
"Aku pergi dulu Pak, Mak.'' pamit Dimas berlalu menuju garasi, mengambil motor kesayangannya, tak lupa memakai helm Dimas melajukan motornya, lantas meluncur ke jalan raya, menuju Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit Dimas bergegas masuk ke ruangannya.
"Maaf dok sudah ada pasien menunggu, mari dok." kata suster yang baru datang tergesagesa. tanpa menunggu jawaban dia sudah pergi.
Dimas menoleh, tanpa berpikir panjang dan sedikit berlari mengikuti suster yang lebih dulu berjalan.
Kini Dimas sedang meregangkan badannya yang terasa sangat capek sekali.
Dimas memainkan ballpoint dengan jarinya, bibir melukiskan senyuman yang manis, menambah ketampanan di wajahnya.
Menengok jam di tangannya, sudah waktunya pulang, ia beranjak dari duduknya berdiri menggeser kursi, mengambil handphone dan kunci motor, berjalan meninggalkan ruangannya.
Sesampainya di parkiran, ia mendekati motornya.
Sosok Dimas yang baik, ramah, tinggi, putih, hidung mancung, wajah tampan, bibir merah, gaya rambut selalu rapi, sebenarnya banyak yang mengagumi termasuk para suster di sana.
"Aduh...,gantengnya...," kata seorang suster di sudut Rumah Sakit pada sesama suster lainnya, memandangi kearah Dimas yang hendak mengendarai motornya, karena merasa ada yang mengawasi, Dimas menoleh kearah suster sambil melemparkan senyuman dan menganggukkan kepalanya.
Di sambut dengan senyuman kembali dari para suster-suster di sana, lalu ia memakai helm dan melajukan motor ke jalan melewati pengendara lainnya.
Ia memfokuskan pandangan ke depan, tiba-tiba nada sering berbunyi, mau di angkat tanggung lagi jalan, gak di angkat takut sangat penting, akhirnya ia melajukan motornya ke tepi jalan berhenti sesaat.
Dimas merogoh ponsel di saku dan setelah tahu yang menelpon, ia mengernyitkan dahinya, "Ada apa dokter Kamila telpon aku.?" batinnya sambil menekan yang warna hijau.
"Halo," sapa Dimas.
"Halo dokter Dimas, aku ganggu gak dok.?" tanya Karmila.
"Hmm, saya lagi jalan pulang nih." kata Dimas.
"Oh, sorry, gimana kalau nanti malam kita makan malam bareng, ada acara gak.?" tanya Karmila.
Dimas berpikir sejenak. "Emang ada apa dok.?" heran.
"Gak ada apa-apa, kita berbincang aja, dah lama kan kita gak ngobrol-ngobrol gitu, mau ya.? please...," Karmila sedikit memohon.
__ADS_1
"Emm, di mana.?" tanya Dimas.
"Di kafe xx gimana.! mau ya saya tunggu ya dok, jam 19.30 ya." tanpa menunggu jawaban, Karmila segera menutup panggilannya.
Dimas hanya menggeleng kecil dan menyimpan ponselnya di saku, ia kembali melajukan motornya secepat mungkin, ingin istirahat di rumah.
Setibanya di rumah, Dimas langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, tuk menghilangkan rasa penat dan capek, dikarenakan seharian ini ia begitu sibuk.
"Dimas," panggil Bu Hesa.
Dimas yang dari pulang kerja ketiduran, lupa makan, tidurpun masih mengenakan pakaian kerja, pintu tak di kunci makanya Bu Hesa bisa masuk ke kamarnya, ia membuka mata setelah mendengar suara Mamaknya. "Ya tuhan jam berapa Mak.?" Dimas mengusap matanya menengok jam yang di dinding.
"Jam enam tuh, bahkan kamu gak makan siang" Bu Hesa menatap lekat putranya.
Dimas pun duduk, bangun dari tidurnya,
"Aku capek banget Mak, sampai-sampai ketiduran, belum sempat mandi juga." sahut Dimas menggeliat, Bu Hesa pun berdiri dari tepi tempat tidur Dimas.
"Ya sudah, mandi dulu sana, lalu makan.?" suruh Bu Hesa pada Dimas yang masih duduk.
"Ok," Bu Hesa keluar dari kamar Dimas, menuruni tangga, langsung ke dapur menyelesaikan masak yang tadi di tinggalkan.
Bapaknya Dimas yang baru datang, mendudukkan tubuhnya di kursi, Bu Hesa menyendok kan nasi buat suaminya.
Tak lama Dimas pun sudah kembali dengan telanjang dada, rambut yang basah ia keringkan dengan handuk kecil.
Berjalan menuju lemari, mengambil kemeja pendek warna sangria, di padukan dengan celana panjang warna senada. lalu merapikan rambut, dan tak lupa menyemprotkan minyak wangi, ke badannya.
Kemudian mengambil ponsel dan kunci motor yang di atas meja.
"Apa lagi ya.? lupa, oya jam tangan." gumam Dimas, memasang jam di tangannya, lalu beranjak meninggalkan kamarnya, berjalan menuruni tangga sesekali melihat jam di tangan.
"Wah bisa-bisa terlambat nih," pikir Dimas, tangan kanannya menenteng jaket.
"Waw keren....,cakep juga abang aku nih..,!" Maria yang berada di meja makan, berdecak kagum memandang abangnya, Dimas yang baru turun dari tangga menghentikan langkahnya.
"Emang selama ini abang jelek ya.?Dimas menatap tajam adik perempuannya.
__ADS_1
"Nggak sih" Maria mengulum lidahnya, dan meneruskan makan.
Dimas mangalihkan pandangan ke orang tuanya. "Mak, Pak aku berangkat dulu" kata Dimas berpamitan.
"Ya hati-hati," pesan Bu Hesa lirih, di susul anggukan suaminya.
Dimas pun melangkah kan kakinya menuju pintu, sebelum ia membuka pintu, sudah duluan pintu terbuka, "Abang mau kemana nih.?" tanya Sandi adik laki-laki Dimas yang baru datang.
"Keluar" jawab Dimas singkat dan melewati Sandi, bergegas mengambil motor kesayangan, tak butuh waktu lama Dimas pun sudah melajukan motornya, dengan kecepatan sedang.
Selang beberapa puluh menit, Dimas sampailah di tempat yang di tuju, ia pun masuk mencari keberadaan Karmila, ternyata dia sudah duduk manis di meja yang telah di janjikan, Karmila yang sudah sedari tadi menunggu, merasa gelisah menanti.
Karmila yang mengawasi sosok yang berjalan tergesagesa mendekatinya itu menenteng jaket di tangannya, setelan yang rapi menambah ketampanannya terpancar dari diri Dimas.
Dimas di sambut dengan senyuman manis Karmila yang mengenakan dress pendek berwarna peach, begitupun Dimas memberi seulas senyuman, dan mengulurkan tangannya, setelah berjabat tangan ia pun duduk tepat di hadapan Karmila.
"Sudah nunggu lama ya.? sorry" kata Dimas dengan tatapan tajam tak lepas dari senyumannya.
Karmila yang sedari tadi memandang tanpa henti, hatinya bergetar ketika beradu pandang dengan Dimas.
"Ya ampun...,hatiku kenapa jadi tak menentu begini sih.?" batin Karmila sesaat tertunduk ke bawah.
"Oh, gak apa-apa kok," sahut Karmila, memberikan senyuman termanisnya.
"Sekali lagi sorry ya,? oya ada apa nih.? tumben banget ngajak ketemuan di disini.?" ujar Dimas menumpukan tangannya di meja.
"Nggak ada apa-apa kangen aja, hi..hi..hi..! oya mau pesan apa nih.?" Karmila memanggil pelayan kafe.
Pelayan pun menghampiri, berdiri di sisi sebelah kanan Karmila.
"Mas, pesan sandwich satu, jus orange satu, oya kamu mau pesan apa dok.? ucap Karmila melirik Dimas bergantian dengan pelayan kafe.
"Em..., apa ya.?" Dimas sedikit berpikir. "Sandwich aja sama dengan nona ini, dan minumnya jus Apple aja." tambah Dimas pada pelayan kafe yang segera menyediakan pesanan pelanggannya.
,,,,
Hi..hi..hi..apa kabar semua, terus dukung aku ya. dan terimakasih banyak telah mampir di novel ini, jangan lupa ya..,ake, komen sebanyak-banyaknya. dan vote nya juga dong biar aku tambah semangat nih..!
__ADS_1