Bukan Mauku

Bukan Mauku
Kedatangan Kamal


__ADS_3

"Kalau Lisa di kantor polisi lama berarti aku butuh pekerja baru dong,? yang bisa kan kita bebaskan Lisa," menatap sang suami dengan tatapan serius.


"Yang, biar saja Lisa mempertanggung jawabkan semua yang dia perbuat," ucap Dimas melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Tapi..," gumam Naya.


"Ayah berangkat dulu ya, siang nih," Dimas berdiri meraih ponsel nya di meja.


"Iya," Naya pun berdiri berjalan dengan Dimas bergandengan ke teras.


Naya mencium punggung tangan Dimas dengan lembut, Dimas pun mendaratkan kecupan di kening sang istri, "Ayah berangkat ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, hati-hati dan cepat pulang," timpal Naya, Dimas berjalan memasuki mobil dan Pak Mad sudah menunggu depan setir.


Naya menatap punggung Dimas sampai masuk ke mobilnya, lalu melambaikan tangan, di balas oleh Dimas dari dalam mobil.


Naya baru masuk setelah suaminya berangkat, Naya langsung naik menemui baby twins yang berada di atas.


Setelah baby twins sudah di mandikan, Naya bersiap berangkat ke butik, "Bi titip anak-anak ya,?" ucap Naya pada kedua asistennya.


"Siap Bu, jangan khawatir, ada kami yang jaga, Ibu yang tenang saja."


"Iya Bu, mereka anteng kok," timpal Bi Mery memperkuat perkataan Bi Taty.


Naya tersenyum, "Makasih ya Bi,?" Naya pun pergi, sebelumnya mengecup pipi kedua buah hatinya.


Sesampainya di butik, Naya langsung di sambut oleh anak buahnya, mereka bercerita tentang Lisa.


"Kami kurang mengerti Bu, tanpa ada yang mengarahkan kami," ucap salah seorang pekerja butik.


Naya terdiam sesaat, mengingat lumayan berartinya kehadiran Lisa di butik ini, tapi mau bagai mana Lisa harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.


"Saya juga gak menyangka akan begini jadinya, bukan aku tidak kasian sama dia namun, mau gimana lagi, namanya terseret juga," Naya lesu.


"Kami tidak apa-apa tentang hal itu Bu percayalah,?" ucap Delia menunduk takut di curigai oleh bosnya.


"Iya, sudah lah, sekarang.., lebih baik kita kerjakan tugas kita masing-masing dengan baik, aku percaya kalian, dan jangan pernah mengkhianati kepercayaan yang telah di berikan seseorang."


"Baik Bu," pekerja nya menunduk lalu melanjutkan tugas nya masing-masing, tentunya Naya harus lebih extra mengajarkan Delia agar mampu menggantikan peran Lisa di butik nya.


"Oya Delia, apa pesanan saya yang kemarin pinta sudah di kirim sesuai alamat?" tanya Naya sambil sibuk memotong.


"Yang kemarin, sudah Bu," sahut Delia sembari menggantung kan pakaian.


"Makasih," Naya melirik kearah Delia, dalam hatinya berkata, "Delia sepertinya bisa aku andalkan, ya," Naya menganggukkan kepalanya.


Suara derap langkah terdengar dari lain arah membuat Naya menoleh kearahnya, "Permisi Bu ada tamu ingin bertemu Ibu," suara Siska membungkuk hormat setelah dekat dengan Naya.


Naya terdiam sesaat, "Siapa,?" menatap heran.


"Tidak tahu Bu, seorang laki-laki," sahut Siska lagi.


"Kenapa gak kamu layani saja, mungkin mau belanja," timpal Delia menoleh Siska.


"Apanya yang di layani,? dia minta bertemu Ibu kok," sambung Siska.


"Ya sudah, kalian kembali kerjakan tugas saja, Aku mau menemui tamu dulu," Naya berdiri dan melangkah dengan hati bertanya-tanya siapa laki-laki tersebut.

__ADS_1


Langkah Naya terhenti setelah mendapati seorang laki-laki tampan berambut ikal, tengah memilih kemeja batik yang tertata rapi di depannya.


"Kamal, kenapa ada di sini,?" gumam Naya dalam hati.


"Bang Kamal,? kok ada di sini sih," sapa Naya tersenyum ramah.


Kamal menoleh, menatap Naya tak lekas tak lekas menjawab pertanyaan Kanaya, dia menggaruk tengkuknya seakan bingung, "I-iya saya, ke sini mau apa ya lupa."


Naya mengerutkan alis nya merasa aneh dengan tingkah Kamal ini, "Loh.., kok bingung,? Abang lagi kerja, tidak ada di rumah," sambung Naya kembali.


"I-iya saya tahu, saya ke sini.., em.., ini mau pesan kemeja ukuran saya ada kan,? iya buat saya."


Lagi-lagi Naya tersenyum meski masih merasa heran, "Oh, tentu ada nanti di carikan," Naya menoleh kebelakang, "Kak Siska.., tolong kemari sebentar."


Siska segera menghampiri Naya, "Iya Bu apa ada yang bisa saya bantu.?"


"Ini tolong pilihkan kemeja buat Abang ini," sembari menunjuk Kamal.


"Baik Bu," lantas Siska mencari barang yang Naya suruh kan.


Silahkan duduk Bang," Naya menyuruh Kamal duduk, begitupun dirinya duduk depan Kamal.


Kamal yang terus memandanginya membuat Naya kikuk salah tingkah, "Aiihs.., kenapa terus melihat 'ku seperti itu sih,? apa ada yang salah dengan 'ku," batin Naya, lalu mengambil minuman kemasan dari bawah meja, "Minum Bang.?"


Kamal tak merespon, membuat Naya mengulang kata-katanya, "Bang Kamal, minum.?"


"Oh, i-iya makasih," Kamal terkesiap.


"Ini ada beberapa potong kemeja, silahkan Tuan pilih dan suka yang mana,?" Siska membawakan beberapa potong pakaian.


Naya mendongak, "Emang buat siapa Bang banyak begitu,? bukannya buat Abang sendiri."


"Ya, huat saya juga buat kawan-kawan, di bungkus saja mbak," senyum Kamal mengembang.


"Oh, gitu, makasih ya Bang sudah sudi mampir kesini," ucap Naya.


"Tentu," Kamal menatap wajah Naya yang teduh, membuat hati yang memandang menjadi tenang.


Naya menunduk dalam, "Aduh..,semoga aja cepat pergi," gumam Naya dalam hatinya.


Siska sudah selesai membungkus semua pesanan Kamal, "Ini Tuan, sudah siap, harganya sekian juta, mau kes atau transper pembayarannya.?"


"Kalau transper, harus ke rekening siapa,?" tanya Kamal namun matanya tak lepas dari Naya, membuat Naya serbasalah.


"Langsung ke no rekening Ibu saja Tuan," sahut Siska cepat.


"Kalau begitu saya transper saja, sebutkan saja no rekeningnya," ujar Kamal kembali sembari tersenyum melihat Naya.


Naya menghela napas lalu menghembuskan nya dengan kasar, melirik Siska yang mengetikan no rekening.


"Ini Pak, dikirim aja ke no rekening itu," Siska mengembalikan ponsel milik Kamal.


"Siap, makasih."


"Bang Kamal mau ke rumah dulu mampir apa sudah mampir tadi,?" tanya Naya sekilas melirik Kamal.


"Em.., lain kali saja, saya mau ke tempat kawan dulu, salam saja buat Abang," Kamal berdiri mengambil barang nya.

__ADS_1


"Oh, baik lah, terimakasih.?"


"Sama-sama."


Kamal keluar dengan berat hati, masih betah namun dan ingin lebih lama lagi namun gak enak, makanya segera pergi.


Baru mau membuka pintu, datang lah sebuah motor yang dikendarai Dery, Kamal menatapnya, Dery pun memperhatikan mobil dekat Kamal, berasa kenal.


"Berasa kenal dengan mobilnya, oh iya kan sodara nya Dimas, tapi," Dery kembali melihat mobil tersebut, "Mobil yang semalam mengintai."


Kamal dan Dery saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan, lalu Kamal membuka pintu dan masuk, beberapa detik kemudian melajukan mobilnya.


Dery termenung, melihat kepergian mobil Kamal, "Buat apa semalam mengikuti kami,?" kan bisa bicara baik-baik, dan ada apa datang ke sini," mengerutkan keningnya.


Setelah Kamal keluar dari pintu, Naya masuk keruangannya, baru berapa langkah, Siska sudah memanggil, "Bu, ada orang menunggu Ibu di luar."


Naya menghentikan langkahnya, menoleh kearah Siska, "Siapa lagi,?" tanya Naya.


"Itu.., Tuan Dery, katanya mau jenguk Lisa," timpal Siska kembali.


"Iya kah,?" Naya memutar badan kembali ke tempat semula namun Dery gak ada di sana melainkan berdiri di luar.


"Ada apa ya,?" tanya Naya memandangi Dery.


Dery menoleh Naya yang berdiri dekat pintu menyilangkan tangan di dada, "Saya di suruh Dimas mengantar mu ke kantor polisi untuk menjenguk Lisa pegawai mu yang penghianat itu."


"Oh, ya udah, tunggu sebentar," Naya memutar badan dna memanggil Siska, "Kak Siska tolong ambilkan aku ponsel di meja, aku mau pergi dulu."


Sesaat kemudian Siska datang membawa ponsel milik Naya, "Bilang sama Delia kalau ada apa-apa yang kurang dimengerti, hubungi saya langsung, mau jenguk Lisa dulu."


Siska mengangguk, dan kembali ke tempat kerjanya, Naya di bonceng Dery menuju kantor polisi di mana Lisa di tahan.


Sesampainya ditempat tujuan, Naya dan Dery langsung berbincang dengan seorang polisi, dengan tujuan menjenguk Lisa.


Naya dan Dery duduk di ruang tunggu, Naya duduk dan Dery berdiri, sementara penjaga tahanan wanita menjemput Lisa.


Sesaat kemudian terdengar derap langkah mendekati ruang dimana Naya berada, tampak Lisa dengan wajah lesu, di giring sipir wanita.


"Apa kabar Lisa,?" sapa Naya dengan tenang.


"Anda puas melihat saya di sini hah,?" suara Lisa bergetar dan mata berkaca-kaca.


Naya menggeleng, "Saya tidak melaporkan dirimu, tapi suami saya itupun maksudnya dalang dari perbuatan kamu, tapi nyatanya nama kamu terseret juga, aku minta maaf."


"Omong kosong, sekarang kau puaskan saya di sini? di penjara, tidak bisa bekerja ! mencari uang buat keluarga saya di kampung, kau bilang akan memaafkan saya, dan memberi kesempatan saya untuk terus bekerja di tempat anda, mana nyatanya saya masuk lapas juga," sergah Lisa sambil mengusap air matanya.


"Aku gau tahu suami 'ku melaporkan kejadian itu bener, dan iya bener aku sudah memaafkan kamu, juga akan membiarkan kamu tetap bekerja, tapi kenyataan berkata lain, saya harap Kamu sabar, percayalah ini hanya sebentar, dan nanti kamu silahkan datang kembali, saya akan senang hati menerima kamu kembali."


"Sudah terlambat, pulang dari sini saya sudah di cap penjahat, orang-orang akan memandang sebelah mata, tidak menganggap saya ada, memandangi penuh curiga, begitu juga anda hah,?" Lisa menatap tajam.


Lagi-lagi Naya menggeleng, serta merasa bersalah gara-gara dirinya Lisa masuk lapas, dia mengusap buliran yang menggenang di sudut matanya dengan telunjuknya seraya berkata, "Nggak, saya akan menerima kamu dengan tangan terbuka karena saya anggap kamu khilaf."


,,,,


Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.


NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏

__ADS_1


__ADS_2