Bukan Mauku

Bukan Mauku
Menuju villa


__ADS_3

"Iya Pak, Mak, dari luar kota, kalian baru mau berangkat,?" tanya balik Dimas pada orang tuanya.


"Iya, kami mau ke rumah lama dulu."


"Oh, hati-hati bah."


Dimas berjalan gontai menaiki anak tangga, lantas masuk ke kamarnya, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," sahut Naya yang sudah nampak segar, menoleh suaminya yang baru masuk berjalan sangat gontai.


Menghampiri Naya yang duduk bersandar di tepi tempat tidur, "Gimana jalan-jalannya happy.?"


"Happy."


Dimas mendekati kening Naya dan mengecupnya dengan mesra, "Kangen."


"Em.., mandi sulu sana," titah Naya mendorong dada Dimas.


"Pelit," sambil berdiri dan menyimpan ponsel di atas meja, lalu hendak membuka kemejanya namun melihat beberapa kertas bekas transaksi tergelatak di meja, Dimas ambil dan membacanya.


Naya menatap cemas, "Ya Allah, kenapa harus di baca sekarang sih, tepat gak ya waktunya,?" gumam Naya dalam hati dan menggigit bibir bawahnya.


"Apa ini,?" melirik sebentar kearah Naya.


Naya terdiam dan menunduk, ekspresi apa yang akan Dimas berikan setelah membaca kertas itu.


"Apa,? 80 juta, Bunda hari ini mengeluarkan uang sebesar 80 juta,?" menatap Naya yang menunduk, "Beli tas sama liontin ya sayang, mana barang nya Ayah pengen lihat.?" tatapan Dimas semakin lekat.


"Em-em itu, barang-barang Mama," ucap Naya lembut dan gugup.


"Barang Mama, Bunda yang bayarin.?"


"I-iya..."


"Apa,? hanya untuk bayarin Mama, ya Tuhan.., kan belum lama ini kita sudah ngasih hadiah cincin berlian Bunda..," dengan muka datar dan tak percaya.


"Habis gimana, Mama yang minta di bayarin gimana, sementara barang nya sudah di pake, masa gak di bayar siapa yang malu,?" lirih Naya, dengan raut wajah yang bingung.


"Mama itu, gak pernah beli barang yang mahal, kenapa sekarang mau beli tas dan liontin yang menghabiskan nominal 80 juta, gak salah,?" sambung Dimas dengan nada kesal.


"Ya gak tau, tanya aja sendiri," Naya menaikan bahunya.


"Pernah gak berpikir masih banyak hal yang lebih penting, Bunda ingat betul kan, kita sedang membangun klinik yang membutuhkan m-m man, kan 80 juta juga lumayan bunda buat di pake kesitu, sore ini kita gak jadi jalan," Dimas masuk kamar mandi dan menutup pintu dengan keras, membuat Naya kaget.


Naya menangis, hal ini lah yang ia cemaskan dari tadi, yang membuat hatinya gundah gulana, tidak ridho nya suami atas apa yang ia lakukan, sesekali ia menyeka air matanya, yang membasahi pipi.


Tidak lama Dimas keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan duduk di sofa yang sama dengan Naya, "Apa bunda nggak berpikir atau mengingat orang tua bunda di kampung, jangan cuma menyenangkan orang tua di sini saja harus tapi imbang juga."


"Tapi secara logika, Ayah marah sebab aku bayarin Mama, coba pikir apa lagi kalau aku ngeluarin buat orang tua 'ku,? buat Ibunya sendiri aja marah-marah." Naya menatap wajah suaminya, kemudian menunduk.


"Bunda.., bukan gitu maksud Ayah, Ayah cuma tidak ingin kamu selalu menyenangkan orang tua kita di sini sementara orang tua yang di sana tidak Bunda perhatikan, tidak imbang yang..," ucap Dimas dengan nada bicara yang rendah.


"Tapi.., secara sisi lain aku juga ngerti Ayah butuh uang yang banyak untuk klinik, dan salah 'ku juga yang tidak minta ijin sama kamu."


Dimas mendekap bahu istrinya, "Yang, Ayah cuma tidak ingin di anggap seorang suami yang tidak adil terhadap keluarga, kalau kita mau ngasih sama orang tua harus imbang, biar tidak timbul masalah atau pun rasa iri dari sebelah pihak," mengelus kepala Naya dengan lembut.


"Hem..," gumam Naya.


Dimas membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya, lalu mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Ngerti Kan maksud aku,?" Dimas lembut, dan Naya mengangguk.


"Ya sudah, sebaik-baik sedekah adalah kepada keluarga terdekat, jadi semoga dapat dengan mudah tergantikan dengan yang lebih banyak lagi, sekarang.., aku mau minta em.., 50 juta untuk orang tuaku di kampung, terserah mau diapain uang itu sama mereka, tapi aku yakin uang itu gak akan di buat poya-poya pasti dipergunakan dengan baik oleh Bapak, kira-kira ada gak segitu,?" Naya menatap wajah suaminya dengan harapan di kasih dan disetujui.


Dimas mesem, menatap sangat lekat dan mengelus pipi istrinya, hatinya terenyuh mendengar ucapannya, "InsyaAllah ada," Dimas mengangguk, "Kan di ATM itu masih ada uangnya, jangan 50 tapi.., 80juta aja, bilang sama Bapak dan Mama minta doanya agar semua urusan kita lancar."


Naya tidak menyangka dengan perkataan Dimas kali ini, "Serius 80juta.?"


"Serius lah, Bunda langsung transfer aja," dengan senyumannya yang merekah.

__ADS_1


Masih tidak percaya Naya bertanya lagi, "Bukan memberi pinjaman kan,?" Naya ingin lebih pasti.


"Masya Allah Bunda.., serius, bukan lah, buat apa minjam, malah Ayah sudah mereka kasih sesuatu yang sangat amat berarti buat aku, sesuatu yang sangat berharga," sambung Dimas meyakinkan.


"Apa itu.?


"Mereka sudah memberikan kamu sama aku," Dimas tersenyum bahagia.


Naya tertawa kecil, "Tapi.., Ayah kan membutuhkan uang itu," Naya ragu.


Dimas memeluk istrinya, "Sayang.., kan tadi bilang sebaik-baik bersedekah ya itu pada keluarga terdekat, jadi kirimkan lah, Ayah ikhlas kok, apa lagi melihat istri aku bahagia."


Naya sangat bahagia bibirnya tak henti-hentinya tersenyum di balik pelukan Dimas, dan seraya berdoa, "Ya Allah limpahkan segala kebaikan untuk suami 'ku,? Aamiin ya Allah," batin Naya tidak tau harus berkata apa lagi, selain diam dan melukiskan senyum bahagianya.


Naya membalas pelukan suaminya sangat erat, membenamkan kepala di dada Dimas, tangan Dimas terus mengusap punggung Naya.


"Loh.., katanya mau kirim uang buat Bapak,? kirimkan lah."


Naya menjauh dari tubuh suami dan melepas pelukannya, kemudian mengambil ponsel miliknya, mau mengirim uang melalui M Banking, Naya mendongak melihat wajah Dimas sebelum akhirnya transfer uang dengan nominal yang Dimas sebutkan tadi.


Setelah berhasil lagi-lagi Naya menatap wajah Dimas yang juga sedang menatapnya, "Terimakasih yang, terimakasih.?


Lalu kembali memeluk tubuh Dimas sangat erat, tangan Naya melingkar di leher Dimas.


"Sama-sama yang..,! sekarang aku mau minta ijin."


Naya melepas pelukannya, dengan tatapan heran Naya bertanya, "Ijin apa.?"


"Ijin.., em ijin apa ya, apa bisa menebak,?" dengan nada yang sangat serius.


Naya menggeleng sembari menaikan alisnya, "Apaan sih.?"


Dimas mengetuk-:ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, ekspresinya seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Eh.., nungguin ya,? ha..,ha..ha..," Dimas malah tertawa.


"Baik lah, aku minta ijin.., untuk menghukum istri aku yang cantik ini, yang boros sehingga dalam satu hari ini menghabiskan uang sampai segitu banyaknya," menaik turun kan alisnya.


"Yang.., aku kan sudah minta maaf, dan juga minta ijin, kok gitu sih," memelas.


"Terserah aku dong," menyeringai.


"Ya sudah hukuman apa.?"


"Ringan kok yang, gak akan memberatkan terdakwa, cukup menuruti aja ok.?"


Naya menatap penuh rasa penasaran. "Apaan, memasak.?"


Dimas menggeleng, "Bukan."


"Em.., memijit.?


"Nggak juga tapi mendekati sih," nyengir memperlihatkan gigi putihnya.


"Apa dong.?"


"Mau tau apa mau tau banget,?" goda Dimas.


"Apa,?" sambil melingkarkan tangan di pundak Dimas, dua pasang bola matanya saling menatap sendu.


"Aduh.., gak kuat kalau harus di tatap seperti ini," Dimas membuang muka sambil tertawa.


"Kenapa,?" tangan Naya meluruskan wajah Dimas pada wajahnya.


"Kita jadi keluar malam ini tapi bukan jalan-jalan melainkan menginap di vila milik kawan," ucap Dimas.


Naya melepas kan tangan dari pundak Dimas, "Yang, tadi juga aku kecapean jalan-jalan ke mall lain kali aja ya.?"


"Nggak pengen malam ini kebetulan Mamak lagi keluar, Bunda gak ingat nanti malam kalau Mama pulang akan menginap di kamar kita lagi, gak kasian kah sama suami 'mu ini hem..,?" memelas iba.

__ADS_1


Naya terdiam sejenak memang benar begitu rencananya Ibu mertua, di rumah lama cuman sebentar, balik dan mau nginep lagi bersama calon cucu alih-alihnya.


"Tapi..."


"Jangan khawatir kan ada ayah gak mungkin membiarkan Bunda capek, apa lagi membiarkan sampai pingsan seperti tadi."


Naya tercengang, Dimas tau dari mana toh sudah Naya bilang sama mereka agar tidak cerita sama Dimas karena takutnya Dimas marah sama mereka yang di anggap lalai dalam menjaga dirinya


"Kamu.., tahu dari mana,?" menatap sangat lekat.


"Dery cerita semuanya, untung Bunda baik-baik saja, kalau sampai Bunda dan anak kita kenapa-napa, aku tak akan segan-segan memarahi orang-orang yang ada di rumah ini, bahkan Dery sekalipun pasti akan kena imbasnya," Dimas dengan tatapan menerawang.


Naya bengong, kenapa Dery cerita sama Dimas, lagian dirinya tidak apa-apa, merasa baik-baik saja buktinya saat ini kondisinya sudah normal kembali.


Lengan Dimas menaikan baju Naya sehingga terlihat perut Naya yang buncit dan mengelusnya lembut membuat Naya tersenyum menerima sentuhan di perutnya.


"Beneran, kalau sampai terjadi sesuatu Ayah tidak akan memaafkan mereka."


Tangan Naya memegangi tangan Dimas yang di perutnya, "Kan sudah lihat aku baik-baik aja jadi jangan khawatir lagi dan tidak perlu marah," menyenderkan kepala di bahu Dimas dengan manja.


"Maka dari itu, ya udah kita siap-siap untuk menginap ke villa, nanti keburu Mama pulang bisa kacau nanti, aku tidak ingin di recokin lagi sama Mama, apa lagi soal yang satu itu," ucap Dimas sambil mengelus rambut panjang Kanaya.


Naya tersenyum, "Cuma.., satu malam kan," tanya Kanaya mendongak sebentar.


"Hem.., satu malam aja, besok pulang."


Kemudian Dimas dan Naya menyiapkan keperluan buat nanti di villa yang diantaranya pakaian yang secukupnya.


Dimas menutup gorden mengunci pintu balkon, mengambil ponsel miliknya dan Kanaya, "Sudah belum.?"


"Sudah," sahut Naya menoleh, lalu Dimas mengeluarkan tas berisi pakaian keluar kamar.


"Bibi..,?" Dimas berteriak dari lantai dua.


Tidak lama Bi Meri nongol, "Iya Tuan, ada apa.?"


"Oh, ini tolong bawakan ke dalam mobil."


Bi Meri berdiri tak lantas membawa tas yang Dimas tunjukkan, "Mau kemana Tuan.?


Dimas yang akan masuk kamar membalikkan badan menoleh Bi Meri, "Saya mau ke villa."


Bi Meri masih berdiri, "Sama Ibu.?"


Dimas tersenyum, "Iya lah Bi, masa saya sendiri, sudah bawa saja dan bilang sama Pak Mad agar bersiap mengantar saya, tapi setelah saya sampai, dia akan balik lagi ke rumah ini kok."


"Ba-baik Tuan," Bi Meri akhirnya menjinjing tas milik Dimas, sesuai perintah majikan.


Dimas masuk kembali ke kamarnya, dan Naya sudah siap tuk pergi, "Ini jaket nya yang, takut lupa," Naya memberikan jaket Dimas.


Dimas langsung pakai jaket yang Naya berikan, "Yuk berangkat sekarang, sebentar lagi magrib nih biar magrib di jalan aja yuk."


Dimas menggandeng tangan Kanaya, berjalan berdampingan menuruni anak tangga, di bawah sudah ada Bi Taty menatap keduanya.


"Tuan dan Ibu mau kemana,?" tanya Bi Taty penasaran.


"Saya akan ke villa Bi, jangan bilang-bilang sama siapa-siap ya, dan Pak Mad juga cuma mengantar pergi, nanti dia akan balik lagi," sahut Dimas.


"Oh, Ibu gak kenapa-napa sudah sehat,?" Bi Taty menatap Naya.


"Aku baik-baik aja kok Bi, tadi cuma kecapean, ya udah Bi takut Mama keburu pulang," ucap Naya sambil melirik kearah suaminya.


Bi Tay tersenyum sangat mengerti maksud majikannya, "Baiklah hati-hati selamat bersenang-senang, jaga Ibu Tuan."


Dimas mengangguk lantas menggendong tubuh sang istri dibawanya ke dalam mobil, duduk berdua di jok belakang, sementara Pak Mad sudah bersiap melajukan mobilnya, tangan keduanya saling bertautan di atas pangkuan, dan senyum keduanya begitu merekah, rona bahagia begitu nampak di wajah pasutri ini.


,,,,


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2