
Yuk biasakan sebelum membaca kasih lake dulu, komen juga dll. agar aku tambah semangat belajar menulisnya.!
Dan terimakasih juga pada reader semua yang sudah memberikan lake, komen nya, yuk budayakan saling menghargai karya seseorang.
,,,,
"Yang..,kau gak bisa bohongi aku, kenapa sayang bicara sama aku bah.?" bujuk Dimas.
Naya tak secepatnya menjawab, ia hanya diam membisu, Dimas dengan sabar menunggu Naya bicara.
"Yang bicara dong.? ada apa dengan dirimu.?" tambah Dimas penasaran kenapa Naya bersedih.
"Gak kenap-kenapa kok.!" Jawab Naya sembari duduk bersandar di bahu tempat tidur.
"Kalau gak kenapa-kenapa, kenapa sedih seperti itu, cerita lah siapa tahu dengan cerita mampu meringankan beban.?" Dimas kekeh.
Naya mendengar ucapan begitu, hatinya semakin terhiris membuat semakin sedih, air mata semakin deras mengalir, ia mencoba tersenyum walaupun getir.
Perasaan cemas, dan was-was, selalu menghantuinya, terkadang merasa kalau hidupnya tak berarti, ia hanya menyusahkan orang tua, karena sampai detik ini belum bisa membahagiakan kan orang tua, justru membuat susah, ia ingin menikah dengan orang yang ia sayangi, lebih-lebih pasangannya pun amat menyayangi setulus hati, menerima apa ada apa pun kondisi Naya.
"Tidak kok yang aku hanya sedih saja, kapan aku nikah menemukan seseorang yang tulus ikhlas mencintai diriku.? aku tak sanggup melewati hidup ini sendiri." ucap Naya mengusap air mata.
"Sayang kita pasti menikah, sabar aja aku akan datang menemui dirimu, jangan tinggalkan aku, tunggu aku."
"Sampai kapan...,?" tanya Naya seakan putus asa.
"Yang.., dirimu pasti bisa menunggu.? aku yakin dirimu sangat menyayangiku, iya kan.?" rayu Dimas senyum tipis.
"Enggak."
"Enggak, sedikit.? tahu aku," seru Dimas, Naya tersipu, Dimas selalu mencoba menghibur dikala ia tengah sedih, dia selalu membuatnya nyaman, andai saja dia berada di sisi.! LDR pun ada kenyamanan di sana, entah terlalu cinta atau gimana, tidak mampu di ungkapkan dengan kata-kata, yang jelas intinya nyaman,
"Yang udah ya.? aku capek, ngantuk juga." Naya merebahkan tubuhnya tak lupa memasang kan selimut.
"Ayok bobo sayang, sama-sama." Dimas juga merebahkan tubuh di atas kasur empuk miliknya. membiarkan telepon tetap tersambung sampai terputus sendiri, dengan begitu semakin terasa erat, kedekatan diantara mereka berdua.
__ADS_1
Semakin terikat kuat hubungan diantaranya, semakin besar rasa ingin memiliki satu sama lain, namun endingnya hanya tergantung dengan takdir.
"Yang membaca doa dulu" pinta Naya, Dimas membaca doa mau tidur walau masih belum lancar namun setidaknya ia bisa.
Di hari pernikahan Lely, walau acaranya terbilang sederhana namun terasa khidmat dan sakral, keluarga besar berkumpul semua turut berbahagia, bersenda gurau, riuh pikuk begitu ramai, mengiringi kebahagian kedua mempelai.
Naya turut bahagia di tengah acara itu, ia berdoa semoga rumah tangga Laly dan Wandy penuh kebahagiaan, menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah,
******
Di tempat Dimas.
Hampir setiap hari sabtu sore Dimas mengantar Mamaknya ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan dapur.
Dimas yang mengemudikan mobil menepi di parkiran swalayan tersebut, ia dan Mamaknya turun, sebelumnya Dimas membuka kan pintu untuk sang Ibu.
Mereka berjalan memasuki swalayan tersebut, sampai di dalam Dimas memilih buah-buahan kesukaannya. seperti lengkeng, apple, jeruk, di masukan kedalam troley belanja.
"Hi..., dok" sapa seorang wanita cantik, menghampiri Dimas yang tengah asik memilih belanjaan.
"Belaja apa dok.?" tanya Citra.
"Seperti yang kau lihat." sahut Dimas, Citra sedikit memonyong kan bibirnya dengar setiap jawaban Dimas selalu cuek pabila di dekati oleh dirinya, namun bukan Cita namanya kalau mudah putus asa.
"Rajin deh dok.? senang deh kalau punya suami seperti dokter yang rajin, mau berbelanja, meringankan kerjaan isyri pastinya, Dimas sejenak menatap tajam Citra, ketika beradu pandangan seketika Citra merasa gugup, jantungnya berdegup kencang, semua rasa bercampur aduk menjadi tak karuan, sikapnya menjadi kikuk.
Citra mengalihkan pandangan, menarik napas dengan teratur, untuk menetralisir perasan gugupnya.
"Siapa dia Dim.?" tanya bu Hesa menunjuk gadis cantik yang berdiri di hadapan Dimas,
"Oh, dai dokter bimbingan saya Mak." jawab Dimas melirik Ibunya.
"Oh, Ibunya.? aku kira istrinya tapi kok tua banget, hi..hi..hi..rupanya Ibu." gumam Citra menatap bu Hesa seraya mengangguk sopan.
"Kenalkan tante, aku Citra." mengulurkan tangan pada bu Hesa, di sambut oleh bu Hesa akhirnga mereka berdua berjabat tangan.
__ADS_1
"Nak Citra belanja juga.? sama siapa.?" bu Hesa celingak celinguk, mungkin saja Citra bersama siapa.
"Iya tante aku belanja juga, tapi sendiri aja kok, maklum belum punya pendamping." kata Citra dengan percaya diri, sembari melirik Dimas yang fokus melihat-lihat barang yang ada di swalayan itu.
"Oya, masih single rupanya.?" ucap bu Hesa senyum ramah.
"Iya ten, gak ada yang mau sih." Citra malu-malu, bu Hesa mengamati penampilan Citra yang memakai dres pendek warna krem, rambut panjang bergelombang, bodi tinggi padat berisi, nyaris sempurna di matanya.
"Cocok juga kalau dengan Dimas." gumam bu Hesa melirik Dimas yang memunggungi.
"Citra semakin tersipu malu di perhatian seperti itu oleh Ibunya Dimas, dia segera bergerak untuk berbelanja, karena merasa kikuk, jadi yang tidak ingin di belipun dia masukan ke troley belanja.
"Di cantik juga tuh, Mamak setuju, kalau kamu pacari dia." kata bu Hesa yang berdiri dekat Dimas, mendengar ucapan Ibunya ia menaikan alis sebelah.
"Mamak baru saja kenal dia." dengan tatapan datar.
"Iya, tapi Mamak langsung suka, dia nyaris sempurna loh Dimas.?" balas bu Hesa.
Dimas menggeleng pelan. "Hemm.."
Citra yang tak jauh dari mereka berdiri, terus saja mendekati kemanapun Dimas dan Ibunya melangkah, bersikap SKSD pula sama bu Hesa.
"Nih anak maunya apa sib.? sok kenal sok dekat lagi sama Mamak." decak Dimas, menggerutu dalam hati, dengan tatapan kurang suka, padahal dia di bawah bimbingannya, ya kalau soal kerjaan sih ok-ok aja buat Dimas, tapi kalau urusan lain tidak.
"Tan, boleh gak kalau kapan-kapan akunmain ke tempat tante.?" Citra dengan tatapan penuh harap.
"Oh, tentu dong Cit..,boleh tante tunggu, cuma.., kalu sekiranya pagi tante di ladang maklum lah orang susah." kata bu Hesa nyengir.
"Ih, tante jangan bilang gitu dong, kan aku juga pgi kerja, paling ada wajtu senggang nya sore tan." bersikap manja.
"Ya sore aja mainnya Cit.! tante akan sangat senang sekali." bu Hesa melirik Dimas yang tak berekspresi apapun.
"Wahh, belum apa-apa aku jadi merasa tersanjung" sahut Citra.
"Tersanjung, sinetron jaman dulu kali ah." gumam Dimas pelan, bahkan terdengar oleh Ibunya dan Citra, keduanya melihat Dimas, Dimas yang merasa, langsung melengos pergi.
__ADS_1