan lenggokkan yang sangat menggoda.


Sekilas Dimas melirik dan menggeleng pelan, kemudian mengambil ponsel dan kunci motor dari atas meja. ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


Dimas berjalan, melewati koridor berpapasan dengan yang lain, "Pulang dok.?" seorang suster mengangguk hormat.


"Iya sus, mari.?" sahut Dimas mesem. sambil terus berjalan menjauhi mereka.


"Aduh.., lama tidak bertemu, makin cakep aja tuh dokter.?" percakapan suster di belakang, terdengar oleh Dimas membuat ia senyum samar.


Motor Dimas melaju pesat, sudah tak sabar ingin segera bertemu kekasih halalnya di rumah, baru beberapa jam ia tinggalkan namun hatinya begitu merindukan kehadirannya.


Dimas senyum-senyum sendiri, di balik masker dan helm yang ia kenakan.


Di rumah


Naya setelah Dimas pergi bekerja ia seperti bias masuk kamar untuk melaksanakan sholat sunah pagi menjelang siang, berzikir, dan mengaji, berdoa semoga keluarganya di beri keberkahan.

__ADS_1


Selepas itu semua berjalan perlahan menuju dapur, mencuci pakaian, dan menunggu pesanan belanjaan datang, kebetulan tadi ia memesan bahan-bahan dapur untuk membuat kue dari pada bosan ia mau membuat kue.


Tok..


Tok..


Tok.. pintu di ketuk, Naya mengintip dari jendela dapur melihat siapa yang bertamu, ternyata seorang anak laki-laki membawa kantong mungkin itu belanjaan yang Naya pesan.


"Dek, sini.?" Naya melambaikan tangan agar dia lewat belakang aja, jalan dapur aja maksudnya, jauh kalau harus berjalan ke depan, akan lama kalau buat Naya. anak itu berjalan mendekati pintu dapur yang sudah Naya buka.


"Adek, dari warung di depan ya.?" tanya Naya pada anak tersebut yang menenteng kantong belanjaan, anak itu mengangguk hormat.


"Iya Kak, sambil memberikan kantong tersebut.


"Em.., bisa di simpan di meja dek.? tolong.?" pinta Naya sembari memberi senyumnya, dan anak tersebut menuruti perintah Naya, kantong belanjaan di simpan di atas meja makan.


Naya memeriksa belanjaan siapa tahu ada yang kurang, sesudah memeriksanya dan di rasa komplit, semua pesanan ada."Terimakasih ya adek.? dan ini bayaran juga buat ongkosnya,"


Anak itu mengambil beberapa lembar uang yang Naya berikan. "Terimakasih Kak, dan permisi.?" anak itu mebalikkan badan berjalan meninggalkan Naya.


"Tunggu dek.? sergah Naya menatap langkah anak laki-laki tersebut, anak itu menoleh kepada Naya.


"Iya Kak.?" sambil membalik kan badan kembali menatap Naya merasa heran.


"Nama adek siapa.?" tanya Naya menatap lekat.


"Nama saya Agus." sahut anak tersebut.


"Oh Agus.? lain kali kalau aku pesan belanjaan tolong antar ke tempat ini lagi ya.?" dengan tatapan penuh arti.


"Baik Kak" Agus berputar dan pergi, Naya membereskan belanjaan barusan ke tempatnya, lanjut memasak kesukaan sang suami.


Ketika tengah asik memasak ada yang mengetuk pintu, tiba-tiba suara bel berbunyi.


Ningnong..,


Ningnong..,


Ningnong..,


"Siapa sih..?" gumam Naya, sambil mematikan kompor, lalu mendekati jendela, Naya melihat depan pintu ada seorang wanita muda berambut pendek tengah berdiri.


Sesampainya di pintu. "Emang pintu di kunci.? kenapa gak kau bukakan buatku.?" sembari mengamati sudut ruang dapur tersebut.


"Iya, di kunci, kalau kau menunggu aku bukakan pintu itu, kau akan menunggu lebih lama." sahut Naya sambil menyalakan kembali kompor yang tadi ia matikan.


"Kenapa seperti Itu.?" mendekati kompor dan melihat masakan Naya.


"Oya kau sendirian.? tidak bersama suamimu, putramu mana.?" Naya mengalihkan pembicaraan Maria.


Maria menaikan alisnya memandangi kakak iparnya. "Suami aku kerja, dan anak aku gak mau di ajak kemari, jadi aku sendirian."


"Oh, begitu kah.?" Naya menangguk pelan, sambil menuangkan masakan ke dalam mangkuk.


Maria mendekati lemari pendingin, dan membukanya lalu mengambil sebuah aple kemudian menggigitnya. "lemari pendinginmu penuh juga." membalik kan badan kembali mendekati Naya.


"Lumayan." sahut Naya menyimpan masakan di meja makan, Maria memperhatikan jalannya Naya, membuat Naya merasa malu.


"Siapa yang belanja.?" sambung Maria melihat tangan Naya yang mencuci perabotan.


"Abang kemarin." sahut Naya singkat.


"Kenapa mesti Abang.? kenapa tak kau aja yang belanja.? yang bersih-bersih juga pasti Abang ya.? kan seharusnya dirimu.?" sambil memakan buah aplenya.


"Aku--!" Naya menunduk, menggantung perkataannya.


"Oh, iya kamu kan lumpuh ya.? gak bisa jalan normal seperti yang lain." Maria menyeringai, menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan.


Naya hanya menarik napas dalam-dalam.


"Kak, aku mau lihat-lihat ke atas, kali aja di sana kotor, aku mau bersihkan, Kakak kan pasti gak bisa ke atas ya.?" dengan tatapan sinis, dan berjalan menuju tangga.


"Iya silahkan." dengan senyuman di wajahnya.


Karena memasak sudah beres semua, sudah tertata rapi di meja, Naya berjalan ke kamar miliknya.


Naya merendam dirinya di bahtub, merileksasikan tubuhnya dengan air hangat. memejamkan mata seolah menikmati kehangatan air di bahtub.


Maria yang baru turun dari lantai dua mencari keberadaan Kakak iparnya yang tidak ada di tempat semula.

__ADS_1


Dia mendekati kamar Kakak iparnya, mengetuk pintu tapi tak ada yang menyahut, perlahan pintu dia buka melihat-lihat tak ada orang, masuk lagi lebih dalam terdengar suara keran dari kamar mandi, "Sedang mandi mandi kali." menaikan bahunya, usai mengamati kamar tersebut Maria kemudian keluar dari kamar tersebut, berjalan menuju ruang TV.


Naya baru keluar dari kamar mandi badanya tersansegar lalu mengenakan baju, menyemprotkan minyak wangi, kemudian mengerjakan sholat dzuhur.


Ia mengambil ponsel yang berada di atas meja, ingin menelpon sang suami menanyakan kapan pulang, tapi tak di angkat oleh sang suami, "Kok gak di angkat yang." gumam Naya pelan. "Apa mungkin sedang di jalan.?"


Naya baru ingat di luar ada Maria sendiri, mau keluar malu, tidak keluar tidak enak membiarkan dia sendiri, akhirnya Naya turun dari tempat tidur, keluar kamar tak lupa menutup pintu.


Tertatih berjalan menghampiri Maria yang tengah duduk di sofa menonton TV. Maria yang melihat Naya menghampinya. "Mandi apa berendam.? lama amat.?" dengan ketusnya.


"Keduanya," sahut Naya sembari duduk di sofa yang sama, meraih bantal sofa di simpan dalam pangkuan.


"Gimana.? di atas kotor.?" tanya Naya melirik Maria.


"Bersih kok." nyengir kuda, senyum, terpaksa.


"Oya, Mamak kenapa gak kesini.?" melirik Maria yan anteng matanya ke TV.


"Tadi Mamak baru pulang dari ladang." sahut Maria tanpa menoleh Naya.


"Em.., bertanam apa.?" sambung Naya.


"Padi, oya, katanya rumah ini ke masukan maling, tapi tak mengambil apa-apa.? apa benar.? terus apa yang orang itu cari.?" mengernyitkan keningnya merasa heran dan penasaran.


Naya menggeleng. "Gak tahu tuh, aku gak sempat Nanya mereka mencari apa.? hi..hi..hi.."


"Ih, gak lucu," mencebikkan bibirnya.


"Ceritain dong kejadiannya gimana.?" Maria menghadap Naya mungkin ingin mendengarkan dengan seksama.


Naya menatap Maria intens sembari, menggaruk tengkuknya. "Em.., begini asal mulanya." Naya menceritakan kejadian waktu itu dari awal sampai kepulangan Dimas ke rumah, tak di kurangi tak juga di lebih-lebihkan.


Maria manggut-manggut sambil bergidik ngeri membayangkan bila dirinya di todong kan pistol. "Aku tidak bisa membayangkan kalau aku di todong seperti itu, walau aku bisa berontak, kan pasti panik." masih bergidik.


"Hei.., siapa suruh kau membayangkan nya.? aku tidak menyuruhmu." olok Naya pada adik iparnya, Maria mendengar ipar mengoloknya mendelik kan mata.


"Kamu tau dari mana kami kedatangan tamu tak di undang.?" Naya penasaran.


"Dari sisi tv lah." Maria manyun sampai beberapa senti, Naya mengerutkan dahinya.


"Apa benar di sini di pasang sisi tv.? kok Dimas gak bilang sih.?" batin Naya menatap sang adik.


Mari melihat Naya tampak bingung. "Tadi Abang telpon ke rumah, cerita tentang kejadian tersebut, Bapak sedang berada di luar kota, menyuruh aku menemui kalian di sini."


"Oh," membulatkan bibirnya. dari luar terdengar suara motor Dimas masuk garasi.


"Tuh Abang pulang.?" melirik Naya yang menoleh ke sumber suara terlihat dari jendela depan, dengan hanya sekilas, Maria hendak membuka pintu namun sulit karena di kunci.


"Abang bawa kunci sendiri kok, biar dia buka sendiri." ucap Naya pada Maria membuat Maria menjauhi pintu dan duduk di tempat semula.


Sesampainya Dimas di rumah langsung menyimpan motor kesayangan kedalam garasi, kemudian membuka kunci pintu dan masuk ke dalam rumah.


Tampak sang istri tengah duduk bersama adik perempuan satu-satunya, Maria.


"Assalamu'alaikum.?" ucap Dimas menghampiri sang istri,


"Wa'alaikum salam," jawab Naya sembari mencium tangan Dimas dan Dimas mencium kening Naya dengan penuh kasih sayang.


"Haduh.., kalau mau mesra-mesraan, jangan depan mata Maria napa.?" dengan nada Sinis. Dimas tersenyum mendengar kicauan Maria ia duduk di samping sang istri sembari mengacak rambut Maria.


"Abang, aku tuh sudah punya anak, bukan anak kecil lagi, masih aja di gituan.?" merasa kesal.


"Iya sih sudah punya anak, tapi kadang masih seperti anak kecil tuh kalau di mataku." Dimas mengolok adiknya sambil menarik sudut bibir senyum.


"Tapi aku sudah punya anak, emangnya kalian, sudah pada tua belum juga punya anak, nikah aja baru, tak laku.?" sinis Maria membuat Dimas dan Naya terdiam membisu, Naya meremas tangan Dimas.


Mendadak suasana menjadi canggung, "Em..,yang, kamu mau makan dulu.? atau mau mandi dan sholat dulu.?" Naya dengan tatapan sendu.


Dimas jam, pukul 13.15 menit. "Aku mau mandi dan sholat dulu sayang," kembali mengecup kening sang istri, kemudian beranjak berjalan menuju kamar miliknya.


"Aku sudah siapkan baju untukmu, di atas kasur yang.?" pekik Naya, Dimas hanya memberi isyarat dengan tangannya.


"Dasar pengantin baru, dikit-dikit cium." gerutu Maria, bibirnya komat-kamit seperti nenek-nenek. hi..hi..hi..


,,,,


Terimakasih banyak reader ku, karena kalian aku masih semangat menulis, cerita tentang Naya dan Dimas, dan aku ucapkan terimakasih banyak atas lake komen dll nya, aku minta maaf atas segala kekurangan cerita dan tulisan.


Aku merasa senang bila ada komen yang membangun, yang mengajarkan aku lebih baik.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2