Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dompet Dery


__ADS_3

Semua sudah selesai dan Rapi, Dery pergi sebelumnya pamit pada Bi Taty dia akan kembali bekerja, yang bersiap menjemput ke Rumah sakit adalah Pak Mad dan sudah menyiapkan mobilnya.


Di Rumah sakit


Dimas tengah bersiap-siap, merapikan barang-barang Naya, Naya pun sudah duduk di kursi roda.


"Yang.., baby kita,?" menoleh kearah suaminya yang lagi beberes.


"Mereka harus di rawat beberapa hari lagi, ya mudah-mudahan secepatnya bisa di bawa pulang juga," ucap Dimas sembari mendekati.


"Tapi..," Naya cemas.


"Tenang aja sayang mereka aman kok," sambung Dimas berjongkok dekat Naya.


"Ayah senang akhirnya Bunda bisa pulang juga," menciumi kedua punggung tangan istrinya.


"Em.., iya sudah rindu rumah," lirih Naya.


"Sudah kangen," tambah Dimas.


"Kangen apaan,?"Naya menatap sendu suaminya senyum-senyum.


Dimas menyeringai, "Kangen semuanya."


"Hem.., kita lihat dulu baby yuk," ajak Naya merasa kangen pada baby twins nya.


Dimas berdiri dam memposisikan dirinya di belakang kursi roda lalu mendorong Naya, "Ok, kita akan meluncur kesana."


Bibir Naya melukiskan senyuman yang merekah, baru saja melintasi pintu Pak Mad sudah terlihat menjemput.


"Siang Pak,?" Pak Mad mengangguk hormat.


"Iya Pak," kami mau melihat baby dulu, semua barang sudah siap di dalam," ujar Dimas seraya menunjuk ke dalam.


Pak Mad mengangguk dan segera mengambil barang yang sudah Dimas siapkan.


Dimas melanjutkan langkahnya mendorong Naya untuk bertemu baby-nya, sesampainya di sana Naya menatap kedua baby yang tengah terpejam, dengan tak henti mengucap sholawat, dan mengukir senyum di bibirnya.


"Cepat pulih ya kuat,sayang biar cepat pulang, Bunda ingin kalian bersama Bunda, bukan di sini," lirih Naya menatap lembut buah hatinya.


"Ayah juga."


"Dulu aku gak berani membayangkan aku hamil, punya anak, gak berani," gumam Naya pelan dengan pandangan fokus kearah baby-nya.


"Terus kenapa jadi berani,?" Dimas melirik dengan ekor matanya.


"Karena memang di satu sisi aku juga pengen jadi seorang ibu, memberi keturunan pada suami, dan maaf bila aku selalu merepotkan Ayah," ujar Naya menatap Dimas, Dimas pun menoleh akhirnya mereka saling tatap.


"Siapa yang di repot kan sayang, aku tidak merasa seperti itu, lagi pula Bunda istriku, sudah kewajiban 'ku melakukan semua itu untuk istri karena itu salah satu bentuk tanggung jawab seorang suami, bukan itu yang Bunda mau,? dan Ayah akan berusaha untuk membahagiakan istri tercinta 'ku ini hem," memeluk sang istri.


"Aku wanita jauh dari kata sempurna, sangat jauh," sambil membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Bunda.., Ayah juga suami yang tidak sempurna, banyak kekurangannya, tugas kita hanyalah saling melengkapi kekurangan masing-masing."


''Kadang aku malu, merasa sangat minder, yang tida-!"


Dimas mengangkat wajah Naya dan menempelkan telunjuknya di bibir Naya, "Sudah, jangan diteruskan, yang jelas Ayah sayang sama Bunda dan begitupun Bunda sangat sayang sama Ayah hem."


Naya membalas tatapan Dimas sesaat kemudian menoleh kearah putranya yang menggeliat, senyum Naya merekah kembali memandangi kedua buah hatinya.


Hembusan napas Dimas panjang, "Pulang yuk, besok kesini lagi."


"Ya," walaupun berat tuk meninggalkan.

__ADS_1


Dimas membawa Naya keluar dari Rumah sakit menuju parkiran dimana Pak Mad sudah menunggu.


Setelah masuk dan duduk di jok belakang, tidak lupa mengenakan sabuk pengaman, Pak Mad memutar setir melajukan mobilnya, pandangan Naya memutar kearah Rumah sakit, terpaksa ia meninggalkan buah hatinya sementara.


Dimas paham perasaan istrinya, "Besok atau lusa kita pasti membawanya pulang, tenang saja dan terus berdoa semoga baik-baik aja."


Naya menoleh sesaat hingga akhirnya menyandarkan kepala di bahu sang suami dengan nyamannya.


Sesampainya di rumah, Naya di gendong Dimas, masuk kedalam rumah, di sambut bahagia oleh penghuni rumah, semua mengucapkan selamat pada Naya, meskipun baby belum di ajak pulang mereka sangat antusias.


Zidan memberanikan diri menghampiri Naya, "Bu, saya minta maaf atas kejadian waktu itu, saya tidak bisa menjaga ataupun menolong Ibu," pelan dan menunduk.


Naya terdiam sebentar lalu menarik bibirnya senyum, "Kenapa harus minta maaf bukan salah mu juga, lagian semua sudah lewat, lupakan saja yang penting saat ini aku baik-baik saja."


"Tapi.., saya sangat merasa bersalah, sebab itu Ibu harus lahiran sebelum waktunya," ucap Zidan lagi semakin menunduk.


"Sudah lah, lupakan saja," Naya mengibaskan tangan di udara.


"Sudah-sudah, mantu 'ku harus banyak istirahat," timpal Bu Hesa sambil menggandeng Naya naik menuju tangga, bersama Dimas.


Namun Naya tidak melangkahkan kakinya, ia melihat kaki Lisa yang kemerahan, "Kaki kau kenapa Lisa.?"


"It-itu.., di siram kopi Bu." jawabnya sambil melihat lukanya.


"Masya Allah.., di siram apa ke siram,?" Naya penasaran.


Lisa menjawab lagi, "Eh.., kesiram kopi panas nya Dery."


"Kok bisa,?" tanya Naya lagi.


"Em.., kopinya kesenggol siku Dery lalu tumpah tepat kena kaki saya," sahut Lisa.


"Hem.., sudah di obati itu,?" Dimas ikut bersuara.


"Sudah."


Naya beristirahat di kamar yang sudah berubah dekorasinya, jadi lebih dominan tentang baby, Naya berdiri depan pintu menyapukan pandangan ke setiap sudut ruang.


Yang tadinya kamar tampak luas, sekarang bertambah penghuninya, lemari bayi dan dua box bayi bertengger di dalamnya.


"Masuk yang,?" ajak Dimas merangkul bahu Naya.


"Sebentar lagi di rumah ini akan dihiasi tangisan bayi yang akan membuat rumah ini tidak sepi lagi," ujar Bapak mertua Naya yang baru saja datang.


"Kapan Bapak pulang,?" tanya Bu Hesa pada suaminya.


"Baru saja," sahutnya.


Naya mencium punggung tangan Bapak mertua lalu naik merangkak ke atas tempat tidur duduk bersandar, "Eh.., yang itu dompet siapa,?" Naya menunjuk sebuah dompet di atas meja.


Dimas menoleh dan lantas mengambilnya, ia lihat-lihat bukan miliknya.


"Ya sudah kami turun dulu," pamit Bu Hesa menggandeng suaminya, mereka keluar dari kamar Dimas dan Naya lalu Dimas menutup pintu sambil memperhatikan dompet tersebut.


"Punya siapa yang,?" Naya penasaran.


Dimas menggeleng kemudian di buka nampak sebuah ktp bernama Dery, ia menarik kartu tersebut, "Oh dompet Dery sayang ketinggalan mungkin tadi," dan ada yang membuat Dimas sangat penasaran selain KTP nya.


Sebuah poto wanita berwajah merip dengan Naya, Dimas duduk di sebelah Naya sambil memegangi poto tersebut, melirik Naya lalu melirik kembali poto tersebut, Naya pun merasa aneh dan penasaran, "Poto siapa sih.?"


"Ini Bunda bukan,?" Dimas memperlihatkan sebuah poto.


Naya menggeleng, "Bukan, wajahnya memang mirip, tapi.., aku gak pernah punya pakaian seperti itu, gak pernah berpoto begitu, rambutku selalu panjang gak pernah segitu," menunjuk poto yang berambut pendek se bahu itu.

__ADS_1


"Tapi.., wajahnya mirip banget yang," sambung Dimas heran.


"Kebetulan saja kali yang," lirih Naya.


"Perhatikan, bentuk wajah, hidung mata sama, cuma bibir beda dan alis jug mata," ujar Dimas matanya melihat poto sesaat lalu melihat wajah Naya.


"Udah simpan yang, masukan lagi kasih pada pemiliknya" titah Naya.


Dimas pun menuruti perintah Naya, memasuakn poto tersebut dan menyimpan dompet ke atas meja sebelumnya, hatinya diselimuti rasa penasaran kok wajah wanita di poto itu mirip istrinya.


"Ayah masih penasaran yang," Dimas menoleh kerah Naya namun Yang diajak bicara sudah terpejam, lalu Dimas menarik selimut untuk istrinya sampai menutupi leher.


Dimas turun dari tempat tidur masuk kamar mandi berendam di bathtub sepertinya nyaman dan segar juga cara ampuh untuk menetralisir sesuatu ya!ng bangun.


Sebelum masuk bath tub Dimas mengisi air dan tetesan wangi terapi, kemudian masuk ke dalam air bath tub berendam, matanya terpejam menikmati segarnya air yang menutupi tubuhnya.


"Mau tidak mau harus berpuasa nih, sabar ya,? tahan sebisanya, dan harus bisa sampai waktunya berbuka," gumam Dimas bicara sendiri.


Dimas mendekati Naya yang tengah terlelap, ia menatap wajah sang istri dan mendekatkan wajahnya, hembusan napas Dimas seolah tertahan, bibirnya mengecup kening, pipi kanan dan kiri, dan terakhir mendaratkan kecupannya di b**** Naya.


Karena jelas terasa ada yang lembab menempel di bi***nya, Nata mengerjapkan matanya, benar saja wajah sang suami berada berjarak satu senti dari kulitnya.


Tangan kekarnya mulai bermain di bukit yang lebih mengembang karena masa memberi asi, "Yang, awas.., jangan kebablasan, ngertiin dong, aku baru-!"


"Aku tau, dan jangan khawatir gak akan kebablasan kok," sahutnya dengan suara berat, terus saja mencumbu, dengan yakinnya tidak akan melakukan lebih.


Ketika asik bercumbu mengobati rasa rindu, ketukan pintu mengganggu aksi mereka, sontak Dimas bangun meraih handuk yang lepas dari pingganganya, Naya segera merapikan pakaian yang acak-acakan karena ulah suaminya dan segera merapikan selimut juga.


Usai meraih handuk di lantai Dimas setengah loncat masuk ke kamar mandi, helaan napas Naya panjang untuk menetralisir jantungnya yang berdebar kencang, kemudian Naya bersuara, "Siapa.?"


"Mama," suara Bu Hesa dari balik pintu.


"Oh masuk saja Mak," pekik Naya.


Bu Hesa membuka pintu lalu masuk membawa sebuah nampan makanan buat makan siang."


"Ini saya bawakan buat makan siang, di tungguin kalian gak ada turun, Bi Taty menyiapakannya dan saya bawakan," Bu Hesa menyimpan di meja.


"Aduh Mama ngapain repot-repot bawakan kesini, nanti juga Abang turun, aku baru bangun," Naya menguap.


"Repot sih egak, mana Abang kau,?" tanya Bu Hesa mencari keberadaan Dimas.


"Em.., lagi bersih-bersih kali."


"Eh.., Mama bilangin ya, kau kan belum pengalaman, baru lahiran iya kan.?"


"Iya.."


"Kalau suami merengek, minta sesuatu dari kita harus kuat, jangan di kasih, sebab luka di dalam rahim itu utuh waktu penyembuhannya, apa lagi sesar, butuh waktu berbulan-bulan untuh biasa lagi normalnya."


"Iya kah, harus berbulan-bulan,?" Naya penasaran.


"Oh iya, minimal dua sampai tiga bulan lah, tapi tergantung siap atau egak si istri juga sih, yang jelas butuh waktu, jangan mudah kena rayuan suami yang nerasakan sakit juga kita sebagai wanita," ujar Bu Hesa yang duduk dekat Naya.


Naya senyum samar, "Iya Mak makasih telah mengingatkan Naya."


"Iya sama-sama."


Dimas yang lagi-lagi berendam, menggerutu sendiri, ada aja halangannya, padahal cuma bermesraan, gak lebih kok, ini juga pengertian napa,? tau istri baru lahiran masih aja napsu, heran."


Selepas itu Dimas keluar, dengn handuk melilit di pinggang, tanpa berkata-kata ia mengambil pakaian yang di siapkan Naya lalu ia pakai, melirik sebentar pada makanan di meja, mengambil sajadah dan menggelarnya, lantas menunaikan sholat dzuhur.


Naya memandangi dari belakang, merasa bangga suaminya sudah bisa sholat sendiri, bacaannya sudah banyak hafalan lumayan, tanpa di suruh pun sudah punya kesadaran sendiri untuk melaksanakan sholat.

__ADS_1


,,,,


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏


__ADS_2