Bukan Mauku

Bukan Mauku
I love you


__ADS_3

"Aku pun harus tahu diri waktu itu aku punya kekasih, semakin lama aku semakin menyadari, bahwa aku telah jatuh hati pada seseorang yang belum pernah aku temui, melihat wajahnya saja hanya dari sebuah gambar, namun aku sangat yakin aku sudah jatuh cinta, aku jatuh cinta sama kamu, dari lubuk hati yang paling dalam aku cinta kamu, aku gak rela kamu di sakiti orang, aku gak rela," Dimas lirih ia berkata benar-benar dari lubuk hatinya terdalam.


"Jawab dong sayang.?" ia memelas.


"Hmm...,emang aku harus jawab apa.?" Naya merasa bingung harus menjawab apa pada Dimas, jujur ia ingin mendapat kebahagiaan, tapi ia masih ragu jika harus menjalani hubungan dengan Dimas.


Dimas pun hanya terdiam,


Namun hati Naya harus akui bahwa ada rasa yang ia sendiri belum mengerti, nama apa yang tepat buat sebutan dari rasa itu.? dan saat ini ia merasakan sesak ingin nangis, di matanya sudah berlinangan air yang ingin mengalir dari bendungannya, dengan suara serak.


"Jujur aku gak tau harus bicara apa.? hanya ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya, terimakasih kau telah menyayangiku? terimakasih selama ini kamu selalu ada, mendengar setiap keluh kesah ku, selalu setia mendengar ceritaku dalam sedih, aku yakin kau bisa mendapat kan seseorang yang lebih tepat, sempurna, dan bukan aku.!" ucap Naya menggaris kalbu.


"Bukan jawaban itu yang aku mau.! cobalah buka hati untukku.? aku tahu kau pasti trauma dengan apa yang sudah terjadi, tapi orang takkan sama percayalah.?" Dimas meyakinkan.


"Aku tahu tidak semu sama cuma...,biarkan aku sendiri dulu, aku sadar siapa diriku, gak mungkin ada seseorang yang tulus mencintaiku.?" keluh Naya lirih.


"Yang..,aku akan terima kamu apa adanya.? tak akan pernah menyiakan-nyiakan kamu, seperti yang sudah tak akan.!" jelas Dimas.


"Aku percaya kamu baik, bertanggung jawab tapi apa takdir akan mempertemukan kita.? secara kau dan aku terhalang jarak yang cukup jauh terhalang oleh Pulau, tak mungkin kita bisa bertemu apalagi menyatu." tutur Naya menjelaskan bahwa jarak belum tentu dapat di tempuh.


"Aku yakin suatu saat kita pasti bertemu." balas Dimas terus meyakinkan.


"Dimas, tolong mengerti, saat ini biarkan aku sendiri ya, dan aku takut cintamu hanya sesaat untukku, mungkin saja hanya untuk membalut lukaku--!" ucapan Naya terpotong.


"Tidak, aku benar-benar mencintaimu, dan itu dari lama, percaya padaku" dengan suara lembut Dimas.


"Namun meski begitu, aku yakin jika berjodoh takkan kemana.! semua akan baik-baik aja," tambah Naya terisak-isak.


Hati Dimas mencelos mendengar jawaban Naya seperti itu, tapi ia tak berputus asa, ia yakin mungkin Naya butuh waktu untuk berpikir, memang pasti tak mudah untuk menepis rasa trauma, dari kegagalan yang belum lama ini di alaminya.


Dengan resah yang mendera, mencabik hati yang meronta, akhirnya kali ini cinta yang membara harus di redam tak terbalas.

__ADS_1


"Sayang, i love you." Dimas lembut dengan segenap rasa, Naya tak bersuara lagi hanya helaan napas kasar dari hidungnya.


"Ya sudah, beristirahat lah, sudah malam" kata Dimas.


"Iya, kau juga harus istirahat, nanti kau kesiangan, bukankah besok harus bekerja.?" sahut Naya merebahkan lagi tubuhnya di kasur.


"Iya kak, met malam.? semoga mimpi indah." Dimas memutuskan panggilannya, yang sebelumnya Naya mengucapkan. "Malam juga"


Naya yang merebahkan lagi tubuhnya di kasur menata langi-langit yang gelap tanpa cahaya, "Maaf Dimas, sesungguhnya aku juga sayang sama kamu, tapi..,masih banyak wanita yang sempurna untukmu." di sudut matanya menggenang buliran-buliran air.


Sementara Dimas setelah mematikan panggilan melempar ponselnya ke kasur seakan frustasi duduk dengan kaki terlipat kebelakang dan kedua tangan memeluk kepalanya.


"Ya Tuhan...,aku cinta dia, aku cinta wanita yang jauh dariku, aku cinta wanita bernama Kanaya." setengah berteriak namun ia masih sadar, sehingga segera terdiam, dengan tatapan kosong, ia turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, terdengar suara air keran yang mengalir dari sana.


Selang beberapa menit ia kembali dengan handuk yang melilit di pinggang, sudah nampak segar sekarang, ia memakai kaos polos dan celana pendek, sejenak duduk di tepi tempat tidur, menghela napas panjang.


Kemudian ia berdiri mengeringkan rambut dengan handuk, dan menyimpan handuk di tempatnya, lalu naik ke tempat tidur menghempaskan tubuhnya terus berselimut, mulanya sulit tuk pejamkan mata tapi lama-lama tidur pulas juga.


Sekitar jam sembilan pagi nada dering berbunyi tanda ada telepon masuk, Naya merogoh saku celana jeans mengambil ponsel miliknya.


"Halo...,ada apa zak.?" sapa Naya pada David yang katanya berada di Bandung ke tempat saudara Ibunya.


"Teh tolong bilang ke Uwa, si Wildan kecelakaan.!" suara David cemas dan sedih.


"Hah, apa.? yang benar zak.? gak bercanda kan.? gimana keadaannya sekarang.? di mana kejadiannya.? kamu sendiri gimana.? Naya mencerca pertanyaan pada David.


"Di Bandung teh, kejadiannya kemarin sore, kami mau menyebrang tiba-tiba ada motor menabrak si Wildan, kakinya patah teh." jawab David membayangkan kejadian kemarin sore.


"Masya Allah..,sekarang di mana zak.?" tanya Naya cemas.


"Sekarang dia tengah di rawat di RS Bandung, kalau sudah membaik akan di bawa ke Sukabumi perawatan tulang teh." balas David.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga cepat sembuh ya si Wildan, Ya ampun.., ada-ada saja nih musibah, tapi kamu baik-baik aja kan zak.? si Heri juga.?" Naya khawatir.


"Aku Alhamdulillah teh, A Heri juga baik-baik saja. sekarang akau lagi di RS menemani Wildan." kata David meyakinkan.


"Ya nanti aku bilang ke Bapak soal ini, tapi zak kalau masih di Bandung mah gak akan bisa menjenguk karena kejauhan, nanti aja kalau sudah di Sukabumi, ngerti kan zak.?" ucap Naya meminta pengertian.


"Iya teh, gak apa-apa kan jauh, cukup doanya aja, doa kan semoga cepat sembuh minimal sudah bisa di bawa ke Sukabumi lah." balas David.


"Iya zak, pasti di doa kan dari sini juga semoga cepat sembuh, dan kamu hati-hati zak jaga diri baik-baik ya.!" tutur Naya.


"Siap teh insyaallah, aku baik aja kok, ya sudah dulu ya.?" David berpamitan.


"Ya zak" Naya menutup panggilan, ia melongo sejenak, "Astagfirullah, ada-ada aja ya Allah." batin Naya menggeleng pelan.


Bapaknya Naya menghampiri, "Pak si Wildan kena tabrak." kata Naya.


Mendengar ucapan Naya pak Nanang melongo, seakan gak percaya. "mereka di Bandung kan.?" tanyanya menatap Naya.


"Iya di Bandung sekarang di sana, kakinya patah" tambah Naya tertunduk.


"Astagfirullah." gumam Bapaknya Naya.


"Ada apa.?" tanya bu Nina yang baru datang.


"Si Wildan kena tabrak di Bandung" jawab Bapaknya Naya, terduduk, bu Nina pun termangu.


"Gimana mau menjenguk.? kan jauh.?" tanya bu Nina menatap suaminya.


,,,,


Terimakasih reader ku semua yang masih setia mampir di novelku ini, maaf ya atas kekuranganku🙏 namun terus dukung aku ya terus lake, komen yang banyak, agar aku tambah semangat belajar menulirnya.

__ADS_1


__ADS_2