
Deg Dery ingat pada Naya yang tadi bersama dirinya di bawah pohon, Dery langsung loncat berlari ke tempat sumber suara orang yang tadi, tepatnya dibelakang rumah, di susul oleh Dimas dan Kamal berlarian kebelakang rumah.
Dery berdiri melihat orang yang di gotong sama orang-orang, Dery pun akhirnya bernapas lega, tadinya ia berpikir Naya ke napa-napa, namun ternyata yang di gotong bukan lah Naya melainkan Bu Hesa yang pingsan.
Dimas juga Akmal menghampiri ikut menggotong Bu Hesa, apa lagi Dimas panik melihat Ibunda pingsan dan pelipisnya berdarah.
"Mak, kenapa nih.?"
"Mama mu tertimpa dahan yang rapuh dan jatuh, mengakibatkan dia pingsan," sahut seseorang.
"Oh ya sudah kita bawa masuk saja dulu," Dimas terus berjalan ikut membawa sang Ibu.
Maria menangis histeris, panik melihat Ibunya tak bergeming, secepat mungkin dia di bawa ke ruang tengah untuk di tangani segera, Dimas langsung sigap menangani sang Ibu.
Dery tidak mengikuti orang-orang yang membawa Bu Hesa masuk, melainkan matanya mencari keberadaan Naya dan Kayla, kemudian mata Dery menemukan sosok yang duduk memeluk bayi, setelah di hampiri terdengar isak tangisnya, Dery termangu.
"Kau kenapa di sini dan kenapa menangis,?" tanya Dery mengernyitkan dahinya heran.
Naya menoleh dengan mata yang berkaca-kaca mengusap pipinya yang basah, sebelum menjawab matanya melihat-lihat adakah suaminya, "Kau tau keberadaan Mama sekarang,?" balik nanya.
"Nggak tau, mungkin sedang di tangani dokter," dengan nada datar sambil duduk dekat Naya, "Bayi mu tidur, oya kau belum menjawab pertanyaan 'ku," menatap tajam.
"Em.., aku.., sudah lah," Naya mengusap kembali pipinya yang masih basah.
"Sini baby Kayla saya yang gendong," dan Naya pun memberikan nya pada Dery.
"Kau tahu mertua mu kenapa,?" kembali bertanya.
"Em.., tahu," Naya menunduk.
"Ya sudah kalau gak mau cerita tidak apa, yuk masuk, tidurkan anak mu," Dery berdiri dan membawa Kayla yang tertidur, di susul Naya mengikuti dari belakang.
Akhirnya Bu Hesa sadar dari pingsannya, lukanya pun sudah di perban dan di beri beberapa jahitan akibat mengalami robek di bagian pelipisnya.
Saat ini Bu Hesa sudah berada di kamarnya, di sana tinggal suaminya, Dimas dan Maria, "Mama kenapa bisa pingsan dan luka gitu,?" lirih suaminya.
Bu Hesa meringis kesakitan, "Itu tadi, saya begini gara-gara istri kamu Dimas," Bu Hesa geram.
Dimas menoleh, "Loh kok istri saya yang disalahkan,?" Dimas heran dan hatinya mulai ingat keberadaan istrinya yang sedari tadi tidak nampak di matanya.
"Iya, saya jadi begini gara-gara dia, dia tahu dahan itu meletek terjatuh kok saya di biarkan tertimpa, kurang ajar kan namanya."
"Tidak mungkin, tidak mungkin Kak Naya jahat sama Mama, itu gak mungkin," Maria menggeleng gak percaya.
"Mak, emang kalian sedang apa di sana,? tanya Dimas lembut, tidak serta merta mempercayai cerita sang ibundanya.
"Entah istri mu habis berduaan sama si Dery itu, dan saya tegur lah," ketus Bu Hesa.
Nyes.., menyerap ke jantung, "Mereka kan mengajak baby twins bermain, Mak jangan curiga gitu, Mama mengenal mereka dari lama juga dari ketika Mama berada di tempat Abang," ucap Dimas.
__ADS_1
"Saya tidak percaya, pasti antara mereka ada apa-apa-!"
"Itu tidak benar, kami hanya mengajak bermain anak-anak, semua tahu kan kalau Dery juga membawa Arif ke rumah dalam keadaan tidur," suara Naya memotong perkataan Bu Hesa.
"Sayang,?" Dimas menoleh kearah istrinya, "Dari mana kenapa baru muncul, mana Kayla," tanya Dimas menjemput sang istri yang berdiri dekat pintu.
"Tadi aku, berada dekat kejadian, dan semua gak seolah gak melihat 'ku," jelas Naya.
"Maaf sayang tadi aku panik, sehingga lupa sama Bunda dan anak kita, lagian Ayah pikir Bunda sudah masuk ke dalam rumah," Dimas memeluk sang istri.
Bu Hesa menatap kurang suka, Naya menoleh Ibu mertuanya, "Mama gimana keadaannya,? itu di perban, lukanya parah kah," Naya melepas pelukan suaminya.
"Jangan sok perhatian," ketus Bu Hesa.
"Mama kenapa sih, kok sepertinya benci banget sama Kakak, dia mantu mama juga, dulu Mama sudah baik sama Kakak kenapa sekarang begitu bahkan tambah parah, Mama gak sayang apa sama cucu yang kemarin Mama banggakan," protes Maria pada Ibunya.
"Iya Ma, kenapa jadi begini lagi, gak capek kah,?" sambung suaminya dengan lembut.
"Kalian gak lihat,? kondisi saya seperti ini," lagi-lagi Bu Hesa meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"Sudah Mak, baring ya istirahat," Dimas dan Bapak nya membantu membaringkan tubuh Bu Hesa.
"Biarkan Mama mu istirahat dulu, kita keluar dan lanjutkan acara demi acara."
Naya hanya bengong melihat keadaan Bu Hesa, Dimas mengajak Naya dan menuntunnya keluar dari kamar Mama nya, begitupun Bapak dan Maria.
"Akak gimana keadaannya sekarang,?" tanya Tante Lia, ketika melihat Maria menutup pintu kamar Mama nya.
"Ngelantur gimana Maria,?" tanya Tante Lia kembali.
"Itu loh Tan, terus saj menyudutkan Kakak ipar, aku jadi gak enak deh, sama kakak ipar Tan," lanjut Maria.
Tante Liana menghela napas panjang, "Ibumu memang seperti itu, ya sudah semoga capat sembuh ya,?" ucap Tante Liana sambil balik ke dapur.
Dimas membawa Naya ke kamar, tanpa Dimas tahu Naya meringis kesakitan, sesungguhnya banyak luka di tubuh Naya, seperti tangan, tengkuk, bahu, lengan, bahkan di telinga pun terasa perih, akibat kena ranting tadi.
"Sakit yang," lirih Naya sambil melirik kedua baby nya yang bobo nyenyak.
"Kenapa,? Bunda.., apa benar pa yang dikatakan Mama tadi itu,?" akhirnya Dimas bertanya yang sedari tadi ingin ia lontarkan.
Naya mendongak, "Ayah curiga sama aku, kalau aku punya hubungan khusus sama dia, iya,?" Naya menggeleng.
"Bu-bukan curiga sayang, cuman tanya saja," lembut Dimas sembari merangkul bahunya Naya, karena lukanya tersentuh, Naya meringis kecil.
"Tapi, Ayah seolah percaya sama omongan Mama, aku dan Dery kan Ayah tahu sendiri, Ayah juga yang sering suruh aku pergi bersama dia, berarti Ayah juga percayakan dia untuk menjaga kami," ujar Naya.
"Iya sayang, ya sudah mandi dulu gih, belum mandi kan,?" titah Dimas menyeringai.
"Ya sudah, aku mandi dulu ya,? jagain mereka Arif dan Kayla takut bangun," Naya perlahan berdiri dan memasuki kamar mandi.
__ADS_1
"Ya ampun..,sakit, mau mandi dingin dan sakit perih, gak mandi juga lengket nih badan," gumam Naya sambil memutar keran untuk mengisi baht hub, ingin berendam dengan air hangat saja.
Dimas menatap kedua buah hatinya yang terlelap, menoleh kearah suara keran air dari dalam kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian Naya keluar dari balik pintu, dengan mengenakan jubah handuk membalut tubuhnya, mendekati lemari mengambil setelan untuknya.
Dimas memperhatikan gerak-gerik sang istri sambil berbaring, namun Dimas terkejut melihat di tubuh sang istri yang banyak luka lebam, "Sayang, kau kenapa,?" Dimas seakan loncat dari tempat baringan nya, mendekati sang istri.
"Em.., nggak, cuma.., tadi terkena ranting yang jatuh, untung saja gak sampai kena sama baby Kayla, kalau saja kena pasti dia terluka, Alhamdulillah Allah masih melindungi kami," ucap sang istri Naya.
"Ya Allah.., kok bisa begitu,?" Dimas sangat terkejut sambil mengambil salep dari sebuah laci di depannya, lantas mengobati setiap luka yang ada di tubuh sang istri.
"Maaf sayang, aku tidak berada di tempat ketika kejadian itu berlangsung, sehingga aku gak bisa melindungi kalian," ucap Dimas dengan nada sedih.
"Oh, gak apa-apa toh semuanya sudah terjadi, yang penting kami baik-baik saja, gak kurang satu apa pun," sahut sang istri sambil mengenakan pakaiannya.
Dimas mencelos hatinya, merasa sedih apa lagi bila terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan, dan dia akan menyesali dirinya bila itu terjadi menimpa istri serta anaknya, sebab karena keteledoran dirinya yang tidak menjaga keselamatan mereka.
"Saya pasti akan sangat menyesali kalau saja sesuatu terjadi menimpa kalian berdua," sambung Dimas.
"Sudah lah yang, kan semuanya sudah terjadi, gak perlu lah minta maaf, ya sudah, kalau kau ingin gabung lagi bersama keluarga, baiar aku di sini saja. sambil istirahat," lanjut Kanaya.
"Malas ah," gumam Dimas lalu mengambil dan membuka laptopnya, namun ponselnya berdering, ada sebuah notifikasi dari seseorang, yang berisi bahwa pegawai dari sang istri di tangkap polisi.
"Yang,?" panggil Dimas sembari menyimpan ponselnya.
"Iya, ada apa,?" sahut sang istri.
"Ini, katanya.., Lisa di tangkap pihak yang berwajib sebab.., namanya terseret atas penyelundupan.
"Apa,? yang bener saja," Naya keget bukan main padahal dia sudah menjanjikan bahwa Lisa akan aman dan terus bekerja di tempatnya, "Kasian dia, padahal dia itu tulang punggung keluarganya, terus gimana supaya dia terbebaskan,?" Naya menatap suaminya penuh harapan.
"Tapi itu wajar, karena apa yang dia tanam itu pula yang dia tuaykan, gak mungkin dia masuk penjara kalau dia tidak melakukan kesalahan," ujar sang suami.
"Iya sih, tapi sudah meminta maaf, dan dia berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang kedua kalinya, dan aku sendiri sudah memaaf kan, dengan catatan dia sanggup mencicil sebagian kerugian, tentunya dia akan menagih janji," jelas Kanaya berwajah cemas.
"Tenang saja Bun, semua akan berjalan dengan baik, jangan khawatir, toh kita tidak punya salah apapun terhadap dia, justru dia yang telah menghianati sebuah kepercayaan yang telah Bunda berikan terhadapnya," tegas Dimas dengan sangat yakin.
Naya menatap sang suami, "Ya sudah, aku akan menghubungi mereka dulu," Naya mengambil ponsel miliknya untuk menanyakan kabar terbaru dari butiknya.
"Mana aku sudah janji sama Tante Liana, bahwa aku akan mengirim beberapa gaun untuk Tante Liana," sambil menempelkan benda pipih miliknya di telinga.
"Ya suruh aja yang lain untuk mengurusnya, kan masih ada bawahannya," ucap Dimas kembali.
"Iya, tapi.., gak ada yang angkat nih telepon dari aku, mungkin pada sibuk kali," sambil memutus sambungan telepon.
,,,,
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.
__ADS_1
NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏