Bukan Mauku

Bukan Mauku
Matilah kau Lisa


__ADS_3

Lantas Dery menaiki motornya mengenakan helm dan melajukan motornya dengan cepat membelah jalan menerobos kegelapan, meninggalkan Lisa yang masih berdiri mematung di sana dengan hati gundah, cemas, khawatir, dihiasi keringat dingin yang masih bercucuran membasahi tubuhnya bak di guyur hujan.


****


Suatu hari Naya tengah menangani pengiriman barang, Lisa yang biasa nya ceria akhir-akhir ini lebih pendiam dan sedikit menghindar dari Naya bos nya.


Seperti saat ini dia banyak diam membisu, hatinya was-was ada rasa takut namun dia berusaha percaya diri di hadapan semuanya termasuk Naya, Naya masih memperkerjakan Lisa dengan harapan kesalahan yang dia perbuat cukup sekali.


"Lisa, besok aku sepertinya gak masuk, sebab mau ke tempat mertua 'ku," Naya melirik Lisa yang tengah memotong bahan.


"Oh, iya Bu," mengangguk pelan dengan sekilas senyumnya.


"Jadi untuk pengiriman besok, kau yang tangani," ucap Naya dengan senyuman yang penuh arti.


"Baik Bu," sahut Citra lalu melanjutkan pekerjaannya.


Naya mengambil amplop besar yang berisi beberapa amplop kecil, kemudian Naya memanggil satu-satu pegawainya, lantas mengambil dan diberikan amplop kecil pada pegawainya.


"Ini uang gajih kalian bulan ini, aku harap kalian lebih semangat lagi dan jadilah orang yang amanah, maksud aku jadilah orang yang jujur, saling menjaga kepercayaan masing-masing.


"Terimakasih Bu,?" ucap mereka serempak.


"Dan Kamu Lisa, aku mau bicara sebentar, yang lain silahkan kerjanya di lanjutkan," ucap Naya serius.


Lisa kaget mendengar bos nya mau bicara, keringat dingin mulai merembes di keningnya, di telapak tangan pun terasa dingin, jantung berdebar tak karuan, rasa cemas menyelimuti hatinya, "Apa semua akan berakhir saat ini juga, mati lah kau Lisa.., makanya jangan bermain api kau, sudah bos baik masih kau khianati mati sudah kau Lisa,?" batin Lisa beradu argumen.


"Duduk Lisa,?" Naya dengan santainya.


Lisa pun duduk mengukir senyum samar di bibirnya, meski hati sudah mulai gelisah, ketenangannya mulai gundah, terlihat kecemasan di wajahnya.


Sebelum memulai pembicaraan, Naya menghela napas dalam-dalam menatap kearah Lisa yang menunduk dalam, tangan bertaut di atas pangkuannya.


"Em.., begini Lisa, masalah tempo hari itu, aku sudah tahu dari kemarin-kemarin siapa dalang dan maksudnya."


Lisa mendongak kaget, "Maksud anda,?" seakan tak mengerti.

__ADS_1


"Iya saya tahu, dalang dan motifnya," jawab Naya dengan tenangnya.


"Siapa Bu,?" Lisa pura-pura gak tahu.


"Mereka itu..," Naya menjeda perkataannya sementara waktu seraya membereskan berkas.


"Mereka itu ingin menjiplak desain saya, yang saya bikin penasaran dan ingin menanyakan dari kemarin juga ya itu," lagi-lagi Naya menggantung kan kalimatnya.


Membuat Lisa menatap penuh penasaran, jantungnya semakin berdetak kencang, seakan mau loncat dari tempatnya.


Dengan tatapan tajam seolah ingin menghujam jantung, "Kamu di bayar berapa oleh mereka.?"


Hati Lisa mencelos mendengar pertanyaan Kanaya bos nya, "Ma-maksud anda apa,? bertanya pada saya seperti itu," agak nada tinggi.


Naya tengok kanan dan kiri, "Jangan terlalu kencang turunkan suaramu itu, gak enak di dengar yang lain kan,?" Naya pelan.


Lisa pun melirik kanan dan kiri dan menurunkan suaranya kembali, "Apa maksud anda bertanya seperti itu,? anda curiga sama saya yang telah membantu anda selama ini hah.?"


Naya tersenyum sinis, "Iya saya sangat berterimakasih atas kerja keras kamu di sini, dan saya sangat percaya sama kamu, belanja, rekening saya percayakan sama kamu, tapi.., kenapa kamu khianati saya? kamu salah gunakan kepercayaan saya."


"Atas dasar apa anda mencurigai saya,? saya yang urus ini semua dari nol tapi anda semena-mena mencurigai saya, apa balasan anda sama saya,?" Lisa lebih garang dan angkuh.


"Saya tidak terima atas tuduhan anda," Lisa malah emosi dan berdiri tegak.


"Duduk lah," titah Naya yang melihat Lisa berdiri dan menatap tajam kearahnya, "Ayok duduk."


Meski jengkel, Lisa duduk kembali di tempat nya semula, "Enak saja saya dituduh yang bukan-bukan," ketusnya.


"Dengar saya ingin bicara baik-baik bukan dengan emosi, saya bukan menuduh tapi memang punya bukti, makanya aku ingin bicara sama kamu," lirih Naya.


"Bukti apa,? jangan main-main saya bisa saja tuntut anda atas pencemaran nama baik," tutur Lisa percaya diri.


Naya tertawa kecil, "Yang ingin saya tahu berapa kamu di bayar untuk menyelundup kan barang-barang saya, itu saja, kamu cukup jawab aja dengan jujur, beres, aku gak akan menuntut kamu apa-apa kok," ujar Naya dengan nada bicara yang setenang mungkin.


Lisa terdiam, tak berkutik tangannya semakin bertaut keringat dingin semakin bercucuran.

__ADS_1


"Aku, hanya ingin kamu jujur dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan kamu akan tetap bekerja disini jika kamu bisa jujur, kalau kamu tetap menganggap saya menuduh yang bukan-bukan dan kamu malah ingin melaporkan saya ke pihak yang berwajib sih silahkan, saya tidak takut, dan silahkan kamu mencari kerja lain yang mungkin gajinya lebih beberapa kali lipat dari di sini."


Lisa semakin terdiam, tersudutkan, membisu kehabisan kata, mencari kerja itu gampang-gampang sulit, dan belum tentu mendapat kerjaan seperti sekarang ini yang termasuk enak, santai tidak terlalu capek.


"Saya tahu kamu bekerja itu butuh uang, buat kamu, buat keluarga kamu juga, saya juga membuka usaha ini karena membutuhkan uang juga sama," pelan Naya sembari meneguk air minumnya.


"Hanya ada dua pilihan, jujur dan berjanji tidak buat lagi dan kau masih bisa tetap bekerja di sini selama kau mau dan usaha ini berjalan, atau mau mempertanggung jawabkan perbuatan mu itu ke pihak yang berwajib, aku sih tidak ingin kamu mempertanggung jawabkan di balik terali-!" Naya menggantung ucapannya.


Lisa mendongak kaget mendengar kata terali, hatinya mencelos, sungguh Lisa dibuat bingung jadinya, jujur malu se malu-malunya, mengakui dan di penjara sangat ngeri dan itu gak mungkin, siapa sih yang mau di penjara? tidak ada yang mau pasti.


"Jawab,?" Naya sedikit menggebrak meja namun pelan agar tidak terdengar sama yang lain.


"Ba-ba-baik Bu," Lisa terbata-bata sangat gugup, "Saya-sa..,saya di bayar enam puluh lima juta," Lisa menunduk dalam.


"Apa,? enam lima juta," Naya tertegun lemas, ternyata lebih dari perkiraan awal.


"Iya Bu, saya.., tergiur dengan uang yang mereka tawarkan, maaf Bu dan tolong jangan penjarakan saya," wajah Lisa pucat pasih, dia menangis bersimpuh dekat kaki Naya, "Saya minta maaf telah hilaf."


Naya terdiam hanya tatapannya yang tak henti-hentinya pada Lisa, wanita cantik, yang Naya anggap baik hati dan jujur tersebut.


"Saya mohon maaf, jangan pecat saya, saya janji deh akan mencicil uang itu selama bekerja di sini nantinya, saya harus membantu orang tua, membiayai adik-adik saya sekolah," Lisa merasa menyesal.


Sambil menghela napas panjang lalu di hembuskan dengan kasar, akhirnya Naya membuka suara, "Kamu tahu kan saya merintis usaha saya dari nol,? modal kecil-kecilkan sehingga bisa seperti sekarang ini," ujar Naya rasanya sesak, saliva nya seakan tersekat di tenggorokan di buang susah, ditelan juga sulit.


"Saya minta maaf Bu maaf," Lisa semakin bersimpuh dan menangis di kaki Naya, "Saya janji tidak akan mengulangi lagi, saya sudah kalap gara-gara uang, Maaf Bu maaf."


"Huh..," Naya membuang napasnya, "Baik lah, kamu tetap bekerja di sini dengan satu syarat, jangan pernah mengulangi lagi, dan kalau bisa kau cicil hutang mu setiap bulannya, tapi meski begitu jangan terlalu jadi beban juga sih, kau bebas menyicil nya berapa pun," ujar Naya, membuat Lisa merasa lega dan senang sekali, dia bangun dari lantai dan mengusap pipinya yang basah.


"Baik Bu, saya akan menuruti kata-kata Ibu, saya janji akan lebih baik lagi," wajah Lisa kembali bersinar.


"Oke, urusan kita untuk sementara ini selesai, namun saya tetap akan menyerahkan masalah itu pada pihak yang berwajib."


"Tapi Bu, saya gimana,?" Lisa menatap tajam, takut lambat laun namanya akan terseret juga.


"Saya gak tau yang jelas tuk sementara ini nama mu aman," Naya beranjak dari duduknya, "Kau lanjutkan pekerjaan mu, aku mau pulang sudah siang nih, kemudian Naya bergegas meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


****


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️


__ADS_2