
"Susunya diminum dulu, seharian kau tidak minum susu nanti cucu saya kurang nutrisi, kurang asupan vitamin dan macam-macam," menunjuk gelas susu yang masih hangat.
Perlahan Naya mengambil gelas dan meneguknya sedikit, matanya menatap Ibu mertua tang sudah rapi siap berangkat.
Dimas mengerti dengan apa yang istrinya pikirkan, "Mama mau ikut kita yang."
"Oh," gumam Naya menoleh Dimas.
"Yuk berangkat sekarang,? nanti keburu malam," melirik jam yang melingkar di pergelangan lengannya.
Mereka bergegas berjalan keluar, di mobil Pak Mad sudah siap menunggu perintah majikannya.
Bu Hesa memilih duduk di depan, sementara Naya dan suami duduk di belakang dengan nyamannya.
Mobil yang dikemudikan Pak Mad melesat membelah kegelapan dan melintasi jalan yang mulai sepi.
Tidak butuh waktu lama tuk sampai di alamat tujuan, di mana tempat praktek dokter kandungan ya itu dokter Rosa, Dimas turun duluan setelahnya Naya pun turun dan menerima uluran tangan dari Dimas.
Bu Hesa membuntuti dari belakang, setelah bertemu dengan asisten nya mereka duduk menunggu sampai di panggil, tidak lama menunggu akhirnya Naya di panggil, lalu mereka pun masuk bersama.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, sesaat akhirnya melakukan USG semua sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin calon baby nya.
Dokter menempelkan sebuah alat pada perut buncit Naya, dan ini saat-saat menebarkan di mana monitor akan menunjukkan sesuatu, saat-saat menebarkan itu semakin membuat jantung berdebar semakin kencang, detik-detik monitor menunjukkan gumpalan darah yang sudah berbentuk dengan sempurna dengan usia kehamilan yang telah menginjak bulan ke lima ini.
Dan terlihat dengan jelas bukan satu janin saja namun ada dua janin yang berada dalam kandungan Naya, membuat semua termangu bibir menganga berdecak kagum akan kekuasaan Allah yang maha besar itu,
Apa lagi Naya sangat terharu, sehingga menitiskan air mata tanpa harus di undang ataupun di paksakan keluar, "Masya Allah."
"Kandungan nya sehat, normal, coba lihat kemari, ternyata Ibu Naya mengandung dua janin sekaligus," ucap dokter Rosa menatap layar.
"Ya Tuhan.., cucu 'ku,?" ucap Bu Hesa begitu antusias, bahagia meski cucunya masih dalam rahim sang menantu.
Dimas tak mampu berkata-kata, hanya senyuman bahagia terpancar sempurna di wajahnya, tidak menyangka sama sekali akan diberikan buah hati dua sekaligus, sesekali melihat kearah istrinya yang berkaca-kaca, begitupun dirinya ada rasa haru menyelimuti hatinya.
Dokter Rosa menoleh Dimas dan Kanaya, "Karena belum jelas, kemungkinan satu jenis kelamin perempuan dan laki-laki."
Dimas melihat kearah dokter, lalu melihat kembali ke layar, rasa yang bergemuruh dalam dada tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya tatapan mata yang penuh haru.
Setelah selesai Mereka duduk menunggu hasil yang akan di bawa pulang, Naya memeluk Dimas sangat erat, Dimas pun membalas pelukan sang istri dan mengusap punggung nya sangat lembut, "Selamat ya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."
Naya mengangguk pelan, rasa bahagia dan haru menyelimuti hatinya saat ini, bahkan rasa risau dan khawatir pun berkecamuk jadi satu.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah Bu Hesa terus menghiasi dia sudah membayangkan gimana nanti kalau cucu kembarnya sudah lahir, "Gemasnya, cucu kembar laki-laki dan perempuan, alangkah senang nya hati 'ku..," gumamnya.
"Ini laporan dan hasil USG nya dok, Ibu, semoga janinnya sehat terus dan bumil juga sehat selalu, banyak minum vitamin, jangan terlalu capek, perhatikan kesehatan mengingat kondisi Istri anda yang kurang vit, dengan tanda kutip lemah, tolong lebih di perhatikan oleh pihak keluarganya, apa lagi sebagai suaminya harus extra ok, oya satu lagi hindari stres,?" ujar dokter Rosa pada Dimas dan Naya.
__ADS_1
"Iya baik dok, terimakasih banyak atas segala bantuannya," Dimas mengulurkan tangan pada dokter Rosa dan segera di sambut oleh dokter Rosa.
Begitupun Naya menjabat tangan dokter Rosa, "Makasih dok,?" Naya pelan dan senyuman samar.
"Sama-sama," sahut dokter Rosa.
Akhirnya mereka keluar dan meninggalkan tempat tersebut, Dimas menggandeng Naya berjalan menuju mobil, di sambut Pak Mad membukakan pintu untuk majikannya.
Usai semuanya duduk dengan nyaman Pak Mad memutar setirnya lantas mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Nanti di depan berhenti Pak, di resto depan," pinta Dimas.
"Ya Tuhan.., sebentar lagi saya dapat cucu kembar, pasti lucu-lucu sekali, rasanya tidak sabar menunggu mereka hadir di dunia ini."
Naya mendengar gumaman Ibu mertua menjadi melamun, pandangan lepas keluar jendela, ia was-was gimana kalau ia tak bisa menjaga kehamilannya, gimana nanti kalau melahirkan, gimana kalau mereka lahir tidak normal, tidak sesehat sekarang, semua berkecamuk dalam batinnya, saling beradu argumen, mengingat kondisinya yang lemah ini seperti yang di katakan dokter tadi, akhirnya menjadi dilema bagi Naya.
Tangan Dimas menyentuh dagu Naya agar melihat kearahnya yang dari tadi hanya melihat jalanan, "Kenapa diam terus, sedang memikirkan apa hem.?"
Naya pun menoleh dan melihat wajah suaminya, "Ah nggak, gak memikirkan apa-apa kok," elak Naya dan kembali melihat jalanan yang di hiasi lampu-lampu di tepi jalan yang mereka lewati.
"Yang bener gak memikirkan apa pun,?" tanya Dimas ragu.
"Iya," tanpa menoleh lagi, "Aku takut," aku batinnya.
Selang beberapa waktu tiba di sebuah resto, Dimas membuka pintu hendak keluar.
Bu Hesa pun menoleh kebelakang melihat menantunya yang seolah tidak bersemangat.
Dimas menutup pintu kembali, "Loh kan sayang balum makan juga kok gak lapar sih,?" dengan nada lembut.
"Beneran gak lapar, kamu sama Mama aja makannya, ajak Pak Mad biar aku di sini menunggu," ucap Naya meyakinkan.
Helaan napas Dimas terasa berat, "Ya sudah kalau Bunda gak mau makan, kita makan di rumah aja, atau beli lauk nya aja, Pak tolong turun belikan beberapa menu untuk dimakan di rumah saja," Dimas memberikan lembaran uang pada Pak Mad.
Pak Mad turun yang sebelumnya menerima uang dari Dimas, dia masuk resto, Bu Hesa menggerutu sendiri tadinya mau makan enak eh gak jadi.
"Kalau Mama mau makan di dalam makan aja sendiri, kami tungguin di sini," titah Dimas.
"Iya Mak, masuk aja gak papa kok, aku gak lapar jadi buat apa aku masuk kan, mending nunggu disini saja," tambah Naya sungguh hatinya gundah.
"Ah ngapain sendiri masuk ke sana," gerutu Bu Hesa.
Tidak lama menunggu Pak Mad kembali dengan menjinjing masakan di beberapa cup, "Ini dok dengan kembaliannya."
"Ambil aja Pak kembaliannya," ucap Dimas hanya menerima bawaannya aja.
__ADS_1
Setelah duduk dibelakang kemudi Pak Mad kembali memutar dan melajukan mobilnya menuju pulang.
Kini Naya sudah berada dalam kamar, yang lain makan, Naya sendiri berdiam diri di kamar selepas menunaikan isya Naya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, pandangannya lepas ke langit-langit, tangannya mengelus perut yang buncit dan janin yang aktif kadang membuat Naya merasa tersiksa dan kadang merasa keram di perutnya.
Dimas masuk kamar mendapati istrinya tengah berbaring, ia pun mendekati ikut berbaring dan miring dengan siku tangan kanan sebagai penyangganya.
"Sedang apa sayang,?" cup mengecup kening istrinya.
"Sedang jalan-jalan," melirik dengan ekor matanya.
"Ha..,ha..,ha.., bisa aja," telapak tangan Dimas di tempelkan ke perut Naya dan merasakan gerakan sang janin yang menendang perut Bundanya.
"Wah.., anak kita aktif sekali Bunda," Dimas melirik sang istri dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Iya."
Dimas bergerak agar wajahnya mendekat keatas perut sang istri, "Sayang ini Ayah nak, kalian mendengar suara Ayah kan,? yang sehat di sana jangan buat Bunda repot atau tersiksa, kami sayang kalian, Ayah sudah tidak sabar dengan kehadiran kalian," lagi-lagi mengelus lembut perut istrinya sesekali mengecupnya.
Lengan Naya membelai rambut suaminya, "Apa nanti bila setelah mereka lahir Ayah akan ikut menjaganya.?"
"Iya dong, masa nggak, bikinnya aja berdua kan masa tega membiarkan Bunda repot sendiri."
"Hem.., kali aja biasanya kalau sudah ada anak malah tidak perduli, istrinya repot mengurus baby dianya enak-enakan tidur nyenyak."
Mendengat ucapan istrinya begitu membuat Dimas mendongak menatap wajah istrinya, "Emang Ayah kelihatan seperti itu kah,? kalau pun iya, pastinya Ayah akan sediakan baby siter untuk anak kita agar Bunda tidak capek, bahaya kalau Bunda capek nanti tidak ada yang mengurus suaminya," sembari mengecup pipinya.
"Iya kah,? suaminya ya urus diri sendiri aja orang bisa kok," sahut Naya mengusap tengkuk suaminya.
"Hah gak bisa, harus di urus istrinya, kalau nggak nanti bisa jajan di luar hem..."
"Jajan di luar, silahkan kalau mau, sana jangankan nanti sekarang juga boleh."
Dimas menyeringai seraya berkata, "Beneran Bunda,?" sangat antusias, "Gak bercanda kan,? wah.., asik dong."
"Beneran, tapi.., dengan satu syarat."
"Hem.., syarat apa tuh, jangan berat-berat ya syaratnya," menatap serius.
"Em.., syaratnya..," Naya menerawang, "Boleh jajan kalau mau dan tak takut dosa, dan.., jangan pernah kembali padaku," ringkas Naya sambil menaikan kedua alisnya.
"Hah.., gak bisa, kalau Ayah tidak boleh kembali sama Bunda, terus Bunda sama siapa, membiarkan pria lain masuk di kehidupan Bunda gitu,? enak saja, gak bisa," Dimas jalan mondar-mandir dan mengepalkan tangannya.
"Loh, kamu aja pengen bebas, wajar dong kalau aku juga pengen bebas," canda Naya yang membuat Dimas geram apa lagi mengingat pria-pria yang dia kenal baik-baik pada Naya, gak akan sulit bagi Naya mendapatkan pria selain Dimas.
Jangankan Dery dokter Aldo aja begitu baik dan akan dengan mudahnya mendapatkan Naya bila Naya tidak bersuami, beberapa kali Dimas menggeleng membuang pikiran aneh dari pikirannya.
__ADS_1
,,,,
Hi..., apa kabar reader 'ku semua,? semoga baik-baik aja ya, setelah beberapa hari aku bertapa he..he..he.., canda, semoga kalian di beri kesehatan, di mudahkan rejeki juga, di gampang kan setiap urusan, dan jangan lupa kalau membaca novel jangan lupa tugas rumah ya bun..,? terimakasih juga bagi yang sudah menunggu novel ini up lagi🙏