
Dimas terdiam sesekali mengelus pipi sang istri itupun sedikit menghindar, "Cari makan dulu yuk,?" ajak Dimas, namun Naya menggeleng pandangannya keluar jendela, dia jadi bingung entah harus dengan cara apa lagi agar bisa membujuk hati bidadari nya itu.
Sesampainya di rumah, Naya merapikan diri terlebih dahulu sebelum turun, mengambil buket bunga dan paper bag, sebentar manarik napas lalu turun, dan masuk rumah.
Dari dapur Rita berlari menghampiri Naya, "Tante bawa oleh-oleh gak," mendongak.
"Aduh.., tante lupa, maaf ya, lagian kan nanti boneka nya datang, iya kan,?" Naya benar-benar lupa, lagian boro-boro beli oleh-oleh, toh sitwasi dan kondisinya gak mendukung, Naya menatap bocah itu yang nampak sedih, namun secepatnya berubah ceria lagi.
"Oh iya ya, kan boneka nya mau datang, hore..,!" sembari berlari mendekati cucu-cucu bu Hesa yang sudah berkumpul.
Kanaya di sambut dengan anggukan hormat dari para asistennya, Naya balas senyuman samar.
Naya kembali melangkah dan meniti anak tangga menuju kamarnya, memutar kenop pintu ceklek di buka, Naya berjalan gontai menyimpan bunga dan paper bag di meja, duduk sebentar di sofa lalu ke kamar mandi kebetulan belum menunaikan dzuhur.
Kemudian ia melangkah kan kakinya ke ruangan kerja yang kosong, sebab hari Lisa ia suruh menunggui konter.
Membuka lembaran kertas dan mengambil kain batik untuk di potong, sementara Dimas setelah ditinggalkan oleh Naya di mobil, ia turun berjalan ke belakang menuju kolam renang dan kolam ikan.
Duduk di sana melihat ikan dan memberinya pakan, sambil memandangi ikan yang berebut pakan, di kepalanya masih kepikiran kejadian yang tadi, ia duduk bersandar dengan pandangan yang kosong.
Perutnya terasa keroncongan, kali yakin tidak akan mendapat suapan dari sang istri akhirnya Dimas masuk mencari makan di dapur.
"Hem..," sudah tercium wangi-wangi masakan, sehingga makin mengunggah selera makan, isi perut yang dari tadi demo menuntut jatah makan akhirnya terdiam menikmati porsinya masing-masing.
Dimas melahap setiap menu masakan yang ia suka, melirik asistennya yang sibuk membuat makanan buat ntar malam, "Bi, yang lain sudah pada makan.?"
Bibi menoleh, "Sudah tuan."
"Ibu udah makan.?"
Asistennya saling pandang, "Belum, Ibu tadi setelah naik belum turun lagi," bi Meri menggeleng.
Setelah merasa kenyang Dimas meneguk air mineral lalu beranjak dari duduknya, menggeser kursi lalu bergegas menaiki tangga, ketika mau membuka pintu kamar Dimas menoleh pintu ruangan kerja Naya yang sedikit terbuka dan mesin pun menyala, "Pasti istri 'ku di sana, karena Lisa kan berada di konter," gumam Dimas.
Benar saja di dalam kamar, kosong, segera Dimas masuk kamar mandi dan berendam di sana beberapa saat.
Naya tengah asik bekerja sampai lupa kalau ia belum makan, saking seriusnya hingga tidak mengetahui kalau Dimas masuk menghampirinya.
"Sayang, makan dulu nanti sakit," memegangi kedua bahu Naya, membuat Naya kaget sampai-sampai jahitan meleset.
Naya menoleh dengan tatapan datar, namun tidak memberi sepatah katapun.
"Sorry,? makan dulu yuk, bunda kan belum makan," berjongkok di sebelah Naya.
Naya masih tidak ingin menjawab, ia tetap fokus pada jahitannya, sesekali menerima chat bisnis online nya, Dimas menghela napas panjang, "Sayang mau sampai kapan diemin ayah sih,?" hari ini kan Mama ulang tahun masa kita mau diem-dieman,? gak enak dong sama mereka Mamak dan Bapak juga semuanya, lagian gak baik loh kalau suami istri cuek-cuek gini,"
"Belum satu hari," ketus.
"Iya sih.., belum satu hari-!"
"Baru beberapa jam."
"Benar, tapi.., gak tega kah membiarkan ayah makan sendiri, mandi sendiri barusan aja mau tidur sendiri," Dimas merajuk sambil membujuk.
__ADS_1
"Emang kapan mandi di mandiin,? tidur juga gak pernah di timang-timang tuh.?"
Dimas mulai melukiskan senyumnya hati Naya mulai luluh lagi, "Hore..," batinnya.
"Iya sayang, intinya gak enak di cuekin sama istri di rumah," sambil menempelkan dagunya di paha sang istri, posisi Dimas menjadi duduk di lantai sementara Naya di kursi.
"Hem.., di rumah gak mau di cuekin, tapi.. kalau di luar boleh,?" tetap fokus menjahit
"Eh.., nggak dong di mana pun gak mau"
Naya menoleh menjadi berhadapan dengan Dimas, "Terus kenapa berbuat ulah seperti tadi,? jadinya kesal, BT tau gak,?" dengan ekspresi manja.
"Iya maaf sayang maaf banget," Dimas menyatukan telapak tangan depan dagunya.
"Kenapa harus ninggalin aku coba,?" cemberut.
"Bukan ninggalin, kan aku balik lagi, aku mencari bunda juga."
"Mana ponsel gak bisa di hubungi lagi siapa yang gak bakalan marah coba,?" menatap teduh suaminya.
Dimas memegangi tangan Naya meremas jari-jemari sang istri lembut, keduanya saling pandang-pandangan mesra, emang paling gak bisa marahan lama, jangankan berhari-hari satu hari aja gak bisa.
"Ayah tau sayang gak bisa marah lama, se marah apa pun bunda sama ayah, gak akan bertahan lama," dengan senyuman sangat bahagia.
"Ge'er, percaya diri banget sih,?" menunduk tersipu malu.
"Iya dong," Dimas mengangkat dagu Naya dengan jarinya, lalu mendekatkan wajah ke wajah Naya sehingga napas Dimas menyapu pipi Naya, seperti desiran angin yang menyelinap ke dalam pori-pori, perlahan tapi pasti bibir Dimas semakin mendekati bibir ranum sang istri, Kanaya memejamkan matanya, tinggal satu senti lagi mendarat.
"Ehem.."
"Ck..ck.. gagal deh acara mengisap madu," batinnya, namun ia bisa menetralisir keadaan dengan cepat, "Ada apa Mak.?"
"Ah nggak, jalan-jalan aja, batik buat Bapak mana ya,?" melihat-lihat deretan pakaian yang tersusun rapi.
Naya masih belum bisa menetrisir jantungnya yang berdebar, gugup, malu menjadi satu, "Em- em.., yang tolong ambilkan yang itu buat bapak," Naya menunjuk satu batik yang sudah di siapakan untuk bapak mertua.
Dimas berdiri melangkah kaki ke tempat yang Naya tunjukkan, "Ini Mak batik nya, sudah rapi kan sayang," Dimas memberikan pada sang Ibu, dan meliring sang istri.
"Iya"
"Baik lah, Mama bawa ini ke Bapak, silahkan teruskan lagi," ucap bu Hesa sambil melengis pergi dari tempat tersebut.
Setelah bu Hesa gak ada Naya menoleh suaminya yang tersenyum mengandung arti, "Malu-malu, 'ku malu banget," Naya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Dimas menarik tangan Naya dari wajahnya, "Kenapa mesti malu,?" sambil menaikan alisnya, "Kita kan tidak melakukan yang salah, masa mau nyentuh istrinya gak boleh, halal dong sayang," bibir Dimas kembali mendekati dan Naya lagi-lagi pejamkan mata, akhirnya mendarat juga namun baru saja nempel.
Tok..
Tok..
Tok.., "Kak, mana gaun buat aku,? kan kak ipar sudah janji akan buatkan demi aku kan,?" Maria dan istri Sandi mengahampiri.
Lagi-lagi keduanya menoleh, "Sial," Dimas langsung berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Eh..,abang mau kemana,?" Maria menoleh abang nya yang berjalan dan mempercepat langkahnya ke luar tanpa berkata-kata.
Naya tersenyum samar pada kedua adik iparnya, dan melihat kepergian suaminya yang nampak kesal.
"Ha..,ha..ha..," kedua wanita itu tertawa lepas setelah Dimas menghilang.
"Ha..ha..,ha.., wajahnya di tekuk gitu seperti tutut, seperti siput yang di bumbuin," jelas Maria sembari terkekeh.
"Iya, seperti bunga putri malu, yang ke injek ck ck."
Naya hanya bisa senyum tipis pada mereka, memijat-mijat keningnya, lalu mengambil dua gaun batik untuk kedua adik iparnya, "Ini coba dulu lah."
Keduanya mencoba dan ternyata semuanya pas, di tubuh masing-masing, mereka pun senang, Maria berdecak kagum dengan gaun yang ia pakai, gaun tak berlengan, panjang di bawah lutut, sederhana tapi terkesan mewah dengan kain batik asli Kalimantan. "Ini geratiskan kak.?"
Naya memandangai keduanya terutama Maria, "Iya dong geratis untuk kali ini aja tapi."
"Ok, berarti kalau lain kali harus bayar," sahut Maria menatap kakak iparnya.
"Iya"
"Ok, makasih ya kak, buat nanti malam," Maria mencium Naya tanda terima kasih, begitu pun istri Sandi, berterimakasih banyak pada Naya, kemudian mereka pamit dan meninggalkan Naya.
Selepas mereka pergi Naya pun keluar, setelah menutup pintu ia berjalan mendekati tangga di bawah rame dengan anak-anak, dan orang-orang yang mendekor, kemudian Naya masuk ke dalam kamarnya, ceklek kembali di tutup bahakan di kunci setelah nampak Dimas ada di atas tempat tidur tengah tengkurep.
Naya mendekati dan berdiri di tepi tempat tidur, "Yang.., tidur kah.?"
Dimas tak menjawab, Naya naik merangkak di atas tempat tidur, mendekati tubuh suaminya, berbaring menghadap kearah Dimas, membelai rambut nya sangat lembut.
"Hem.., baby besar 'ku sudah tidur rupanya," Cup mencium kepala Dimas.
Dimas membuka dan memicingkan matanya, namun masih dengan posisi yang sama, kenapa ke sini bunda.?"
"Hem.., emangnya gak boleh ya,? bukankan ini kamar 'ku juga ya."
"Kemana mereka.?"
"Mereka, ya turun lagi lah, mereka hanya ingin mengambil gaun pesanan mereka aja kok," jelas Naya dengan tangannya yang mesih membelai rambut suaminya.
"Bayar.?"
"Nggak," Naya menggeleng, "Untuk kali ini geratis 'ku bilang, tapi kalau lain kali kalau mereka pesan lagi harus bayar."
"Hem.., kalau bunda ngasih ke keluarga di sini geratis, bunda juga harus bisa ngasih ke family di Sukabumi biar adil," tegas Dimas.
"Tentu, makan dari itu, aku mau bilang gitu sama ayah, kenapa sih hadap situ terus hadap sini aja napa,?" dengan suara manja sambil menepuk pundak Dimas.
"Nggak"
Naya menaikan bahunya, "Kenapa sih.?"
Kepala Dimas menggilir wajahnya menghadap kearah Naya namun tubuhnya masih sama, "Ada macan bangun, kalau 'ku berbalik takutnya menerkam," ucap Dimas pelan, mulanya Naya gak mengerti namun lama-lama ia faham dengan maksud suaminya, bahwa di balik tubuhnya yang tengkurep ada yang sedang bangun ! membuat Naya terkekeh.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena komen dari kalian menambah 'ku semangat, untuk menulis, terimakasih juga bagi yang sudah ngasih saran atau masukan makasih banyak ya.!!