
Pandangan Naya menyapu tempat sekitar yang di bawah, ada seseorang berdiri di bawah pohon tengah memandangi dirinya, dan ketika bertemu pandang dia mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya.
Cinta itu indah dan mengasyikan, namun cinta juga menyakitkan bila hanya bertepuk sebelah tangan, Cinta membahagiakan bila ada pertemuan, namun cinta amat menyiksa bila kekasih hati ternyata milik orang.
Naya pun membalas dengan senyuman, lalu Naya segera masuk mendekati Dimas yang sibuk dengan laptopnya, kemudian menoleh sang istri yang duduk di sampingnya.
"Kenapa yang,?" sembari fokus lagi ke laptop.
"Tidak," menyandarkan kepalanya di bahu Dimas, sesekali menutup mulutnya mual.
"Bunda sih gak mau minum susu," ucap.Dimas tanpa menoleh.
"Nggak enak, tambah mual."
"Kan bisa milih sukanya rasa apa,? nanti ayah belikan," mengecup kening Naya.
"Nggak tau rasa apa yang aku suka, bingung.''
"Kok bingung sih,?" tanya Dimas.
"Jalan-jalan ke pantai lagi yuk,? bosan di kamar terus," merajuk.
"Ke pantai,? Dimas menaikan alisnya, "Nggak-nggak, jangan dulu nanti kena angin, panas juga, gak boleh."
"Tapi.., bosan, gak ada kawan juga, mung pung masih di sini kan,?" rajuk Naya, menempelkan bibirnya di leher Dimas,
Helaan napas Dimas berat, sebentar pejamkan mata, "Kawan, kan ada Ayah, oya jangan membangunkan harimau yang sedang tidur, nanti bangun dan menerkam, Ayah takut tidak bisa nahan," ucap Dimas.
Tersenyum simpul, Naya menjauhkan bibirnya dari leher Dimas, "Ayah sibuk, manja-manja juga gak boleh," Naya memanyunkan bibirnya.
Dimas menutup sementara laptopnya, dan membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya, "Bunda.., bukan gak boleh manja-manja sama Ayah, boleh, tapi jangan terlalu membangkitkan gairah Ayah, takutnya aku gak bisa nahan, bunda ngerti kan, kondisi bunda masih lemah," lirih menatap netra mata Naya yang sendu.
Naya mengangguk, Dimas tersenyum dan membawa tubuh Naya ke dalam pelukannya, sesungguhnya Dimas tersiksa, hasratnya tidak tersalurkan dalam beberapa hari ini, juniornya yang selalu bangun dan menegang sering menyiksanya, akhirnya hanya air hangat sebagai penawarnya, istrinya masih terlihat lemah, dan hamil muda takut ke napa-napa, meski kata dokter kandungan Naya leumayan kuat walaupun kondisinya sedikit lemah.
Sebagai istri Naya mengerti kebutuhan suaminya, dan Naya ingin membuat Dimas merasa bahagia dan puas, ia tau niat Dimas membawanya bulan madu untuk bersenang-senang, bukan terbuang waktu dengan percuma, Naya yang biasanya posesif, mencoba agresif memberanikan untuk menawarkan diri, awalnya Dimas ragu-ragu namun setelah Naya menyakinkan bahwa akan aman-aman aja bila berhubungan, dan dorongan dari bawah semakin mendesak akhirnya Dimas mencumbu sang istri yang sudah siap untuk dia kunjungi, dengan lembut dan pelan-pelan Dimas melancarkan aksinya.
Seharian ini mereka hanya menghabiskan waktu di tempat tidur untuk saling memuaskan, Naya bahagia bila suaminya merasa bahagia dan puas terhadap dirinya.
Malam telah berganti siang, rembulan pun akan hadir menggantikan sinar matahari yang menemani manusia beraktifitas seharian ini, Dimas dan Naya duduk berdua di balkon sambil makan malam menikmati angin malam yang sepoi-sepoi, dan memandangi ombak laut yang terlihat jelas dari balkon.
Kali ini berbeda dari biasnya, mereka makan bergantian saling menyuapi, sambil melihat deburan ombak yang kebetulan agak pasang, selesai makan Dimas membereskan bekas makannya, agar mudah bila di ambil klening servis.
__ADS_1
Naya termenung, menyangga dagu dengan kedua tangannya, memandangi air laut dan merasakan angin yang menyelinap ke pori-pori kulitnya, Dimas duduk kembali di samping Naya sambil mengusap punggungnya, Dimas berkata, "Kok melamun sayang.?"
Naya menengok menurunkan tangan dari dagunya, "Nggak, aku cuma kagum aja dengan ke indahan pantai ini, entah mungkin aku baru ke sini dan baru pertama mengenal pantai atau gimana, yang jelas aku kagum dan terpesona, sepertinya aku dapat banyak inspirasi deh," pandangan Naya tertuju ke laut.
"Iya kah,? Dimas melirik kearah Naya dengan senyuman.
"Yang.?"
"Hem.., apa Bunda,? menatap tajam penuh rasa penasaran.
"Rasanya pengen banget deh makan rujak buah mangga muda, rasanya sudah berasa di lidah," penuh desakan.
"Sekarang,? menaikan alisnya.
Naya mengangguk, "Iya."
"Malam ini,?" jari Dimas menunjuk ke bawah.
"Iya sekarang, rasanya sudah di lidah nih, pliss,?" menyatukan tangannya depan dada.
Dimas bingung, harus cari ke mana malam-malam gini, mana gak tau pedagang selain di penginapan, Dimas menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Air liur sudah berasa di lidah nih yang, pengen banget," Naya mengalungkan tangan ke leher Dimas.
Menarik tangannya dari leher Dimas, "Ya sudah gak usah lah," Naya menyilang kan tangan di dada dan menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.
Melihat Naya ngambek Dimas berdiri, "Oke Ayah cari dulu Bunda tunggu ya.?"
"Nggak usah, sudah malam, lagian mau cari ke mana kan,? mungkin gak akan nemu juga, gak usah," dengan nada jutek gak seperti biasanya.
Dimas berjongkok depan Naya, "Maaf sayang, tadi Ayah salah bicara karena bingung, tapi.., Ayah sekarang juga mau kok berangkat nyari, tunggu sebentar ya,?" mengusap punggung tangan Naya.
"Nggak usah, sudah gak pengen," mata Naya berkaca-kaca di sudut matanya sudah menggenang air bening.
Dimas merasa bersalah dan tak tega lalu mengusap air mata Naya yang hampir jatuh, namun tangan Naya langsung menepisnya.
Dimas kaget dengan sikap Naya kali ini seolah bukan Naya yang selama ini dia kenal, Namun Dimas mengerti istrinya sedang ngidam, sesak rasanya dada Dimas mendapat sikap Naya, Dimas berdiri, "Tunggu sayang," dan bergegas pergi tak lupa meraih jaketnya, kemudian keluar kamar, setelah menutup pintu.
Naya hanya memandangi kepergian Dimas, yang mempercepat langkahnya meninggalkan dia sendiri di balkon, akhirnya Naya pun berdiri dan masuk ke dalam kamar.
Setelah keluar dari lift sejenak Dimas berdiri di lobi, bertanya pada orang yang berpapasan dengannya, keberadaan yang jualan rujak buah muda untuk yang ngidam, semua menggeleng, Dimas terus berjalan keluar gedung hotel tersebut menyusuri jalan, dia datangi setiap jongko-jongko yang ada di tepi jalan di tanyain semua.
__ADS_1
Akhirnya ada yang bilang, "Itu bang di depan ada toko buah datangi aja," ucap seorang pedagang.
Dimas menoleh kearah yang di tunjukkan, kemudian Dimas mengunjunginya namun yang ada buah yang sudah matang, jangankan rujak, buah mudanya aja gak ada.
Sudah satu jam Dimas berjalan kesan kemari namun tidak ketemu, "Ya Tuhan.., susah juga ya, menuruti untuk yang tengah ngidam,?" mengusap kasar rambutnya, Dimas memutuskan kembali ke penginapan.
Dari jauh terlihat seseorang tangah berjalan dengan santainya, seorang pria mengenakan jaket warna hitam dan mengenakan topi, kedua tangan di masukan saku, memandangi Dimas yang berjalan lesu, ketika berpapasan mereka berdua menghentikan langkahnya.
"Kau, dari mana dan mau ke mana,?" tanya Dimas menatap penuh rasa penasaran.
"Saya sedang jalan-jalan aja, anda sedang apa di sini, Bu Naya mana,?" pria itu celingukan.
"Naya di hotel," sahut Dimas.
"Anda sedang apa di sini sendirian,?" sambung pria tersebut.
Dengan wajah yang lesu dan putus asa, "Saya sedang mencari rujak buah muda."
"Dapat.?
"Makanya belum dapat nih, sudah satu jam jalan tanya sana-sini, gak dapat juga," dengan wajah bingung.
"Buat siapa malam gini cari rujak, di depan kan ada toko buah."
"Yang ada buah yang matang, gak ada yang muda, lagian maunya sudah jadi, buat yang ngidam."
Deg, dada Dery serasa di tonjok, ya pria ini Dery, itu yang dirasakan Dery ketika kata ngidam di ucapkan Dimas, toh pasti yang ngidam itu adalah Naya, wanita yang membuat hatinya bergetar, memandang wajahnya tenang, melihat senyumnya membuat jantung berdebar, lirikan matanya selalu membayang.
"Bu Naya kah yang ngidam,?" berusaha sesantai mungkin.
Dimas menoleh, "Iya istri saya sedang ngidam."
"Ya sudah anda pulang saja, saya pastikan malam ini juga saya bawakan pesanan Naya, gak akan sampai sejam, secepatnya lah, baiknya anda pulang, jangan biarkan dia sendiri di hotel kasian," ujar Dery pada Dimas.
Hati Dimas merasa tenang, "Benar kau mau membantuku,?" Dimas seakan tidak percaya.
Dery mengangguk, "Iya."
Dimas tersenyum lebar "Makasih Der,? baiklah saya pulang lebih dulu, saya tunggu di penginapan," Dimas pulang dengan riang meskipun belum membawa pesanan dari Naya namun setidaknya ada harapan kalau Naya akan makan rujak malam ini juga.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!---