Bukan Mauku

Bukan Mauku
Be'ol (belanja online)


__ADS_3

"Aku antar sayang,? Dimas mau meraih tubuh sang istri namun Naya tolak, dengan alasan badannya masih pres katanya, kemudian berjalan meninggalkan Dimas yang duduk membuka laptopnya.


Naya menghampiri dapur menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng, Bibi yang tengah menyapu dan mendekati Naya, "Mau bikin apa Bu,? biar Bibi yang ngerjain atuh.?"


"Gak pa-pa Bi, biar aku aja buat suami aku aja kok," Naya memberi senyumnya.


Bi Taty terdiam, lalu kembali mengerjakan tugasnya, bersih-bersih ke lantai atas, sementara Naya asik membuatkan Dimas nasi goreng.


Dalam lima belas menit nasi goreng Naya sudah siap, tinggal menyiapkan susu coklat hangat, untuk berdua, Dimas turun dari lantai dua menghampiri Naya yang membelakanginya, "Hem, wanginya.., nasi goreng buatan istriku..," mendekati Naya melihatnya sedang mengaduk segelas susu coklat hangat.


Naya melirik ke arah Dimas, dan memberikan gelas berisi susu, Dimas tersenyum nakal, "Gak mau ah, mau yang itu aja," ucap Dimas dengan pandangan nakalnya.


Sontak membuat Naya melotot, membulatkan mata sayu nya, "Aku tumpahkan nih," dengan kesal, "Yang aku sudah capek-capek buatkan," nada manja.


"Iya sayang, aku bercanda," Dimas mengambil gelas susu dari tangan Naya.


Kemudian duduk, menghadapi sepiring Nasi, Naya pun duduk dekat Dimas, mengambil piring dan sendok, Naya menyuapi Dimas dengan tulus.


Dimas membuka mulutnya dengan senang hati, sebelumnya membaca basmalah.


Mereka berdua makan dan minum di piring dan gelas yang sama, bi Taty menyaksikan itu dari tempat nyuci tersenyum manis, Naya melirik bi Taty yang tengah tersenyum ke arahnya, "Bi, bikin sarapan ya buat Bibi sendiri, kami udah sarapan, maaf gak di bikinin.?"


"Aduh..,Bu, jangan mikirin Bibi,? Bibi bisa makan apa aja, lagian Bibi belum lapar kok," sahut bi Taty dari tempat nyuci.


Dimas menempelkan siku tangannya di meja sembari mengunyah melirik Bi Taty, "Bibi betah di sini,?" sambil meneguk setengah air putih.


"Wah.., Bibi mah betah Tuan, betah sekali," sahut bi Taty senyum yang sumringah.


"Syukurlah,? Dimas mengangguk kan kepalanya.


"Tapi--!" Bibi menggantung perkataannya, wajah sumringahnya berubah menjadi murung.


"Tapi.., apa Bi,?" Naya menatap bi Taty, meminta jawaban.


Bi Taty mendekati majikannya, "Em.., Bibi kangen sama keluarga Bibi, dan Bibi mau minta ijin, tuk pulang sebentar,?" dengan nada ragu-ragu.


Naya tersenyum dia kira ada apa, "Boleh lah Bi, kapan,? hari ini atau--!" dengan tatapan sendu.


"Kalau di ijinkan hari ini Bu," sahut bi Taty menunduk.


"Boleh Bi, tapi jangan lama-lama kami membutuhkan Bibi di sini, terutama Naya," Ucap Dimas sambil melirik istrinya.


Naya mengangguk, "Iya Bi, boleh sih."


Bi Taty kembali sumringah, dan mengangkat wajahnya, "Terimakasih ya Tuan dan Ibu.?"


"Nanti ambil buat ongkos dan gajih bulan ini sama istri saya, karena yang memegang keuangan kan istri saya," Dimas lagi-lagi melirik wajah sang istri sembari menyentuh lembut bibir sang istri yang sedikit belepotan dengan susu coklat,


"Baik Tuan, sekali lagi terimakasih,? Bibi akan segera kembali, gak akan menginap di rumah," sambung bi Taty.


"Iya Bi," Dimas beranjak dari duduknya, lalu menyambar piring dan gelas bekasnya, di bawa ke wastafel tuk di mencucinya.


"Yang biar aku aja, yang nyuci," pinta Naya.


"Tuan biar Bibi aja, itu tugas Bibi,?" bi Taty mendekati wastafel namun tangan Dimas di angkat ke atas.


"Gak apa-apa, biar saya saja, saya kan seorang suami, jadi pekerjaan rumah salah satunya mencuci adalah pekerjaan saya," ujar Dimas sambil mencuci, Naya tersenyum mendengar ucapan Dimas, sementara bi Taty terdiam di tempat.


Usai mencuci, Dimas mengelap tangan lalu menghampiri Naya, "Yang, aku berangkat dulu ya.?"


Naya mengangguk, dan mencium punggung tangan suaminya, sementara Dimas seperti biasa mendaratkan ciumannya di kening sang istri.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..,? sayang jaga diri baik-baik, I love you,?" Dimas berjalan membawa tas kerjanya.


"Wa'alaikum salam.., hati-hati yang,?" sahut Naya, melepas kepergian Dimas.


Kali ini Dimas mau membawa mobil, ke tempat kerja, setelah menancap gas Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, sebelumnya Dimas melambaikan tangan pada sang istri.


"Bi bentar, aku ke atas dulu, nanti kalau Bibi mau pulang temui aku dulu ya Bi,?"! ujar Naya beranjak dari duduknya.


"Oh, iya Bu hati-hati Bu," bi Taty sambil mengangguk.


Naya naik lift ke lantai atas menuju kamarnya, ia duduk santai di sofa samping tempat tidur, dengan menyibukkan diri pada ponsel untuk menulis, meski sudah ada laptop yang diberikan Dimas namun masih nyaman dengan ponsel, beberapa saat kemudian bi Taty mengetuk pintu.


Tok...


Tok...


Tok..., "Bu,? Bibi boleh masuk,?" pekik bi Taty dari balik pintu kamar Naya.


"Masuk aja Bi, tidak di kunci juga," sahut Naya, menoleh kearah suara, lalu bi Taty masuk ke dalam kamar.


Naya menatap bi Taty dia sudah rapi mengenakan gamis lengkap dengan kerudungnya, "Bibi sudah siap,? mau pergi sekarang.?"


Bi Taty duduk di sofa yang sama dengan majikannya, "Iya Bu, tidak apa-apa kan Bibi tinggal sebentar Bu,?" dengan wajah cemasnya takut ada apa-apa menimpa majikannya yang satu ini.


Dengan wajah ceria di hiasi senyuman manis Naya berkata, "Bi, jangan khawatir aku akan baik-baik saja di rumah, ya kalau Bibi betah di sini cepat kembali, seperti kata suami aku Bibi di butuhkan di sini, itupun kalau Bibi tidak keberatan di repot kan oleh aku dan suami.?"


Batin bi Taty terenyuh mendengar ucapan majikannya, "Ya ampun.., Bibi sangat betah di sini, dan Bibi janji selama Ibu juga tuan membutuhkan Bibi, insya'allah Bibi akan menemani Ibu di sini, Bibi tidak keberatan di repot kan sama Ibu dan Tuan, karena kan memang tugas Bibi, Bibi akan selalu menjaga Ibu," lirih bi Taty dengan mata berkaca-kaca walau baru satu bulan di sini namun rasanya sudah tidak asing lagi dengan Naya serta Dimas.


"Ya sudah, ini gaji beserta buat ongkosnya Bibi pulang, jangan lupa kalau gak terlalu penting, Bibi segera balik ya,?" pinta Naya, sembari memberikan sebuah amplop putih yang lumayan tebal.


Bi Taty mengambil amplop tersebut dari tangan Naya, "Terimakasih Bu, iya nanti sore juga Bibi balik, Ibu baik-baik di rumah ya,? Bibi tinggal dulu," setelah memasukan amplop uang ke dalam tas, bi Taty berdiri berjalan melewati Naya namun baru berapa langkah, bi Taty membalikkan badan menghadap Naya.


"Maaf Bu,? Bibi baru ingat, di dapur sudah menipis setok sayur dll nya, apa perlu Bibi belanja dulu,? sebelum pulang,?" ucap bi Taty memandangi Naya yang menunduk.


Bi Taty mengernyitkan dahinya kurang mengerti dengan ucapan majikannya, "Be'ol, apa tuh Bu be'ol,? Bibi gak ngerti,?" sambil nyengir dan menggaruk pelipisnya.


Naya tertawa samar, "Maaf Bi, hi..,hi..,hi.., be'ol itu.., artinya, belanja online, kita tinggal pesan lewat handphone, lalu datang deh belanjaan yang kita butuhkan."


"Eleuh, eleuh.., si Ibu mah meuni bisaan,? ah, Bibi mah kurang ngarti, da ngarti nage mangkat we ka pasar atawa ka warung, hi..,hi..,hi.., ya udah atuh Bu, Bibi berangkat dulu, Assalamu'alaikum..,?"


"Wa'alaikum salam..,hati-hati ya Bi,?" jawab Naya menatap langkah bi Taty keluar dan menutup pintu.


Naya duduk seorang diri di kamar, sudah lama Naya tidak berbincang atau menanyakan kabar keluarga di Semi, makanya ia menelpon Lely kebetulan langsung di angkat, mereka berbincang di telepon lama.., banget, apa aja segala di tanyain, apa aja di bincang kan, kebetulan juga keluarga lagi mengumpul, jadi bisa mengobrol sambil video call juga.


******


Setibanya di Rumah Sakit Dimas langsung memulai aktivitasnya, dengan segala keahlian yang dia miliki, ya itu perannya sebagai dokter muda ahli bedah, dalam waktu senggang dia duduk di meja kebesarannya, dengan segelas air mineral di tangan kemudian meminumnya hingga tandas.


"Halo dok, boleh saya masuk,?" Endro berlagak mengetuk pintu sambil nyengir kuda memperlihatkan barisan gigi putih bersihnya dan menunjukkan lesung pipinya,


"Hem.., masuk bro,?" sahut Dimas yang sedikit menggoyang kursi kebesarannya, "Ada apa bro,? silahkan duduk."


Endro duduk depan Dimas yang menatap dengan datar, "Hah kau ini tak boleh kah saya duduk sini,? tidak sibukkan.?"


"Seperti yang lihat sekarang ini, saya sedang santai dan sebentar lagi mungkin akan sibuk kembali," ujar Dimas menaikan bahunya.


"Dok, kok aku tidak melihat si gadis seksi Citra,?" kata Endro menatap Dimas.


Sementara waktu, Dimas terdiam dengan tatapan dingin, "Kau pikir saya orang tuanya atau bodyguardnya gitu,? sehingga kau menanyakan pada saya,? siapa saya.?"


"Ya bukan gitu dok,? habis kan kau selalu yang dia kuntit, jadi saya pikir siapa tau aja kau tau gitu,?" Endro menaikan alis sebelah.

__ADS_1


Dengan menaikan bahu Dimas menjawab, "Tidak"


Endro terpaku di sementara waktu, begitupun dengan Dimas yang pikirannya menerawang entah kemana, lalu Dimas membuka suara yang beberapa saat hening..,


"Kau kan bisa menanyakan pada kawannya, atau cari data-datanya, kan bisa, bukan termenung di sini bro," ucap Dimas memecah keheningan.


Endro menoleh dan senyum tipis, "Iya juga bro,? makasih atas sarannya," dia beranjak dari duduknya menyambar jaketnya dari kursi dan dengan cepat melangkah pergi dari tempat tersebut.


Dimas menggeleng melihat reaksi Endro, sepertinya dia tergila-gila pada Citra, seorang dokter magang yang beberapa hari ini menghilang.


Dimas berdiri menggeser kursinya, karena sudah jadwal ngecek pasiennya, Dimas berjalan santai di koridor Rumah sakit, sesekali berbincang dengan dokter lain, suster juga mantri yang berpapasan dengan dirinya.


Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponselnya, Dimas merogoh saku celananya tuk mengambil ponsel, ia lihat pesan dari Endro, dia memberi kabar bahwa Citra mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu, mobilnya di menabrak trotoar yang mengakibatkan dia mengalami luka-luka ringan, Dimas termenung dalam waktu yang cukup lama, ia pikir kemungkinan kejadiannya sepulang dari menguntit dirinya ketika di perkebunan sawit.


Dimas bersandar di dinding koridor Rumah sakit, ada rasa bersalah menghantuinya, mungkin gara-gara ia tinggalkan dia kecelakaan, helaan napas yang panjang.., kemudian ia hembuskan kasar.


"Tidak, bukan karena diriku,? itu terjadi mungkin kerena kelalaiannya, dan aku tidak ada hubungannya sama sekali, salah siapa dia mengikuti sampai ke perkebunan segala,? sudah di bilang aku punya istri, masih saja ngotot," gerutu Dimas dalam hati.


Akhirnya ia melanjutkan lagi langkahnya, tuk mengecek beberapa pasien.


Usai tugasnya rampung, Dimas memutuskan untuk menjenguk Citra bersama beberapa dokter di sana, ia hendak menelpon my love tuk meminta ijin terlebih dahulu, Dimas mengambil ponsel dan menekan kontak my love.


Dimas: "Halo.., sayang.?


Naya: "Iya.., ada apa.?


Dimas: "Nggak kangen kah sama diriku.?


Naya: "Tidak."


Dimas: "Sedang apa sayang di rumah,? Bi Taty hadi kah pulangnya.?"


Naya: "Jadi, aku sedang menunggu be'ol,? kenapa.?


Dimas: "Tidak,! "oya apaan tuh Be'ol?sedang buang air besar bukan.?"


Naya: "Bukan, tapi.., belanja online yang.., aku sedang menunggunya."


Dimas: "Ha..,ha..,ha..,kirain buang air besar yang, oh jaga diri baik-baik ya,? oya ijin ya.?"


Naya: "Ijin apa yang.?"


Dimas: "Ijin.., pulang telat."


Naya: "Kenapa,? mau kemana,? sama siapa,? masih sibuk bukan,? jangan lupa makan kalau mau telat pulang.?"


Dimas: "Iya sayang.., bawel..,! karena ada kawan aku kecelakaan, dia dirawatnya di Rumah Sakit lain, jadi kami mau menjenguk sama-sama, ijin ya.?"


Naya: "Oh begitu, ya sudah hati-hati ya, jangan lupa makan siang, dan.., cepat pulang, aku sangat merindukanmu."


Sambungan telepon terputus, dan Dimas melukiskan senyumnya, "Aku juga sangat merindukan dirimu istriku," gumam Dimas pelan sembari menutup ponselnya.


Dimas segera ke parkiran, yang lain pasti sudah menunggu di sana, benar saja ada beberapa dokter pria dan wanita yang mau ikut menjenguk Citra, dan semuanya menjadi berlima, semua ikut mobil Dimas, mobil melaju ke sebuah Rumah Sakit dimana Citra di rawat.


Sekitar 40 menit di perjalanan akhirnya Dimas dan kawan-kawan sampai di tempat tujuan, usai memarkirkan mobil mereka semua berjalan memasuki Rumah sakit, dan di sambut oleh Endro yang menunggu di sana, langsung saja mereka memasuki ruang inap Citra, di sana Citra berbaring lemah kepala, tangan, dan kaki tak luput dari perban.


Semuanya menghampiri Citra yang dan menanyakan kabar terkini dari Citra dan wanita itu hanya senyum samar tak banyak bicara di karenakan kondisinya, apa lagi pada Dimas Citra senyum kecut dan berlinang air mata, Dimas pura-pura tidak tau.


Dimas hanya berkata, "Cepat sembuh nona cantik, pangeran mu sudah menunggu,?" Dimas melirik Endro yang duduk dekat Citra.


Mulanya Citra berharap yang Dimas sebut pangeran mu sudah menunggu adalah dirinya sendiri, namun dengan lirikan mata Dimas tertuju pada Endro, hati Citra merasa terhiris pedih, lebih pedih dari luka yang tengah dia rasakan saat ini, orang-orang mengira Citra menangis tersedu sangat memilukan itu karena kejadian yang dia alami, padahal karena luka cinta yang tak terbalaskan.

__ADS_1


,,,,


Tiada kata seindah kata Assalamu'alaikum w.r.w.b semoga yang mengucap juga yang menjawab sama-sama mendapat pahala yang berlimpah, terimakasih pada reader ku yang masih setia membaca novel ini🙏 semoga Allah berikan rejeqi yang berlimpah🤲🤲 jangan lupa selau lake komen, rating dan vote nya, supaya aku tambah semangat.


__ADS_2