
Bukannya bangun dan bersih-bersih mereka malah tidur kembali, melupakan sarapan yang terlewatkan di pagi hari ini.
Siang hari mereka baru bangun dan bersih-bersih, Naya mengisi bathub dengan air wangi terapi, kemudian berendam bersama.
"Jam segini belum bangun coba, malas banget," ketus bu Hesa.
"Tidur lagi mungkin mereka Abang tidur lagi, kan capek," timpal Maria.
Bu Hesa menatap dingin, "Tadi Mama gedor-gedor pintu gak ada yang menjawab."
"Iya mungkin lagi nyenyak tidurnya Ma, kenapa sih sewot amat, hari ini libur terakhir buat Abang, ya wajarlah memanjakan diri gitu di rumah, lagian katanya nanti sore akan di adakan miting, jadi..,biarlah," ucap Maria lebih bijak.
"Kau ini sok dewasa dan pengertian," bu Hesa mendorong kening putrinya dengan jari sambil tertawa kecil.
Maria mesem, dari tangga terlihat Dimas dan Naya turun sudah rapi dan nampak segar, menuju meja makan lalu duduk di sana.
Naya mengambil piring untuk Dimas di isi beberapa menu makanan, "Sayang kan gak pake nasi kenapa di masukan nasi,?" Dimas heran melihat Naya mengambil nasi.
"Kan buat kamu, aku emang gak pake nasi," sahut Naya yang mengambil piring lain untuknya.
"Oh"
Naya menyuapi Dimas yang bengong, "Kenapa bengong, dimakan, udah siang nih, kita sudah melewatkan sarapan pagi ini."
Dimas mengunyah, "Tak apa lah, yang penting aku merasa puas bah."
"Hem..,kamu puas, aku capek."
"Tapi pengen kan, menikmati juga kan,? bilang aja kalau pengen nambah," seringai Dimas.
"Apaan sih,? nambah makan iy," elak Naya.
"Tadi Mama panggil-panggil kamu, gak ada yang menyaut," suara bu Hesa dari belakang.
Dimas dan Naya menoleh kearah suara, "Kapan,? mungkin kami nyenyak tidur bah," Dimas pura-pura tak mendengar waktu itu, padahal sedang tanggung-tanggung nya, makanya tidak menjawab.
Naya menunduk merasa tidak enak sama Mama mertuanya, "Em.., ada apa ya Ma,?"
Bu Hesa menoleh dingin menantunya, "Tadi Bapak mau berangkat keluar kota."
"Oh, apa sekarang sudah berangkat,?" tanya Dimas sambil membuka mulutnya menerima suapan dari Naya.
"Sudah"
"Mama makan siang belum,? makan sama-sama yuk," Naya mengajak makan Mama mertuanya.
__ADS_1
"Belum," lalu mengambil makan, tak lama Maria pun nyamperin.
"Ish..ish..ish gak ngajak-ngajak nih makan,?" Maria menatap makanan di meja sambil duduk.
"Putra 'mu mana,? kenapa gak di ajak makan," Dimas melirik tajam adiknya.
"Putra 'ku sudah makan, sekarang dia bermain di kamar," sahut Maria menunjuk kearah kamar dengan ekor matanya.
"Ya sudah makan aja kamu," ucap Naya pada Maria.
Mereka makan bersama sambil berbincang, setelah selesai makan Dimas mengajak Naya ke kolam renang, untuk mencari angin di dalam terlalu panas dan Naya pun mengikuti.
Dari pintu pun sudah terlihat perubahan di sana, seperti ada taman bunganya, ada kolam ikan juga, bahkan bukan kolam ikan hias melainkan ikan mas yang besar-besar yang siap di masak kapan saja, mulut Naya menganga seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, ia mendekati bunga-bunga yang bermekaran, terus mendekati kolam ikan yang besar-besar itu.
"Masya Allah.., kok jadi berubah gini ya, lebih indah, ikan nya besar-besar banget, ini bisa di goreng sekarang gak,?" Naya menatap suaminya yang tengah tersenyum melihatnya.
"Bisa, bunda mau goreng ikan mas itu,?" Dimas balik nanya.
Naya mengangguk sembari tersenyum bahagia, "Iih mau."
"Baik lah, biar Bibi nanti yang menggorengnya," sambung Dimas.
Naya memandangi ikan yang berlarian, beriringan dengan berbaris, bibir Naya tersenyum apa lagi ketika ia memberi makan saling berebut, "Dulu sewaktu aku kecil Bapak aku kan ber kolam, ikan mas, ada juga ikan nila atau mujaer, ada ikan sapu-sapu, ikan bawal, dan ikan koi juga lele, rasanya kali ini aku seakan mengulang, masa-masa itu," ujar Naya seakan menerawang masa lalu, Dimas mendengarkan sembari berjongkok dekat Naya yang duduk di kursi.
"Bunda bahagia,?" Dimas mendongak menatap wajah Naya yang berseri-seri, lalu mengangguk tanpa menoleh, pandangannya tertuju pada Ikan-ikan di kolam.
"Oke, kita jalan ke depan yuk,?" Dimas menarik Naya untuk berdiri kemudian menggandengnya berjalan.
"Kemana yang,? capek, oya itu bangunan apa, kemarin sebelum kita pergi tidak ada bangunan itu," memandangi sebuah bangunan kecil ketika melihat dari samping.
"Ikut aja, nanti juga tahu," sahut Dimas terus menggandeng Naya.
Sesampainya di dekat bangunan yang cuma berjarak beberapa meter dari rumah, nampak lah sebuah bangunan yang berdiri kokoh, di dalamnya ada meja kerja+kursinya, di belakang sofa panjang, meja dan beberapa sofa pendek di sampingnya.
Di bagian lebih dalam ada toilet dan ruangan yang sangat bersih di meja tersimpan alat sholat wanita, Naya semakin heran tempat apa ini.
"Ini tempat apa yang,?" Dengan tatapan yang sangat ingin tahu.
"Ini.., konter buat bunda jualan pulsa, seperti ini kan mau bunda,?" Dimas menyilang kan tangannya di dada bibirnya mesem-mesem.
"Ya Allah apa lagi ini,? kejutan demi kejutan Ayah berikan sama aku," Naya menutup mulutnya yang menganga sambil mata berkaca-kaca.
"Apa bunda gak suka dengan ini,?" tanya Dimas dengan penasaran ingin tau isi hati Istrinya.
"Aku suka sangat, dan aku tak bisa berkata-kata lagi," Naya membenamkan wajahnya di dada Dimas, tangan Dimas pun mendekapnya erat.
__ADS_1
Dimas mengelus punggung Naya sangat lembut dan penuh kehangatan, "Sayang kapan akan mulai membuka konter ini.?"
"Besok, iya besok, boleh kan,? tapi ngisi saldonya aku ingin hari ini, dan soal saldo aku yang akan urus sendiri, aku akan pesan dari server 'ku yang dulu, dan uangnya aku akan transfer,"
"Dari Sukabumi.?"
"Iya"
"Sama aja kan.?"
"Ya terserah bunda ajalah,? yang penting lancar aja," ucap Dimas memeluk dan mengajak Naya duduk di sofa yang panjang.
Naya dan Dimas pun duduk berdua di sofa, "Insya Allah tempatnya lumayan strategis, akan ada banyak pembeli atau peminatnya, di depan kita pasang sepanduk yang bertuliskan Menjual pulsa bebas dan kuota data juga bebas, token dan juga focer," Dimas menunjuk ke dapan.
"Tambahin kata-katanya yang, melayani secara online juga, pembayaran lewat transper, atau diantar langsung ke konter, bagi orang yang dapat di percaya, dan semoga saja semuanya berjalan dengan baik," jelas Naya penuh harap.
"Aamiin ya Allah"
Dimas mengambil papan yang audah di siapkan di sana dan cat untuk menulis, kemudian Dimas menulis, kata
^^^MENJUAL PULSA, KUOTA DATA, POCER PISIK DAN TOKEN JUGA READY, MELAYANI JUGA PESANAN ONLINE, DENGAN PEMBAYARAN MELALUI TRANSPER, ATAU DATANG LANGSUNG KE TEMPAT, BAGI YANG AMANAH YAππ^^^
Naya memperhatiakan Dimas yang menulis dengan senyuman, "No aku nya cantumkan dong, nanti mereka bingung pesan kemana Pak.?"
"Ok," Dimas mencantumkan no pribadi Kanaya di papan tulis. selesai menulis Dimas pasang di tepat depan konter tersebut namun tulisannya menghadap konter belum ke depan dengan alasan baru akan buka hari esok.
"Bagus," ucap Naya setelah Dimas kembali duduk dan menepuk-nepuk tangannya.
"Bunda mau jual apa lagi di sini, asesoris ponsel kah? atau ponselnya.?"
"Nggak-nggak, cukup itu dulu, biar aku disini lebih santai memainkan laptop untuk menulis, dan memikirkan yang lain, misalkan menggambar pakaian," jelas Naya sambil menerawang.
"Baik lah ratu 'ku, permaisuri 'ku, terserah dirimu saja, ayah tinggal ngikutin aja," sambil mengedipkan matanya.
Kanaya mesem-mesem mengelus pipi Dimas, "Terimakasih yang, tetimakasih ? kau mendukung penuh rencana 'ku, dan aku akan buktikan bahwa semunya tak akan sia-sia, aku akan buktikan apa yang akan aku rintis ini akan betbuah hasil yang baik," penuh percaya diri.
"Aku percaya sama Bunda, karena aku tahu istri 'ku ini kan sangat ulet dan sabar dalam hal usaha, selalu semangat meskipun banyak yang kasbon, ha..,ha..,ha..."
"Ya.., karena aku percaya bahwa yang di tetapkan untuk kita, riqeki sudah tentu milik kita lambat laun akan datang, atau tergantikan, paham kan Bapak.?
"Paham, sangat paham, makanya ayah percaya sama bunda, istri 'ku ini pandai mengelola ke uangan hem, gak salah aku memilih istri," ucap Dimas mencubit pipi sang istri.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
__ADS_1
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya iniπ agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!