Bukan Mauku

Bukan Mauku
Sirik aja bah


__ADS_3

"Dasar pengantin baru, dikit-dikit cium, dikit-dikit cium." gerutu Maria, bibirnya komat-kamit seperti nenek-nenek, hi..hi..hi..


Naya terdiam sambil senyum samar, melihat tingkah Maria, pandanganya tertuju ke acara TV.


Dimas sudah selesai mandi juga sholat Dzuhur nya, kemudian keluar dengan mengenakan pakaian santai di rumah, tentu baju yang di siapkan sang istrinya.


Berjalan mendekati kedua wanita yang tengah asik menonton, "Yang makan yuk lapar nih.?" sambil mengusap perutnya, Naya menoleh pada Dimas yang sudah berdiri di dekatnya. "Sudah selesai kah.?"


"Sudah dong yang." sahut Dimas sembari menatap keduanya. "Yuk kita makan."


Maria beranjak dari duduknya sambil melangkah. "Dari tadi kek suruh makan gitu, lapar tahu.?"


Naya dan Dimas saling tatap kemudian menarik sudut bibir masing-masing. "Maaf sayang, dia emang kaya gitu orangnya, jangan di masukan ke dalam hati ya.?"


"Nggak kok yang, paling aku masukan dalam laci, hi..hi..hi.." Naya tertawa kecil, Dimas membungkuk hendak menggendong Naya, "Yang, biar aku jalan saja, gak apa-apa, malu di lihat Maria." namun Dimas hanya terdiam sesaat namun tak menghentikan niatnya tuk membawa sang istri, di bawanya ke tempat makan, di dudukkan di sana berdampingan dengan dirinya,


"Ya Tuhan...,mimpi apa aku semalam.? baru beberapa puluh menit aja sudah di suguhkan adegan-adegan romantis," gerutu Maria sembari mengetuk-ngetuk meja dengan mulut penuh makanan.


"Kau sirik aja bah.? heran aku." ucap Dimas sambil mengambil sendok, setelah membaca doa mau makan, baru mereka mulai makan dengan lahapnya.


Sementara Maria mengerucutkan bibirnya hingga beberapa senti ke depan.


Dimas tak perduli dengan tingkah adiknya, Maria, sesekali Dimas menyuapi Naya begitupun sebaliknya.


"Hade..,h, makan aku semakin kenyang melihat kalian terus." Maria memalingkan muka, makanan di piringnya sudah tandas tak tersisa.


"Jangan di lihat, tutup matamu rapat-rapat." sahut Dimas tanpa melihat Maria.


"Ih, Abang.?" Maria menjatuhkan sendok ke piring sampai berbunyi. Tring... Maria pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Dasar anak kecil.?" umpat Dimas melihat kepergian Maria, Maria menoleh pada Dimas dan membalikkan badan menghampiri.


"Kenapa Abang.? aku paling gak suka di panggil anak kecil, aku sudah punya suami dan punya anak, kan Abang tahu itu.?" Maria melotot serta bertolak pinggang.


Membuat Dimas terkekeh. "Kalau bukan anak kecil.? kenapa harus SMP? (selesai makan pergi)."


Maria menoleh bekas makannya, kemudian mengambil dengan kasar, membawa ke wastafel lantas mencucinya.


"Cuman itu.?" Dimas mengernyitkan keningnya.


Maria mengedarkan pandangan ke piring Dimas dan Naya. "Kan ada Kak Naya.?"


"Maria kan kamu tahu.? kondisi Kakakmu seperti apa.? wajarlah kau membantunya, bukannya kamu bukan lagi anak kecil.? tapi sudah berkeluarga, berarti kau sudah dewasa.?" ujar Dimas.


"Abang, salah sendiri, kenapa Abang menikahi wanita seperti dia.? banyak kok wanita yang normal dan ngantri jadi istri Abang.!" sahut Maria dengan sinis nya.


"Maria.? jaga mulutmu jangan lancang ya.? Naya istri Abang," hardik Dimas, sementara Naya memegangi Tangan Dimas. "Sabar yang.?" sambil menggeleng.


"Tapi.., kan itu benar, ke--!" Maria tak meneruskan.


"Cukup.! jangan bicara lagi, lebih baik kau pulang, anakmu pasti menunggu kau pulang." Dimas menurunkan nada bicaranya, sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan.


Adiknya memonyongkan bibir, mengambil tas lalu pergi tanpa permisi, Maria mempercepat langkahnya, terdengar jelas dia membanting pintu.


Naya tertunduk, mungkin ini baru di mulai masalah antara keluarga. tanpa di sadari air mata jatuh melintasi pipi, Naya langsung mengusapnya. Dimas melirik sang istri, "Maaf sayang.?" mendekap Naya.


"Tak apa yang.? aku ngerti kok, dan sayang jangan menyalahkan siapa-siapa karena itu memang benar." ucap Naya dalam pelukan sang suami.


"Jangan bicara seperti itu, dan jangan bilang apa pun lagi yang..?" Dimas semakin erat memeluk Naya.


Selepas beberapa saat berpelukan, Naya ingin melepaskan diri dari pelukan Dimas. "Kenapa.? tidak suka kah di peluk oleh suamimu yang ganteng ini.?"


"Tidak, tidak suka, aku mau mencuci piring, kalau di peluk terus bekas makan akan terus kotor." elak Naya dagunya menunjuk piring kotor di meja.


"Ok, cuci dulu lah, hati-hati yang.?" Dimas melepaskan Naya, dan Naya mencuci bekas makan.


Dimas termenung sambil mengamati istrinya yang sedang mencuci. "Yang, kita cari pembantu ya.? agar ada yang menemani dan membantu bunda di rumah.


Naya membalikkan badan bersandar di wastafel, "Kalau sekedar masak, mencuci atau pun pakaian aku bisa atasi kalau cuman kita berdua, tapi.., kalau soal menyapu dan mengepel aku tidak sanggup yang, lagian kasian sayang harus bersih-bersih rumah, jadi ya silahkan, terserah sayang aja."


Dimas mendekati Naya berdiri di dekat sang istri, "Kau tidak mau kecapean, apa lagi sampai menolak keinginanku." mengedipkan matanya.


Naya senyum tipis, sambil mencuci tangan dan mengelapnya.


"Ke atas yuk yang.?" Dimas mengajak Naya ke lantai atas tuk melihat-melihat di keadaan sana.

__ADS_1


"Em.., lain kali aja lah," sahut Naya malas-malassan.


"Aku gendong yang, ya.?" Dimas sedikit memohon.


"Iya, tapi.., bukan sekarang yang, ngantuk, pengen tidur." dengan manjanya.


"Ya sudah, kita bobo dulu nanti aja kita ke atasnya." Dimas memangku sang istri, tuk dibawa ke dalam kamar.


Membaringkan Naya di atas tempat tidur, "Yang TV masih nyala loh.?"


"Biar aja bah." Dimas naik ke atas tempat tidur berbaring di sebelah Naya.


"Hem..," Naya memejamkan matanya. "Yang, aku jadi kepikiran dengan Maria kasian Dia."


Dimas melirik sang istri yang berada dalam pelukannya, "Kasian gimana yang.? dia kan memang salah, bicaranya asal ngucap saja, di bilang anak kecil gak mau, tapi.. kelakuan--!"


"Tapi.., kesannya sayang membela aku lantas menyalahkan dia," memotong perkataan suaminya.


"Emangnya aku salah ya membela istri aku yang jelas-jelas di lancang.?" Dimas kesal rahangnya mengeras, Naya terdiam dan mengusap dada Dimas, ia mendongakkan kepala melihat Dimas yang memejamkan mata, lalu Naya menjepit hidung mancung suaminya.


"Aw..," pekik Dimas sambil melukis senyum di bibir. "Pura-pura tidur." sahut Naya. membenamkan kepala di dada Dimas.


"Hem.., tidur sayang.? katanya tadi ngantuk.? ya udah kalau gak ngantuk, kita bercinta, mau gak.?" menyeringai.


Naya menepuk dadanya pelan. "Apaan sih.? ngantuk ah." Naya memejamkan mata sembari menyembunyikan senyum di bibirnya.


Begitupun Dimas mengulum senyumnya. "Makanya bobo, lagipula aku gak mood kok, bobo ah." mengusap punggung sang istri.


Waktu sudah menjelang sore, pukul enam belas mereka baru bangun, "Yang bagun dah sore nih." Naya mengecup pipi Dimas yang masih terpejam, membuat Dimas seketika membuka mata merasakan ada sesuatu yang kenyal dan basah mendarat di pipinya.


"Bangun, sudah sore.?" lirih Naya sambil menatap Dimas tak berkedip, ternyata wajah suaminya cakep juga ketika bangun tidur, bibirnya merah jambu, hidung mancung, dan mata sayu merayu he..he..he..


Melihat sang istri menatap tanpa berkedip membuat Dimas tersenyum manis. "Kenapa sayang.? bengong seperti itu.? belum pernah melihat wajahku yang ganteng ini hem.?" penuh percaya diri.


"Ge'er..,! Naya memalingkan pandangan ke lain arah, ia turun dari tempat tidur namun lututnya serasa lemas tak bertenaga tuk berjalan.


"Kenapa yang.? hati-hati awas jatuh." Dimas bangun dari tidurnya.


"Ini yang-!" dengan wajah pucat.


"Kaki aku lemas, tak bertenaga, keram juga." ucap Naya.


"Kok bisa.?" terlihat cemas di wajah Dimas, lalu berjongkok memegangi kaki Naya dan memijat-mijat lembut.


"Mau ke kamar mandi kah.? yuk aku bantu." Dimas membopong sang istri ke dalam kamar mandi, Naya mengalungkan tangan di leher Dimas takut jatuh.


"Mau mandi gak yang hem.?" tanya Dimas sebelum menurunkan Naya.


Naya menggeleng. "Tidak yang."


"Ok, aku tunggu di luar, panggil aku kalau sudah ya sayang.?" Dimas menurunkan Naya dan meninggalkannya, ia keluar dari kamar mandi, Naya mengambil air wudhu, kemudian membuka pintu nampak Dimas dengan setia menunggu depan pintu.


"Udah yang.?" Dimas menoleh istrinya yang hendak keluar.


"Iya, sayang ambil wudu dulu sana, nanti keburu sore." Naya mengusap mukanya yang basah.


"Tapi bunda bisa jalan sendiri gak.?" masih tampak cemas.


"Bisa, tenang aja, aku bisa kok." sahut Naya berpegangan pada dinding.


"Hati-hati yang.?" Kata Dimas sambil masuk ke kamar mandi.


Selepas mengerjakan sholat Naya beranjak menuju dapur, sementara Dimas masih di atas sejadah, usai salam dan berdoa Dimas berpikir sepertinya ia harus mencoba mengobati Naya dan membawanya ke ahli tulang.


Kebetulan ia ada kenalan ahli tulang, mungkin saja dia bisa menolong dirinya, dalam masalah ini, ia ingin Naya bisa sembuh, setidaknya bisa kuat jauh tidak cepat capek seperti sekarang ini.


Dimas tak tega bila harus melihat sang istri terus-terusan begitu, apa lagi ia sangat berharap adanya buah hati diantara mereka berdua, suatu saat nanti, terdengar helaan napas yang kasar dari hidung Dimas.


Dimas meraih ponsel dari atas meja, ia mencari nomor seorang kawan, kebetulan langsung di angkat, berapa saat Dimas berbincang di sambungan telepon, keputusannya, akan mengadakan pertemuan besok lusa.


Di dapur Naya tengah memasak, untuk makan malam, tiba-tiba terdengar suara dari belakang. "Yang besok lusa aku akan menemui seseorang, dia ahli tulang yang, aku akan konsultasi tentang dirimu."


Naya hanya mendengarkan setiap perkataan Dimas, yang duduk di belakangnya, hingga akhirnya membuka suara. "Terserah kamu aja,"


Dimas beranjak menutup semua jendela, dan menyalakan lampu karena sudah mulai gelap.

__ADS_1


Naya mau menyimpan masakan di meja, Dimas segera membantu Naya agar istrinya, istirahat. "Sudah yang aku aja, kau istirahat aja duduk manis," dengan senyuman termanisnya, Dimas memindahkan masakan Naya ke meja.


"Terimakasih yang.?" Naya menyunggingkan bibirnya, senyum ikhlas.


"Sama-sama sayangku..?" sahut Dimas membalas senyuman sang istri. "Kalau masak sih aku gak bisa, tapi.., kalau cuma beres-beres aku bisa." Dimas menata makan malam di meja.


Dimas mendekati Naya, dengan cepat. "Jangan dekat," Naya nyengir kuda.


Dimas mengerutkan keningnya. "Kenapa.?"


"Hi..hi..hi.., takut batal wudhu." nyengir. "Maaf yang.?"


"Hem..," Dimas mengangguk dan tampak berpikir entah tentang apa itu.


Dari jauh terdengar suara adzan magrib. Naya sudah berada di atas sejadah miliknya, sementara Dimas sibuk dengan laptop di pangkuannya yang duduk di atas sofa.


"Yang.?" lirih Naya menoleh suaminya.


Dimas menoleh akhirnya mereka saling bertatapan, "Hem.."


"Sudah magrib yang, sholat magrib dulu.?" sambung Naya lagi.


"Iya, yang iya..,?" menyimpan laptopnya dan turun menuju kamar mandi. tak selang lama Dimas kembali lalu mengenakan sarung dan peci.


Naya menatap sang suami, "Ganteng deh yang." sembari tersenyum.


Sambil menaikan alisnya. "Baru tahu kah.?"


"I-iya, udah ah, ayok sholat.?" pinta Naya, Dimas maju menggelar sejadah nya. kemudian mengumandangkan takbir, usai sholat, berzikir dan berdoa, Naya mencium tangan Dimas, berlapiskan mukena agar tak menyentuh kulit tangan Dimas.


"Yang maafkan segala kekurangan aku seharian ini, yang telah merepotkan dirimu juga,?" dan Dimas mencium kepala Naya yang berbalut mukena, "Aku sudah memaafkan dirimu, dan maafkan aku juga atas segala kekuranganku, belum bisa menjadi imam yang baik, untukmu istriku."


Setelah adegan maaf-maafan, di lanjutkan dengan belajar mengaji dan tambahan hafalan-hafalan lainnya. Dimas begitu enjoy dengan belajar bersama sang istri.


"Yang, mungkin kamu harus banyak belajar sama ustadz deh yang, agar lebih baik lagi." ucap Naya menatap wajah Dimas.


"Nggak mau yang, aku ingin belajar sama kamu aja, kamu juga pintar," sahut Dimas, buktinya sekarang aku banyak belajar dan berangsur bisa, karena kamu yang.?"


"Mungkin menurutmu aku pintar, tapi.. belum tentu di mata orang lain, kamu tahu aku diajari sama Bapak cuma dasar-dasarnya aja, selanjutnya aku belajar sendiri, tanpa guru, tanpa ustadz." ujar Naya. "Jadi aku ingin kamu belajar agama juga sama orang lain, agar kemampuanmu lebih sempurna."


Dimas terdiam sejenak, dan Naya melanjutkan ucapannya. "Aku tidak pintar dalam Al-Qur'an dan hadis, aku juga tak pandai tajwid, aku hanya bisa sekedar membaca, mungkin aja kalau di hadapan orang, banyak salahnya, kita berdua harus banyak-banyak belajar yang, belajar bersama agar menjadi insan yang lebih baik lagi.? mengerti.?"


Dimas mengangguk pelan. "Aku sangat mengerti, dan aku tetap salut sama kamu yang, tidak sekolah tapi kamu pintar, tak kalah dengan yang berpendidikan tinggi."


"Nggak juga, itu perasaan dirimu saja, jangan berlebihan." sahut Naya, "Ya sudah dulu lah lain kali di sambung lagi." Naya menutup al-Quran nya, kemudian melaksanakan sholat isya, sebelum makan malam.


Di akhir sholat..,


Assalamu'alaikum warahmatullaah..,


Assalamu'alaikum warahmatullaah..,


menoleh ke kanan dan ke kiri.


Astagfirullah..,


Astagfirullah..,


Astagfirullah..,


Kemudian di lanjut menengadahkan tangan ke langit, meminta ampunan di hapus segala dosa orang tua dan dirinya. di berkah kan rumah tangganya, di jaga di lindungi setiap geraknya, di tuntun pada jalan yang benar, di beri kesehatan dan Rizqi yang berlimpah juga berkah, Aamiin ya rabbal'alamiin.


"Yang, berkah itu seperti apa.?" tanya Dimas setelah bersalaman dengan Naya.


"Em.., berkah itu, adalah biar sedikit tapi cukup yang.! yang jelas kita harus banyak bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, contohnya aja kita bisa mendapat kan uang dengan mudah, orang harus bersusah payah terlebih dahulu, bahkan tak sedikit orang sudah bersusah payah namun tak mendapatkan apa-apa, kita masih bisa makan enak, di luar sana tak kurang orang kelaparan menunggu di beri orang lain, korban bencana misalnya." ujar Naya panjang lebar.


"Berarti kita harus banyak berbagi yang.?" tanya Dimas sambil melipat sejadah nya.


"Yaps, karena rejeki kita sebagian hak orang yang kurang mampu.


Selepas itu mereka makan malam berdua, penuh dengan keromantisan, maklum lah masih pengantin baru, di hiasi canda dan tawa.


,,,,


Terimakasih ya..? bagi yang masih berkenan mampir di novel Dimas dan Kanaya, semoga kalian tetap suka, jangan lupa selalu lake, komen dll nya, love love love buat kalian semuanya.

__ADS_1


__ADS_2