
"Dia harus menjaga bayinya, jadi tidak bisa menemani di sini," ucap Aldo memperkuat perkataan Dimas.
Sakit sungguh sakit bagai pisau menggores kalbu ketika pujaan hati sudah ada yang punya dan bahagia, buliran air menggenang di pelupuk mata.
Helaan napas panjang dari Marina yang seakan terdengar berhembus, dia tersenyum getir, menoleh keduanya, "Aku bahagia bila orang-orang yang aku sayang bahagia, sebagai kawan pastinya kalian menerima aku dong, seperti sahabat dulu."
"Tentu, seperti sahabat," ucap Aldo mengangguk.
Lagi-lagi Marina memeluk Aldo saking senangnya, "Terimakasih," kemudian menoleh kearah Dimas dengan senyum merekah, ingin memeluk Dimas namun Dimas menggeleng dan mengangkat tangannya menandakan tidak ingin di peluk.
Aldo tidak menyangka akan kena pelukan lagi Dari Marina, kali ini lagi-lagi dapat banyak dia.
Marina melihat jam yang melingkar di tangannya, "Ya sudah, aku mau pulang dulu," Marina beranjak dari duduknya dan meraih tas dari atas meja.
"Oke, pulang lah, sudah malam keluarga mu pasti menanti kepulangan dirimu," ucap Aldo menaikan alisnya.
Marina berdiri, berharap Dimas mencegah nya pulang dan menyuruh menemani dirinya di Rumah sakit.
^^^"Ayok lah sayang, jangan pulang, duduk aja di sini temani aku mau kan sayang.?"^^^
^^^"Mau-mau, aku mau disini, aku mau sekali bersama mu."^^^
"Marina, katanya mau pulang,? kok masih berdiri disitu," Dimas heran melihat Marina masih berdiri di tempat, sambil senyum-senyum sendiri.
Mendengar suara Dimas, membuat Marina tersadar dari lamunannya, dia menggercapkan matanya, wajah yang tadi ceria berubah menjadi di tekuk, senyuman pun hilang seketika.
"Oh iya permisi, lain kali aku akan menjenguk mu lagi, sekalian berkenalan dengan istrimu," lirih Marina kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dimas menarik napas lega, begitupun Aldo menatap punggung Marina yang melintasi pintu sampai hilang di balik koridor, lantas Aldo bejalan menutup pintu.
"Kau juga suka kan,? dapat banyak." Dimas terkekeh.
"Dapat apa maksud mu bro,?" Aldo menatap pura-pura tidak mengerti.
"Hah pura-pura bah."
Malam terlewati dengan bagus, kondisi Dimas sudah lumayan membaik, dan diperkirakan lusa sudah bolehkan pulang.
Bu Hesa dan Maria menjenguk Dimas di Rumah sakit berdua diantarkan oleh Pak Mad, sesampainya di ruangan Dimas Bu Hesa memeluk putranya, begitupun Maria memeluk erat Abang tertua untuknya.
"Gimana kabar mu Dimas,? kapan bisa pulang,?" tanya Bu Hesa menatap lembut putranya, nampak kondisi Dimas lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Lumayan Mak, mungkin atau lusa bisa pulang," sahut Dimas membalas tatapan Ibunya.
"Iya cepat pulang ya Bang," tambah Maria sembari mengupas kan buah jeruk.
"Doa kan saja, gimana keadaan anak dan istri 'ku.?" menatap keduanya.
"Baik mereka, baby kau anteng, gak pernah rewel," sahut Bu Hesa mengingat cucu twins nya.
"Meraka tambah lucu aja Bang, ingin rasanya aku culik deh," timpal Maria sekenanya.
"Apaan culik-culik, jangan buat kami cemas bah," protes Dimas pada adiknya.
"Hehehe habis gemes sih," Maria nyengir.
Dimas pun tersenyum membayangkan kelucuan baby nya, bahkan kangen ingin bertemu mereka termasuk istrinya.
"Permisi.., Tuan dokter apa kabarnya lama kita tidak bersua," suara Endro yang baru masuk bersama sang kekasih Citra.
Semua menoleh, "Eh..,kalian, nak Citra apa kabar,?" Bu Hesa berpelukan dengan Citra cepaka-cepiki biasa.
"Baik Tante, Tante dia sini nungguin dokter Dimas rupanya," jawab Citra dengan senyum ramah nya.
Endro mendekati Dimas, "Gimana bro sudah lebih baik kah.?"
"Seperti yang kau lihat, sudah lumayan mudah-mudahan esok atau lusa bisa pulang," sembari hembuskan napas.
"Bagus lah, sebentar lagi peresmian klinik jadi rus cepat pulih," tambah Endro lagi.
"Ya doakan saja bah, gimana kerjaan lancar,?" Dimas menatap Endro.
"Lancar, banyak yang menanyakan kau, sekaligus mendoakan kau," ucap Endro yang duduk dekat Dimas.
Citra menghampiri, Dimas, berdiri di samping Endro, "Apa kabar dok,? maaf baru bisa menjenguk, aku sibuk," Citra mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Baik, gak apa makasih juga sudah menyempatkan datang sekarang," mereka berjabat tangan sebentar.
"Naya mana?" mata Citra mencari keberadaan Naya yang tidak nampak di sana.
"Ia di Rumah lah, ngurus baby kami," sahut Dimas.
__ADS_1
"Iya lah yang, Naya kan punya baby jadi harus menjaganya, terus kapan kita punya baby nih,?" sembari menyenggol tangan Citra.
Citra memanyunkan bibir seksinya, "Baby, belum waktunya ah, masih lama."
"Hem.., iya dong di segerakan agar bisa menyusul baby kami," goda Dimas dan menarik bibirnya tersenyum.
Citra tersenyum malu, ingat sesuatu yang pernah dilakukan olehnya dengan Endro, untung saja tidak berbuah, kalau saja berbuah wah bahaya pikirnya.
Lagi-lagi Endro menyenggol tangan Citra, "Hayo.., mikirin apa,?" tanya Endro menatap sang kekasih.
"Ah tidak," seketika Citra tersadar dari lamunannya.
Bu Hesa dan Maria pamit untuk pulang, kini waktunya Dimas istirahat, Endro bersama Citra masih duduk di Sofa, sesekali mereka tertawa dan bercumbu, disela tidurnya Dimas melirik Endro yang tengah asik berbincang dan terkadang mencumbu Citra tanpa sadar Dimas memperhatikannya.
"Ah sial, kok mereka ber-cum-bu depan mata 'ku sih, tidak punya malu, mana istri 'ku gak ada lagi," gerutu Dimas dalam hati, ia pura-pura menggeliat, lalu memejamkan mata kembali, asal suaranya terdengar saja oleh dua insan yang asik berdua tersebut.
Benar saja keduanya terkejut mendengar suara Dimas yang menggeliat membuat keduanya duduk menjauh, saling bersi tatap dengan jantung berdebar kencang, mengusap bibi masing-masing.
Akhirnya Endro melihat putaran jam di tangannya, "Bentar lagi saya tugas, pulang yuk baby.?"
"Yuk," Citra menyoren tas nya dan berdiri."
Endro menghampiri Dimas yang tengah istirahat, seraya berbisik, "Bro, kami pulang dulu lah."
Namun tidak ada ekspresi apa pun dari Dimas, seolah sedang tidur sangat nyenyak padahal Dimas mendengar dengan sempurna.
Endro memutar tubuhnya mendekati Citra yang berdiri dekat sofa, "Yuk baby, kasian Dimas sedang istirahat kasian jangan di ganggu," ucap Endro sembari menggandeng lengan Citra.
Citra pun mengekor langkah Endro keluar dari kamar tersebut, Dimas membuka mata dan tersenyum tipis setelah Endro dan Citra tiada lagi terlihat di balik pintu.
Dimas mengambil ponsel miliknya lantas menekan kontak my love, ya itu sang istri yang berada di rumah namun beberapa kali tidak di angkat juga, mungkin Naya tengah sibuk.
Benar saja, tidak lama datang notifikasi dari Naya bahwa dia tengah sibuk memberi asi baby twins nya.
Dimas tersenyum sendiri, entah apa yang ia pikirkan tentang istrinya tersebut yang jelas hatinya tengah merindu kehadiran sang istri di sisinya.
Dimas turun dari tempat tidurnya, dan masuk ke dalam toilet, tanpa sadar ada desakan dari dalam, dan hasrat yang menggebu dari dalam dirinya.
"Hah sial gara-gara tadi nih, Endro nih macam-macam depan mata 'ku, dasar tidak punya malu," Dimas menggerutu sendiri.
Dimas kembali ke tempatnya semula, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, "Hah siapa lagi yang datang sih,? ganggu orang saja," sambil memandangi daun pintu, kira-kira siapa ya yang datang.??
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan pada kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️