
Dimas merasa tidak enak hati, namun bagaimana lagi, dari pada kebaikannya di anggap memberi harapan, yang jelas-jelas itu tidak boleh terjadi dirinya beristri, tidak baik terlalu dekat dengan wanita lain apa lagi sampai di anggap ngasih harapan yang tidak seharusnya, Dimas merasa kedekatannya dengan Sonia hanya sebatas rekan kerja namun pada kenyataannya, lain bagi Sonia, terlihat jelas dari mata dan gerak tubuhnya Sonia yang mungkin mengharap lebih.
Dimas sedang memakai helm bersiap untuk pulang, Sonia muncul dengan senyuman termanisnya, "Dok saya ikut ya,? motor saya aru mau di ambil nanti sore."
Dimas menaikan alisnya, terdiam sejenak, "Aduh sorry, aku terburu-buru nih, istri sudah menunggu di rumah, sorry ya,?" langsung tancap gas meluncurkan motornya.
"Ta-tapi..,?" Sonia tertegun di tempat, tidak menyangka kalau Dimas akan setega ini padanya, tengok kanan kiri, kebetulan ada kawannya lewat.
Sesungguhnya Dimas tak enak hati, membiarkan wanita yang meminta tolong ia biarkan begitu saja, tak lama di jalan Dimas sampai di halaman rumah yang dia tinggali, berjalan gontai masuk ke dalam rumah.
"Siang dok,?" bi Meri mengangguk hormat.
"Siang juga, pada kemana kok sepi,?" pandangan Dimas menyapu semua sudut ruang.
"Ibu di kamar sepertinya kecapean, kami baru pulang belanja," sahut bi Meri tetap berdiri.
"Oh," Dimas berjalan menuju kamarnya, Dimas membuka pintu dan menutup: kembali, Naya yang tengah duduk santai di sofa menoleh nya.
"Baru pulang,?"
"Iya," Dimas menyimpan barang-barangnya, lalu nyamperin istrinya, cup mengecup kening Naya penuh rasa kasih sayang.
Naya meraih dan mencium lengan suaminya, "Mau mandi dulu, sholat, apa mau makan dulu.?
"Sebentar sayang, masih capek, oya gimana ke ATM nya lancar,?" tanya Dimas menarik kepala Naya ke bahunya.
"Lancar, terus ke toko belanja pakaian tuh," Naya menunjuk belanjaan yang masih di paper bag belum di bereskan di atasi tempat tidur.
"Hem.., sayang kuat kah jalan-jalannya, gak jatuh kan,?" Dimas mengusap kepala sang istri.
Naya menggeleng, "Nggak, kuat-kuat aja, lagian kan pake mobil," sahut Naya mendongak, Dimas memandangi wajah Naya, lalu mendekat menyentuh bibir Naya yang selalu menantang.
Beberapa saat mereka berdua menikmati sentuhan itu, perlahan Naya menjauh, dengan muka merah menunduk malu, membuat Dimas bertambah gemas.
"Mandi sana, sholat dulu, nanti kita makan, sudah lapar nih," ucap Naya.
__ADS_1
"Ok sayang,? aku mau mandi dulu," Dimas beranjak dari duduknya, membuka kemejanya sambil berjalan.
Setelah menyiapkan pakaian buat Dimas Naya keluar dari kamar menuju meja makan.
"Bibi dan yang lain sudah makan,?" Naya pandangi bi Meri yang tengah mencuci.
"Sudah Bu, kami yang duluan makan," sahut bi Meri menoleh sebentar.
"Tidak apa-apa Bi," lirih Naya, sambil menunggu suaminya Naya mengupas buah manis, "Oya Bi, tolong bikinkan rujak buah ya, enak kali siang-siang gini makan rujak, huuh air liurku."
"Baik Bu, sambalnya pake kacang atau tidak ?" tanya bi Meri takut salah.
"Sambal kacang Bi," Naya memasukan buah manis ke mulutnya.
"Siap, Bibi bikinkan, jangan khawatir.., di jamin puas nanti makannya," sambung bi Meri sembari benyanyi entah apa karena bahasanya Naya tidak mengerti.
Dimas muncul dari kamar dengan mengenakan sarung, Naya menoleh, "Yuk makan.., sudah lapar nih," mengusap perutnya.
Dimas duduk di samping Naya, "Hem.., anak Papa kelaparan juga kah,?" Dimas pun mengusap perut Naya.
Dimas meneguk air mineral lalu, berdiri berjalan ke depan di ikuti Pak Mad dari belakang, Naya sehabis makan langsung memakan rujak pesanannya, tinggal setengah porsi, Naya menyimpannya buat nanti malam katanya.
"Huaam.., ngantuk," Naya berdiri, membereskan piring kotor, lalu di ambil bi Meri untuk di cuci.
"Ya sudah aku ngantuk mau tidur siang dulu, oya Bi.., kalau ada anak-anak kesini suruh makan, kalau masakan habis ya masak aja lagi, jangan merasa sungkan, anggap aja di rumah sendiri," ujar Naya.
"Tapi.., sa-saya merasa gak enak."
"Kenapa merasa gak enak Bi ? Bibi banyak di sini, di rumah siapa yang masak, udah.., suruh makan di sini saja mereka, orang tuanya di sini kok, aku tidak mau Bibi dan suami tinggal di sini sementara anak-anak kalian terlantar di rumah, terutama makannya," jelas Naya.
Bi Meri menunduk, "Baik Bu."
"Ini masakan masih banyak, antar kan buat mereka, kalau saja mereka tidak datang kemari," sambung Naya sembari berjalan menuju pintu kamar.
Kini Naya sudah berada dalam kamar, "Panas banget ini cuaca, kaya mau hujan gede," melihat cuaca yang begitu panas dari jendela, Naya mengganti pakaiannya dengan yang tipis, pakaian yang di beli tadi, kerudung di simpan di bahu tempat tidur, ia sendiri berbaring terlentang memandangi langit-langit, sampai kedua matanya terpejam.
__ADS_1
Dimas yang sudah melayani pasien, masuk ke kamar, tak lupa menutup pintu, tampak Naya tengah tertidur nyenyak, Dimas merangkak naik ke atas tempat tidur, berbaring menyamping menghadap ke arah istrinya, Tangan Dimas mengelus perut Naya, "Apa kabar sayang,? sehat-sehat di dalam sana, jangan buat Bunda kesusahan," dengan lirih senyumnya mengembang.
Lama-kama setelah di perhatikan, Dimas baru sadar isterinya mengenakan pakaian yang tipis dan baru dia lihat, Dimas menyeringai langsung muncul pikiran mesumnya, tentu adik kecilnya langsung bangun dan tegang.
Dimas mulai mencumbu istrinya, sampai-sampai Naya terbangun padahal tengah bermimpi indah, berada di pulau yang sangat indah, namun mimpi itu harus hancur berkeping karena terbangun oleh ulah sang suami.
Naya malah memeluk punggung suaminya sangat erat, membuat tubuh mereka semakin rapat menyatu, Dimas tak ingin melepaskan sebelum hasratnya terpenuhi, "Sayang, semalam kan sudah," lirih Naya di telinga Dimas.
"Itukan semalam, bukan sekarang, semalam itu untuk semangat pagi hari, bekerja, dan sekarang untuk semangat nanti malam, ha..,ha..,ha.." Dimas terus saja melakukan aksinya, memberikan foreplay yang panas agar istrinya merasakan sangsangan, keduanya sangat menikmati setiap sentuhan yang mereka lakukan, dan selanjutnya adalah penyatuan keduanya, entah kenapa kalau ingat wanita cantik di luaran sana, Dimas semakin merasakan gairah yang sangat meningkat terhadap istrinya.
Naya sudah kelelahan, merengek minta di sudahi, namun bagi Dimas rengekan sang istri semakin menggairahkan, dia tak mau berhenti, terus saja ibaratnya tancap gas melaju sampai dia benar-benar merasa lelah lelah dan terkulai lemah, akhirnya dia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh sang istri, dan peluh pun bercucuran, kecupan di kening mengakhiri kegiatan mereka.
Sore-sore Dimas sudah rapi dan tampak segar menikmati sunset di petang ini bersama sang istri di teras, sambil menikmati segelas kopi dan sepiring biskuit di meja, dari jauh terlihat gerobak jualan bakso, Naya pun antusias ingin membelinya dan memanggil bi Meri, untuk jajan bakso sama-sama, gerobak pun berhenti di halaman tepatnya dekat teras, "Bi.., bakso Adam tuh datang," Adam pun mengangguk dengan sopan nya.
"Anak-anak mana Bi,? panggil, kita jajan bakso nya Adam.
Mendengar perkataan Naya Dimas menaikan alisnya, "Sepertinya sudah tau betul orang yang jualan, sampai tau namanya segala," menatap sang istri.
Naya menoleh, "Iya aku tau, kemarin aku sudah pernah membelinya, baksonya enak, dan orangnya baik serta ramah pula," Naya sibuk memesan bakso, tempat menjadi ramai dengan kehadiran anak-anak Pak Mad, mereka pun mau beli bakso Adam.
"Tau betul," Dimas mengernyitkan dahinya memperhatikan pemuda penjualan bakso yang lumayan ganteng itu.
"Sayang mau gak,? tanya Naya kepada Dimas yang memperhatikannya, "Aa buka mulutmu," Naya menyuapi Dimas bakso.
"Hahhh.., pedas yang, jangan pedas-pedas yang, nanti anak kita kepanasan," pinta Dimas.
Naya bengong, "Hem.., emang ngaruh,?" manyatukan alisnya.
"Makanan masuk kemana perut kan,? baby kita berada di mana,? di perut juga, ya pasti kepanasan, kasian," Dimas nyengir kuda, membuat Naya menggeleng, namun tak menyurutkan niatnya untuk menghabiskan bakso, makanan kesukaannya.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
__ADS_1
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.