
Sampai akhirnya Naya sudah berada di dalam kamar mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, menyalakan TV dan menonton acara yang sebenarnya tidak dia sukai, dia memukul-mukul keningnya, "Gila.., gila..,gila.., sangat ceroboh."
Naya berdecak, begini-ni kalau tak bisa menjaga mata, tapi kan gak sengaja, orang mau lihat- bunga kok," gerutu Naya dan duduk bersila.
Naya turun dari tempat tidur berjalan membuka pintu balkon, dan duduk di sana, karena sudah lama tidak ngobrol dengan keluarga yang di Semi, Naya merogoh saku mengambil ponsel miliknya, mencari kontak Lely.
Tut...
Tut...
Tut.., akhirnya panggilan vic pun tersambung, tampak lah Lely dan putri kecilnya, mereka pun berbincang lama, melepas rindu, Naya pun bertatap muka dengan orang tuanya, saling bertanya kabar satu sama lain, obrolan terasa begitu haru, sebagai keluarga mereka hanya bisa bertatap muka di udara, dan Naya bercerita kalau kondisi dia sekarang ada kemajuan, setidaknya dia bisa naik turun tangga.
Tak lupa Naya minta di doakan akan kebaikan rumah tangganya, Naya pun berjanji akan mengirimkan hadiah boneka buat keponakannya.
Anak Lely sangat bahagia mendengarnya, ada juga yang bilang mentahnya aja deh jangan barang, Naya tersenyum, "Iya nanti ya, kalau ada rejeki wawa kirimkan ok,? ya udah dulu ya semuanya, semoga di sana sehat-sehat selalu, dan semoga kita dapat bertemu kembali,? dah..., Assalamu'alaikum..,?"
Sambungan vic terputus, senyum Naya mengembang, cukup bahagia bisa berbincang dengan keluarganya, meski tak berkumpul seperti dulu lagi, ini hidup yang tadinya bersama adakalanya berpisah untuk menjalani hidup masing-masing, yang mulanya tak saling kenal menjadi satu keluarga.
Naya menghirup udara dengan napas panjang, dengan tangan di pagar balkon, dari jauh terdengar sayup suara adzan ashar, "Ya Allah sampai detik ini aku masih bisa menghirup udara dan bernapas, begitu banyak nikmat yang telah kau berikan padaku, namun aku belum bisa bersyukur akan segala nikmat yang telah engkau berikan padaku,?" sesaat Naya menunduk dalam.
Setelah melepas napas dengan kasar dan panjang, Naya melangkah masuk ke dalam kamar, usai menutup pintu balkon Naya masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu, 20.menit kemudian Naya kembali dengan sangat segar.
Naya bersimpuh dalam sholat, berderai air mata dalam doa, masih banyak keinginannya yang belum tercapai, yang diantaranya membuat orang tuanya bahagia, kedua pipi Naya basah dengan air mata.
Naya mengusap dan membereskan bekas sholatnya di simpan di atas nakas.
Kemudian Naya keluar kamar menuruni anak tangga, menuju dapur menghampiri bi Taty yang tengah mask, "Bi masak apa.?
"Eh Ibu, goreng ayam kecap, dak sayur lodeh, juga sup kesukaan Ibu," sahut bi Taty menoleh Naya sesaat.
"Hem.., Bapak dan Mama sudah keluar kamar belum Bi,?" Naya melirik kearah kamar mertuanya,
Bi Taty mengerutkan dahinya, "Kayanya belum Bu, tapi gak tau juga, yang jelas Bibi belum melihat mereka, tapi ada bekas orang makan sih tadi, mungkin Ibu besar makan."
"Oh," Naya membulatkan mulutnya, sembari membantu bi Taty masak.
"Bi, rasanya aku ingin sekali berbelanja, boleh gak Bi besok kalau belanja aku ikut,?" Naya menatap bi Taty penuh permohonan.
"Ya boleh atuh Bu,?" sahut bi Taty sembari tersenyum.
__ADS_1
Naya menunduk memotong sayuran, "Tapi gak jadi ah, nanti bikin Bibi repot lagi."
Bi Taty termenung mendengar ucapan Naya majikannya, ada rasa sedih mengiris hati, kasihan, namun bi Taty tidak bisa menjawab apa pun.
Naya memalingkan muka dan mengusap air bening di sudut pipinya, entah kenapa perasaannya jadi melow begini.
"Bibi mah mau nemenin Ibu, jalan-jalan, belanja juga boleh kalau Ibu mau, namun Tuan ijinkan tidak,?" ucap bi Taty sedikit menghibur, bi Taty melihat ketika Naya mengusap air matanya.
Naya hanya menarik napas dalam, lalu menghembuskan dengan panjang, dari arah kamar mertuanya mendekati meja makan, "Mak..,?" sapa Naya dengan seulas senyumnya.
"Hem.., Dimas ke mana,?" tanya bu Hesa menanyakan keberadaan putranya.
"Em.., Abang ke perkebunan, katanya ada hal yang harus di urus," sahut Naya lirih.
"Oh, kapan pulangnya,?"
"Kurang tau Mak, bilangnya sih gak lama, kenapa,?" Naya sekilas melirik, dan Naya jadi malu sendiri bila mengingat yang tadi ia lihat, Naya menunduk dan fokus dengan aktifitasnya.
"Mama mau pulang sama Bapak," lirih Bu Hesa.
Naya menoleh, "Loh kok pulang,? bukannya mau tinggal di sini ya Ma.?"
"Kenapa aku harus keberatan,? ini rumah Mama juga, ini rumah Abang, jadi Mama bebas dong kalau mau tinggal di sini," dengan tatapan sangat lekat.
"Kali aja kau tidak suka,?" Bu Hesa jutek.
"Ya Allah, Mama aku sama sekali tidak seperti itu, Mama orang tuaku juga, tadi aku sama Bapak sudah bilang, kalau Mama betah di sini biar saja jangan di paksa pulang, toh ini rumah kalian juga," ujar Naya hatinya merasa sedih, kata-kata Ibu mertuanya sedikit mengiris hatinya.
Bi Taty melirik Naya dan mengusap bahu Naya lembut, seolah berkata, sabar, Naya kembali menarik napas dalam-dalam.
"Ya kalau saja tidak suka bilang saja, tidak apa-apa, kalau kau menganggap saya orang tuamu juga ya.., makasih,?" ucap Bu Hesa sambil meminum jus buahnya.
"Maaf Ma, orang tua dari suamiku berarti orang tuaku juga, keluarga aku juga, jadi Mama jangan berpikir macam-macam tentang aku,?" Naya menatap lembut.
"Kalian ngobrolin apa sih,? serius amat,?" ucapan Bapak mertua yang baru datang dan duduk dekat istrinya.
Naya melirik dengan seulas senyum samar, "Pak.?"
"Dimas mana Naya,?" tanyanya.
__ADS_1
"Em.., Abang ke perkebunan Pak," jawab Naya.
"Oh, kapan pulangnya,?"
"Kurang tau Pak," sahut Naya, "Bi tolong ambilkan bumbu,?" Naya melirik bi Taty di sebelahnya.
"Baik Bu," bi Taty mengangguk.
"Kami mau pulang, bilang sama Dimas,? kami pulang, lain kali ke sini lagi,?" ucap Bapak mertua.
"Kenapa gak menginap lagi aja Pak, atau besok pagi aja pulangnya,? lagian kalian belum makan malam, atau nanti malam aja tunggu Abang pulang, kita makan dulu di sini, bi Taty sudah masak banyak loh Pak,?" cegah Naya memandangi kedua mertuanya.
"Masakannya di bawakan saja, apa susahnya sih,?" ketus Bu Hesa.
Naya mengerti maksud Ibu mertuanya, "Oh kalau mau di bekal boleh juga, tapi tunggu sebentar ada yang belum matang, Bi tolong siapkan wadahnya,?" titah Naya pada bi Taty yang langsung di iyakan oleh bi Taty.
Bi Taty memasukan masakannya sebagian pada wadah yang akan di bawa Bu Hesa, "Bi sisain sedikit aja, kita bisa bikin lagi kan,?" titah Naya.
"Iya Bu," sahut bi Taty menuruti perintah majikannya, setelah semua siap, Bu Hesa dan suaminya beranjak dari duduknya.
"Ya sudah kami pulang dulu ya Naya,? terimakasih masakannya,? oya bilang sama Abang kami pulang dulu,?" ucap Bapak mertua.
"Iya Pak, nanti Naya sampaikan,?" Naya mengangguk, "Bi tolong wadahnya di antar kan ke mobil,?" Naya mengalihkan pandangan pada bi Taty, bi Taty pun membawakannya ke mobil, Naya mencium punggung tangan Bapak dan Ibu mertuanya, lalu mereka keluar menuju mobilnya.
Naya mencuci perabotan bekas masak, bi Taty kembali dan menutup pintu, "Bu biar Bibi saja yang bereskan, Ibu duduk saja."
"Gak apa-apa Bi, sedikit lagi kok, Bibi kerjakan yang lain saja,?" suruh Naya, bi Taty pun menutup semua jendela dan menyalakan lampu di rumah tersebut, setelah kembali Naya sudah duduk di sofa.
"Bi besok pagi bersihkan kamar depan ya,? selimut, seprai dll nya ganti dengan yang bersih,?" pinta Naya, "Besok pagi aja, gak usah sekarang juga."
"Baik Bu, besok Bibi kerjakan, kok Tuan belum pulang ya Bu,?"
"Belum selesai kali Bi, ya sudah, sudah magrib juga aku ke kamar dulu ya Bi, Bibi makan aja duluan,? kalau abis pun tidak apa-apa biar buat nanti kalau aku mau makan bisa masak sendiri kok, yang penting jangan ada makanan yang mubazir," Naya beranjak menuju tangga.
"Bu, Bibi lihat sekarang Ibu jalannya lebih kuat dan naik turun tangga pun jarang memakai lift,?" bi Taty tersenyum bahagia.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
__ADS_1